Home / Fantasi / Ampun, Jo, Ini Kegedean! / 687. Modal Investasi

Share

687. Modal Investasi

Author: Leva Lorich
last update publish date: 2026-11-03 10:12:51

"Aku bisa mengobatinya, Sekar," ucap Teja dengan nada suara yang begitu tenang, penuh keyakinan, dan memancarkan wibawa yang sanggup menembus relung hati paling dalam.

Mendengar pernyataan yang terdengar begitu percaya diri itu, Sekar tertegun sejenak. Sorot matanya yang semula meredup karena bayang-bayang masa lalu kini menatap lekat ke arah sang pemuda berambut dreadlock, mencari keraguan di balik sorot mata keemasan Teja, namun ia tidak menemukan apa pun selain ketulusan dan keteguhan.

"Kamu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   688. Konglomerat Menyamar

    "Kamu kenapa kok kayaknya kaget banget pas aku nyebut permodalan investasi berskala nasional itu?" tanya Sekar dengan nada heran, melihat perubahan ekspresi di wajah Teja yang mendadak tertegun sesaat setelah mendengar nama Grup Yulio disebut.Teja tak menjawab. Ia mengeluarkan dompetnya dan menarik sebuah kartu nama berwarna keemasan, kemudian mengulurkannya pada Sekar.Pemuda berambut dreadlock itu menyodorkan kartu identitas eksklusif yang memuat lambang Geng Surya serta afiliasi bisnis resminya dengan gestur yang sangat tenang namun berwibawa. Sekar menerima kartu nama tersebut dengan jari-jarinya yang sedikit gemetar, lalu membaca perlahan tulisan yang tertera di atas permukaan logam tipis bersepuh emas tersebut."Teja Surya... Direktur Utama Surya Pengamanan Nusantara sekaligus pemegang saham..." gumam Sekar membaca perlahan nama lengkap Teja Surya dan seterusnya. Ia langsung terbelalak.Kedua mata indah Sekar terbuka lebar, menatap bergantian antara kartu nama di tangannya dan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   687. Modal Investasi

    "Aku bisa mengobatinya, Sekar," ucap Teja dengan nada suara yang begitu tenang, penuh keyakinan, dan memancarkan wibawa yang sanggup menembus relung hati paling dalam.Mendengar pernyataan yang terdengar begitu percaya diri itu, Sekar tertegun sejenak. Sorot matanya yang semula meredup karena bayang-bayang masa lalu kini menatap lekat ke arah sang pemuda berambut dreadlock, mencari keraguan di balik sorot mata keemasan Teja, namun ia tidak menemukan apa pun selain ketulusan dan keteguhan."Kamu yakin, Ja? Pak Toni saat itu juga bilang kalau penyakit ini cukup sulit dan butuh penanganan khusus," tanya Sekar dengan nada ragu-ragu, menyiratkan secercah harapan sekaligus ketakutan akan kekecewaan yang kesekian kalinya."Itulah kenapa ayahku menugaskan aku kemari, Sekar. Karena kemampuan pengobatan dan penyaluran energi ayah sudah diturunkan sepenuhnya ke aku," jawab Teja lembut seraya tersenyum meyakinkan. "Penyakit kista yang bersarang di dalam tubuhmu itu memang rumit bagi dunia medis k

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   686. Anak Perempuan

    Pemuda berambut dreadlock itu melangkah keluar ke garasi rumahnya usai berpamitan sebentar kepada sang ayah. Teja mengganti mobilnya. Ia naik Maserati Quattroporte GTS V8 hitam miliknya.Suara raungan mesin delapan silinder berkapasitas besar itu langsung menggelegar halus, memecah keheningan malam Kota Surabaya saat tuas transmisi dipindahkan. Sedan mewah berwarna hitam legam berlogo trisula tersebut meluncur meninggalkan halaman rumah, membawa Teja menembus jalanan aspal menuju kawasan pesisir utara.Perjalanan malam itu terasa cukup lancar. Lampu-lampu jalanan kota berpendar indah memantul di atas bodi Maserati yang aerodinamis. Di balik kemudi, Teja mengalirkan sedikit sisa Murni Qi ke telapak tangan yang memegang setir, menjaga kesadaran dan ketenangan mentalnya tetap berada di level tertinggi meskipun ia baru saja melewati hari yang amat panjang dan melelahkan.Tiba di kawasan Kenjeran, Teja membelokkan kendaraannya memasuki gerbang utama Perumahan Pantai Mentari yang dijaga

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   685. Insting Orang Tua

    "Kembali ke bahasan para wanitamu, sekarang sudah ada berapa tuh wanitamu?" tanya Toni dengan nada menyelidik seraya menatap putranya sambil tersenyum penuh arti.Teja tersenyum kecil, merapikan duduknya dan mulai menghitung satu per satu nama wanita yang telah terikat takdir di dalam lingkaran hidupnya."Sembilan kan, Yah? Ayah udah mulai pikun nih," jawab Teja setengah menggoda sang ayah. "Yang pertama ada Nana, teman kuliah, penyanyi terkenal, dan yang jadi kekasih perdanaku."Toni mengangguk-angguk kecil, mendengarkan dengan penuh perhatian jalur asmara putranya yang kian panjang."Kedua ada Linda, kekasih keduaku yang ahli silat itu," lanjut Teja menyebutkan wanita yang baru saja menghabiskan siang bersamanya di rumah singgah Sidoarjo. "Ketiga ada Bu Septa, janda tiga puluh tahun yang jadi pasien pijatku setelah Nana."Suasana ruang keluarga terasa semakin santai dan hangat. Toni menikmati setiap detail penjelasan Teja mengenai para wanita istimewa yang menjadi bagian dari perjal

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   684. Tersenyum Damai

    Tersenyum damai, Teja meninggalkan kediaman keluarga Sanjaya, kembali ke Surabaya menggunakan Pajero Sport putihnya.Kendaraan SUV mewah berwarna putih bersih itu membelah jalanan aspal lintas kabupaten dengan mulus. Mesin bertenaga besar di balik kap depan bersuara halus, membawa pemuda berambut dreadlock tersebut menikmati perjalanan sore menuju Kota Surabaya. Semburat jingga di ufuk barat mengantar kepulangannya usai melewati hari yang amat panjang dan melelahkan secara fisik, namun memberikan kepuasan batin yang luar biasa melimpah.Malam merambat naik saat ia tiba di rumah. Lampu-lampu penerangan jalan dan halaman rumah megah bergaya modern klasik di kawasan elit Surabaya itu sudah menyala terang menyambut kedatangan Teja. Pemuda perkasa itu memarkirkan Pajero Sport putih kesayangannya di garasi luas, melangkah turun dengan tubuh yang terasa begitu bugar berkat aliran Murni Qi tingkat tujuh setengah yang terus bersirkulasi menjaga vitalitas raganya."Sudah makan, Ja?" tanya sa

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   683. Istri Batin

    Sisa-sisa badai gairah dan desau angin siang yang berembus pelan di balik rimbunnya kebun tebu Sidoarjo perlahan membawa ketenangan ke dalam ruangan rumah singgah tua tersebut. Suhu panas yang tadinya membakar ruangan kini berangsur sejuk, berganti dengan kehangatan pelukan yang menyatukan dua raga dalam keintiman yang amat mendalam.Teja masih membiarkan tubuhnya bersandar santai pada sofa empuk berbalut kulit cokelat tua, sementara Linda terbaring lemas dengan posisi kepala merebap pasrah di atas dada bidang sang pemuda. Kulit mulus Linda yang seputih salju masih dibasahi oleh keringat halus, memancarkan aroma harum melati yang berpadu lembut dengan sisa-sisa hawa Murni Qi biru keemasan.Teja mengangkat tangan kekarnya, menyapukan jemari hangatnya secara perlahan di atas helaian rambut hitam panjang Linda yang terurai berantakan menutupi sebagian bahu mulus sang wanita. Pandangan mata keemasan Teja menatap lurus ke arah jendela kayu yang memperlihatkan goyangan daun-daun tebu di l

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   9. Sengaja Memperlambat

    “Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   8. Menghujam Bumi

    BLARRR! Jantung Teja seperti baru saja dilempar bom molotov. Meski ia sudah menerima tugas pijat sebagai penerus dan pengganti ayahnya, tetap saja ia masih merasa cukup canggung untuk menjamah tubuh wanita. Terlebih, semua pasien umpan lambung dari ayahnya memiliki kecantikan dan keindahan tubuh d

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   7. Gitar Spanyol

    Nana yang tak pernah melihat Teja berkelahi menjadi khawatir. “Jo, kabur aja yuk. Hitungan ketiga kita langsung masuk mobil dan tancap gas!“ bisiknya pelan di telinga Teja. Namun Teja justru menggeleng dan mengerlingkan mata. “Kamu diam saja dan tetap di posisimu. Biar aku yang ngurus ini,“ jawab T

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   1. Terbesar se-Indonesia

    “Ohhhh, shhhh. Jangan kenceng-kenceng, Pakk!“ Teja Surya atau biasa dipanggil Tejo yang baru saja masuk kamar dan merebahkan diri di ranjang menjadi tersentak saat mendengar suara itu. Suasana siang yang panas sejak ia pulang dari kampus menjadi semakin panas karena suara desahan tersebut. “Taha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status