LOGIN"Iya, Ja. Kopi racik gitu, semacam latte dan sejenisnya. Bukan kopi hitam murni. Lambungku nggak kuat kalau kena yang murni," jelas Sekar sambil tersenyum kecil, merapikan beberapa helai rambutnya yang tertiup angin sepoi-sepoi di halaman belakang."Lho, kamu bisa meracik kopi?" tanya Teja dengan nada penasaran, menoleh ke arah wanita mungil di sebelah kursinya dengan tatapan tertarik."Bisa dong. Janda satu anak ini cukup punya banyak pengalaman lho, Ja. Aku sebelum mendirikan pabrik skincare sempat jadi barista di sebuah kafe," jawab Sekar bangga, sedikit menyombongkan keahlian tersembunyinya di masa lalu sebelum ia merintis karier bisnis kosmetiknya."Wah, hebat juga ya. Berarti kalau main ke sini kapan-kapan, aku bakal dilayani langsung sama mantan barista profesional nih," goda Teja sambil tersenyum miring, menatap jenaka ke arah wanita di sampingnya."Ih, dipikir gampang apa berdiri berjam-jam di balik meja bar? Kakiku pernah bengkak sebelah tahu gara-gara lembur pas weekend," p
Aroma harum masakan rumahan mengepul lembut di atas meja makan minimalis yang terletak di sudut ruang tengah. Sekar dengan cekatan menata dua piring nasi hangat berdampingan dengan mangkuk berisi sup ayam bening berkaldu gurih serta tumisan fillet ayam berlumur saus tiram yang tampak sangat menggugah selera. Di tengah kesibukan kecilnya menyiapkan peralatan makan, wanita beranak satu itu tersenyum manis ke arah sang tamu agung yang duduk tenang di kursi."Silakan dicoba, Ja. Maaf ya masakannya sederhana banget, seadanya bahan yang ada di kulkas," ucap Sekar merendah sambil meletakkan sendok dan garpu di samping piring Teja.Teja menatap hidangan di depannya dengan tatapan menghargai. Tanpa ragu, pemuda berambut dreadlock itu mengambil sendok, mencicipi kuah sup ayam hangat yang masih mengepulkan uap tipis. Perpaduan rasa kaldu asli dengan keharuman bawang putih dan jahe langsung terasa menyegarkan di lidah."Wah, ini sih enak banget, Sekar. Nggak kalah sama makanan restoran bintang
Begitu mobil sport mewah milik Teja terparkir sempurna di halaman depan rumah, pemuda berambut dreadlock itu langsung bergerak cepat keluar dari mobil, membukakan pintu bagi Sekar yang tengah menggendong Pion dalam dekapan hangatnya.Langkah kaki Sekar tergesa-gesa namun tetap berhati-hati menuruni jalan setapak menuju pintu utama rumah. Teja dengan sigap membukakan pintu depan, membiarkan sang ibu dan anaknya berlari kecil masuk ke dalam ruangan yang sejuk.Tanpa membuang waktu, Sekar membawa putranya menaiki anak tangga satu persatu menuju kamar tidur pribadi Pion di lantai dua. Diikuti oleh Teja tepat di belakangnya, Sekar segera membaringkan tubuh mungil Pion yang masih merintih lemah di atas tempat tidur empuk berseprai lembut."Sabar ya, Sayang. Sebentar lagi badan Pion bakal sembuh kok," hibur Sekar dengan suara lembut yang bergetar menahan cemas, mengusap pelan kening buah hatinya yang terasa sangat panas oleh demam tinggi.Teja mendekat, berdiri di sisi ranjang sambil menga
"Hahaha bisa aja kamu, Ja. Tapi keren juga nih Pak Ojolnya pakai mobil mewah Maserati begini buat ngantar pelanggan," canda Sekar dengan tawa renyah yang mencairkan suasana di dalam ruang mobil."Iya nih, Bu. Cuma ada mobil ini selain dump truk dan bus besar di rumah saya. Nggak mungkin kan kalau saya jemput Ibu pakai truk?" canda Teja menanggapi dengan senyuman lebar, menikmati obrolan santai yang mengalir begitu natural di antara mereka."Nggak apa-apa juga sih. Gini-gini aku juga bisa kok jadi kernet truk," balas Sekar tertawa kecil, merasa sangat nyaman dan terhibur berada di samping sang pemuda.Belum sempat tiba di restoran yang dituju, suara dering panggilan dari ponsel milik Sekar menjeda obrolan santai di antara mereka berdua.Sekar segera mengambil tas tangannya, merogoh ponsel pintar tersebut, dan melihat nama penelepon yang tertera di layar.Ternyata itu adalah panggilan dari guru TK Pion."Halo, Ibu Guru..." ucap Sekar dengan suara penasaran. Ia mendengarkan penjelasan pa
"Aku harus menjawab apa, Sekar? Secara profesional atau secara pertemanan?" tanya Teja sambil menatap lurus ke arah wanita di hadapannya dengan ekspresi serius yang dibuat-buat."Profesionalisme dong, Ja. Aku nggak mau kamu membelaku hanya karena kita kenal," jawab Sekar tegas, menunjukkan integritasnya sebagai seorang CEO wanita yang ingin perusahaannya dinilai secara objektif tanpa melibatkan kedekatan personal."Secara pertemanan, aku pengennya kamu bisa lanjut menerima investasi ini, tapi... maaf, Sekar. Secara profesional harus aku katakan kalau..." ucap Teja menggantungkan kalimatnya."Kurang prestasi ya, Ja?" potong Sekar cepat, nada suaranya mendadak berubah panik dan cemas, membayangkan jika laporan kinerjanya ternyata memiliki celah atau kekurangan fatal di mata sang investor."Secara profesional harus aku katakan kalau... kinerja perusahaan kamu dalam mengelolanya juga sangat baik. Jadi nggak ada alasan buat memutus hubungan investasi!" lanjut Teja dengan senyuman lebar yan
"Ini, Bu, ada mahasiswa yang sok-sokan ngaku dari Grup Yulio dan bahkan maksa minta ketemu sama Bu Sekar. Tadi sudah saya usir tapi kok nggak pergi-pergi," lapor resepsionis bernama Santi tersebut dengan nada suara yang masih bernada sinis dan penuh percaya diri, merasa bahwa apa yang ia lakukan sudah benar demi melindungi privasi atasannya."Apa perlu saya panggilkan sekuriti buat nyeret dia, Bu?" imbuh sang resepsionis, menatap Teja dengan sudut mata mengejek seolah menantang."Santi! Jaga sikap dan omonganmu!" bentak Sekar dengan suara melengking tinggi, wajah cantiknya mendadak pucat pasi karena panik bercampur amarah yang meluap-luap."Lho, kok Ibu malah marah ke saya sih?!" protes Santi kebingungan, sama sekali tidak memahami alasan di balik kemurkaan luar biasa yang ditunjukkan oleh sang CEO."Santi, dengarkan! Buka kupingmu lebar-lebar. Beliau Pak Teja Surya, pemilik saham lima puluh persen Grup Yulio!" seru Sekar tegas, menegaskan identitas sang pemuda dengan nada gemetar men
“Buat apa kamu teriak, Jaaa?!“ sentak Toni usai mengirimkan tendangannya. “Sakit dong, Yah, gimana sih?!“ raung Teja spontan. “Memangnya beneran sakit?“ pancing sang ayah lagi. Teja terdiam sejenak, kemudian meraba miliknya yang kini berukuran luar biasa, mencoba memastikan apa yang ia rasakan.
“Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih
Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang keesokan harinya. Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan. Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yan
Teja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana. Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya. Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana. Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang diliri






