LOGIN"Kalian tenang saja. Ini cuma reaksi wajar karena aku baru saja menerobos ranah energi Qi tingkat empat, sekaligus naik ke ranah bela diri tingkat ahli tahap fondasi."Suara Teja yang dalam dan tenang bergema halus di dalam ruangan tenda tersebut. Pria berambut panjang ala dreadlock itu menyunggingkan senyum sangat menawan dari atas matras empuk tempatnya berbaring. Meski sisa-sisa uap hangat dari proses perombakan sirkulasi energi masih merembes halus dari pori-pori kulitnya, binar matanya yang keemasan kini memancarkan ketajaman yang sangat menenangkan jiwa.Linda dan Panda mendadak membisu kaku. Sepasang mata sipit Panda serta mata bening Linda membelalak luar biasa, dipenuhi cahaya takjub yang sukar dilukiskan dengan kata-kata. Sebagai sesama praktisi yang paham betul betapa mustahil dan kerasnya dinding pembatas antar ranah dalam dunia bela diri, kabar terobosan Teja bagaikan petir di siang bolong yang melapangkan seluruh kekhawatiran di dada mereka."Kamu sudah menerobos, Say
Sari yang panik langsung merengkuh lengan panjang Teja.Janda muda berparas jelita itu tak menghiraukan raganya sendiri yang masih polos tanpa sehelai benang pun di atas permukaan batu sungai besar tersebut.Sepasang matanya yang bening membelalak hebat, dipenuhi rasa ketakutan dan kepanikan yang begitu dahsyat tatkala menyaksikan raga tegap prianya berguling kaku di sampingnya. Peluh dingin membanjiri seluruh permukaan kulit Teja yang mendadak memucat, sementara pembuluh darah di leher dan dada bidangnya menonjol kehitaman bagaikan sulur-sulur pohon purba."Sayang! Kamu kenapa?!" jerit Sari Okta histeris sembari mengguncang pelan bahu kekar prianya."Sakit banget, Sar. Panassss!" teriak Teja mengeraskan rahangnya kuat-kuat.Erangan berat dan dalam meluncur dari celah gigi Teja yang mengatup rapat. Pria berambut gondrong ala dreadlock itu mencengkeram erat tepi batuan cadas hingga otot di pelipisnya menonjol keras. Di dalam rongga dadanya, gejolak energi terasa bagaikan lahar mendi
Tanpa membuang waktu, Teja memegang erat dua pinggul padat Sari, lalu menghentakkan pinggulnya maju dalam satu dorongan gaya misionaris yang sangat kuat.Batang terbesar se-Indonesia milik sang master muda seketika melesak menembus celah kehangatan Sari Okta. Permukaan batangnya yang super tebal, tegang kokoh, dan mengkilap oleh lelehan pelumas alami berpadu hawa murni Qi kembali tenggelam semua tanpa menyisakan apa pun. Ujung tumpulnya yang membara panas menekan sangat padat, membenamkan hujaman tepat di pusat rahim sang selebgram cantik."Ufhh-shh-ah, Tejaaa!"Sari Okta melengkingkan desahan panjang tatkala merasakan seluruh panjang kejantanan Teja kembali menghujam kedalaman liang miliknya. Dua lengan mulusnya seketika melingkar erat di leher kekar Teja, sementara dua paha mulusnya terangkat mengapit pinggul tegap sang pria dari sisi kiri dan kanan.Teja mulai memompa pinggulnya dalam irama pacuan misionaris berkecepatan tinggi.Setiap hentakan keras yang diluncurkan Teja dari a
"Kamu juga bagus daya tahan tubuhmu, Sayang. Apalagi bisa menelan habis ukuran punyaku yang over dosis," jawab Teja memuji.Pria berambut panjang itu menyunggingkan senyum di sela-sela paparan guyuran air terjun yang menghantam bahu kokohnya.Dorongan dan hentakan milik Teja yang terbesar se-Indonesia itu semakin menjadi-jadi.Di dalam beningnya air sungai yang membasahi hingga ke pertengahan dada, Teja mempercepat kayuhan pinggulnya dalam tempo yang begitu garang, ritmis, dan bertenaga penuh. Dua tangan kekarnya yang mencengkeram erat belahan bokong kenyal Sari mengangkat dan melempar tubuh wanitanya meluncur turun secara liar. Setiap kali pinggul Sari merosot ke bawah, kejantanan jumbo Teja melesak brutal tanpa menyisakan ruang kosong sedikit pun."Ohh! Gila, ini keras banget rasanya di dalam punyaku! Ampun! Uh-uuu-uhh!" racau Sari sembari ikut bergoyang di atas gendongan Teja.Suara cicitan dan desahan binal meluncur tiada henti dari celah bibir merah muda Sari Okta. Rasa padat
"Sayang, aku keluar! Oh-oh-ohh!" pekik Sari Okta nyaring sembari memejamkan mata rapat serta menyembunyikan wajah di tulang selangka Teja.Suara melengking dari janda muda berparas cantik dan sensual itu memecah riuhnya gemuruh guyuran air terjun yang jatuh menghantam batuan cadas di lereng Gunung Camar Hitam. Di balik kejernihan air sungai yang membasahi hingga pertengahan dada, benteng pertahanan mental Sari Okta runtuh tatkala puncak nikmat yang begitu dahsyat meledak hebat di dasar pinggulnya.Kehangatan cairan pelepasan Sari menjalar dan membungkus milik Teja seperti miliknya sedang direndam kopi hangat.Sensasi lelehan alami berkuantitas melimpah melingkupi seluruh batang otot super besar milik sang master muda itu. Pancaran hawa murni energi Qi di dalam tubuh Teja kian bergejolak hangat tatkala jepitan-jepitan ritmis dari dinding rahim Sari memijat ketat miliknya. Kedalaman liang legit milik sang selebgram cantik yang sanggup menampung seluruh panjang kejantanan Teja itu mem
Guyuran tirai air terjun yang jatuh membelah tebing karang membiaskan uap dingin nan sejuk di sekeliling tubuh mereka yang sepenuhnya polos. Di dalam beningnya derai air sungai yang membasahi hingga ke dada, Teja menyusupkan satu tangan kekarnya ke bawah belahan bokong kenyal Sari Okta, mengangkat sedikit pinggul mulus sang selebgram cantik agar menyelaraskan posisi selangkangan mereka.Dengan satu hentakan pinggul bertenaga penuh yang sangat hebat, bagian super wow milik sang master muda menerobos masuk.Permukaan batangnya yang super tebal, mengkilap oleh uap hawa murni Qi, dan memerah hangat melesak mulus menembus celah kewanitaan Sari yang telah membasah oleh lelehan pelumas alami berpadu kesegaran air pegunungan.Sensasi mengganjal yang sangat padat dan rapat seketika membanjiri seluruh saluran saraf di pinggul Sari Okta. Tidak seperti Linda atau Panda yang merintih sesak dan harus menahan penetrasi pada batas tertentu, anatomi kewanitaan janda muda berparas jelita ini memiliki
Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan
“Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih
“Buat apa kamu teriak, Jaaa?!“ sentak Toni usai mengirimkan tendangannya. “Sakit dong, Yah, gimana sih?!“ raung Teja spontan. “Memangnya beneran sakit?“ pancing sang ayah lagi. Teja terdiam sejenak, kemudian meraba miliknya yang kini berukuran luar biasa, mencoba memastikan apa yang ia rasakan.
Nana yang tak pernah melihat Teja berkelahi menjadi khawatir. “Jo, kabur aja yuk. Hitungan ketiga kita langsung masuk mobil dan tancap gas!“ bisiknya pelan di telinga Teja. Namun Teja justru menggeleng dan mengerlingkan mata. “Kamu diam saja dan tetap di posisimu. Biar aku yang ngurus ini,“ jawab T







