LOGINCahaya keemasan menerobos masuk melintasi sela-sela tirai bambu yang tergantung anggun di jendela kayu, menyinari sekeliling ruangan yang hangat dan beraroma semerbak minyak cendana. Kelopak mata Teja terbuka pelan-pelan, menyesuaikan ketajaman penglihatannya dengan pendar sinar pagi yang menerangi kamar. Seluruh persendian di raganya terasa teramat kaku, dan setiap kali ia mencoba menghela napas, dada bidangnya berdenyut nyeri akibat sisa-sisa pendar racun Qi A Shiang yang sempat menghantam organ dalamnya.Teja memutar kepalanya perlahan ke sisi kiri. Tak jauh dari tempat tidurnya, dua ranjang ukir berukuran sedang tampak terisi. Panda terbaring berbalut selimut sutra merah dengan raut wajah yang masih agak pucat, sementara di ranjang sebelahnya, Liong To tidur terlentang dengan dada yang dibalut perban kain putih.Ornamen naga dan burung phoenix yang terukir halus di tiang-tiang kayu jati, dipadu dengan langit-langit berarsitektur Tionghoa klasik, mengonfirmasi keberadaannya. Ia
Tubuh A Shiang yang sudah kehilangan tempurung kepalanya roboh perlahan ke atas permukaan beton yang dingin. Darah pekat menyembur membasahi pelataran, menyisakan keheningan mencekam yang menusuk hingga ke tulang. Teja berdiri tegap di samping jasad musuhnya, bernapas secara teratur dengan Binar mata keemasan Murni Qi tingkat tujuh setengah yang perlahan surut meninggalkan paras tampannya.Semua mata anak buah A Shiang menatap kaget ke arah Teja dan tubuh A Shiang yang tumbang tanpa kepala.Sepuluh orang pria berbadan tegap berpakaian hitam yang berdiri di depan pintu gudang mendadak membelalak kaku. Senjata tajam di genggaman mereka gemetar hebat, rahang mereka melorot tak percaya menyaksikan sang pelatih khusus yang sangat ditakuti dan memiliki kemampuan Qi beracun tingkat tinggi justru tewas seketika hanya dalam satu hentakan tangan dari pemuda berambut dreadlock tersebut.Begitu pula dengan Liong To dan Panda yang terpekik kagum melihat kehebatan pemuda ahli pijat legendaris it
A Shiang menyapu bercak darah di sudut bibirnya dengan jubah hitam yang sudah terkoyak. Pria tua itu menggeram kencang, lalu melesat maju kembali dengan dorongan kaki kokohnya. Di sisi lain, Teja menyapu memar di dadanya dan langsung menyambut serbuan musuh dengan lonjakan Murni Qi yang bergelora di seluruh pembuluh darahnya.Kedua raga itu kembali bertabrakan di udara malam. Adu fisik jarak dekat dalam tempo kilat kembali tercipta, memicu dentuman-dentuman keras yang beruntun. A Shiang memutar pinggulnya, mengayunkan cakar beracunnya secara membabi buta ke arah Leher dan rusuk Teja."Mati kau, Bocah! Kamu pikir bisa menang mudah dari pelatih khusus Keluarga Johar?!" geram A Shiang dengan suara parau yang membahana.Teja menangkis sabetan cakar tersebut menggunakan benteng siku Murni Qi tingkat tujuh miliknya. Namun, kepak energi hitam beracun A Shiang terbukti sangat padat dan ulet. Setiap kali tangkisan Teja mendarat, getaran Qi beracun itu merembes tipis, menggerogoti lapisan
Binar mata keemasan Teja menajam menembus remang malam. Sentilan kerikil bermuatan Murni Qi tadi hanyalah sekadar peringatan tipis. Melihat bagaimana A Shiang mampu mengendalikan energi Qi beracun dengan tingkat kepadatan yang lumayan pekat, Teja menyadari bahwa pria tua berjubah hitam ini bukanlah musuh kroco biasa seperti para anggota Keluarga Johar yang pernah ia tumbangkan sebelumnya. Kendati demikian, tidak ada waktu untuk menimbang-nimbang risiko. Nyawa Toni yang disekap di dalam gudang menjadi prioritas utama yang tak bisa ditawar sedikit pun.A Shiang menarik kakinya yang sempat kebas sejenak akibat hantaman kerikil tadi. Pria tua itu menggerakkan persendian pahanya yang terasa panas menyengat, lalu menatap Teja dengan raut wajah yang campur aduk antara kaget, heran, dan gusar yang besar."Ka-kamu... cukup bagus juga ternyata energi kamu, Nak!" puji A Shiang.A Shiang mengibas-ibaskan jubah hitamnya yang berdebu. Suaranya terdengar sedikit berat, mencoba menutupi rasa terke
Panda melayang di udara, melayangkan tendangan lurus berputar yang menyasar pelipis A Shiang dengan kekuatan tinggi. Angin yang berhembus dari gerakan kakinya terdengar cukup tajam, membuktikan bahwa gemblengan fisik dan latihan beladiri Tiongkok sejak kecil telah menyatu sempurna dalam raga gadis keturunan Tionghoa tersebut.A Shiang yang mendadak diserang dari arah samping refleks membatalkan eksekusi susulannya kepada Liong To. Pria berjubah hitam itu menarik kepalanya sedikit ke belakang, membiarkan sol sepatu Tangzhuang milik Panda melintas tipis hanya beberapa sentimeter di depan hidungnya."Boleh juga refleksmu, Bocah!" geram A Shiang seraya mengayunkan cakar tangannya untuk mencengkeram pergelangan kaki Panda.Panda yang memiliki fleksibilitas fisik muda yang jauh lebih lincah dibanding ayahnya, tidak membiarkan kakinya tertangkap dengan mudah. Saat berada di udara, Panda memutar pinggulnya secara cepat, menarik kembali kakinya lalu melancarkan dua dorongan telapak tangan b
Emosi Liong To yang mendidih tak lagi dapat ditahan. Sebagai praktisi senior yang sangat menjunjung tinggi etika dan kehormatan dunia persilatan, tindakan A Shiang yang menggunakan cara licik dengan menculik orang tua tak bersalah telah menginjak-injak martabat mereka.Dengan hentakan kaki yang amat kuat ke permukaan tanah, Liong To melesat maju bagaikan kilat. Pakaian Tangzhuang abu-abu gelap yang dikenakannya berkibar kencang membelah angin malam. Sepasang telapak tangannya terbentang lebar, melancarkan jurus telapak angin dari aliran Wushu klasik yang mengincar langsung area dada A Shiang.A Shiang tidak menunjukkan sedikit pun raut panik. Pria berjubah hitam itu justru menyunggingkan senyuman meremehkan tatkala melihat serangan cepat dari rekan sesama praktisi seniornya tersebut."Liong To! Kamu sudah tua dan makin bodoh karena mau menjadi anjing suruhan pemuda bau kencur ini!" seru A Shiang seraya menggeser pinggulnya sedikit ke samping.Dengan gerakan yang amat fleksibel, A Sh
Teja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana. Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya. Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana. Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang diliri
“Ohhhh, shhhh. Jangan kenceng-kenceng, Pakk!“ Teja Surya atau biasa dipanggil Tejo yang baru saja masuk kamar dan merebahkan diri di ranjang menjadi tersentak saat mendengar suara itu. Suasana siang yang panas sejak ia pulang dari kampus menjadi semakin panas karena suara desahan tersebut. “Taha
“Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter
BLARRR! Jantung Teja seperti baru saja dilempar bom molotov. Meski ia sudah menerima tugas pijat sebagai penerus dan pengganti ayahnya, tetap saja ia masih merasa cukup canggung untuk menjamah tubuh wanita. Terlebih, semua pasien umpan lambung dari ayahnya memiliki kecantikan dan keindahan tubuh d







