登入Nana mendongak menatap Teja yang berdiri di tepi ranjang. "Hmm, ya udah ayo pijat aku lagi," katanya kemudian. Tubuh polosnya pun kembali beringsut ke tengah ranjang. Teja tidak bisa berkedip melihat gerakan merangkak Nana yang sangat indah. Bulatan belakang Nana terlihat begitu menawan dalam posisi itu. Rambut panjang Nana yang tergerai dalam posisi merangkaknya semakin menambah daya tarik visual yang berlipat ganda bagi Teja. "Kamu ikut naik aja, Jo, biar maksimal mijatnya," pinta Nana sambil mulai rebah. Teja pun ikut naik dan berlutut di samping Nana. Tubuhnya yang juga polos terlihat sangat kokoh di mata Nana. Dada bidang Teja yang tegap berpadu dengan otot lengan yang kuat membuat Nana beberapa kali menelan ludahnya dengan susah payah. Ditambah lagi gerakan Teja yang mendekat itu membuat pisang tanduknya yang sudah tegak sempurna menjadi berayun-ayun dan mengangguk-angguk—Nana semakin senewen dibuatnya. Tangan Teja kembali mendekat ke milik Nana untuk mel
“Astaga, Jooo?!”“Kenapa, Na, kok kaget gitu? Bukannya kapan hari kamu yang mau maksain buat lihat benda ini?!” tanya Teja sambil menunduk menatap Nana.Nana menelan ludah dengan susah payah, mencoba menetralkan rasa terkejutnya yang luar biasa. “I-iya, Jo. Tapi... tapi aku nggak nyangka kalau ukurannya bakal seheboh itu!” Nana masih nampak syok.“Makanya itu aku kemarin nggak pengen kamu lihat. Sekarang syok kan jadinya kamu?” sahut Teja dengan senyum tipis di wajah tampannya.“Yaaa… lagian kamu nggak pernah bilang kalau ukurannya nggak masuk akal begini, Jo,” protes Nana dengan suara yang masih bergetar.“Kalau aku bilang dari awal, emangnya kamu bakal percaya sama rumor itu? Palingan kamu cuma mikir aku bercanda,” kata Teja lagi sembari merapikan rambut panjangnya yang terurai di depan wajahnya.Nana perlahan melepaskan tangan dari mulutnya. Matanya masih menatap pisang tanduk Teja tanpa berkedip sedikitpun. Tatapan mata wanita cantik itu benar-benar terkunci rapat pada kemasifan
“Auchhh, so-sori, Jo!” Nana seketika bangkit dengan malu dan tak enak hati.“O-oh, nggak apa-apa, Na. Santai aja,” jawab Teja sambil menatap botol gel yang hanya tersisa sedikit di atas kasur.“Sumpah, aku nggak sengaja, Jo. Tadi itu beneran refleks gara-gara kaget sama pijatan kamu,” kata Nana dengan wajah yang sungkan.“Iya, aku paham kok. Nggak usah dipikirin,” sahut Teja lagi sembari berusaha mengelap cairan yang mulai merembes ke kulit paha luarnya.Tubuh polos Nana kini terduduk tegak di hadapan Teja! Segala keindahan bagian depan tubuh wanita molek itu terpampang dengan sangat menggiurkan. Busungan dada yang tadi sudah dibesarkan dan dikencangkan oleh Teja terlihat menggantung kokoh dengan ujungnya yang menunjuk ke arah Teja.Teja menelan ludah dengan berat melihat pemandangan super yang berada tepat di depan matanya tersebut. Otot kekar di sekujur tubuh master pijat tampan itu mendadak menegang, sementara rambut panjangnya yang terurai sedikit menutupi sebagian wajah maskul
Teja kini memijat tepat di sekeliling ambang bibir lembah serigala milik Nana yang basah karena gel dan cairannya sendiri.“Gimana, Na? Nggak terlalu neken, kan?” tanya Teja sambil menatap wajah teman kuliahnya itu.Nana menggeleng pelan dengan mata yang setengah terpejam. “Nggak kok, Jo. Shhhh, terusin aja,” jawabnya bercampur dengan suara desahan yang agak serak.Semua bagian syaraf di area serambi milik Nana terus saja dipijat oleh Teja dengan telaten untuk mengencangkan otot-ototnya. Ia mengkombinasikan dengan menggerakkan jemarinya secara memutar, menekan titik-titik kaku di sekitar area sensitif tersebut.Kulit Nana yang halus langsung merespon setiap sentuhannya, membuat otot-otot di wilayah itu perlahan mulai terasa lebih elastis dan padat.“Ini emang harus pelan-pelan, Na, biar hasilnya maksimal dan nggak sakit,” kata Teja lagi, berusaha mengalihkan fokusnya sendiri yang semakin terpengaruh oleh pesona yang ada di depan mata.“Iya, Jo, terserah kamuhh ajahh. Aku ngikut giman
Teja yang mulai bisa menerima pekerjaannya yang memang seperti itu segera menggeserkan tangannya untuk menyentuh dua ranjau atas Nana tersebut.Sejenak dari jemarinya menekan di beberapa sisi sambil keningnya terlihat sedang berpikir.“Iya sih, Na. Agak terlalu empuk. Ya udah, aku kasih pijatan pengencang aja ya,” ujar Teja kemudian.“Sama pembesar, Jo,” imbuh Nana yang kini tampak memejamkan mata.Teja hanya mengangguk lalu mulai menuangkan gel pelicin pijatan ke semua permukaan bukit barisan milik Nana.“Hmmm ehhh,” desahan kecil kembali lolos dari bibir mungil Nana saat merasakan kegelian yang menyeruak pada bagian sensitif tersebut.“Uhhhh!“ ia semakin melenguh panjang tatkala jari telunjuk dan jempol Teja menjapit kuat puncak coklat miliknya.Wajah Nana berubah merah padam menahan gejolak hasratnya yang kian membumbung tinggi. Begitu juga dengan Teja yang juga merah padam wajahnya karena sensasi rasa empuk serta pemandangan keindahan dari bagian depan Nana tersebut.Teja begitu
“Ya udah ayo, Na. Kamu tengkurap ya di ranjang,” ucap Teja sembari bangkit berdiri dari tepi ranjang tersebut. Nana merangkak naik ke tengah ranjang. “Buka baju nggak nih, Jo?“ Tanyanya berhati-hati karena tak ingin membuat emosi Teja bangkit kembali seperti sebelum-sebelumnya.Sejenak Teja menatap hamparan bagian belakang tubuh Nana yang terlihat berlekuk curam meski masih terbungkus kain dasternya. “Terserah kamu saja, Na. Tapi kalau pakai baju lengkap begini jelas nanti bakal lengket kena gel.“Tanpa dikomando untuk kedua kalinya, Nana segera melepas daster kaos ketatnya di hadapan Teja.Gerakan Nana yang menarik perlahan ujung bawah dasternya menuju ke atas tubuh terlihat di mata Teja seperti gerakan slow motion yang membuat jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat dari sebelumnya.Pura-pura tak peduli pada tatapan mata Teja, Nana terus menarik ujung daster kaosnya melewati bongkahan bulat di bawah pinggulnya.Tak berhenti di situ, Nana terus menarik ke atas daster itu melewati







