Home / Fantasi / Ampun, Jo, Ini Kegedean! / 396. Tak Bisa Disamakan

Share

396. Tak Bisa Disamakan

Author: Leva Lorich
last update publish date: 2026-09-04 11:48:56

Siang harinya, Bintang dan Pedro sudah berangkat membawa tiga wanita Teja menuju kota asal Teja.

Sebuah SUV hitam bertubuh bongsor dan berpenampilan gagah membelah jalanan kota dengan mulus.

Di balik kemudi, Bintang mengendalikan kendaraan dengan sangat sigap, sementara Pedro duduk di kursi samping memperhatikan situasi sekitar.

Di kursi belakang yang lapang dan nyaman, Bianca, Linda, dan Panda duduk berdampingan sembari bercengkerama hangat.

Pengawalan ketat dua tangan kanan Teja di geng Su
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   398. Hampir Mustahil

    "Percayakan sama aku, Pak Jim," ucap Teja tenang diikuti tatapan penuh ketegasan.Pria berambut panjang ala dreadlock itu melangkah mendekati Jim, menepuk pelan bahu pria paruh baya yang masih berdiri kaku di dekat meja kerjanya. Mata Teja yang tenang dan tajam seolah menyalurkan kedamaian jiwa yang mendalam, memupuskan rasa ketakutan yang sempat disebarkan oleh Johar beberapa saat lalu.Mendengar keyakinan Teja, Jim mulai berkurang rasa paniknya.Jim menghembuskan napas panjang, menyapu peluh dingin yang sempat membasahi dahinya. Ia menyadari betul bahwa pemuda di hadapannya ini bukanlah sosok yang suka berbohong atau mengumbar janji kosong. Keajaiban-keajaiban yang pernah Teja tunjukkan, mulai dari menyembuhkan penyakit kronisnya hingga melumpuhkan petarung sekelas Beno, menjadi bukti nyata betapa luar biasanya potensi yang dimiliki oleh pemuda tersebut."Tapi aku mau minta tolong sama Pak Jim," pangkas Teja memecah keheningan ruangan.Jim dengan cepat menegakkan posisi berdiriny

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   397. Respon Konyol

    "Pertama, kamu mempermalukan Denny di kotamu!" bentak Johar dengan telunjuk teracung lurus ke arah dada Teja. Matanya membelalak lebar, memancarkan amarah yang telah membakar habis sisa-sisa kesabarannya."Kedua, kamu juga mempermalukan Beno dan dua anak kembarnya beberapa hari yang lalu!" lanjut Johar, menghentakkan kakinya ke lantai marmer hingga menimbulkan bunyi dentuman yang nyaring."Dan ketiga, Johan juga kamu perlakukan dengan hina!" jerit Johar penuh tekanan emosi. Suaranya menggelegar memantul di dinding-dinding kaca ruangan kerja tersebut, meluapkan seluruh kekesalan atas runtuhnya martabat keluarga besar yang selama ini ia agung-agungkan.Teja tetap berdiri tegap dengan posisi tubuh yang teramat stabil. Pria berambut gondrong ala dreadlock itu sama sekali tidak bergeser satu sentimeter pun dari tempatnya berdiri. Tatapan matanya yang dingin dan tajam menusuk lurus ke dalam manik mata Johar tanpa ada sedikit pun rasa keraguan."Jangan merasa paling benar dan suci, Pak J

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   396. Tak Bisa Disamakan

    Siang harinya, Bintang dan Pedro sudah berangkat membawa tiga wanita Teja menuju kota asal Teja.Sebuah SUV hitam bertubuh bongsor dan berpenampilan gagah membelah jalanan kota dengan mulus. Di balik kemudi, Bintang mengendalikan kendaraan dengan sangat sigap, sementara Pedro duduk di kursi samping memperhatikan situasi sekitar. Di kursi belakang yang lapang dan nyaman, Bianca, Linda, dan Panda duduk berdampingan sembari bercengkerama hangat. Pengawalan ketat dua tangan kanan Teja di geng Surya tersebut memastikan perjalanan darat lintas kota itu akan berlangsung aman tanpa gangguan berarti.Sepeninggal rombongan wanitanya, Teja segera melangkah meninggalkan komplek SPN Company.Pria itu kemudian menemui Jim yang sudah aktif berkantor di puncak hotel tempat Teja menginap.Ruang kerja eksekutif di lantai paling atas hotel berbintang lima itu menyajikan pemandangan kota yang amat memukau dari balik dinding kaca raksasa. Jim, yang kondisi fisiknya telah pulih total berkat keajaiban e

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   395. Prioritas Keamanan

    "Pak Budi, Pak Buan… kejadian yang menimpa tiga wanitaku tadi malam jangan sampai terulang lagi. Mulai detik ini berikan pengawalan yang ketat buat mereka dari jarak yang aman agar nggak mengganggu privasi mereka!" ucap Teja pagi itu di ruang CEO SPN Company.Pria berambut panjang ala dreadlock itu berdiri tegap di balik meja kerjanya yang luas. Sinar matahari pagi menembus kaca jendela kantor, menyorot raut wajah tegas Teja yang memancarkan kewibawaan seorang pimpinan tertinggi. Meskipun peristiwa penangkapan Johan tadi malam berjalan sukses tanpa ada cedera fisik pada para wanitanya, ancaman di dunia luar tetap tidak bisa dianggap remeh begitu saja.Budi dan Buan menatap Teja dengan tak enak hati karena tadi malam sampai kecolongan.Dua mantan pelatih senior itu menundukkan kepala sedikit dengan raut wajah yang diliputi rasa penyesalan mendalam. Sebagai pemegang komando operasional di SPN Company, mereka merasa bertanggung jawab atas kelengahan sistem pengawasan yang sempat membu

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   394. Tak Bisa Dimaafkan

    Teja langsung melompat dari taksi begitu usai membayarnya.Tanpa menunggu pintu mobil ditutup sempurna oleh sang sopir yang masih gemetar heran, langkah kaki Teja menapak cepat di atas aspal pelataran kafe. Matanya yang tajam langsung menyapu sekeliling area parkir yang diterangi pendar lampu sorot kekuningan.Namun, suasana sudah sangat kondusif. Bianca sudah ada di pelukan Panda dan Linda meski masih menangis ketakutan.Isak tangis halus dari mulut Bianca terdengar mengalun di antara keheningan malam yang mulai kembali tenang. Pakaian gaun mewahnya tampak sedikit kusut di bagian lengan, tanda sempat terjadi tarikan paksa sebelum bala bantuan tiba. Linda dan Panda mengelus lembut punggung serta rambut bob milik Bianca, berusaha memberikan rasa aman dan ketenangan jiwa bagi saudari baru mereka."Kalian nggak apa-apa?" tanya Teja bergegas mendekat. Suaranya serak basah dipenuhi dengan rasa kecemasan.Mendengar suara familiar yang teramat dicintainya, Bianca mendongakkan kepala. Beg

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   393. Lima Belas Menit Yang Menyiksa

    Teja bergegas mandi air dingin untuk menyegarkan tubuh.Guyuran air bersih yang menetes keras dari pancuran kristal kamar mandi seketika membasuh sisa-sisa ketegangan dan kelelahan fisiknya. Sensasi dingin dari air tersebut meresap ke pori-pori kulitnya, menyelaraskan kembali pusaran hawa murni energi Qi kebiruan bercampur keemasan di dalam tubuhnya agar kembali mengalir tenang dan seimbang.Ketika keluar dari kamar mandi dan masih berbalutkan handuk, ponsel Teja di meja nakas bergetar.Suara dengungan kencang dari getaran ponsel pintarnya membuat pria berambut gondrong itu mempercepat langkahnya menuju nakas di samping ranjang.Teja ponsel tersebut dan melihat siapa gerangan yang sedang menghubunginya. Muncul nama Panda di sana. Teja pun segera menggeser tombol hijau di layar kaca ponselnya, menempelkan benda pipih itu di daun telinganya dengan senyum tipis yang menduga wanitanya pasti ingin memamerkan suasana jalan-jalan malam mereka."Halo, Nda. Gimana jalan-jalannya?""Tejaaa! A

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   9. Sengaja Memperlambat

    “Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   8. Menghujam Bumi

    BLARRR! Jantung Teja seperti baru saja dilempar bom molotov. Meski ia sudah menerima tugas pijat sebagai penerus dan pengganti ayahnya, tetap saja ia masih merasa cukup canggung untuk menjamah tubuh wanita. Terlebih, semua pasien umpan lambung dari ayahnya memiliki kecantikan dan keindahan tubuh d

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   7. Gitar Spanyol

    Nana yang tak pernah melihat Teja berkelahi menjadi khawatir. “Jo, kabur aja yuk. Hitungan ketiga kita langsung masuk mobil dan tancap gas!“ bisiknya pelan di telinga Teja. Namun Teja justru menggeleng dan mengerlingkan mata. “Kamu diam saja dan tetap di posisimu. Biar aku yang ngurus ini,“ jawab T

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   6. Menunjukkan Sikap Dominan

    Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status