Home / Fantasi / Ampun, Jo, Ini Kegedean! / 500. Pertandingan Hiburan

Share

500. Pertandingan Hiburan

Author: Leva Lorich
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-25 18:53:48

Mobil yang dikemudikan Buan mulai mendekati area rumah keluarga Johar.

SUV hitam itu perlahan berbelok melewati pintu gerbang besi yang terbuka lebar.

Suasana cukup ramai dan benderang karena malam itu adalah acara ulang tahun Johar yang ke-lima puluh satu tahun.

Deretan mobil mewah terparkir rapi di pelataran rumput yang luas.

Cahaya lampu gantung dan sorot dekorasi menerangi seluruh area pelataran kediaman megah berarsitektur klasik tersebut.

Di tengah ruangan utama kediaman yang sangat la
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   504. Senyum Kemenangan

    Teja tak menanggapi, ia memejamkan mata di atas pangkuan Buan.Napas pemuda bertubuh tegap itu berhembus sangat pelan dengan raut wajah yang kian memucat. Lelehan darah segar masih tersisa di sudut bibirnya, mengalir lambat menetes ke baju hitamnya.Kondisinya yang seperti itu lebih membuat keduanya panik. Budi langsung membuka kemeja hitam Teja dan menemukan luka memar menghitam sebesar tinju tangan.Bercak memar pekat itu tercetak jelas tepat di tengah dada bidang Teja, menandakan betapa parahnya hantaman hawa murni tingkat lima milik Johar yang merusak organ dalam dan aliran darahnya."Bos, bertahanlah!" bisik Buan yang masih memangku kepala Teja.Suara pria paruh baya itu terdengar bergetar hebat, menahan rasa cemas dan ketakutan yang begitu tinggi tatkala melihat pimpinan tertinggi SPN itu terkulai lemas tanpa daya.Tak lama kemudian Teja membuka matanya, meski sorot matanya tampak sedikit redup akibat rasa sakit yang membakar seluruh rongga dadanya. Teja menghembuskan napas b

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   503. Menjadi Berbeda

    Namun, semuanya menjadi berbeda saat Johar menekan energi Qi-nya secara maksimal.Pria paruh baya itu tiba-tiba merendahkan kuda-kudanya lebih pendek. Seluruh pembuluh darah di leher dan lengannya menegang menonjol, disusul oleh letupan gelombang hawa murni yang mendadak meluap secara tidak masuk akal dari dalam dadanya. Tekanan udara di sekeliling arena pertarungan seketika berubah menjadi amat berat dan menghimpit, bagaikan ada bongkahan batu besar yang mendadak ditimpa ke atas pundak semua orang di ruangan tersebut.Napas Teja langsung sesak hingga ia hampir terpental ke belakang hanya karena aura yang dipancarkan Johar.SRAK!Kaki Teja terseret dua langkah ke belakang di atas matras arena. Dada bidangnya terasa dihantam oleh pilar udara tak kasat mata yang teramat dingin dan pejal. Pandangan matanya membelalak, merasakan bagaimana aliran tenaga dalam di sekujur badannya seketika menjadi kacau dan tersumbat hebat akibat gempuran tekanan pancaran energi dari tubuh Johar.Teja mem

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   502. Pertarungan Seimbang

    "Bocah tak tahu diri! Mari kita lihat sampai mana mulut besarmu bisa bertahan!" teriak Johar garang.Tubuh gempal Johar meluncur maju dengan kecepatan yang luar biasa. Sebagai praktisi bela diri yang telah menguasai ranah bela diri tingkat ahli tahap fondasi serta ditopang oleh ranah energi Qi tingkat empat, gerakan Johar tak lagi bisa ditangkap oleh mata telanjang para tamu awam. Yang terlihat hanyalah bayangan merah menyambar cepat membelah arena.Sepasang cakar tangan Johar menerjang lurus, menyasar leher dan dada Teja secara beruntun. Hawa panas dari gelombang Qi tingkat empat membungkus setiap ujung jemarinya, menciptakan tekanan udara yang berat dan mematikan.Teja tidak bergeming. Dengan pijakan kaki yang kokoh di atas matras, ia menggeser bahunya beberapa senti ke samping. Dua tebasan cakar Johar meleset tipis, hanya menyapu angin kosong di depan dada Teja.Begitu cakar lawan terlewat, Teja meluncurkan balasan kilat. Dua pukulan lurus dilancarkan Teja menembus pertahanan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   501. Merasa Paling Hebat

    Bisik-bisik penasaran dari puluhan tamu di sekitar meja perjamuan mengudara, terus saja mengomentari sosok pemuda asing bertubuh tegap yang bersiap menantang sang tuan rumah. Teja mengabaikan seluruh suara sumbang tersebut. Pemuda berumur dua puluh tahun itu hanya melipat kedua lengannya di dada, menjaga ketenangan napas dan kestabilan aliran tenaga dalam di dalam tubuhnya.Ia kemudian melangkah menuju sudut arena pertarungan didampingi oleh Buan dan Budi.Langkah kaki Teja terasa begitu tenang tatkala menaiki tiga anak tangga kayu menuju ring pertarungan. Buan dan Budi berdiri siaga tepat di luar tali arena, menjaga area sudut Teja dari potensi dari orang-orang yang tidak berkepentingan."Tetap tenang dan fokus, Bos. Jangan biarkan ucapan mereka memancing emosi," bisik Budi memberikan penguatan terakhir.Teja mengangguk pelan, melepaskan kemejanya dan menyisakan kaos oblong tebal yang membungkus dada bidangnya.Johar meletakkan mic pada standingnya, lalu ikut melangkah menuju sudut

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   500. Pertandingan Hiburan

    Mobil yang dikemudikan Buan mulai mendekati area rumah keluarga Johar.SUV hitam itu perlahan berbelok melewati pintu gerbang besi yang terbuka lebar. Suasana cukup ramai dan benderang karena malam itu adalah acara ulang tahun Johar yang ke-lima puluh satu tahun. Deretan mobil mewah terparkir rapi di pelataran rumput yang luas. Cahaya lampu gantung dan sorot dekorasi menerangi seluruh area pelataran kediaman megah berarsitektur klasik tersebut.Di tengah ruangan utama kediaman yang sangat lapang itu, terhampar arena pertarungan berupa matras luas bertali yang sengaja disiapkan khusus. Arena tersebut dikelilingi oleh meja-meja perjamuan tempat para tamu undangan duduk berkumpul, menjadikan pertarungan bela diri sebagai hiburan utama dalam perayaan ulang tahun sang kepala keluarga malam itu.Teja menyapukan pandangan ke segala penjuru arah sembari mengaktifkan pandangan mata batinnya.Ia meneliti jikalau ada senjata tersembunyi ataupun jebakan yang disiapkan Johar untuknya. Namun, i

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   499. Menuju Lokasi Lawan

    Sore harinya, Bianca kembali datang ke kamar hotel Teja.Pintu kamar lantai sepuluh itu terdorong pelan tatkala Bianca menempelkan kartu aksesnya dari luar. Wanita berambut bob pendek itu melangkah masuk dengan raut wajah yang memancarkan rasa cemas sekaligus perhatiannya. Ia melihat Teja yang sedang duduk tenang di tepi tempat tidur, tampak baru saja selesai merapikan pakaiannya.Bianca melangkah mendekat, lalu mendudukkan dirinya di samping Teja. Kedua tangan halus putri pengusaha perhotelan itu terulur, menggenggam erat telapak tangan kekar Teja."Ja... Ini sudah mau sore. Sebentar lagi kamu mau berangkat tanding lawan Johar," tutur Bianca dengan intonasi suara yang amat lembut.Teja menatap sepasang mata indah wanitanya dengan tenang. "Iya, Bi. Semua persiapan sudah matang kok."Bianca menatap lurus ke dalam mata Teja. Ada rasa takut yang melanda hatinya tentang keselamatan sang pria."Nanti di sana kamu harus fokus ya, Sayang. Jangan meremehkan musuh sedikit pun, tapi juga jang

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   1. Terbesar se-Indonesia

    “Ohhhh, shhhh. Jangan kenceng-kenceng, Pakk!“ Teja Surya atau biasa dipanggil Tejo yang baru saja masuk kamar dan merebahkan diri di ranjang menjadi tersentak saat mendengar suara itu. Suasana siang yang panas sejak ia pulang dari kampus menjadi semakin panas karena suara desahan tersebut. “Taha

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   9. Sengaja Memperlambat

    “Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   8. Menghujam Bumi

    BLARRR! Jantung Teja seperti baru saja dilempar bom molotov. Meski ia sudah menerima tugas pijat sebagai penerus dan pengganti ayahnya, tetap saja ia masih merasa cukup canggung untuk menjamah tubuh wanita. Terlebih, semua pasien umpan lambung dari ayahnya memiliki kecantikan dan keindahan tubuh d

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   7. Gitar Spanyol

    Nana yang tak pernah melihat Teja berkelahi menjadi khawatir. “Jo, kabur aja yuk. Hitungan ketiga kita langsung masuk mobil dan tancap gas!“ bisiknya pelan di telinga Teja. Namun Teja justru menggeleng dan mengerlingkan mata. “Kamu diam saja dan tetap di posisimu. Biar aku yang ngurus ini,“ jawab T

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status