MasukAaron menggeram mengerikan. Di detik berikutnya, kesabaran Aaron benar-benar habis terbakar.Udara di ladang bunga itu sudah tidak lagi sekadar berat. Ia seperti runtuh.Setiap detik yang lewat membuat tekanan di antara dua sisi itu semakin tidak stabil, seperti tali tipis yang ditarik dari dua arah berbeda dan tinggal menunggu satu tarikan kecil untuk putus.Aaron berdiri di titik itu.Di batasnya.Netra emasnya yang sudah sepenuhnya memerah kini tidak lagi stabil, berkedip liar di antara kesadaran dan insting yang mulai mengambil alih sepenuhnya.Gerakan pria itu terlampau cepat hingga menciptakan desingan angin yang tajam di udara. Hanya dalam satu kedipan mata, Aaron sudah melesat maju dengan cakar yang mencuat dari jemarinya, mengarah langsung ke leher Aldhen.Brak!Sebelum cakar Aaron sempat menyentuh Aldhen, Robert dengan sigap melompat ke depan, menahan hantaman lengan kekar Aaron menggunakan kedua tangan kokohnya. Benturan kekuatan murni antara dua Alpha dominan itu menci
Ketegangan di ladang bunga itu kian meruncing hingga ke batas tertinggi. Hawa membunuh yang dipancarkan oleh Aaron tidak lagi sekadar menekan udara, melainkan terasa seperti belati-belati es yang siap mengoyak siapa saja yang berani berdiri di antara dirinya dan Fay. Sepasang netra merah darahnya menyala pekat, menatap lurus pada jemari Aldhen yang masih berdiam di atas pundak Fay, seolah menandai kepemilikan yang disengaja.Bagi Aaron, pemandangan di depannya adalah sebuah penistaan terbesar terhadap harga dirinya sebagai seorang Alpha dominan. Wanitanya, belahan jiwanya yang sedang mengandung penerus klan mereka, berdiri membeku tanpa menepis sentuhan pria lain. Bahkan, kata-kata dingin yang keluar dari bibir Fay barusan terasa jauh lebih menyakitkan daripada tusukan perak murni yang pernah merobek kulitnya."Rantai kepemilikan?"Aaron mengulangi kalimat Fay dengan suara yang teramat rendah, bergetar oleh kombinasi antara murka yang tertahan dan luka yang mendalam. Ia mengambil
Udara di ladang bunga itu seperti berhenti bergerak.Bahkan angin pegunungan yang tadi lembut kini terasa enggan menyentuh siapa pun. Kelopak-kelopak bunga yang semula bergoyang pelan ikut merunduk, seakan ikut merasakan tekanan aura yang turun dari sosok di ujung jalur batu itu.Aaron melangkah maju.Setiap pijakannya membuat tanah seolah menahan napas. Netra emasnya yang tiba-tiba berubah merah darah tidak berkedip, mengunci langsung pada dua sosok di tengah ladang.Fay dan Aldhen.Dan jarak itu … cukup untuk menghancurkan kesabaran terakhir seorang Alpha yang sedang terbakar api cemburu.“Aldhen…,” suara Aaron keluar rendah, berat, seperti gesekan pedang yang siap menebas.Nama itu bukan sekadar panggilan. Itu peringatan.Di belakang Aaron, udara kembali bergeser.Langkah-langkah berat dari jalur hutan akhirnya menyusul.Aldrick muncul paling depan dari formasi kedua, berhenti seketika saat matanya menangkap seluruh medan di hadapannya. Sorotnya langsung mengeras, bukan karena terk
Pertanyaan itu menghantam tepat di ulu hati Fay. Memorinya kembali berputar pada malam di mana ia mengajukan pertanyaan yang sama pada Aaron, dan pria itu hanya membalasnya dengan keheningan serta pelukan posesif atas nama takdir dan keturunan.Fay gelisah. Jemarinya saling bertautan dengan erat, meremas gaun yang dipakainya. Jantungnya berdegup kencang karena takut. Ia takut salah bicara, takut jika jawabannya akan memicu perselisihan baru di antara para Alpha kuat ini."Apa maksudmu?" tanya Fay, berusaha menepis arah pembicaraan dengan suara yang sedikit bergetar.Robert yang merasa percakapan itu menjurus ke hal lain pun hanya memperhatikan, tapi tidak ikut campur."Nggak bermaksud apa-apa," jawab Aldhen dengan nada teramat santai, seolah ia hanya sedang membicarakan hal biasa. "Aku hanya menebak. Wajahmu itu terlalu jujur, Fay. Sangat mudah ditebak."Fay menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberaniannya yang tersisa. Ia tidak ingin menjadi konsumsi ego atau bahan
Fay ragu sesaat melihat telapak tangan Robert yang besar dan kokoh terulur di depannya. Namun, mengingat pria di hadapannya ini adalah sosok yang telah mempertaruhkan nyawa untuk menghancurkan pintu baja terkutuk itu, Fay akhirnya membalas uluran tangan tersebut."Fay," ucapnya lirih namun jelas.Jabat tangan mereka singkat. Robert memiliki genggaman yang kuat, mencerminkan sisi liarnya sebagai seorang Alpha dominan, namun ia menjaganya tetap lembut agar tidak menyakiti Fay.Sepasang matanya yang tajam menatap Fay dari ujung kepala hingga ujung kaki, sama sekali tidak menutupi rasa kagum dan ketertarikan atas kecantikan wanita di depannya. Meski begitu, tatapannya tetap berada dalam batas sopan, tidak seperti tatapan menjijikkan para anak buah Lucas.Robert melepaskan genggamannya, lalu menoleh ke arah Aldhen sambil menyeringai lebar.“Jadi … kamu yang waktu itu?” tanya Fay hati-hati.Robert mengangguk kecil. “Aku ada di sana.”Jawaban singkat itu membuat ingatan Fay kembali berke
Setelah sarapan selesai dan percakapan ringan yang lebih banyak dipancing oleh Aldhen, suasana di dalam ruangan itu perlahan kembali tenang.Fay masih duduk di sisi meja, sesekali menatap ke arah jendela besar yang terbuka menuju cahaya pagi. Jemarinya perlahan meremas ujung pakaiannya tanpa sadar, sementara tatapannya beberapa kali kosong seolah pikirannya tidak benar-benar berada di ruangan itu.Entah kenapa, meski makanan yang ia konsumsi terasa hangat dan aman, pikirannya tidak benar-benar ikut tenang.Aldhen memperhatikannya sekilas. Tatapannya berhenti sedikit lebih lama dari sekadar melihat biasa, sebelum akhirnya ia menyandarkan tubuhnya santai kembali. Namun, ia tidak langsung bertanya lagi. Hingga akhirnya Fay berdiri perlahan.“Aku ingin mandi,” ucapnya pelan, sedikit canggung.Aldhen mengangguk kecil, seperti sudah mengantisipasi itu.“Pelayan akan mengantarmu,” jawabnya santai.Ia memberi isyarat ringan dengan tangannya. Tidak lama kemudian, beberapa pelayan wanita masuk.







