LOGINPara panitia mengarahkan para peserta untuk memasuki bus yang akan membawa mereka ke perbatasan Hutan Camar Hitam. Setiap tim berbaris rapi sesuai dengan nomor urut pendaftaran mereka masing-masing. Deretan bus berukuran sedang sudah bersiaga dengan mesin yang menyala di area parkir lokasi panggung acara.Perjalanan berlangsung cukup lama, sekitar 3 jam dari lokasi panggung acara dimulai tadi. Sepanjang perjalanan, pemandangan kota perlahan berganti menjadi pepohonan rimbun serta bukit-bukit terjal. Jalanan yang bergelombang dan semakin menyempit membuat guncangan di dalam ruang bus terasa sangat mengocok isi perut.Letak hutan yang begitu terpencil dan terisolasilah yang membuat perjalanan menjadi sangat lama. Jalur darat yang membelah kawasan lereng gunung tersebut menjadi satu-satunya akses menuju area terlarang itu. Ketiadaan permukiman warga di sekitar lokasi semakin menambah kesan angker Hutan Camar Hitam.Saat turun dari bus, panitia membagi semua tim untuk memasuki hutan
Baru saja Teja menyalurkan energi Qi penguat mental kepada anggota timnya melalui pancaran tatapan matanya, datang lima orang dari tim asosiasi lain. Rombongan itu berjalan dengan penuh percaya diri dan senyum meremehkan ke arah kelompok Teja. Langkah kaki mereka sengaja dibuat berat untuk menunjukkan dominasi serta intimidasi awal."Ah, bukankah ini Linda anaknya Pak Sanjaya?! Kamu makin cantik dan montok nih, Lin," ucap ketua tim itu yang merupakan seorang pria bertubuh tinggi dan berkulit legam. Pria itu menyeringai lebar sembari menatao mesum ke arah gundukan besar di dada Linda sebelum kemudian turun ke bawah untuk memindai paha sekal dan bokong montok gadis cantik tersebut."Jaga mulutmu, Doni! Apa kamu mau aku tumbangkan sekarang aja biar nggak jadi masuk hutan?!" sentak Linda sengit. Matanya menyipit tajam. Ia mengepalkan kedua tangannya erat."Uluh-uluh, galak bener?! Kamu yakin bisa melewati ranah bela diri tingkat sedang tahap medium punyaku?" cibir pemuda bernama Doni
Perhelatan akbar yang dinanti pun tiba juga. Mengenakan seragam serba biru muda, tim Teja yang mewakili dua asosiasi yaitu kota Teja dan kota Linda sudah berdiri membaur dengan peserta dari asosiasi lainnya di Indonesia. Suasana di sekitar arena sudah dipenuhi oleh ratusan petarung dengan berbagai atribut asosiasi bela diri yang berbeda.Ketua panitia acara yang berambut putih maju ke tengah arena. Pria tua itu memegang pengeras suara sembari memandangi seluruh kontestan dengan tatapan mata yang amat tajam. Langkah kakinya yang tenang langsung menyedot perhatian penuh seluruh hadirin yang berada di sana."Selamat datang bagi semua perwakilan asosiasi bela diri seluruh Indonesia. Perkenalkan aku Handy, ketua panitia penyelenggaraan," sapa pria berambut putih itu dengan nada suara seraknya.Ia menarik napas dalam-dalam sebelum memberikan informasi utama terkait mekanisme pertandingan yang akan segera dilangsungkan. Semua mata tertuju lurus padanya, menantikan penjelasan teknis ajang
Keesokan harinya, latihan bertiga yang biasanya dijalani Teja bersama Linda dan Panda di hutan, kini bertambah dengan Bintang dan Pedro yang ikut. Suasana area lapang di antara pepohonan rindang itu menjadi lebih riuh dari biasanya. Udara pagi yang sejuk menyapa kulit mereka saat sinar matahari menerobos celah-celah dedaunan.Bintang dan Pedro yang notabene adalah tangan kanan Teja di Geng Surya, merasa begitu beruntung bisa mengenal Teja. Kehadiran pemuda berambut panjang itu di kehidupan mereka benar-benar membawa perubahan yang sangat besar. Mereka menatap Teja dengan raut penuh rasa hormat dan kesetiaan yang begitu mendalam.Mereka dulu yang suka mengompas warga dan bertingkah liar, setelah ditundukkan oleh Teja menjadi orang-orang yang lebih baik. Teja telah menggembleng mental serta membimbing jalan hidup mereka ke arah yang lebih positif. Kejadian masa lalu itu kini menjadi cermin kebangkitan bagi masa depan mereka berdua.Begitu juga dengan sekitar seratus anak buah geng
"Tentu saja sangat bisa diterima," ucap Leo mengangguk dengan begitu dalam. Raut ragu yang sebelumnya sempat melingkupi wajah pria tua itu kini lenyap sepenuhnya, berganti dengan decak kagum yang sangat jelas."Maaf tadi sempat meragukan kemampuan Panda, Ja. Aku hanya khawatir dia terluka di ajang nasional itu," imbuh Leo. Pria paruh baya itu menyampaikan penyesalannya secara tulus di hadapan semua orang yang berdiri mengelilingi arena.Teja mengangguk. Pria berambut gondrong itu melangkah mendekati Panda dan Linda sembari menatap ke arah para sesepuh dengan tenang."Ranah bela diri Panda ada di tingkat sedang tahap fondasi. Dia satu tahap di atas Linda," terangnya menjelaskan tingkatan kemampuan tersembunyi yang dimiliki oleh gadis oriental tersebut."Astaga, kita sudah meremehkan Panda," Sanjaya menggeleng pelan. Pria paruh baya itu mengusap dagunya dengan raut wajah yang masih diliputi rasa takjub luar biasa."Kita kembali ke ruang rapat," ajak Teja pada semuanya sembari membalikk
"Lusa, pertandingan ilmu bela diri Nusantara sudah dimulai. Karena waktu yang semakin mendesak, aku memilih Panda untuk mengisi kekosongan anggota tim," ucap Teja begitu berada di ruang rapat asosiasi sembari menengadahkan tangan ke arah Panda."Tapi, aku nggak mau kalau dianggap tebang pilih dan pilih kasih. Kita bisa lihat kemampuan Panda dulu biar bisa menyimpulkan kelayakannya," lanjutnya memberi penjelasan yang adil bagi semua orang di ruangan tersebut."Bintang, Pedro, dan tiga murid Pak Leo, tolong kalian bersiap buat menghadapi duo Linda dan Panda di arena pertandingan," ucap Teja sambil melangkah untuk mengajak mereka berpindah ke arena pertandingan kantor asosiasi.Leo, Sanjaya, Wiryo, dan sebagian besar murid Leo yang ada di sana menatap Panda dengan heran. Keraguan terpancar jelas dari raut wajah para petarung senior yang hadir.Betapa tidak? Panda bukanlah anggota perguruan bela diri manapun, tapi Teja terlihat begitu memberatkannya. Mereka mempertanyakan alasan di balik
“Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter
Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang keesokan harinya. Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan. Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yan
Teja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana. Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya. Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana. Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang diliri
“Ohhhh, shhhh. Jangan kenceng-kenceng, Pakk!“ Teja Surya atau biasa dipanggil Tejo yang baru saja masuk kamar dan merebahkan diri di ranjang menjadi tersentak saat mendengar suara itu. Suasana siang yang panas sejak ia pulang dari kampus menjadi semakin panas karena suara desahan tersebut. “Taha







