LOGINAya menelan ludah. Jantungnya berdegup semakin liar saat pria itu melangkah lebih jauh ke dalam ruangan. Aura dingin yang dibawanya seperti menyapu seluruh sudut kantor, membuat siapa pun enggan bergerak.
Pria itu berhenti tepat di depan meja Aya.
Aya refleks menunduk. Pandangannya tertuju pada lantai yang ia pijak, namun kepalanya dipenuhi kekacauan.
'Kenapa dia ada di sini?' gumamnya dalam hati.
Sekilas, Aya mendengar bisik-bisik karyawan lain yang menyebut pria itu adalah Presiden Direktur perusahaan ini.
Seketika, Aya membelalakkan matanya. Selama ini, ini ia belum pernah bertemu dengan bosnya, dan hanya mendengar desas-desus dari karyawan lain. Dan hari ini, pria itu berdiri di hadapan Aya.
Namun, bukan itu yang mengusik pikiran Aya. Melainkan soal kejadian masa lalu mereka.
“Ah, Pak Ibra.” Bu Vega refleks merapikan sikap. Wajahnya yang tadi penuh amarah mendadak menegang. “Ini, Pak… Aya, karyawan baru. Dia ceroboh, Pak. Laporannya kacau dan bisa merugikan perusahaan.”
Ibra melirik Aya sekilas, lalu kembali fokus pada Bu Vega. “Mana berkasnya?”
Bu Vega langsung menyerahkan dokumen itu. Ibra membukanya, membalik beberapa halaman dengan gerakan tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang sedang diberitahu soal potensi kerugian puluhan juta.
Hening menyelimuti ruangan.
Aya menahan napas, jari-jarinya semakin terasa dingin.
Beberapa detik kemudian, Ibra menutup map dan mengangkat pandangannya. Tatapannya jatuh tepat ke arah Aya.
“Kamu yang mengerjakan ini?” tanyanya.
“I–iya, Pak,” jawab Aya pelan, tenggorokannya kering. “Tapi data di situ bukan yang saya susun.”
Ibra tidak langsung menanggapi. Matanya bergeser ke laptop Aya yang masih menyala. “Kapan terakhir kali kamu menyimpan file laporan yang kamu buat?”
Aya terkejut, tapi segera menjawab. “Semalam, Pak. Setelah direvisi sesuai arahan.”
“Di mana kamu menyimpannya?”
“Di folder utama laptop saya dan satu salinan di flashdisk.” Dengan sedikit keraguan, Aya menunjukkan laptopnya yang menyala dan satu flashdisk miliknya. “T–tapi, file yang asli tiba-tiba hilang, Pak.”
Tatapan pria itu berpindah ke Bu Vega. “Siapa saja yang punya akses ke komputer ini?”
Bu Vega tersentak. “M-maksudnya, Pak?”
“Pertanyaan saya jelas.” Ibra menaikkan satu alisnya.
Bu Vega terdiam sesaat. “Staf satu divisi… termasuk saya.”
Pria itu mengangguk tipis, lalu kembali menatap Aya. Kali ini, tatapannya tak lagi setajam sebelumnya, tapi justru membuat Aya semakin gelisah.
“Saya ingin semua akses data dicek ulang,” lanjut pria itu dingin, lalu melirik Aya sekilas. “Sampai jelas siapa yang bermain di balik laporan ini.”
Aya refleks mengangkat kepala. Mata mereka hampir bertemu, membuat dadanya kembali sesak.
Bu Vega membuka mulut, hendak menyela. “Pak, tapi—”
“Cukup,” potongnya singkat. “Saya tidak suka keputusan sepihak dan tergesa-gesa.”
Ruangan kembali sunyi. Bu Vega terdiam, rahangnya mengeras, sementara Aya berdiri kaku dengan perasaan campur aduk.
Pria itu berbalik pergi, namun langkahnya terhenti sejenak di ambang pintu. Dan tanpa menoleh, ia berkata, “Kamu… ikut saya.”
Namun, tanpa sadar Aya tetap menurut dan melangkah di belakang Ibra.
Samuel mengernyit, tak mengerti apa yang sedang dibicarakan Presiden Direktur dengan karyawan baru yang terlihat lugu itu.
Kini Aya duduk di dalam ruangan Presiden Direktur Baskara Group, tempat yang bahkan tak pernah ia bayangkan bisa ia masuki. Sosok presdir yang selama ini dikenal misterius itu kini berada tepat di hadapannya.
Aya duduk terdiam, menunduk, gugup. Sementara tatapan Ibra terus tertuju padanya, datar namun menekan.
“Bagaimana?” tanya Ibra pada asistennya.
Samuel segera mendekat. “Bu Vega yang mencuri flashdisknya, Pak. Sepertinya dia sengaja ingin menjatuhkan karyawan baru demi kepentingan jabatannya,” jelasnya.
Aya hanya menyimak. Tak berani bersuara. Yang ingin ia lakukan hanyalah keluar dari ruangan itu dan pulang ke kontrakannya.
“Bagaimana kalau dia menemukan Putra?” pikirnya, ketakutan mulai merambat.
“Kalau begitu, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan, Sam. Pergi,” ucap Ibra.
“Baik, Pak.” Samuel segera keluar dengan perasaan heran.
Ibra beranjak dari duduknya dan melangkah mendekati Aya yang masih enggan menatap wajahnya. Pria itu berdiri tepat di hadapannya.
“Apa kamu sengaja muncul di hadapanku?” tanyanya datar.
Aya menatap sepasang iris gelap itu sesaat, lalu cepat-cepat memalingkan wajahnya. Jantungnya berdegup kencang.
Pria itu masih mengingatnya?
“M–Maksud Bapak apa?” tanya Aya ragu, pura-pura tidak paham.
Aya diam menatap kedua netra beriris gelap itu. Lalu cepat-cepat memalingkan wajahnya. Menjauh dari cengkeraman sang Presdir. Namun, pria itu tak melepaskannya.
"Katakan, sudah berapa laki-laki yang kamu layani sejak hari itu, hm?" Pertanyaan Ibra terdengar mengejek.
Aya menautkan kedua alisnya. "Itu bukan urusan Anda."
"Tentu saja itu urusanku. Bukankah aku pelanggan pertamamu yang paling berjasa?" Pertanyaan kedua membuat Aya diam.
Keesokan harinya, pemberitaan media dipenuhi oleh liputan acara pesta perkenalan tersebut. Surat kabar utama, majalah bisnis, hingga media hiburan terkemuka menayangkan berita utama dengan positif. Berita mengenai Pemimpin Bagaskara Group yang telah menjadi seorang suami dan ayah yang bertanggung jawab penuh menjadi topik hangat yang dipuji banyak pihak. Foto keluarga mereka di pesta itu telah menjadi trending topik yang terus dibahas selama lebih dari satu bulan. Sementara di sebuah pantai berpasir putih yang indah, sebuah vila di sana terlihat cukup damai dan hangat. Di dalam vila mewah itu, cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui jendela kaca besar di ruang tengah. Tidak ada lagi rasa cemas, ketakutan, atau bayang-bayang fitnah yang menghantui keluarga Bagaskara. "Ayah, Bunda?" panggil Putra yang baru saja bangun tidur. Bocah itu baru keluar dari kamarnya dengan wajah bantal dan rambut berantakan. "Kamu sudah bangun, Sayang?" sapa Aya lembut, menoleh menatap putra sulun
"Tidak, Sayang. Kenapa?" Pria itu balas bertanya lalu duduk di samping sang istri. Membiarkan bayi perempuan mereka yang tidur lelap di dalam tempat tidur bayi.Aya tampak cemberut dan Ibra tahu bahwa istrinya sedang cemburu. Pria itu lalu meraih pinggang Aya dan memeluknya."Aku sama sekali nggak menghubunginya, Sayang. Percayalah. Dia yang tiba-tiba muncul dan membuat berita palsu itu. Lagi pula kamu kan tahu kalau aku sudah tidak bekerja sama dengannya," jelas Ibra membela diri.Aya tiba-tiba tersenyum dan memeluk suaminya. "Iya. Aku percaya, kok, Mas. Hehe.""Kamu ngerjain aku?" Ibra langsung menautkan kedua alisnya.Aya terkekeh geli. "Habisnya Mas lucu kalau lagi panik gini."Ibra mendengus pelan."Aku percaya sama Mas Ibra. Mas nggak mungkin selingkuh. Lagi pula Mas udah punya dua anak. Jadi awas saja kalau berani macam-macam di luar sana!" ancam Aya sembari mencubit pelan perut suaminya.Ibra meringis pelan. "Ah... Aku nggak mungkin selingkuh. Lagi pula kamu saja sudah cukup."
"Selama beberapa hari terakhir, media gosip dan jaringan buzzer secara sistematis menyebar luaskan isu bahwasanya kedua anak saya bukanlah anak kandung saya, serta melampirkan rekam medis palsu yang menyebutkan bahwa saya mengalami impotensi total," lanjut Ibra dengan tatapan lurus mengunci kamera media utama. "Hari ini, kami hadirkan fakta hukum yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun."Layar besar di belakangnya langsung menampilkan dokumen resmi berstempel dari lembaga terakreditasi dan juga dari rumah sakit ternama."Di layar utama, Anda sekalian bisa melihat hasil uji DNA forensik yang dilakukan secara independen oleh tiga laboratorium berbeda di bawah pengawasan Polda. Hasilnya menunjukkan tingkat keidentikan 99,99 persen. Kedua anak saya adalah anak biologis, anak kandung saya tanpa keraguan sedikit pun," tegas Ibra, suaranya tajam menembus kesunyian ruangan.Layar kemudian bergeser menampilkan dokumen rekam medis bertanda "PALSU" dengan watermark merah besar, disandingkan deng
Ibra terkekeh dingin. Sebuah tawa yang sanggup membuat siapa pun di ruangan itu merinding. "Kerabat Om Hengki, ya.... gumamnya dengan rahang mengeras."Iya, Pak. Menurut data yang kami dapat, Bagus ini merupakan saudara sepupu yang cukup jauh. Hanya saja mereka akrab dan sama-sama licik," jawab Yudha."Baiklah. Lakukan apa yang harus kalian lakukan. Wanita murahan dan pria licik adalah pasangan yang sangat cocok," geram Ibra lagi dengan tangan terkepal."Baik, Pak," sahut Yudha. "Barang buktinya juga sudah lengkap," lanjutnya seraya membuka folder di meja. "Di dalam laptop pribadi Kaila yang disita polisi, kami juga menemukan file rekaman suara Anda dan Dokter Rian, draf narasi fitnah yang dikirim ke beberapa akun gosip besar, serta bukti transaksi pembayaran bernilai ratusan juta rupiah kepada para influencer dan buzzer untuk menggoreng isu skandal ini."Yudha menekan tombol play pada tabletnya, menampilkan rekaman penggerebekan yang baru saja terjadi beberapa jam lalu. Di dalam vide
"Kenapa, Yah?" tanya Putra heran. Bocah itu memiringkan sedikit kepalanya.Suasana di meja makan yang tadinya penuh gurauan hangat perlahan tergantikan oleh ketegangan tipis yang terasa. Putra menatap ayahnya dengan sepasang mata bulat yang memancarkan kekecewaan sekaligus kebingungan. Sendok di tangannya terhenti di udara sebelum akhirnya ia letakkan kembali di atas piring.Sang ayah masih diam. Putra kembali bersuara. "Kenapa nggak boleh sekolah, Ayah? Putra udah pakai seragam loh. Kan gosipnya udah ditangani Om Samuel?" tanya Putra lagi, mencoba mencari celah negosiasi.Meski masih kecil, sebagai anak laki-laki tertua yang mulai paham situasi, ia merasa cemas jika harus tertinggal pelajaran. Putra juga sudah punya banyak teman dan bisa bermain dengan mereka setiap istirahat. Dan yang bocah itu takuti, teman-temannya akan memusuhinya jika mereka juga membaca gosip yang tersebar di internet."Aku sebenarnya juga takut, Ayah, Bunda... Gimana kalau teman-teman Putra menjauhi Putra gara
Ibra tertohok. Hampir tersedak ludahnya sendiri. Pria itu kemudian mengubah posisinya, bergeser turun dan berbaring di samping Aya. Ia membetulkan pakaian Aya. Lalu dengan lembut menarik tubuh istrinya masuk ke dalam dekapan hangatnya. Tak lupa menarik selimut untuk menyelimuti tubuh mereka berdua dengan selimut tebal hingga sebatas dada. Satu kaki panjang Ibra sengaja dilingkarkan di atas paha Aya, mengunci wanita itu dengan posesif namun tetap lembut."Maafkan aku, ya, Sayang. Aku benar-benar hampir saja menyakitimu," bisik Ibra tulus kembali meminta maaf. Ia mengecup kening Aya cukup lama."Nggak papa, Mas. Aku tahu kamu cuma kangen kan," jawab Aya seraya menyandarkan kepalanya di dada telanjang Ibra, mendengarkan detak jantung pria itu yang perlahan-lahan kembali melambat dan stabil.Ibra mengusap-usap punggung Aya penuh kehangatan, meninggalkan rasa nyaman yang menjalar ke seluruh tubuh sang istri. Rasa gairah membara tadi kini berganti menjadi kehangatan yang sangat menenangkan.







