Startseite / Fantasi / Anak Rahasia Sang Alpha / 79. Ikatan yang Menyiksa

Teilen

79. Ikatan yang Menyiksa

last update Veröffentlichungsdatum: 12.05.2026 15:57:59

​Malam turun dengan perlahan, membawa keheningan yang menyesakkan ke dalam ruang kerja Aaron. Cahaya senja yang tadi sempat menyapa, kini telah lama padam, menyisakan pantulan remang lampu kota yang menembus jendela kaca setinggi langit-langit. Jam dinding di sudut ruangan berdetak pelan, seolah sedang menghitung setiap detik yang terbuang saat pria itu mematung di kursinya.

Namun Aaron nyaris tidak bergerak sedikit pun.

Tumpukan dokumen dan laporan masih terbuka di atas meja, sementara serpiha
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Anak Rahasia Sang Alpha   112. Fondasi Era Baru

    Mate-nya sedang berada dalam bahaya. Dan itulah alasan sebenarnya mengapa Aaron tidak bisa terus membuang waktu di sini, tidak peduli seberapa penting semua informasi yang baru saja ia dengar.Edward mungkin mengetahui banyak hal tentang pria bermantel hitam itu. Tetapi saat ini, Fay tetap prioritas utamanya.Aaron akhirnya mengembuskan napas pelan sebelum memotong pembicaraan mereka secara langsung.“Cukup.”Edward mengangkat sebelah alisnya. Tatapan Aaron kembali tajam dan penuh tekanan.“Kalau kamu tahu semuanya,” ucapnya rendah, “kamu juga pasti tahu seberapa penting kerja sama ini untukku.”Hening sepersekian detik, lalu Edward tersenyum tenang di tempat duduknya.“Ya.” Ia mengangguk pelan. “Aku tahu.” Tatapannya lurus ke arah Aaron. “Dan karena itulah aku sengaja memanggilmu datang ke sini secara langsung.”Aaron diam memperhatikan tanpa ekspresi.“Aku ingin melihat sendiri seperti apa Alpha yang membuat begitu banyak orang takut.”Ia berhenti sejenak sebelum terkekeh. “Dan seka

  • Anak Rahasia Sang Alpha   111. Teriakan di Tepi Jalan

    Fay akhirnya berjalan mengantar ayahnya keluar dari area rumah kayu itu. Waktu menunjukkan pukul sembilan pagi, namun udara masih terasa dingin, sementara angin dari hutan pinus berembus pelan melewati pepohonan tinggi di sekitar mereka.Namun baru beberapa langkah berjalan, Fay tiba-tiba berhenti. Keningnya langsung berkerut. Ia menoleh cepat ke belakang.Dan benar saja, jarak antara mereka dengan Aldrick serta Lucien ternyata hampir tidak berubah sama sekali. Dua pria itu tetap mengikuti di belakang dengan langkah tenang, seolah hanya memberi sedikit ruang formalitas tanpa benar-benar menjauh.“Astaga…,” desisnya pelan.Ia mengentakkan kakinya ke tanah sebelum berbalik cepat menghampiri mereka.“Kalian serius?”Aldrick berhenti. “Ada masalah, Nona Fay?”“Aku pikir kalian janji mau kasih ruang!”Lucien terlihat menahan senyum tipis. “Kami sudah menjaga jarak, Nona.”“Ini yang kalian sebut menjaga jarak?” Fay melotot tajam.Lucien mengusap tengkuknya kaku. “Menurutku ini sudah cukup j

  • Anak Rahasia Sang Alpha   110. Jejak Darah yang Belum Selesai

    Edward terdiam beberapa detik setelah memperkenalkan dirinya.Lalu perlahan, ia kembali berjalan mendekati meja dengan langkah tenang. Setelah kembali duduk di kursinya, jemari pria itu menyentuh permukaan gelas kristal sebelum akhirnya ia mengangkat pandangan ke arah Aaron.Sudut bibirnya terangkat samar, sebuah ekspresi dingin yang entah kenapa justru membuat suasana semakin terasa mencekam.“Kamu benar-benar berpikir pembantaian di hutan malam itu dan pemberontakan terhadap kedua orang tuamu terjadi secara terpisah?”Tubuh Aaron seketika menegang. Setiap kali mendengar tentang orang tuanya, kenangan kelam itu seolah kembali mengiris jantungnya.Edward melanjutkan dengan nada tenang, “Keduanya terjadi di malam yang sama.” Ia menyandarkan tubuh santai. “Dan menurutmu itu hanya kebetulan?”Ruangan mendadak terasa jauh lebih dingin.“Aku sudah menyelidikinya selama bertahun-tahun,” lanjut Edward. “Semakin dalam aku menggali, semakin jelas semuanya terlihat.”Tatapannya lurus ke mata Aa

  • Anak Rahasia Sang Alpha   109. Anak Kecil dari Masa Lalu

    Ruangan itu sunyi. Aaron masih duduk tegak di kursinya dengan tatapan tajam yang tidak pernah lepas dari pria misterius di hadapannya. Aura Alpha dalam dirinya belum benar-benar mereda, bahkan udara di sekitar meja pertemuan masih terasa berat akibat tekanan kekuatan yang tadi sempat meledak.Namun pria itu tetap tenang. Terlalu tenang.Dan justru itulah yang membuat Aaron semakin waspada.Beberapa detik berlalu tanpa suara sebelum akhirnya Aaron berbicara pelan, “Kamu sengaja membawaku datang menemuimu.”Bukan pertanyaan, melainkan kesimpulan.Pria misterius itu tersenyum tipis. “Akhirnya kamu sadar juga.”Wajah Aaron mengeras. “Kamu sudah merencanakan pertemuan ini sejak awal.”“Bisa dibilang begitu.”“Kamu menyelidikiku.”“Sudah sangat lama.”Ruangan kembali hening beberapa detik. Pria itu lalu menyandarkan tubuh lebih santai sebelum melanjutkan, “Aku tahu semua hal yang menimpa perusahaanmu.” Tatapannya lurus ke Aaron. “Termasuk masalah yang sedang bergejolak di klanmu.”Mata emas

  • Anak Rahasia Sang Alpha   108. Malam di Tengah Hutan Berdarah

    Tok, tok, tok!Pria berjas abu-abu itu berhenti di depan ruangan besar bernuansa hitam emas. Ia membuka pintu perlahan sambil berkata hormat, “Silakan masuk, Tuan.”Aaron melangkah masuk.Dan saat pintu itu terbuka sepenuhnya … hal pertama yang ia lihat adalah seorang pria yang sudah duduk tenang di kursi utama.Pria tersebut mengenakan setelan hitam elegan dengan rambut yang disisir rapi ke belakang. Wajahnya terlihat tenang, tetapi sorot matanya mengandung sesuatu yang sulit dijelaskan.Terlalu tajam. Terlalu misterius.Ia sedang menatap Aaron seolah sudah mengenalnya sangat lama. Dan anehnya, tatapan itu membuat Aaron sedikit tidak nyaman.Pria itu perlahan menyandarkan tubuhnya ke kursi sebelum akhirnya tersenyum tipis.“Senang akhirnya kita bertemu kembali, Aaron.”Dahi Aaron langsung berkerut samar. Tatapannya berubah dingin penuh penilaian.“Aku rasa kita tidak pernah saling kenal.”Senyuman pria itu justru melebar tipis, sarat akan ejekan. “Benarkah?”Ia menatap Aaron lurus ta

  • Anak Rahasia Sang Alpha   107. Insting yang Tidak Tenang

    Langit Singapura tampak kelabu pagi itu. Kabut tipis menggantung di antara gedung-gedung tinggi, sementara lalu lintas kota bergerak sibuk tanpa henti. Namun di dalam mobil hitam panjang yang melaju tenang menuju kawasan pusat bisnis, atmosfer di dalamnya terasa jauh lebih dingin dibanding udara luar.Aaron duduk diam di kursi belakang. Tatapannya lurus ke depan, tajam dan tak terbaca. Jemarinya di atas paha, terlihat tenang di luar, tetapi denyut aura Alpha dalam dirinya sejak tadi tidak pernah benar-benar stabil.Karena pikirannya sama sekali tidak berada di Singapura.Pikirannya tertinggal di rumah kayu itu.Pada Fay dan bayi mereka.Ponsel di tangannya masih menampilkan laporan terakhir dari Aldrick beberapa jam lalu.Aldrick: 'Kondisi Nona Fay stabil. Dokter Reynard sudah melakukan pemeriksaan. Janin bertahan.'Kalimat terakhir itu terus terngiang di kepala Aaron.'Janin bertahan.'Bukan sehat, bukan juga aman. Tetapi bertahan.Rahang Aaron perlahan mengeras. Ia masih bisa mengin

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status