LOGINBianca mendongakkan wajahnya sedikit, menatap lurus ke dalam sepasang mata hangat milik Teja. Binar kepasrahan dan rasa cinta yang mendalam terpancar jelas dari raut wajah cantiknya yang merona halus. Tanpa mengulurkan waktu lagi, wanita berambut bob pendek itu merangkul leher tegap Teja dengan kedua tangan lentiknya.Teja menundukkan kepala, menyatukan bibirnya dengan bibir ranum Bianca dalam sebuah ciuman panas yang mendalam.Pagutan bibir mereka berlangsung liar dan sarat akan gairah yang tertahan. Lidah Teja menerobos masuk ke dalam rongga mulut Bianca yang manis, mengaduk dan membelit lidah wanitanya dengan kehangatan yang kian membara. Bianca membalas lumatan itu dengan penuh semangat, mengulum lembut bibir atas Teja sembari melenguh halus di sela-sela ciuman mereka.“Uhhm, Jahh!“Sembari terus mengadu bibir, jemari kekar Teja bergerak lincah merayap ke belakang tubuh Bianca. Ia menurunkan resleting gaun yang membungkus rapi tubuh molek sang wanita. Kain halus berkelas itu
Siang berganti sore, sore berganti malam. Suasana kota Jakarta yang padat perlahan mulai dihiasi oleh gemerlap lampu-lampu jalanan dan gedung pencakar langit. Di dalam kamar hotel lantai sepuluh yang nyaman, suasana terasa sangat tenang usai segala rencana persiapan dimatangkan.Buan dan Budi sudah undur diri untuk berkoordinasi dengan tim SPN yang lain untuk persiapan besok malam. Kedua pria paruh baya itu bergegas meninggalkan kawasan hotel guna memimpin apel siaga serta mengatur penempatan puluhan personel pengamanan di titik-titik strategis sekitar rumah keluarga Johar.Bianca yang memiliki tugas malam mewakili ayahnya untuk mengawasi kinerja karyawan hotel tampak melangkah santai keluar dari lift lantai sepuluh menuju pintu kamar Teja. Gaun kerja yang dipakainya nampak begitu rapi, memancarkan aura keanggunan seorang putri pengusaha yang juga memegang posisi penting di manajemen hotel mewah tersebut.Setelah mngetuk dua kali, Teja sudah membukanya."Kamu kan lagi kerja, Bi. Ko
Usai mengambil kartu akses di resepsionis, Teja segera masuk ke lift bersama Buan dan Budi, sedangkan Bianca tetap berhenti di meja resepsionis untuk menerima laporan karyawan front office.Bianca langsung menunjukkan wibawanya sebagai pimpinan manajemen, memeriksa berkas dan mendengarkan laporan dari para staf hotel dengan cermat. Sementara itu, pintu lift stainless steel tertutup rapat, membawa Teja, Buan, dan Budi bergerak naik menuju lantai atas yang berisi kamar suite khusus.Di dalam ruang lift yang tenang, suasana berubah menjadi lebih serius. Teja berdiri di tengah, membelakangi dinding kaca lift sembari menatap lurus ke arah dua pengelola perusahaan pengamanannya."Sepengetahuan kalian, berapa jumlah kekuatan tempur anggota keluarga Johar?" tanya Teja penuh dengan rencana kalkulasi perhitungan."Selain Johar sendiri, ada beberapa generasi di bawahnya yang terlatih. Ehm, perkiraan ada sekitar sepuluh orang ahli bela diri selain Johar di keluarga itu," terang Buan dengan raut
Sekitar jam 11 siang, Teja dan Bianca sudah bergandengan mesra keluar dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta.Udara hangat khas ibu kota langsung menyambut kedatangan mereka saat melangkah keluar dari area pintu kedatangan yang ramai oleh lalu lalang penumpang. Bianca tampil sangat anggun dengan kacamata hitam yang bertengger manis di wajah cantiknya, sementara Teja melangkah tegap mengimbangi langkah wanita berambut bob pendek di sampingnya dengan ketenangan yang memancar kuat.Di gerbang kedatangan, Buan dan Budi sudah menunggu untuk menjemput.Dua pria paruh baya yang merupakan pengelola utama dari perusahaan Surya Pengamanan Nusantara atau SPN itu berdiri siaga di dekat barisan penjemput. Pandangan mata Buan yang sedang menyapu kerumunan seketika menangkap sosok pemuda bertubuh tegap berotot dengan rambut dreadlock yang khas."Bos, kami di sini!" teriak Buan sembari melambaikan tangan.Sekilas masih muncul tatapan canggung Buan yang tak sengaja mengusik Nana tempo hari untuk
Teja menarik miliknya keluar dari kehangatan selangkangan Bianca.Cairan bening yang licin membungkus bagian perkasanya saat terlepas penuh dari celah kewanitaan sang gadis berambut bob itu. Teja mengusap sisa-sisa cairan tersebut dengan kain bersih di dekat tempat tidur, lalu menyandarkan tubuh berototnya di kepala ranjang.Bianca yang masih terkulai lemas di atas kasur memutar badannya perlahan, menatap Teja dengan sepasang mata redup yang memperlihatkan keheranan."Lho, kok dilepas, Ja? Kamu kan belum keluar?" tanya Bianca penuh rasa bersalah."Sudah cukup, Bi. Yang penting kamu udah puas crot dua kali, aku mah gampang besok-besok aja," sahut Teja tenang sembari mengelus rambut pendek Bianca dengan penuh kelembutan.Teja yang dulu sudah terbiasa susah orgasme, kali ini tak mencapai itu pun tak mengapa. Ia sudah terbiasa dengan kondisi fisiknya yang memiliki ketahanan di luar nalar manusia biasa. Bagi Teja, kepuasan wanitanya adalah prioritas utama dalam setiap pertempuran asmara.
Teja merengkuh lembut pinggang ramping Bianca, membalikkan tubuh wanita berambut bob itu secara perlahan di atas peraduan. Usai memberikan jeda sejenak untuk menata napas Bianca yang masih memburu usai orgasme pertamanya, Teja membimbing wanitanya untuk berganti ke posisi paling favorit bagi dirinya."Ubah posisi ya, Bi. Nungging," bisik Teja rendah di samping telinga mulus wanitanya.Bianca mengangguk pasrah. Binar kepatuhan terpancar jelas dari sepasang matanya yang meredup manja. Tanpa ragu, wanita berpenampilan berkelas itu berputar lincah di atas sprei. Dua lutut mulusnya menopang kokoh di atas tempat tidur, sementara bagian belakang tubuhnya yang padat dan berisi terangkat tinggi ke udara. Punggung mulusnya melengkung indah, merebahkan dada mengkal dan wajah ayunya di atas tumpukan bantal empuk.Pemandangan dari arah belakang itu terlihat sangat memikat. Lengkungan pinggul dan gumpalan kenyal bokong milik Bianca terhampar polos tanpa sehelai benang pun, memancarkan daya pik
“Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter
BLARRR! Jantung Teja seperti baru saja dilempar bom molotov. Meski ia sudah menerima tugas pijat sebagai penerus dan pengganti ayahnya, tetap saja ia masih merasa cukup canggung untuk menjamah tubuh wanita. Terlebih, semua pasien umpan lambung dari ayahnya memiliki kecantikan dan keindahan tubuh d
Nana yang tak pernah melihat Teja berkelahi menjadi khawatir. “Jo, kabur aja yuk. Hitungan ketiga kita langsung masuk mobil dan tancap gas!“ bisiknya pelan di telinga Teja. Namun Teja justru menggeleng dan mengerlingkan mata. “Kamu diam saja dan tetap di posisimu. Biar aku yang ngurus ini,“ jawab T
Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan







