Share

Anak Rahasia Presdir Impoten
Anak Rahasia Presdir Impoten
Author: Rizu Key

Bab 1

Author: Rizu Key
last update publish date: 2025-11-23 14:27:41

“Tolong pelan, Tuan….”

Pekikan itu terdengar lirih di dalam kamar hotel mewah yang pengap oleh hawa tubuh dan aroma parfum mahal. Suara Aya nyaris tenggelam oleh deru napas berat pria di atasnya.

Ayana Cantika, gadis dua puluh dua tahun, dengan tubuh yang belum pernah benar-benar mengenal sentuhan seperti ini, terkungkung di bawah seorang pria tampan bertubuh kekar.

Pinggul pria itu terus bergerak tanpa jeda, membuat Aya terpaksa mengikuti irama yang tak pernah ia inginkan.

“Ahh…,” racau sang pria, suaranya berat dan serak.

Dua tangan kekar menggenggam pinggul ramping Aya, menahannya agar tak menghindar. Desahan mereka bersahutan, namun hanya satu yang dipenuhi gairah. Pria itu memejamkan mata, tenggelam dalam sensasi yang ia nikmati sendiri.

Di bawah cahaya lampu kamar yang terang, tak ada sehelai benang pun menutupi tubuh mereka. Rasa malu sudah lama luruh digantikan oleh erangan, desahan, dan napas yang saling bertabrakan tanpa makna.

“Ahh… Tuan, tolong pelan sedikit…,” pinta Aya lagi, kali ini sambil menggenggam tangan pria itu. Jarinya bergetar, berusaha menahan agar tempo itu melambat.

Namun rasa perih tetap menjalar. Napasnya tersengal. Genggaman Aya akhirnya terlepas, tubuhnya menegang, sementara jari-jarinya mencengkram seprai putih seolah itu satu-satunya pegangan agar ia tidak benar-benar tenggelam.

Matanya mulai berkaca-kaca. Air mata jatuh tanpa suara, membasahi bantal empuk di bawah kepalanya.

Ingatan Aya melayang pada beberapa jam yang lalu, di lorong rumah sakit yang dingin.

“Mbak Aya,” suara dokter paruh baya itu terdengar serius namun tetap lembut. “Kami sudah melihat hasil pemeriksaan Ibu Ningsih.”

Aya meremas kedua tangannya. “Bagaimana, Dok?”

Dokter itu menghela napas panjang. “Ibu Ningsih harus segera dioperasi. Kanker payudaranya sudah sampai tahap yang tidak bisa ditunda.”

Dunia Aya seolah berhenti berputar. Suara langkah kaki dan percakapan orang-orang menjauh dari pendengarannya. Yang tersisa hanya satu kalimat itu.

“Apakah… bisa menggunakan kartu yang biasanya?” tanyanya lirih.

“Maaf, Mbak. Kartu itu hanya menanggung perawatan. Untuk biaya operasi, Mbak harus membayarnya sendiri.”

“Tapi uang saya nggak cukup, Dok…,” gumam Aya. Ia tahu persis angka yang disebutkan. Tabungannya bahkan tak mencapai setengahnya.

Dokter itu mengangguk, seolah sudah menduga. “Kami masih bisa memberi waktu sampai besok lusa untuk menyelesaikan administrasi.”

“Besok lusa…,” Aya menunduk, dadanya nyeri. “Kalau saya belum dapat uangnya, Ibu saya bagaimana?”

“Jika terlambat, kondisinya bisa memburuk.”

Aya menggigit bibir. Tubuhnya gemetar. Dunia seakan menekannya dari segala arah. Namun ia tetap mengangguk kecil.

“Baik, Dok. Saya akan berusaha.”

Dan dokter itu pergi, meninggalkan Aya sendirian di lorong yang mulai gelap.

Kini, Aya kembali ke kenyataan. Berbaring pasrah di bawah pria kaya yang menjanjikan uang, bukan karena menginginkannya, melainkan karena tak ada pilihan lain.

“Tuan…,” ucapnya pelan, mengikuti dorongan tubuh pria itu. “Berjanjilah… uang itu akan Tuan berikan.”

Gerakan pria itu terhenti sejenak. Ia menatap wajah Aya yang tampak wajah cantik dan basah oleh air mata, lalu menyeringai.

“Selama aku puas,” ujarnya santai, “uang itu akan menjadi milikmu.”

Jemari panasnya mengusap pipi Aya, menghapus air mata yang tak ia pedulikan maknanya.

Aya memalingkan wajah. Pandangannya jatuh pada meja kecil di sisi ranjang. Di sana, kartu ATM pria itu tergeletak, janji yang menjadi satu-satunya harapannya.

Aya menelan ludahnya. Lalu menatap pria itu lagi, menelan penghinaan dalam diam.

“Tuan…,” suaranya bergetar. “Ta–tapi, tolong jangan keluar di dalam, saya tidak mau hamil….”

Pria itu mendengus dingin. “Kamu tidak akan hamil. Aku juga tidak sudi anakku dilahirkan oleh wanita malam sepertimu.”

Kata-kata itu menghantam Aya lebih keras dari sentuhan mana pun.

Suasana hening sejenak.

“Kalau begitu… lakukan saja apa yang Tuan mau,” ucap Aya akhirnya. Dengan sisa keberanian yang dipaksakan, ia melingkarkan tangan ke bahu lebar itu, menariknya mendekat.

Pria itu menyeringai. “Kuakui keberanianmu.”

Ia menatap wajah Aya sedikit lebih lama dari sebelumnya, memperhatikan mata bening itu, bulu mata lentik yang bergetar, bibir tipis yang terkatup gugup. Ada sesuatu yang terusik. Bukan keyakinan penuh, tapi cukup untuk membuat sikapnya bergeser.

“Tu—Tuan… bukankah tidak ada ciuman?” Aya berusaha menghentikan saat wajah itu mendekat.

“Bukankah kamu bilang aku bisa melakukan apa pun?” balas pria itu, masih terdengar dingin, tapi kini ada tekanan lain di baliknya.

Aya terdiam. Ia sendiri yang membuka pintu itu.

Tanpa menunggu lagi, pria itu menutup jarak dan menempelkan bibirnya. Reaksinya lebih keras dari yang ia perkirakan.

“Mmh…,” lenguhan kaget lolos begitu saja. Ciuman pertamanya hilang pada pelanggan pertamanya.

Saat Aya mencoba mendorong dadanya, tekanan justru semakin kuat. Hingga akhirnya, ciuman dilepas.

Tatapan pria itu berubah, tidak lagi sepenuhnya dingin. Seperti ada sesuatu yang mengusik sisi lain dari dirinya.

Senyum tipis pria itu kembali, tapi kali ini lebih gelap, lebih yakin. Akhirnya, ia berkata, “Puaskan aku. Jika gagal, kamu tak dapat apa-apa.”

Aya menelan ludah. “Baik….”

Bibir mereka kembali bertaut. Kali ini, pria itu membimbing dengan pagutan panasnya. Aya masih kaku, namun perlahan mengikuti. Pelukannya menguat tanpa sadar saat tubuhnya diangkat sedikit.

“Hm!” pekiknya tertahan.

Gerakan pria itu kembali dimulai perlahan, selaras dengan ciuman, lalu semakin cepat.

“Ahh… Tuan…,” desah Aya saat ciuman terlepas.

Pria itu tiba-tiba berhenti. Wajahnya menggelap. “Sial….”

Aya menatapnya takut. “T-Tuan…?”

Tak ada jawaban. Pinggul Aya diangkat lebih tinggi, dan gerakan berikutnya membuat tubuhnya tersentak kaget. Setelah itu, tak ada lagi kata-kata.

Hanya gerakan cepat, napas berat, dan kendali yang sepenuhnya berpindah tangan.

Aya mendesah tanpa sadar. Di bawah langit malam tanpa bintang, ia menyerahkan segalanya, kehormatan, air mata, dan dirinya sendiri, demi satu nyawa yang ia cintai.

*

Pagi itu Aya terbangun lebih dulu. Gadis itu dengan cepat namun hati-hati, memakai kembali pakaiannya dan membawa kartu ATM yang ada di atas meja. Dengan mengendap perlahan, dia akhirnya berhasil keluar dari kamar mewah tersebut.

"Bu, tunggu aku...." gumamnya penuh kelegaan. Uang yang dia butuhkan sudah ada di tangan.

Rumah sakit itu tidak jauh dari hotel dan kelab malam, tapi bagi Aya, setiap langkah terasa berat meski dia sudah membawa uang sebagai harapan.

Aya segera tiba di lobi dengan napas terengah, rambut berantakan, mata bengkak, dan pakaian lusuh. Beberapa orang menatapnya aneh, tapi dia tidak peduli. Dia berlari menuju ruangan dokter untuk membicarakan operasi sang ibu.

"Dokter!" serunya begitu melihat dokter yang merawat ibunya. "Dokter! Saya sudah dapat uangnya! Tolong segera operasi ibu saya!"

Dokter itu menatap Aya dengan sorot mata yang tidak pernah Aya lihat sebelumnya. Membuat Aya mengerutkan kening.

"Dok? Dokter kenapa diam? Cepat! Tolong selamatkan Ibu saya!" desak Aya.

"Mbak Aya...." Dokter itu mencoba menenangkan.

"Dokter! Tolong selamatkan Ibu saya! Sekarang sudah bisa operasi kan? Saya sudah dapat uangnya."

Dokter itu menyentuh kedua bahu Aya dengan lembut.

"Mbak Aya... yang sabar, ya?"

Aya terdiam. Dia tak suka kalimat ini.

Dokter itu menarik napas panjang.

"Semalam kami sudah menelpon Mbak berkali-kali. Tapi Mbak tidak mengangkatnya."

Aya membeku. Ketakutan.

"Bu Ningsih...."

Dokter itu menunduk. "Bu Ningsih tidak berhasil bertahan. Beliau sudah meninggal semalam, Mbak."

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Ida Nur Hidayati
betapa terpukulnya Aya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 193

    Setelah momen pelepasan yang terasa hambar di kamar mandi kantor, Ibra keluar dengan langkah yang masih terasa berat. Meskipun ketegangan fisiknya sedikit berkurang, beban pikiran dan rasa rindu yang tertahan pada istrinya justru menyisakan ruang kosong di hatinya.Pria itu segera merapikan diri, mengeringkan tubuhnya dengan handuk terbeli dahulu sebelum mengenakan kemeja bersih. Ia berdiri di depan cermin. Menatap pantulan wajahnya sendiri.'Sial... Kenapa sekarang aku malah semakin menginginkannya?' rutuknya dalam hati.Ibra merapikan rambutnya yang masih basah. Kedua matanya pun terpejam sejenak. "Nggak... Ini karena aku memang membutuhkannya karena sudah lama tidak melakukannya...." gumamnya pelan.Setelah beres, Ibra melangkah keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang lebih segar. Pria itu kembali duduk di kursi kebesarannya, menyelesaikan beberapa dokumen penting.Akan tetapi, semakin ia berusaha menekan hasratnya pada Aya, pria itu semakin tak tenang. Ia p

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 192

    Ibra seolah tidak mengindahkan ucapan istrinya. Tangan pria itu masih saja meremas dada Aya yang semakin sintal dan padat. Merasakan kelembutannya di salah satu telapak tangannya itu."Mas...." bisik Aya dengan napas yang mulai tidak beraturan. Apa lagi tangan Ibra terus meremas dadanya dengan gerakan nakal."Aya... aku ingin," bisik Ibra singkat. Napasnya terdengar berat. Aya pun menoleh menatap wajah suaminya. Dan Ibra langsung menatap lekat-lekat wajah Aya yang memerah. Wanita itu pun terdiam.Ibra kembali meremas lembut dada Aya. Ia merasakan perbedaan yang nyata. Payudara Aya terasa jauh lebih penuh, kencang, dan semakin sensitif. Efek dari kehamilan membuat tubuh Aya menjadi begitu menggoda di mata Ibra."Mas... Lepasin tanganmu...." bisik Aya mulai merasa kegelian.Remasan Ibra menguat, membuat Aya memejamkan mata. Sensasi itu menyulut api di bawah perut Ibra. "Ahhh... Mas...." desah Aya pelan.Ibra juga ikut memejamkan kedua matanya. Merasak

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Ibra 191

    Beberapa hari berlalu dengan ketegangan yang perlahan mencair. Beatrice dan Timo telah dijatuhi hukuman penjara yang setimpal dengan kejahatan mereka.Gedung pencakar langit yang menjadi markas besar Bagaskara Group kini kembali stabil, namun dengan aura yang jauh lebih waspada. Berita tentang penangkapan Beatrice dan keterlibatan Timo dalam masalah yang terjadi di perusahaan telah menjadi buah bibir dan pemberitaan di mana-mana. Namun begitu, tim keamanan yang dipimpin oleh Samuel berhasil membalikkan keadaan.Nama baik Bagaskara Group tidak hanya pulih, tetapi justru menguat. Pasar melihat betapa tangguhnya sistem pertahanan perusahaan dan betapa cepatnya sang Presdir dalam mengambil tindakan hukum yang tegas. Di bawah perintah Ibra, sistem keamanan digital perusahaan dirombak total. Tidak ada lagi celah untuk pengkhianat."Pak, semuanya sudah beres. Opini publik juga sudah berbalik dan nilai saham kita kembali naik," lapor Samuel beberapa menit sebelum waktu makan siang tiba."Bagu

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 190

    "Beneran, Nek?" tanya Putra dengan mata berbinar."Iya, Sayang. Jadilah anak pintar ya, nurut sama Ayah dan Bunda. Nenek pulang dulu," sahur Dewi.Setelah mengantar Dewi sampai ke depan pintu dan memastikan mobilnya berlalu, Ibra kembali ke dalam. Suasana rumah terasa lebih tenang, hanya ada suara denting piring dari dapur tempat Aya menyiapkan makan malam."Mas mandilah dulu. Kita makan," ucap Aya lembut.Ibra mendekati istrinya terlebih dahulu. Lalu memeluk Aya dari belakang dan mengusap lembut perutnya. "Iya, Aya. Kamu duduk saja. Biar Bi Tina yang siapin semuanya.""Nggak papa, Mas. Sudah. Sana mandi." Aya berujar lembut."Aku tidak akan mandi kalau kamu tidak mau duduk," sahut Ibra sembari menarik tangan sang istri. Membawa wanita itu agar duduk di kursi makan."Baiklah." Aya akhirnya menurut. Wanita itu duduk di kursinya. Sementara Putra ikut mendekat dan duduk di hadapan sang ibu."Ayah, biar Putra aja yang bantuin Bunda. Ayah mandi aja," ucap bocah tampan nan menggemaskan itu.

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 189

    "Pak, apa kita perlu ikut menyelidiki masalah ini?" tanya Samuel ketika ia dan sang Presdir berjalan keluar melewati lobi."Tahan dulu. Biarkan mereka yang bekerja. Sekarang kita fokus pada masalah kebocoran data itu. Kamu harus bisa menyelesaikannya, secepatnya," jawab Ibra dengan tegas."Baik, Pak," sahut Samuel.*Sore harinya, Ibra kembali ke rumah dengan beban di pundak yang terasa semakin berat. Namun, pemandangan di ruang tengah sedikit meredakan ketegangannya.Putra sudah mau keluar dari kamar. Ia duduk di sofa, diapit oleh Aya dan Dewi. Mereka sedang menyusun balok-balok mainan dengan tenang. Aya terlihat membisikkan sesuatu yang membuat Putra tersenyum tipis. Meski senyumannya belum seceria biasanya.Di belakang mereka, Lili memilih tidur dengan tenang. Nampaknya kucing kecil itu sudah kelelahan karena bermain menghibur teman kecilnya."Ayah?" panggil Putra pelan.Aya menoleh, menatap suaminya. Menyadari gurat kelelahan di wajah Ibra. Ia ber

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 188

    Di kantor polisi, tepatnya di ruang interogasi. Sementara kehangatan menyelimuti kamar Putra, atmosfer di kantor polisi justru sedingin es. Ibra berdiri di balik kaca satu arah, menatap dua sosok yang telah menghancurkan ketenangannya, yaitu Timo dan Beatrice.Samuel berdiri di samping Ibra, memegang beberapa berkas tuntutan dan bukti kejahatan yang dilakukan kedua orang itu."Kita punya cukup bukti untuk menjerat mereka berdua, Pak. Terutama Timo, dia tertangkap tangan dengan bukti digitalnya. Dan ini berkat ketelitian Bu Aya," papar Samuel.Rahang Ibra mengeras saat menatap kedua orang yang duduk berdampingan di hadapannya. Mereka pun menyadari kemunculan Ibra dan Samuel.Ibra melangkah masuk ke ruang interogasi pertama. Di sana, Timo duduk dengan bahu merosot dan tangan terborgol. Begitu melihat Ibra, pria yang dulunya adalah orang kepercayaan di tim IT itu langsung bersimpuh di lantai, memeluk kedua kakinya."Pak Ibra... saya mohon maaf, Pak! Saya khilaf!" ra

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 45

    Gina merasakan amarah yang sama membakar dadanya. Ia tidak menyangka sahabat baiknya harus menghadapi monster sekelas Ibra sendirian selama bertahun-tahun."Dengarkan aku, Ay," ucap Gina dengan nada yang sangat serius. "Kamu tidak sendirian lagi sekarang. Aku ada di sini. Dan ada Mas Hendra juga. D

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 37

    Samuel meletakkan map cokelat itu di meja Ibra. "Aya mulai bangkit beberapa minggu kemudian dan dia bekerja sebagai pegawai kafe kenalannya hanya sekitar satu bulan saja. Setelah itu, Aya menghilang dari kampung halamannya tanpa jejak. Dan tidak ada uang tahu apa dan bagaimana yang telah dia laku

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 36

    Wanita itu berhasil keluar. Memesan ojek online untuk kembali ke perusahaan dan mengambil motornya di parkiran. Aya berlari mengabaikan rasa perih di area pangkal pahanya yang dipaksa berlari cepat. Napasnya tersengal-sengal, dadanya terasa terbakar. Tujuannya siang itu hanya satu, yaitu menjemput

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 35 (18+)

    "Ahhh ahhh ahhh!" Suara desahan wanita terdengar keras di dalam kamar VIP itu. Tubuh Aya terus bergerak sesuai dengan irama gerakan Ibra. Wanita itu mendesah tak berdaya di bawah kuasa seorang bos arogan. Ia merasa seperti barang, bukan manusia. Namun, di balik itu semua, ada sesuatu ya

    last updateLast Updated : 2026-03-20
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status