LOGINAku masih bisa merasakan sisa-sisa nyeri di tubuhku saat Aaron duduk di kursi, persis di samping ranjangku. Tangannya belum berpindah dari perutku, seolah ia takut rasa sakit itu akan kembali menyerang begitu saja jika ia melepaskannya.Dan anehnya ... kehangatan itu benar-benar menenangkan.Janin di dalam rahimku yang tadi bergerak liar kini jauh lebih tenang di bawah sentuhannya, seolah benar-benar mengenali keberadaan pria ini sebagai sosok yang paling mampu menenangkan insting liarnya.Kamar kecil ini perlahan kembali sunyi.Hanya suara napas kami yang terdengar samar di tengah cahaya bulan merah yang menyusup masuk melalui celah jendela.Aku memberanikan diri menatap Aaron. Baru sekarang aku menyadari bahwa pria itu tampak jauh lebih kacau dibanding biasanya. Garis rahangnya mengeras, napasnya terdengar berat, sementara mata emas yang biasanya begitu tajam kini meredup, menyiratkan kelelahan yang amat sangat.Akan tetapi, ada yang berbeda dari caranya menatapku malam ini. Tatapa
Tubuhku masih gemetar hebat di atas lantai kamar. Rasa sakit itu datang lagi, jauh lebih ganas dari sebelumnya, seolah mencoba menyerang rahimku dari dalam tanpa ampun."Akhh, sakit! Nek, tolong!!"Tangisku pecah seketika. Jemariku mencengkeram kain bajuku sendiri di atas perut yang terasa semakin berat dan menegang. Rasanya seperti ada sesuatu di dalam sana yang terus bergerak liar, menekan ke segala arah hingga napasku tersengal-sengal."Fay, dengarkan nenek. Tarik napasmu pelan-pelan." Suara nenek terdengar sangat panik di dekatku. Tangannya terus mengusap punggungku yang sudah basah oleh keringat dingin. "Jangan biarkan ketakutanmu menguasai dirimu. Kamu harus tetap tenang demi anak itu.""Aku mencoba, Nek. Sungguh, aku mencoba," isakku dengan suara yang nyaris hilang.Tapi rasa sakit ini terlalu besar. Perutku kembali bergelombang pelan di depan mataku sendiri, membuat tubuhku membeku ketakutan. Sesuatu di dalam sana bergerak semakin kuat. Kulitku menegang sampai terasa pana
"Aku nggak akan gagal," ucap Hendra dingin.Pria bermantel hitam itu memperhatikannya selama beberapa saat, seolah sedang menakar kadar keyakinan di mata Hendra, sebelum akhirnya terkekeh pelan."Aku sangat berharap begitu, demi keselamatan nyawamu sendiri."Ia berbalik perlahan, mantel hitamnya menyapu udara malam. “Tetua sudah terlalu lama menunggu hasil.”Hendra menyipitkan mata, menatap punggung pria itu yang mulai menjauh. "Dan jika aku berhasil melakukannya? Apa jaminannya untukku?"Pria itu berhenti melangkah tanpa menoleh ke belakang. "Maka semuanya berakhir. Kamu akan mendapatkan apa yang dijanjikan, dan bebanmu akan terangkat."Nada suaranya terdengar terlalu tenang. Namun entah kenapa, bagi Hendra jawaban itu justru seperti sebuah janji kematian.Karena Hendra tahu betul bahwa di dunia mereka, kata "berakhir" sering kali berarti seseorang harus menghilang selamanya.Pria bermantel hitam itu kembali melangkah memasuki bayangan pepohonan. Namun langkahnya tiba-tiba terhe
Malam turun perlahan di atas hutan pinus, membawa serta hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Kabut tipis mulai menyelimuti jalanan yang membelah pepohonan, menciptakan suasana lembap dan sunyi yang terasa menyesakkan. Tidak ada suara kendaraan yang melintas. Tidak ada tanda-tanda kehidupan selain desir angin malam yang bergerak pelan di antara batang-batang pinus yang tinggi.Di kejauhan, sebuah mobil hitam berhenti di tepi jalan tanah yang gelap. Mesinnya mati dalam satu sentakan halus. Beberapa detik kemudian, pintu mobil terbuka perlahan.Hendra turun, sepatu botnya menginjak ranting kering yang patah di bawah kakinya. Ia tidak langsung melangkah. Matanya yang tajam menyapu area sekitar, memeriksa setiap sudut bayangan yang tertangkap oleh cahaya bulan yang pucat. Insting yang selama bertahun-tahun dilatih membuatnya selalu waspada. Baginya, keheningan adalah bahasa lain dari bahaya.Namun, justru karena terlalu sunyi, Hendra tahu bahwa dia tidak sedang sendirian di tempat
Malam turun dengan perlahan, membawa keheningan yang menyesakkan ke dalam ruang kerja Aaron. Cahaya senja yang tadi sempat menyapa, kini telah lama padam, menyisakan pantulan remang lampu kota yang menembus jendela kaca setinggi langit-langit. Jam dinding di sudut ruangan berdetak pelan, seolah sedang menghitung setiap detik yang terbuang saat pria itu mematung di kursinya.Namun Aaron nyaris tidak bergerak sedikit pun.Tumpukan dokumen dan laporan masih terbuka di atas meja, sementara serpihan batu merah itu tetap berada di samping cincin keluarga miliknya.Hening. Terlalu hening hingga ia bisa mendengar deru napasnya sendiri yang terasa berat.Aaron menyandarkan tubuhnya perlahan ke kursi. Sorot mata emasnya masih tajam, namun kelelahan samar mulai terlihat di wajah dinginnya.Sejak percakapan dengan Aldrick tadi, pikirannya tidak benar-benar tenang. Potongan masa lalu yang akhirnya menyatu justru membuat insting liarnya semakin gelisah.Dan anehnya ... di tengah seluruh kekacaua
Pintu kamar terbuka kasar. Nenek berlari masuk dengan napas terengah-engah. Namun, langkahnya terhenti seketika saat matanya tertuju pada perutku yang kini sudah seukuran kehamilan enam bulan, padahal aku tahu pembuahan itu baru terjadi dua bulan lalu.Wajah nenek memucat. Ia tidak mendekatiku, melainkan langsung menyambar tirai jendela dan menyibaknya lebar-lebar. Di langit sana, bulan bulat sempurna telah bersimbah warna merah pekat, seolah-olah langit sedang berdarah."Sudah dimulai," gumam nenek. Suaranya bergetar hebat."Nek, apa yang terjadi padaku? Kenapa perutku kayak gini?" Aku merangkak di lantai, meraih ujung kain jarit nenek dengan isakan yang semakin histeris. "Sakit, Nek. Ini nggak normal!"Nenek berlutut di depanku, tangannya memegang bahuku dengan kencang. Matanya kini seperti memancarkan aura supranatural yang tajam, seakan mampu menembus hingga ke dalam perutku."Dengarkan nenek, Fay. Tenang, tarik napasmu pelan-pelan," perintahnya, meski raut wajahnya sendiri terl







