Share

462. Satu Lagi

Author: Leva Lorich
last update publish date: 2026-09-17 13:05:16

Teja terus melesakkan miliknya yang terbesar se-Indonesia ke dalam liang legit Nana.

Pria bertubuh tegap itu memompa pinggulnya secara brutal dari arah samping belakang.

Setiap dorongan dari Teja menembus amat jauh, menghujam persis di dasar rahim Nana yang sudah becek sepenuhnya.

Lecutan suara basah yang riuh bergaung kian nyaring memecah keheningan kamar suite lantai dua belas yang megah.

Campuran lelehan pelumas alami yang membanjiri rahim Nana, lelehan gel terapi lavender, serta desakan k
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   463. Aku Sayang Kamu

    Teja mencengkeram erat pinggul mulus Nana yang menungging sensual. Pria bertubuh tegap itu memompa pinggulnya maju dan mundur secara beruntun dan maksimal."Uhh... Jo! Hentakanmu beneran bikin gila... AHH!" jerit Nana begitu bingar sembari menempelkan dada ranum dan wajah ayunya di atas kasur empuk.Posisi menungging sempurna ini membuat batang keperkasaan Teja yang terbesar se-Indonesia menghujam semakin jauh ke dalam rahim Nana. Meski hanya separuh panjang batang perkasanya yang sanggup tertampung di dalam sana, sudut tancapan dari arah belakang itu menekan persis di pusat saraf paling peka milik sang penyanyi cantik.Setiap kali pinggul Teja bergerak melesak ke depan, dua gumpalan bokong kenyal di bagian belakang tubuh Nana bergetar hebat. Punggung mulusnya yang basah oleh peluh dingin tampak melengkung kaku.Teja semakin meningkatkan tempo pendorongannya. Pria berambut gondrong ala dreadlock itu memiringkan sedikit ayunan pinggulnya ke kiri dan ke kanan, menggosokkan seluruh pe

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   462. Satu Lagi

    Teja terus melesakkan miliknya yang terbesar se-Indonesia ke dalam liang legit Nana.Pria bertubuh tegap itu memompa pinggulnya secara brutal dari arah samping belakang. Setiap dorongan dari Teja menembus amat jauh, menghujam persis di dasar rahim Nana yang sudah becek sepenuhnya.Lecutan suara basah yang riuh bergaung kian nyaring memecah keheningan kamar suite lantai dua belas yang megah. Campuran lelehan pelumas alami yang membanjiri rahim Nana, lelehan gel terapi lavender, serta desakan keperkasaan Teja yang tegang kaku membara menciptakan irama pertempuran asmara yang teramat dahsyat.Tangan kekar Teja menyengkeram erat pinggul mulus Nana yang terbalut garter belt merah darah, memanjakan wanitanya dengan ayunan pinggul yang kian cepat nan tak terkendali. Nana menjerit melengking tinggi, menancapkan jemari lentiknya pada bantal empuk di depannya. Raga molek sang penyanyi terkenal berguncang hebat di atas sprei sutra putih, menerima hujaman beruntun dari pria sejati yang paling

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   461. Kerapuhan

    Posisi menyamping dari arah belakang itu membuat penetrasi milik Teja terasa teramat dalam dan menghujam persis di pusat sensitif kewanitaan Nana. Kendati Teja benar-benar menepati janjinya untuk bergeming pasrah tanpa memberikan hentakan susulan, tancapan kejantanannya yang besar, panjang, nan membara panas tetap menjadi fondasi yang teramat kokoh di dalam kehangatan rahim sang kekasih utama.Nana meliukkan pinggul semoknya ke belakang, menggosokkan dinding dalam kewanitannya melintasi urat-urat menonjol pada batang keperkasaan Teja."Nhh... Aahh... Jo! Enak banget tancapannya dari samping..." desah Nana dengan suara serak basah yang kian melengking manja.Kedua tangan lentik Nana meremas kencang bantal empuk di depannya. Tungkai kaki mulusnya yang terbungkus stocking terawang merapat ketat, menahan gelombang kejutan nikmat yang merambat cepat dari selangkangannya menuju setiap inci saraf tubuhnya. Setiap kali pinggul semoknya bergerak mundur menghantam pangkal paha Teja, gesekan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   460. Stamina Terkuras

    "Kita ganti gaya, Jo!" lirih Nana di sela napasnya yang mulai kembali teratur.Gadis berparas cantik nan ayu itu bergerak lincah di atas peraduan. Tanpa melepaskan sepenuhnya kejantanan besar Teja yang masih terbenam di dalam dirinya, Nana memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat. Tubuhnya kini menghadap kaki Teja, membelakangi wajah prianya.Posisi membelakangi itu menyajikan pemandangan yang sangat memikat dari arah belakang. Pinggul dan bokong semok Nana yang mengenakan tali merah dan kaos kaki terawang terlihat jelas, menampilkan lekukan kulit mulusnya yang membasah oleh peluh. Bokong montok di bagian belakang tubuhnya terlihat membal indah saat Nana menyesuaikan sudut tancapan di atas selangkangan Teja.“Uhh, hmm-hh, gedenyaaa!“ lenguh Nana yang merem melek tertusuk milik Teja meski ia hanya melakukan gerakan memutar biasa saja.Teja yang tidak diperbolehkan Nana untuk melakukan gerakan apa pun hanya memilih diam dengan rasa penasaran ingin mengetahui sejauh mana daya t

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   459. Masih Bersikeras

    "Ohh, Jo! Punyamu ini selalu bikin nyandu! Oh-oh!"Nana meningkatkan hentakan tubuhnya. Suara serak basah desahan dari sang penyanyi terkenal itu memecah keheningan malam di dalam ruang suite megah lantai dua belas. Sepasang mata beningnya meredup nikmat, dipenuhi kilat dahaga asmara yang begitu pekat tatkala pinggul mulusnya yang hanya berbalut garter belt merah darah memompa naik dan turun secara beruntun di atas selangkangan Teja.Meskipun hanya separuh panjang milik Teja yang muat di dalam miliknya, Nana tetap bersemangat.Keperkasaan raksasa Teja yang terbesar se-Indonesia memang berada di luar nalar ketahanan raga wanita biasa. Ukurannya yang tebal, panjang, dan tegang membara berkat pancaran hawa murni Qi. Dinding rahim Nana meremas ketat setengah panjang batang perkasa tersebut, menyerap kehangatan yang mengalir deras dari pembuluh darah sang master pijat muda."Panjangnya punyamu ini beneran gila, Jo! Setengah aja udah mentok gini... Ufhh-uh!" racau Nana dengan napas terse

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   458. Paling Favorit

    Gadis berparas cantik itu menegakkan jemari lentiknya yang basah oleh gel pelicin beraroma lavender, menempelkan satu jarinya di bibir merah Teja sembari menyunggingkan senyum penuh gairah asmara."Ingat perintah aku tadi ya, Jo... Malam ini kamu cuma boleh diam dan nikmati semua permainan aku. Jangan bergerak sedikit pun sebelum aku yang minta!" bisik Nana dengan nada suara seksinya.Teja mengangguk dan kembali melepaskan genggaman tangannya dari pinggang sang kekasih.Pria berambut gondrong ala dreadlock itu membiarkan bahu berototnya bersandar penuh di kasur empuk, membiarkan Nana yang bekerja keras untuknya.“Lakukan apa yang kamu mau dan suka, Na. Aku siap buat diam,” ujar Teja menanggapi perkataan Nana sebelumnya.Nana kemudian menggeser posisinya sedikit merosot ke bawah.Tubuh moleknya yang hanya berlapis garter belt merah darah dan stocking terawang tampak merayap halus di atas paha tegap Teja. Dua payudaranya yang berbalur gel licin bergoyang indah di depan mata Teja, semen

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   3. Bulan Purnama

    Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang keesokan harinya. Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan. Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   2. Warisan Sebagai Jalan Hidup

    Teja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana. Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya. Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana. Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang diliri

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   1. Terbesar se-Indonesia

    “Ohhhh, shhhh. Jangan kenceng-kenceng, Pakk!“ Teja Surya atau biasa dipanggil Tejo yang baru saja masuk kamar dan merebahkan diri di ranjang menjadi tersentak saat mendengar suara itu. Suasana siang yang panas sejak ia pulang dari kampus menjadi semakin panas karena suara desahan tersebut. “Taha

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   9. Sengaja Memperlambat

    “Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status