Home / Fantasi / Ampun, Jo, Ini Kegedean! / 446. Kurang Satu Semester

Share

446. Kurang Satu Semester

Author: Leva Lorich
last update publish date: 2026-09-14 11:56:48

“Bukan lebih susah, Ja, tapi lebih oada ketekunan kamu buat menjalaninya. Tapi, ayah yakin kamu pasti mampu melewati dan menjangkaunya satu demi satu!“ jawab Toni lembut penuh aura kebapakan.

Pembicaraan mereka terjeda saat ketiga wanita Teja muncul dan mengajak mereka makan malam.

Mereka pun segera berkumpul di meja makan untuk menikmati kudapan spesial yang sudah diolah oleh tiga master chef cantik tersebut.

“Daei mana kamu tahu aku suka semur jengkol, Lin? Bisa-bisanya kamu masak ini buat ak
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   448. Bertemu Di Kafe

    Sore harinya, usai menuntaskan seluruh jam perkuliahan di kampus, Teja mengajak Nana pulang.Pajero Sport putih milik Teja membelah jalanan kota yang mulai dipadati kendaraan jam pulang kerja. Di sampingnya, Nana duduk anggun dengan raut wajah yang memancarkan pendar rasa penasaran. SUV gagah itu akhirnya berbelok memasuki area parkir sebuah kafe bernuansa modern minimalis di pusat kota, tempat yang telah disepakati untuk pertemuan sore tersebut.Tatkala mereka melangkah masuk melewati pintu kaca kafe, sepasang mata Nana seketika tertuju pada sosok wanita yang sedang duduk anggun di sudut ruangan dekat jendela kaca besar. Wanita itu berambut bob rapi, mengenakan setelan busana formal yang memancarkan aura tegas, berkelas, dan sarat akan pesona kedewasaan.Rona cemburu mendadak terbit di wajah cantik Nana. Langkah kakinya sedikit tertahan, dan jemari lentiknya meremas kuat lengan kaos ketat Teja.Merasakan perubahan sikap dari kekasih utamanya, Teja menghentikan langkahnya sejenak.

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   447. Peluang Kerja

    "Aku belum tahu, Na. Kita lihat nanti saja," jawab Teja tenang sembari menyeruput sisa kopi hitamnya.Jawaban yang meluncur santai dari bibir pria bertubuh tegap itu seketika memicu kerutan halus di dahi kawan-kawannya. Jesen dan Endro saling melempar pandang dengan raut heran, sementara Nana semakin menatap lekat wajah tampan prianya. Bagi mereka, sebagai mahasiswa D3 tingkat akhir sekaligus pemegang saham di Grup Yulio, ketidakpastian rencana Teja terdengar cukup mengejutkan."Kok belum tahu, gimana sih maksud kamu, Jo?" tanya Endro penasaran. Teja menyunggingkan senyum tipisnya. Pria berambut gondrong ala dreadlock itu menyandarkan bahu kokohnya di kursi kantin, membiarkan uap hangat energi Qi tingkat empat di dalam tubuhnya bergejolak tenang. Ia menarik napas pelan sebelum mulai menjelaskan pada kekasih dan para sahabatnya."Kondisinya gini… Selain Grup Yulio, aku kan juga ketua asosiasi bela diri kota ini dan kota sebelah. Udah gitu aku juga dijanjikan kerja sama oleh Pak Bob

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   446. Kurang Satu Semester

    “Bukan lebih susah, Ja, tapi lebih oada ketekunan kamu buat menjalaninya. Tapi, ayah yakin kamu pasti mampu melewati dan menjangkaunya satu demi satu!“ jawab Toni lembut penuh aura kebapakan.Pembicaraan mereka terjeda saat ketiga wanita Teja muncul dan mengajak mereka makan malam.Mereka pun segera berkumpul di meja makan untuk menikmati kudapan spesial yang sudah diolah oleh tiga master chef cantik tersebut.“Daei mana kamu tahu aku suka semur jengkol, Lin? Bisa-bisanya kamu masak ini buat aku. Enak banget lho ini, seriusan!“ puji Teja saat mulai mencicipi salah satu menu hidangan yang ada.“Hehe, aku sering kirim-kiriman pesan sama Pak Toni, Ja. Jadi, aku tahu semua kebiasaan kamu,” jawab Linda dengqn senyum terkembang.Mereka kembali melanjutkan acara makan malam itu dengan tenang dan penuh kehangatan.—Keesokan harinya, usai mengantarkan tiga wanitanya pulang ke rumah masing-masing, Teja menyempatkan diri untuk kembali ke bangku kuliah.Pagi yang cerah menyambut deru mesin Pajer

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   445. Sepuluh Tingkatan

    Roda-roda Pajero Sport putih milik Teja bergulir mulus membelah benderang lampunya malam kota. Setelah menempuh perjalanan darat selama beberapa jam dari kawasan Hutan Camar Hitam, kendaraan gagah itu akhirnya berbelok memasuki pekarangan rumah keluarga Teja tepat saat jarum jam menunjukkan pukul setengah delapan malam."Malam ini kalian bertiga nginep di rumahku dulu ya," ujar Teja sembari mematikan mesin mobil di garasi yang hangat. "Kondisi badan kalian masih butuh istirahat total usai penempaan energi. Besok pagi baru aku antarkan kalian pulang ke rumah masing-masing.""Setuju banget, Sayang! Aku udah kangen banget sama suasana rumah kamu," sahut Panda gembira sembari merapikan pakaian santainya.Sari Okta dan Linda menyambut ajakan itu dengan senyum lega. Bagi ketiga wanita cantik tersebut, berada di sekitar Teja memberikan sensasi aman dan hangat yang sukar digantikan oleh apa pun.Pintu utama rumah kayu yang kokoh mendadak terbuka dari dalam tatkala derap langkah mereka mende

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   444. Kembali Pulang

    "Kalian baik-baik di sini. Aku akan sesekali mengunjungi kalian di masa depan," ucap Teja pada tiga hewan penjaganya sembari mengelus kepala mereka secara bergantian.Tangan kekar sang master muda menyapu lembut surai lebat pasangan singa raksasa berbulu keemasan serta menepuk pelan moncong tebal sang buaya putih bersisik perak. Pendar hawa murni energi Qi tingkat empat yang memancar hangat dari telapak tangan Teja menyalurkan energi kesegaran terakhir bagi ketiga sahabat pemangsa puncaknya.Mereka tampak sedih dan tak rela ditinggal Teja. Sang buaya perak mengibaskan ekor raksasanya secara perlahan, menempelkan Moncongnya yang dingin di paha Teja. Sementara itu, pasangan singa raksasa mengeluarkan dengkuran halus bernada duka dari balik tenggorokan mereka. Mata kuning ketiga pemangsa rimba itu menatap lurus Teja, Linda, Panda, dan Sari Okta yang mulai merapikan ransel perbekalan, seolah paham bahwa momen perpisahan di Puncak Gunung Camar Hitam telah benar-benar tiba."Jangan sedih

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   443. Ikatan Batin

    "Kalian tenang saja. Ini cuma reaksi wajar karena aku baru saja menerobos ranah energi Qi tingkat empat, sekaligus naik ke ranah bela diri tingkat ahli tahap fondasi."Suara Teja yang dalam dan tenang bergema halus di dalam ruangan tenda tersebut. Pria berambut panjang ala dreadlock itu menyunggingkan senyum sangat menawan dari atas matras empuk tempatnya berbaring. Meski sisa-sisa uap hangat dari proses perombakan sirkulasi energi masih merembes halus dari pori-pori kulitnya, binar matanya yang keemasan kini memancarkan ketajaman yang sangat menenangkan jiwa.Linda dan Panda mendadak membisu kaku. Sepasang mata sipit Panda serta mata bening Linda membelalak luar biasa, dipenuhi cahaya takjub yang sukar dilukiskan dengan kata-kata. Sebagai sesama praktisi yang paham betul betapa mustahil dan kerasnya dinding pembatas antar ranah dalam dunia bela diri, kabar terobosan Teja bagaikan petir di siang bolong yang melapangkan seluruh kekhawatiran di dada mereka."Kamu sudah menerobos, Say

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   5. Gundukan Besar

    “Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   4. Kelinci Percobaan

    “Buat apa kamu teriak, Jaaa?!“ sentak Toni usai mengirimkan tendangannya. “Sakit dong, Yah, gimana sih?!“ raung Teja spontan. “Memangnya beneran sakit?“ pancing sang ayah lagi. Teja terdiam sejenak, kemudian meraba miliknya yang kini berukuran luar biasa, mencoba memastikan apa yang ia rasakan.

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   3. Bulan Purnama

    Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang keesokan harinya. Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan. Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   2. Warisan Sebagai Jalan Hidup

    Teja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana. Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya. Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana. Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang diliri

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status