Home / Urban / Ampun, Jo, Ini Kegedean! / 17. Kebakaran Hutan

Share

17. Kebakaran Hutan

Author: Leva Lorich
last update publish date: 2026-06-07 14:09:16

Teja yang mulai bisa menerima pekerjaannya yang memang seperti itu segera menggeserkan tangannya untuk menyentuh dua ranjau atas Nana tersebut.

Sejenak dari jemarinya menekan di beberapa sisi sambil keningnya terlihat sedang berpikir.

“Iya sih, Na. Agak terlalu empuk. Ya udah, aku kasih pijatan pengencang aja ya,” ujar Teja kemudian.

“Sama pembesar, Jo,” imbuh Nana yang kini tampak memejamkan mata.

Teja hanya mengangguk lalu mulai menuangkan gel pelicin pijatan ke semua permukaan bukit barisan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   25. Prosedur Warisan

    “Dicoba aja dulu, Na, siapa tahu nanti kalau udah terbiasa malah makin lancar urusannya," jawab Teja sambil memberikan senyuman maskulinnya."Lagian kan kita masih punya banyak waktu, besok-besok juga bisa kita atur lagi jadwalnya kalau kamu emang luang," tambah Teja memberikan solusi santai."Iya sih, tapi tetep aja buat hari ini rasanya ganjal banget di hati aku," ucap Nana yang masih belum sepenuhnya menerima keadaan tersebut."Udah, nggak usah diganjal-ganjal lagi, mending sekarang kamu merem terus tidur yang nyenyak," perintah Teja sambil mengusap kepala Nana dengan lembut."Kamu emang tukang pijat paling aneh yang pernah aku kenal, Jo, tapi makasih ya buat semuanya," bisik Nana yang mulai merasakan kantuk menyerang tubuh lemasnya."Sama-sama, Na, udah tugas aku bikin pasien ngerasa nyaman dan puas setelah dipijat," balas Teja merendah padahal hatinya sangat girang karena berhasil mendapatkan satu per enam dari target peningkatan energi Qi-nya.—Tiba di rumah, Teja langsung mene

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   24. Lain Kali Saja

    SLAPP!SLAPP!Desakan pisang tanduk Teja semakin kuat menghujam."Auhh ohhh ohhh, amponnn!" Nana terkaing-kaing dibuatnya."Sakit atau enak, Na? Bilang aja kalau kekencengan," tanya Teja di sela-sela gerakannya yang bertenaga."Enak banget, Jo, tapi beneran ini bikin aku mau gila rasanya," jawab Nana dengan napas yang terengah-engah."Ya udah, nikmatin aja, Na, jangan ditahan-tahan desahannya," balas Teja sambil merapatkan tubuh maskulinnya.Kepala Nana terdongak ke belakang membentur wajah Teja yang mendekapnya."Pijatanmu pakai cara ini emang enak sekali, Jo. Soalnya punyamu gede gila. Ohhh ohhh," teriak Nana kacau tak terkendali."Ini kan karena kamu sendiri yang minta tadi, makanya aku turutin," sahut Teja yang rambut panjangnya berantakan mengenai pipi Nana."Iya, Jo, aku nggak nyesel sama sekali udah minta cara begini sama kamu," ucap Nana dengan mata setengah terpejam.Meski kurang dari separuh miliknya yang bisa masuk ke dalam pusat hulu ledak milik Nana, Teja tetap berusaha m

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   23. Sesuai Permintaan

    "Yang penting kamu bisa puas, Na. Nggak masalah meski aku cuma ngerasain separonya aja yang masuk," kata Teja menghibur.Nana mengangguk dan kembali merebahkan diri. "Goyang, Jo, hmmm ahhh," pintanya yang mulai bisa beradaptasi dengan ukuran monster Teja.Teja segera menurutinya. Ia menarik perlahan miliknya lalu menekan lagi hingga mentok ke rahim Nana.SLOPP!SLOPP!Setiap kali topi baja Teja menyentuh dinding terdalam Nana, Teja melirik ke bawah, menyaksikan bahwa miliknya hanya kurang dari separuhnya yang terendam di sana.'Luar biasa. Punyaku bener-bener panjang dan gede!' pekik Teja dalam hati dengan penuh rasa bangga.Gerakan pinggul Teja semakin leluasa dan kini bertambah kecepatannya karena merasakan ceruk Nana yang sudah semakin licin dan melebar."Ohhh, ampun, Jo, ini kegedean! Ohhh shhhh shhh ahhhh," Nana meracau semakin tak terkendali.Kepalanya terlontar ke kiri dan kanan bantal. Rambut panjangnya yang hitam bercahaya terlihat berserakan sebagian di atas hamparan ranjang

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   22. Rahasia Peningkatan Energi

    Dalam hati, Teja teringat pada perkataan ayahnya bahwa satu kali berhubungan dengan wanita, maka itu setara dengan satu per enam proses menuju peningkatan energi Qi nya ke tingkat dua. Saat ini ia masih berada di energi Qi tingkat satu atau dasar. Peningkatan energi Qi bisa ditempuh dalam 6 purnama, namun dapat dipersingkat dengan menggunakan pisang tanduknya enam kali pada wanita yang menjadi pasien pijatnya. Dan Nana, teman kuliahnya di semester 3 ini adalah wanita perdana sejak Teja menerima warisan lilitan kain sepuluh hari yang lalu, yang membuat tanduknya menjadi terbesar se-Indonesia, mendapatkan ilmu pijat terbaik secara instan, kemampuan bela diri, energi Qi, daya tahan tubuh, peningkatan pesona dan kharisma, serta banyak manfaat serta kemampuan lainnya."Aku masukkan sekarang, Na," bisik Teja sembari merapatkan ujung tanduknya ke gerbang kertasusila Nana.Nana mengangguk tanpa menjawab dengan kata-kata. Ia justru sibuk menggigit bibir bawahnya sendiri karena tegang.Teja

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   21. Terkatung-katung

    Nana mendongak menatap Teja yang berdiri di tepi ranjang. "Hmm, ya udah ayo pijat aku lagi," katanya kemudian. Tubuh polosnya pun kembali beringsut ke tengah ranjang. Teja tidak bisa berkedip melihat gerakan merangkak Nana yang sangat indah. Bulatan belakang Nana terlihat begitu menawan dalam posisi itu. Rambut panjang Nana yang tergerai dalam posisi merangkaknya semakin menambah daya tarik visual yang berlipat ganda bagi Teja. "Kamu ikut naik aja, Jo, biar maksimal mijatnya," pinta Nana sambil mulai rebah. Teja pun ikut naik dan berlutut di samping Nana. Tubuhnya yang juga polos terlihat sangat kokoh di mata Nana. Dada bidang Teja yang tegap berpadu dengan otot lengan yang kuat membuat Nana beberapa kali menelan ludahnya dengan susah payah. Ditambah lagi gerakan Teja yang mendekat itu membuat pisang tanduknya yang sudah tegak sempurna menjadi berayun-ayun dan mengangguk-angguk—Nana semakin senewen dibuatnya. Tangan Teja kembali mendekat ke milik Nana untuk mel

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   20. Sangat Syok

    “Astaga, Jooo?!”“Kenapa, Na, kok kaget gitu? Bukannya kapan hari kamu yang mau maksain buat lihat benda ini?!” tanya Teja sambil menunduk menatap Nana.Nana menelan ludah dengan susah payah, mencoba menetralkan rasa terkejutnya yang luar biasa. “I-iya, Jo. Tapi... tapi aku nggak nyangka kalau ukurannya bakal seheboh itu!” Nana masih nampak syok.“Makanya itu aku kemarin nggak pengen kamu lihat. Sekarang syok kan jadinya kamu?” sahut Teja dengan senyum tipis di wajah tampannya.“Yaaa… lagian kamu nggak pernah bilang kalau ukurannya nggak masuk akal begini, Jo,” protes Nana dengan suara yang masih bergetar.“Kalau aku bilang dari awal, emangnya kamu bakal percaya sama rumor itu? Palingan kamu cuma mikir aku bercanda,” kata Teja lagi sembari merapikan rambut panjangnya yang terurai di depan wajahnya.Nana perlahan melepaskan tangan dari mulutnya. Matanya masih menatap pisang tanduk Teja tanpa berkedip sedikitpun. Tatapan mata wanita cantik itu benar-benar terkunci rapat pada kemasifan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status