Beranda / Fantasi / Ampun, Jo, Ini Kegedean! / 151. Kitab Pendamping

Share

151. Kitab Pendamping

Penulis: Leva Lorich
last update Tanggal publikasi: 2026-07-13 12:32:36

Di dalam kamar sementara milik Toni yang berukuran sedang, ia kini tampak duduk berdua saja dengan Teja di atas ranjang kayu.

"Sekarang coba kamu ceritakan secara detail gimana caranya kamu bisa secepat itu menerobos ke ranah energi Qi tingkat dua? Bukankah tadi di dalam pesan singkat yang kamu kirim, kamu sendiri yang bilang kalau masih pusing tujuh keliling mikirin target wanita keenam?" cecar Toni dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa penasaran yang teramat sangat besar.

Teja pun mengangguk
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   196. Solo Karir

    "Oke, aku udah dapet jawabannya!" seru Teja dengan wajah yang seketika berubah cerah, seolah baru saja menemukan kepingan teka-teki rumit yang tadi menghilang.Panda membelalakkan matanya, menatap Teja dengan raut heran bercampur tidak percaya. "Udah dapet? Cuma pakai wawancara nggak jelas barusan?" tanya Panda bernada menyindir, meragukan analisis yang hanya bersumber dari pertanyaan-pertanyaan sensitif soal kehidupan pribadinya tadi.Teja mengangguk cepat tanpa ragu sedikitpun. "Iya, udah dapet," jawabnya singkat.Panda membetulkan lilitan selimut di dadanya. Ia semakin diliputi rasa penasaran yang tak berujung."Katakan, Ja," desaknya, menuntut penjelasan langsung tanpa ada lagi basa-basi.Teja menarik napas panjang, menatap lurus ke sepasang mata Panda untuk menyampaikan kesimpulannya secara serius. "Karena hasratmu tinggi, maka sentuhan pria sudah menjadi ketergantungan buat kamu," buka Teja memulai pemaparannya.Panda terdiam, mendengarkan setiap patah kata yang keluar dari

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   195. Puasa Setahun

    "Kamu umur berapa, Nda?" tanya Teja tiba-tiba. Pertanyaan itu terlontar begitu saja, mengabaikan kepanikan yang sedang melanda raut wajah Panda.Panda mengerutkan keningnya, merasa heran dengan arah pembicaraan yang mendadak melenceng jauh dari masalah penyakitnya. Namun, melihat sorot mata Teja yang sangat serius, dia akhirnya menjawab juga. "Dua puluh dua tahun," jawab Panda pendek."Udah punya pacar belum?" tanggap Teja cepat tanpa memberikan jeda.Panda melotot kaget, refleks membetulkan lilitan selimut di dadanya yang sedikit melorot. "Eh kok malah nanyanya kesana sih, Ja?" protes Panda, merasa tidak nyaman dengan pertanyaan pribadi yang terlontar di dalam kamar mewah milik Teja tersebut."Udahh! Jawab aja, Nda!" sentak Teja dengan intonasi yang tegas, menekankan bahwa dirinya tidak sedang bermain-main atau mencoba menggoda.Panda mendengus pelan, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lantai keramik. "Sekarang sih nggak punya pacar," aku Panda dengan nada suara yang memelan.

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   184. Bisa Kambuh

    Teja segera melanjutkan pijatannya di area pinggang hingga bagian atas bokong Panda. Ia mencoba memusatkan seluruh konsentrasinya pada urat-urat yang menegang, berusaha mengabaikan kenyataan bahwa jemarinya kini bersentuhan langsung dengan kulit sensitif di sekitar tali celana dalam yang sangat minim tersebut. Minyak Gandapura yang hangat melumasi setiap sapuan tangannya, mempermudah aliran energi Qi untuk meresap masuk ke dalam pori-pori."Uh, Jaaa!" Panda melenguh cukup keras saat jari Teja menyentuh daging pinggulnya. Desahan itu bergema halus di dalam kamar yang tenang, menciptakan riak sensasi yang langsung menyengat pendengaran Teja.Teja tetap diam demi mengendalikan hasratnya sendiri yang juga hampir meledak. Napasnya mulai terasa agak berat, namun ia memaksakan otaknya untuk tetap berada pada jalur penyembuhan. Ia mempercepat pijatannya di area itu agar tidak semakin senewen sendiri.Di penghujung akhir pijatan, Teja sejenak menggunakan mata batinnya yang dialiri energi

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   193. Super Mini

    "Permisi aku turunin dikit selimutnya," ucap Teja sembari menarik pelan selimut itu hingga berhenti di pinggang Panda. Gerakannya sangat berhati-hati, tak ingin membuat gadis yang baru dikenalnya itu menjadi risih atau bahkan jijik padanya.Namun, begitu kain tebal itu meluncur turun, pandangan Teja langsung disuguhi pemandangan yang sangat memanjakan mata.Jantung Teja seketika berdetak semakin liar melihat bagian terbuka itu!Kulit punggung Panda sangat mulus dan putih sekali. Jika diibaratkan, maka kulit Panda ini adalah seperti roti tawar putih yang disiram susu. Begitu bersih, mulus, dan terlihat sangat lembut.Tingkat kecerahan dan kehalusan teksturnya seolah memancarkan kilau alami di bawah sinaran lampu kamar. Skala putih kukit Panda itu jauh di atas dari kulit punggung Nana, Linda, Septa, bahkan si selebgram Sari Okta sekalipun.Nampaknya darah oriental membawa peran besar pada pewarnaan pigmen kulit Panda. Di setiap sisinya juga tidak ada noda atau cela sedikit pun yang

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   192. Apakah Dia?

    Namun jelas Teja sungkan untuk menanyakan hal itu secara langsung. Ia memilih untuk mengabaikan pikiran liar tersebut dan kembali memfokuskan pikirannya pada tugas utamanya sebagai seorang master pijat. Teja menarik tangannya perlahan dari punggung Panda, lalu menyilangkan kedua tangannya di atas paha sembari menatap tubuh gadis yang masih terbaring tengkurap di atas kasur tersebut."Semua titik sudah aku cek dan memang kamu terserang hawa dingin di area punggung tengah dan pinggang," terang Teja, menjabarkan hasil diagnosa singkatnya dengan raut wajah yang kembali profesional.Panda yang mendengar penjelasan itu langsung menolehkan wajahnya sedikit ke arah Teja. Matanya berbinar penuh keinginan dan harapan setelah sekian lama menahan sakit yang tak kunjung mereda. "Bisa disembuhin, Ja?" tanya Panda dengan nada suara yang terdengar sangat berharap.Teja mengangguk cepat tanpa ragu. "Bisa, tapi harus dipijat," jawab Teja memberikan solusi teknis yang mutlak harus dijalani agar ia b

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   191. Jangan-jangan...

    "Karena kamu ngaku sebagai ahli pijat, aku mau minta tolong sekalian deh," ujar Panda tiba-tiba. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kayu jati, lalu memegangi bagian pinggang belakangnya dengan sebelah tangan.Teja yang tadinya masih salah tingkah akibat sindiran tajam Panda soal ukuran pas di tangan langsung menegakkan posisi duduknya. Rasa penasarannya sebagai seorang penyembuh seketika mengambil alih fokusnya. "Apa, Nda?" tanya Teja, menatap wajah cantik Panda yang kini memperlihatkan sedikit raut kelelahan.Panda menghela napas panjang. Tatapannya menatap lurus ke arah Teja dengan binar penuh harapan yang sangat tulus. "Pinggangku dan punggungku sering sakit. Apa kamu bisa mijat? Siapa tahu bisa sembuh. Udah hampir setahun ini aku berobat ke mana-mana tapi masih nihil," tutur Panda jujur. Ia kemudian menjabarkan keluhan fisiknya yang selama ini cukup mengganggu aktivitas hariannya, padahal berbagai metode medis modern hingga pengobatan alternatif telah dijalaninya t

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   7. Gitar Spanyol

    Nana yang tak pernah melihat Teja berkelahi menjadi khawatir. “Jo, kabur aja yuk. Hitungan ketiga kita langsung masuk mobil dan tancap gas!“ bisiknya pelan di telinga Teja. Namun Teja justru menggeleng dan mengerlingkan mata. “Kamu diam saja dan tetap di posisimu. Biar aku yang ngurus ini,“ jawab T

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   6. Menunjukkan Sikap Dominan

    Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   5. Gundukan Besar

    “Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   4. Kelinci Percobaan

    “Buat apa kamu teriak, Jaaa?!“ sentak Toni usai mengirimkan tendangannya. “Sakit dong, Yah, gimana sih?!“ raung Teja spontan. “Memangnya beneran sakit?“ pancing sang ayah lagi. Teja terdiam sejenak, kemudian meraba miliknya yang kini berukuran luar biasa, mencoba memastikan apa yang ia rasakan.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status