LOGINTeja menyunggingkan senyum tipis yang penuh pesona. Tanpa membuang waktu, pemuda berambut gondrong itu menarik keperkasaannya secara perlahan dari lorong hangat Berliana.Desahan pasrah meluncur dari bibir merah sang perwira TNI tatkala sensasi hampa mendadak menyergap relung liangnya yang licin dan membara. Teja segera merebahkan tubuh tegap berototnya, bertelentang di atas keramik teras balkon yang dingin. Posisi kepalanya sedikit terangkat menyandar pada bingkai pintu kaca, membiarkan dada bidang dan otot perut enam perseginya tetap tertutup pakaian bagian atasnya.Berliana yang pakaian bawahnya masih menumpuk di sekitar pergelangan kaki segera merangkak naik. Raga molek dan padat milik perwira intelijen militer itu mengangkangi paha kekar Teja, lalu duduk bertumpu tepat di atas pangkuan sang kekasih.Dengan jemari halusnya yang sedikit bergetar oleh gejolak gairah yang membuncah, Berliana memegang keperkasaan Teja yang berdiri kokoh, keras seperti tembok beton, dan membara han
"Beberapa ronde dulu bisa ini, Berli," bisik Teja jahil di sela-sela lumat panas bibir mereka, menyunggingkan senyum menggoda dengan kedua belah alisnya yang sengaja ia gerak-gerakkan.Berliana terkekeh pelan dalam dekapan Teja. Tubuh padatnya yang hangat bergetar halus, merasakan keperkasaan Teja di balik pakaian bawah mereka yang kembali menegang keras seperti semen cor."Tunggu, Sayang, aku hubungi pasukan dulu biar pada ngopi nunggu jam 2," potong Berliana seraya memutus pertautan bibir mereka sejenak.Teja mengurai pelukannya, meraih ponsel berkode enkripsi tinggi milik intelijen militer yang tergeletak di atas meja. Dengan lembut ia menyodorkan ponsel itu ke jemari Berliana. Sang perwira TNI berambut bondol pendek menerimanya dengan senyuman hangat pada sang kekasih.ia segera menekan nomor komandan tim lapangan yang bersiaga di perimeter luar pelabuhan cadangan."Komando di sini," tutur Berliana dengan intonasi tegas khas tentara, meski matanya masih menyiratkan gairah tinggi
"Eh, tapi… gimana kalau mereka terlambat datang dan justru merusak acara pengiriman para wanita itu di kontainer tengah malam nanti?" lanjut Blackviper tiba-tiba, raut wajah keangkuhannya sedikit surut digantikan oleh sedikit kekhawatiran.Joni terkekeh pelan, melipat kedua tangannya di dada dengan gaya santai."Kalau dua sejoli itu yang datang, mereka bukan tandingan Master Blackviper, kan? Mau datang kapan pun tidak masalah, Master," sahut Joni jumawa.Blackviper mengangguk-angguk, senyum puas kembali terukir di bibirnya. Ia menepuk bahu Joni bangga atas kelicikan dan pengamatan anak buahnya tersebut. "Kamu cerdas sekali, Jon!"Blackviper lalu menatap supir truk kontainer yang sejak tadi diam berdiri di dekat pintu kemudi."Yono, jam berapa rencana truk kontainer yang asli datang?" tanya Blackviper menanyakan kejelasan jadwal sesungguhnya."Jam 2 sampai 3 dini hari, Master," jawab Yono singkat dengan anggukan patuh."Oke, kita tunggu sampai urusan ini selesai. Aku sudah nggak sabar
"Sudah, Master. Dia pemuda berusia dua puluh tahunan, mahasiswa aktif di Surabaya, dan memiliki perusahaan keamanan di Jakarta ini," jawab pria bernama Joni memaparkan data yang berhasil ia kumpulkan dari jaringan informannya.Blackviper menyilangkan kedua tangannya di dada. Wajahnya yang tegas berkerut dalam, memperlihatkan raut kekesalan yang amat jelas tatkala mendengar informasi rekam jejak pemuda tersebut."Cuma seorang pemuda tapi Denny, Beno, Johar, sampai Joharsyah kok keok semua?! Dasar orang-orang nggak becus!" dengus Blackviper dengan nada suara rendah yang dingin menusuk.DEG!Di tempat persembunyian, Teja dan Berliana saling menatap.Sepasang mata keemasan Teja berbinar tajam di balik bayangan tumpukan kontainer berkarat. Sementara itu, Berliana menahan napasnya sejenak dengan mata melebar. Keduanya tak menyangka jika Blackviper ini ternyata masih satu kaitan dengan keluarga Johar. Benang merah yang sejak kemarin membingungkan Berliana, akhirnya terurai terang benderan
Malam semakin larut. Menginjak jam 10 malam, dari luar pelabuhan datang satu truk kontainer diikuti oleh tiga mobil.Deru mesin berat membelah keheningan pesisir utara Jakarta yang sepi. Cahaya lampu tembak dari truk kontainer dan tiga mobil minibus berwarna hitam pekat tampak memotong kegelapan jalanan tanah berdebu, bergerak perlahan memasuki kawasan pelabuhan cadangan yang sepi.Teja dan Berliana yang sudah menunggu di dekat pelabuhan segera bersiaga.Kedua sejoli itu kini telah mengenakan pakaian serba gelap yang melekat pas di tubuh mereka. Berliana memegang teropong intelijen berteknologi tinggi, menatap tajam ke arah pergerakan konvoi tersebut dari balik semak-semak dan bangunan beton tua. Teja berdiri tegap di sisinya, hawa murni Qi tingkat tujuh di dalam tubuhnya mengalir tenang namun penuh kesiagaan.“Mereka datang, Ja. Sesuai data informan tadi pagi, rombong satu truk kontainer dan tiga mobil sangat klop,” bisik Berliana sembari terus mengamati pergerakan empat kendaraan
Lelah bertempur, Berliana menghubungi pihak restoran hotel untuk memesan masakan antar.Perwira wanita itu melangkah pelan menuju meja nakas di samping tempat tidur. Dengan tubuh yang masih dibalut sisa kehangatan usai pergumulan, ia meraih gagang telepon kamar dan menekan nomor telepon layanan kamar. Berliana memesan beberapa porsi hidangan utama yang kaya akan protein dan nutrisi untuk memulihkan stamina mereka yang terkuras habis."Tolong antarkan ke kamar suite lantai paling atas ya. Terima kasih," ujar Berliana menutup pembicaraan telepon.Tak lama kemudian, ketukan halus terdengar dari balik pintu depan kamar suite. Pemuda berambut gondrong itu dengan sigap meraih piyama berwarna gelap yang disediakan pihak hotel, membalutkan kain lembut itu ke tubuh tegapnya sekadar untuk menutupi raga agar sopan saat berhadapan dengan petugas. Teja melangkah menuju pintu suite, membukanya sedikit, lalu mengambil alih nampan besar berisi deretan hidangan lezat yang tertutup tudung saji pera
“Buat apa kamu teriak, Jaaa?!“ sentak Toni usai mengirimkan tendangannya. “Sakit dong, Yah, gimana sih?!“ raung Teja spontan. “Memangnya beneran sakit?“ pancing sang ayah lagi. Teja terdiam sejenak, kemudian meraba miliknya yang kini berukuran luar biasa, mencoba memastikan apa yang ia rasakan.
Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang keesokan harinya. Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan. Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yan
Teja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana. Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya. Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana. Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang diliri
“Ohhhh, shhhh. Jangan kenceng-kenceng, Pakk!“ Teja Surya atau biasa dipanggil Tejo yang baru saja masuk kamar dan merebahkan diri di ranjang menjadi tersentak saat mendengar suara itu. Suasana siang yang panas sejak ia pulang dari kampus menjadi semakin panas karena suara desahan tersebut. “Taha







