Share

152. Main Hati

Author: Leva Lorich
last update publish date: 2026-07-13 12:33:18

"Siapa di antara para wanita itu yang kamu kumpuli pakai perasaan cinta?" tanya Toni seketika dengan tatapan mata yang sangat menyelidik.

Teja langsung terhenyak kaget mendengar pertanyaan frontal dari ayahnya. "Ma-maksudnya gimana tuh, Yah? Kok malah bahas soal perasaan segala?"

"Maksud ayah, kamu udah menyimpan perasaan sayang yang tulus pada siapa saja di antara barisan cewek yang udah pernah kamu tiduri itu, Ja?" perjelas Toni tanpa basa-basi.

Teja seketika menundukkan kepalanya dalam-dalam
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   558. Sensasi Terbaru

    Teja menyunggingkan senyum tipis yang penuh pesona. Tanpa membuang waktu, pemuda berambut gondrong itu menarik keperkasaannya secara perlahan dari lorong hangat Berliana.Desahan pasrah meluncur dari bibir merah sang perwira TNI tatkala sensasi hampa mendadak menyergap relung liangnya yang licin dan membara. Teja segera merebahkan tubuh tegap berototnya, bertelentang di atas keramik teras balkon yang dingin. Posisi kepalanya sedikit terangkat menyandar pada bingkai pintu kaca, membiarkan dada bidang dan otot perut enam perseginya tetap tertutup pakaian bagian atasnya.Berliana yang pakaian bawahnya masih menumpuk di sekitar pergelangan kaki segera merangkak naik. Raga molek dan padat milik perwira intelijen militer itu mengangkangi paha kekar Teja, lalu duduk bertumpu tepat di atas pangkuan sang kekasih.Dengan jemari halusnya yang sedikit bergetar oleh gejolak gairah yang membuncah, Berliana memegang keperkasaan Teja yang berdiri kokoh, keras seperti tembok beton, dan membara han

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   557. Minum Kopi

    "Beberapa ronde dulu bisa ini, Berli," bisik Teja jahil di sela-sela lumat panas bibir mereka, menyunggingkan senyum menggoda dengan kedua belah alisnya yang sengaja ia gerak-gerakkan.Berliana terkekeh pelan dalam dekapan Teja. Tubuh padatnya yang hangat bergetar halus, merasakan keperkasaan Teja di balik pakaian bawah mereka yang kembali menegang keras seperti semen cor."Tunggu, Sayang, aku hubungi pasukan dulu biar pada ngopi nunggu jam 2," potong Berliana seraya memutus pertautan bibir mereka sejenak.Teja mengurai pelukannya, meraih ponsel berkode enkripsi tinggi milik intelijen militer yang tergeletak di atas meja. Dengan lembut ia menyodorkan ponsel itu ke jemari Berliana. Sang perwira TNI berambut bondol pendek menerimanya dengan senyuman hangat pada sang kekasih.ia segera menekan nomor komandan tim lapangan yang bersiaga di perimeter luar pelabuhan cadangan."Komando di sini," tutur Berliana dengan intonasi tegas khas tentara, meski matanya masih menyiratkan gairah tinggi

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   556. Tangkap Tangan

    "Eh, tapi… gimana kalau mereka terlambat datang dan justru merusak acara pengiriman para wanita itu di kontainer tengah malam nanti?" lanjut Blackviper tiba-tiba, raut wajah keangkuhannya sedikit surut digantikan oleh sedikit kekhawatiran.Joni terkekeh pelan, melipat kedua tangannya di dada dengan gaya santai."Kalau dua sejoli itu yang datang, mereka bukan tandingan Master Blackviper, kan? Mau datang kapan pun tidak masalah, Master," sahut Joni jumawa.Blackviper mengangguk-angguk, senyum puas kembali terukir di bibirnya. Ia menepuk bahu Joni bangga atas kelicikan dan pengamatan anak buahnya tersebut. "Kamu cerdas sekali, Jon!"Blackviper lalu menatap supir truk kontainer yang sejak tadi diam berdiri di dekat pintu kemudi."Yono, jam berapa rencana truk kontainer yang asli datang?" tanya Blackviper menanyakan kejelasan jadwal sesungguhnya."Jam 2 sampai 3 dini hari, Master," jawab Yono singkat dengan anggukan patuh."Oke, kita tunggu sampai urusan ini selesai. Aku sudah nggak sabar

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   555. Kado Istimewa

    "Sudah, Master. Dia pemuda berusia dua puluh tahunan, mahasiswa aktif di Surabaya, dan memiliki perusahaan keamanan di Jakarta ini," jawab pria bernama Joni memaparkan data yang berhasil ia kumpulkan dari jaringan informannya.Blackviper menyilangkan kedua tangannya di dada. Wajahnya yang tegas berkerut dalam, memperlihatkan raut kekesalan yang amat jelas tatkala mendengar informasi rekam jejak pemuda tersebut."Cuma seorang pemuda tapi Denny, Beno, Johar, sampai Joharsyah kok keok semua?! Dasar orang-orang nggak becus!" dengus Blackviper dengan nada suara rendah yang dingin menusuk.DEG!Di tempat persembunyian, Teja dan Berliana saling menatap.Sepasang mata keemasan Teja berbinar tajam di balik bayangan tumpukan kontainer berkarat. Sementara itu, Berliana menahan napasnya sejenak dengan mata melebar. Keduanya tak menyangka jika Blackviper ini ternyata masih satu kaitan dengan keluarga Johar. Benang merah yang sejak kemarin membingungkan Berliana, akhirnya terurai terang benderan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   554. Tangan Kosong

    Malam semakin larut. Menginjak jam 10 malam, dari luar pelabuhan datang satu truk kontainer diikuti oleh tiga mobil.Deru mesin berat membelah keheningan pesisir utara Jakarta yang sepi. Cahaya lampu tembak dari truk kontainer dan tiga mobil minibus berwarna hitam pekat tampak memotong kegelapan jalanan tanah berdebu, bergerak perlahan memasuki kawasan pelabuhan cadangan yang sepi.Teja dan Berliana yang sudah menunggu di dekat pelabuhan segera bersiaga.Kedua sejoli itu kini telah mengenakan pakaian serba gelap yang melekat pas di tubuh mereka. Berliana memegang teropong intelijen berteknologi tinggi, menatap tajam ke arah pergerakan konvoi tersebut dari balik semak-semak dan bangunan beton tua. Teja berdiri tegap di sisinya, hawa murni Qi tingkat tujuh di dalam tubuhnya mengalir tenang namun penuh kesiagaan.“Mereka datang, Ja. Sesuai data informan tadi pagi, rombong satu truk kontainer dan tiga mobil sangat klop,” bisik Berliana sembari terus mengamati pergerakan empat kendaraan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   553. Manja Akut

    Lelah bertempur, Berliana menghubungi pihak restoran hotel untuk memesan masakan antar.Perwira wanita itu melangkah pelan menuju meja nakas di samping tempat tidur. Dengan tubuh yang masih dibalut sisa kehangatan usai pergumulan, ia meraih gagang telepon kamar dan menekan nomor telepon layanan kamar. Berliana memesan beberapa porsi hidangan utama yang kaya akan protein dan nutrisi untuk memulihkan stamina mereka yang terkuras habis."Tolong antarkan ke kamar suite lantai paling atas ya. Terima kasih," ujar Berliana menutup pembicaraan telepon.Tak lama kemudian, ketukan halus terdengar dari balik pintu depan kamar suite. Pemuda berambut gondrong itu dengan sigap meraih piyama berwarna gelap yang disediakan pihak hotel, membalutkan kain lembut itu ke tubuh tegapnya sekadar untuk menutupi raga agar sopan saat berhadapan dengan petugas. Teja melangkah menuju pintu suite, membukanya sedikit, lalu mengambil alih nampan besar berisi deretan hidangan lezat yang tertutup tudung saji pera

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   7. Gitar Spanyol

    Nana yang tak pernah melihat Teja berkelahi menjadi khawatir. “Jo, kabur aja yuk. Hitungan ketiga kita langsung masuk mobil dan tancap gas!“ bisiknya pelan di telinga Teja. Namun Teja justru menggeleng dan mengerlingkan mata. “Kamu diam saja dan tetap di posisimu. Biar aku yang ngurus ini,“ jawab T

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   6. Menunjukkan Sikap Dominan

    Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   5. Gundukan Besar

    “Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   4. Kelinci Percobaan

    “Buat apa kamu teriak, Jaaa?!“ sentak Toni usai mengirimkan tendangannya. “Sakit dong, Yah, gimana sih?!“ raung Teja spontan. “Memangnya beneran sakit?“ pancing sang ayah lagi. Teja terdiam sejenak, kemudian meraba miliknya yang kini berukuran luar biasa, mencoba memastikan apa yang ia rasakan.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status