Mag-log inKeesokan harinya suasana di kediaman mewah Stanley tidak lagi memancarkan keagungan sebuah klan terpandang. Pagi yang biasanya diisi dengan cangkir-cangkir teh mahal dan deretan pelayan yang membungkuk hormat, kini berubah menjadi neraka kepanikan yang menyesakkan napas.Pintu depan kediaman dibanting kasar. Suara teriakan, jeritan tangis, dan benturan barang-barang pecah menggema dari ruang tengah hingga ke lorong utama."Stanley! Apa yang sebenarnya terjadi?! Bank memblokir seluruh kartu kredit kami! Rumah ini ... rumah ini ditempeli segel penyitaan!" seru seorang wanita paruh baya—salah satu kerabat senior—dengan wajah pias dan mata membelalak horor.Di sudut ruangan lain, sepupu-sepupu Jessi yang selama ini hidup mewah dan menggantungkan seluruh gaya hidup mereka dari kucuran dana perusahaan Stanley, menangis histeris. Mereka memegangi ponsel masing-masing yang tanpa henti menayangkan berita kehancuran finansial keluarga mereka."Paman! Saham kita anjlok! Nilainya jatuh sampai
"Ibu...."Suara itu keluar begitu saja dari bibirku. Detik berikutnya, aku melangkah cepat menghampirinya.Tubuhku langsung tenggelam dalam pelukan hangatnya.Begitu kedua lengannya memelukku, seluruh pertahanan yang sejak tadi susah payah kubangun runtuh seketika.Tangisku pecah.Aku mencengkeram pakaian Ibu erat-erat, menyembunyikan wajah di bahunya seperti seorang anak kecil yang akhirnya menemukan tempat untuk pulang."Iya, Sayang. Ibu di sini." Telapak tangan Ibu mengelus punggungku perlahan. "Menangislah kalau memang ingin menangis. Jangan ditahan."Aku semakin terisak.Aku tidak ingin menyembunyikannya lagi. Aku tidak bisa berusaha terlihat baik-baik saja.Di depan Aaron, aku tersenyum. Di depan para pelayan, aku mencoba terlihat tegar. Namun di hadapan Ibu, aku tidak sanggup lagi berpura-pura."Nenek...."Suara itu membuat pelukan Ibu semakin erat. Tangannya terus mengusap punggungku."Ibu tahu kamu sangat kehilangan Nenek."Aku mengangguk dalam tangis.Beberapa saat berlalu s
Aku mengikuti Bu Sarah sambil menggendong Arsen.Sebenarnya, Aaron sudah menyiapkan kursi roda untukku, tetapi aku menolaknya. Aku masih cukup kuat menaiki tangga ke lantai dua. Terlebih lagi, obat khusus dari Dokter Reynard bekerja dengan baik. Aku bisa merasakan tenagaku berangsur-angsur pulih.Bu Sarah berhenti di depan sebuah pintu besar berwarna putih gading. Dua orang pelayan berdiri di sisi pintu, lalu segera membukanya perlahan.Aku melangkah masuk. Dan seketika aku terdiam. Mataku membulat.Kamar itu begitu indah hingga aku bahkan lupa melangkah. Untuk beberapa detik, aku hanya menatap seluruh ruangan dengan perasaan yang sulit kuungkapkan.Dindingnya didominasi warna putih lembut dengan sentuhan abu-abu muda dan emas yang memberikan kesan hangat, elegan, tetapi tetap menenangkan. Cahaya lampu kristal di langit-langit tidak terlalu terang, seolah sengaja dipilih agar nyaman bagi mata bayi.Di sisi kanan terdapat sebuah boks bayi berukuran besar dengan ukiran sederhana berbent
Setelah meninggalkan laboratorium medis tersembunyi milik Aaron, helikopter pribadi itu melaju menembus langit malam.Helikopter tersebut dikirim dari kawasan hutan pinus atas perintah Aldrick melalui ikatan batin, tepat setelah Aaron memutuskan membawa Fay dan Arsen kembali ke mansion. Semua dipersiapkan dengan cepat dan cermat demi memastikan perjalanan sang Luna serta sang pewaris berlangsung nyaman tanpa gangguan.Fay duduk bersandar dengan nyaman di dalam kabin, memeluk Arsen yang tengah tertidur tenang dalam dekapannya. Di samping mereka, Aaron duduk tanpa suara.Sejak helikopter lepas landas dan mengudara, tatapannya hampir tidak pernah beralih dari Fay dan putranya. Sesekali tangannya terulur untuk memastikan selimut Arsen tetap menutupi tubuh mungil tersebut dengan sempurna.Fay menatapnya sambil tersenyum kecil. "Kamu sudah memeriksa selimutnya entah berapa kali."Aaron tidak terlihat merasa bersalah. "Belum cukup."Fay terkekeh pelan. "Dia sedang tidur.""Aku tahu.""Jadi k
"Ayah ... apakah Ayah tahu sesuatu?" bisik Jessi ragu."Jadi selama ini kamu bahkan tidak tahu siapa yang sedang kamu ikuti?!""Maksud Ayah apa?" tanya Jessi semakin bingung."Kamu benar-benar tidak tahu apa yang sudah kamu lakukan, Jessi. Damian adalah kaki tangan Marcus yang diperintahkan dalam pembantaian berdarah itu."Dunia Jessi seakan berhenti. "Apa...?"Pendengaran Jessi mendadak berdenging panjang.Nama Damian dan kata 'pembantaian' berputar di kepalanya seperti mimpi buruk yang nyata. Oksigen di sekitar terasa lenyap, membuatnya terpaku dengan bibir bergetar tanpa mampu mengeluarkan suara.Jessi tahu bahwa ayahnya pernah bekerja sama dengan Tetua Marcus dalam serangkaian pembantaian di berbagai tempat, termasuk di kediaman pribadi orang tua Aaron. Semua itu dilakukan demi memenuhi kesepakatan perjodohan dirinya dengan sang Alpha ketika dewasa nanti. Namun, ia tidak pernah menduga bahwa Damian juga terlibat dalam tragedi berdarah yang telah merenggut begitu banyak nyawa terse
Ruangan perawatan VVIP itu sunyi. Jessi masih terbaring dengan wajah pucat, sementara suara monitor jantung terdengar teratur dari sisi ranjang.Beberapa jam sebelumnya, ia baru saja menjalani operasi setelah terluka parah akibat serangan Aaron. Pergelangan tangannya yang patah telah ditangani dan diposisikan kembali dengan prosedur medis. Namun, kondisi yang paling mengkhawatirkan bukanlah patah tulangnya.Hantaman Aaron telah menyebabkan trauma serius pada bagian dalam tubuh Jessi. Karena itu, dokter memutuskan untuk terus mengawasinya setelah operasi.Salah satu dokter yang menangani Jessi sejak awal adalah dokter spesialis yang sudah lama bekerja di rumah sakit tersebut. Bagi seluruh staf rumah sakit, ia hanyalah dokter senior dengan reputasi sangat baik. Namun, Stanley mengetahui identitas lain yang disembunyikan pria itu.Ia adalah salah satu dokter klan yang ditempatkan di rumah sakit tersebut. Keberadaannya memungkinkan beberapa anggota klan mendapatkan penanganan medis modern
Pagi tadi seharusnya berjalan biasa. Aku bangun, meregangkan otot, membantu nenek di dapur, lalu bersiap menjalani hari tanpa memikirkan apa pun yang aneh. Namun sejak membuka mata, ada perasaan ganjil yang tidak bisa kujelaskan. Seperti sisa mimpi buruk yang enggan pergi meski aku sudah sepenuhnya
"Tuan."Suara Aldrick memecah keheningan ruang kerja itu.Aaron mengangkat pandangan perlahan. “Ada perkembangan?”“Ya.” Aldrick melangkah mendekat. “Orang bermantel hitam itu kembali bergerak.”Tatapan Aaron langsung berubah tajam. “Lanjutkan.”Aldrick mengangguk singkat. “Setelah pengamanan kit
Jessi memejamkan mata perlahan. Untuk beberapa saat, ia hanya duduk diam tanpa bergerak. Namun perlahan, napasnya mulai berubah lebih berat. Naluri serigalanya bergerak samar di bawah kulit, merespons emosi yang kini tidak lagi kacau, melainkan dingin dan terarah.Ia bisa merasakannya dengan jelas
Lorong itu kembali sunyi. Namun, atmosfer kali ini terasa sangat berbeda. Keheningan tersebut bukan lagi kehampaan, melainkan sebuah jeda yang sarat akan ketegangan.Di balik pilar batu yang tinggi, bayangan hitam itu tetap diam beberapa saat lebih lama. Sosok tersebut tampak memastikan bahwa la







