LOGINKlinik itu mulai sepi ketika Elvin tiba.
Di luar, Vincent masih menunggu di dalam mobil sambil merokok dengan tenang. Jack duduk di kursi pengemudi, sesekali melirik ke arah pintu klinik.
Sementara itu, Elvin menemui Linda seorang diri.
"Tuan Lu, Anda sudah datang," ujar Linda sambil menggendong seorang bayi laki-laki yang masih kemerahan.
Elvin langsung menatap bayi itu.
"Nyonya, bagaimana keadaan bayinya?""Sangat sehat dan tampan. Tenang saja, ibunya kami rawat dengan baik selama kehamilan, sehingga bayi ini lahir dengan sehat dan kuat," jawab Linda dengan senyum meyakinkan.
Elvin tersenyum ketika melihat bayi yang berada dalam gendongan Linda. Bayi itu sedang menangis tangannya bergerak-gerak seolah mencari sesuatu.
"Bagaimana kondisi ibunya?" tanya Elvin.
Linda memasang wajah prihatin.
"Kasihan sekali. Dia tidak sanggup merawat anak ini. Suaminya meninggalkannya setelah mengetahui kehamilannya. Demi masa depan anaknya, dia terpaksa menyerahkan bayi ini kepada keluarga yang mampu memberinya kehidupan lebih baik."Elvin terdiam.
Ia memandang bayi itu beberapa saat sebelum akhirnya mengeluarkan sebuah cek dengan nominal yang sangat besar.
"Ini sesuai dengan kesepakatan."
Linda menerima cek tersebut dengan kedua tangan.
"Terima kasih, Tuan Lu."Bayi itu terus menangis dalam gendongan Linda.
"Uh... waaah!"
Tangisannya semakin keras hingga wajah mungilnya memerah.
Linda berusaha menenangkannya, tetapi bayi itu justru menangis tanpa henti.
"Sepertinya dia lapar," ujar Linda sambil tersenyum canggung.
Elvin mengulurkan tangannya.
"Berikan kepadaku."Linda menyerahkan bayi itu kepada Elvin.
Namun, baru beberapa detik berada dalam gendongan Elvin, bayi itu masih menangis keras.
"Kenapa dia terus menangis?" tanya Elvin bingung.
Linda segera menjawab, "Mungkin dia belum terbiasa dengan Anda."
Elvin mencoba menggendongnya lebih nyaman, tetapi tangisan bayi itu tidak kunjung berhenti.
Setelah menyerahkan cek tersebut, Elvin menggendong bayi itu dan melangkah pergi sambil berusaha menenangkannya.
Namun, bayi itu justru menangis semakin keras.
"Waaah... waaah!"
Tangisannya menggema di sepanjang koridor rumah sakit. Elvin tampak kebingungan sambil terus mengayun tubuh mungil itu perlahan.
"Tenanglah, Sayang. Jangan menangis. Sebentar lagi kita pulang dan kau akan bertemu mama."
Namun, bayi itu tetap menangis tanpa henti.
Begitu sosok Elvin menghilang di balik pintu, senyum Linda langsung berubah menjadi penuh keserakahan.
Ia mengangkat cek yang baru diterimanya.
"Nominal yang luar biasa."Linda bahkan mencium cek tersebut dengan gembira.
Tak lama kemudian, Rinny datang menghampirinya.
"Ma, bagaimana? Berapa yang dia bayar?"Linda menyerahkan cek itu kepada Rinny.
"Lihat sendiri."Mata Rinny langsung membesar ketika melihat nominalnya.
"Sebanyak ini?""Ya." Linda tersenyum puas. "Hanya dengan menyerahkan satu bayi, kita sudah mendapatkan uang sebanyak ini."
Rinny tersenyum lebar.
"Lalu bagaimana dengan bayi yang satunya?"Linda terdiam sejenak.
Tatapannya berubah dingin. "Jangan khawatir. Bayi itu kita buang saja ke tempat lain. Agar Chloe tidak tahu. Apa lagi Vincent Lu, jangan sampai dia tahu."Rinny tersenyum.
"Dan Chloe?"Linda menoleh ke arah ruang persalinan.
"Pastikan dia tidak pernah tahu bahwa kedua anaknya masih hidup."Senyum keduanya perlahan melebar.
Sementara itu, tanpa mereka sadari, seorang perawat keluar dari ruang persalinan dengan wajah panik.
"Nyonya!"Linda dan Rinny langsung menoleh.
"Ada apa?"Perawat itu menarik napas.
"Pasiennya sudah sadar.""Linda, apa yang harus kita lakukan dengan bayi ini? Aku tidak mau menerimanya."
Mike yang menggendong bayi itu tampak gelisah. Bayi tersebut terus menangis tanpa henti."Waaah... waaah!"
"Buang saja ke tempat yang jauh dari kota," jawab Linda dingin. "Hidup atau mati, biarkan nasib yang menentukan. Vincent Lu tidak boleh tahu bahwa dia memiliki anak."
Mike menatap bayi mungil dalam gendongannya dengan iba.
"Sayang sekali bayi selucu ini harus menjadi korban."Linda tidak menjawab.
Baginya, bayi itu hanyalah masalah yang harus disingkirkan.Beberapa saat kemudian, Linda dan Rinny kembali ke ruang persalinan.
Chloe masih terbaring lemah di atas ranjang. Wajahnya pucat, sementara tubuhnya belum sepenuhnya pulih setelah melahirkan.
Begitu melihat Linda dan Rinny masuk, Chloe langsung bertanya dengan suara lemah.
"Di mana anakku?"
Linda memasang wajah sedih.
"Chloe...""Di mana anakku?" ulang Chloe, kali ini lebih mendesak.
Linda menarik napas panjang.
"Bayimu sudah meninggal."Wajah Chloe seketika membeku.
"Apa?""Bayimu perempuan. Dia meninggal di dalam kandungan."
Air mata langsung mengalir dari sudut mata Chloe.
"Tidak..." Tangannya perlahan menyentuh perutnya. "Tidak mungkin. Aku masih merasakan tendangannya. Bagaimana mungkin anakku tiba-tiba meninggal?""Kami tidak punya alasan untuk berbohong," jawab Rinny dengan tenang.
Ia kemudian mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah foto kepada Chloe.
Di layar terlihat seorang bayi yang tampak tidak bernyawa.
"Tidak..."
Tubuh Chloe bergetar. "Aku tidak percaya."Ia mencoba bangkit dari ranjang.
"Aku ingin melihat anakku.""Chloe, jangan memaksakan diri," ujar Linda.
"Aku ingin melihatnya!"
Chloe menurunkan kedua kakinya dari ranjang.Namun tubuhnya terlalu lemah.
Saat mencoba berdiri—Bruk!
Tubuh Chloe terjatuh ke lantai.
"Aahh!"Rintihannya terdengar menyakitkan ketika perutnya kembali terasa nyeri akibat benturan.
Linda dan Rinny hanya berdiri memandanginya.
"Chloe, jangan menyusahkan dirimu sendiri," kata Linda dingin. "Anakmu sudah dikremasi oleh papamu. Tidak ada lagi yang bisa kau lihat."
Air mata Chloe semakin deras.
"Aku ingin melihat anakku..."Ia berusaha kembali bangkit sambil menahan rasa sakit.
"Aku tidak percaya dia meninggal begitu saja."Tangannya menekan perutnya yang terasa semakin sakit.
"Dia adalah anakku..." Suara Chloe bergetar. "Aku ingin melihatnya untuk terakhir kali."Namun Linda hanya menatapnya tanpa sedikit pun rasa iba.
"Terima saja kenyataannya, Chloe."Rinny tersenyum tipis.
"Mulai sekarang, kau tidak memiliki anak lagi."Chloe terdiam.
Kalimat itu menghantam hatinya lebih keras daripada rasa sakit di tubuhnya. Ia menundukkan kepala, menangis tanpa suara.***
Elvin akhirnya sampai di mobil sambil menggendong bayi tersebut.
Namun, tangisan bayi itu masih terdengar keras.
"Waaah... waaah!"
Tangisannya menggema hingga ke halaman klinik.
"Tenang, Jangan menangis. Sebentar lagi kita pulang," bujuk Elvin sambil mengayun tubuh mungil itu perlahan.
Namun bayi itu tetap menangis tanpa henti.
Elvin akhirnya mempercepat langkah menuju mobil.Begitu sampai, ia membuka pintu belakang dan masuk sambil tetap menggendong bayi tersebut.
Vincent yang sejak tadi duduk di dalam mobil langsung menoleh.
"Kenapa dia menangis terus?""Aku juga tidak tahu," jawab Elvin bingung. "Sejak keluar dari ruangan persalinan, dia tidak berhenti menangis."
Tangisan bayi itu semakin keras.
Vincent menatapnya beberapa saat. Entah mengapa, ada perasaan aneh ketika melihat wajah mungil tersebut."Berikan kepadaku."
Elvin mengangkat alis.
"Kau mau menggendongnya?""Berikan."
Elvin akhirnya menyerahkan bayi itu kepada Vincent.
Begitu tubuh mungil itu berpindah ke dalam pelukan Vincent, sesuatu yang aneh terjadi.
Tangisan bayi tersebut perlahan mereda.
"Waaah..."Beberapa detik kemudian, bayi itu benar-benar diam.
Bayi tersebut tetap tenang dalam pelukannya. Matanya sempat terbuka sebentar, tetapi pandangannya masih belum fokus sebelum kembali terpejam.
Vincent menatap wajah mungil itu cukup lama.
"Kenapa dia langsung diam?" gumam Elvin terkejut.
Vincent tidak menjawab.
Tangannya secara refleks mengusap punggung bayi itu perlahan.Bayi tersebut justru semakin tenang dalam pelukannya.
Vincent menatap wajah mungil itu lama."Kenapa perasaanku sangat aneh, merasa sangat dekat," batin Vincent.
Malam itu, Chloe yang sedang tertidur tiba-tiba mengalami mimpi buruk.Dalam mimpinya, ia kembali berada di sebuah klinik kecil yang gelap. Tubuhnya terbaring lemah di atas meja operasi, sementara seorang dokter dan perawat sedang melakukan operasi caesar terhadap dirinya.Kesadarannya hampir menghilang, tetapi di tengah rasa sakit yang samar, Chloe mendengar suara tangisan bayi.Tangisan itu terdengar semakin jelas.Chloe berusaha membuka matanya, tetapi tubuhnya tidak mampu bergerak.Lalu terdengar tangisan lainnya.Seolah-olah ada dua bayi yang menangis secara bersamaan.“Anakku...” ucap Chloe tanpa sadar.Tangisan bayi dalam mimpinya semakin keras. Chloe melihat dua sosok yang samar di kejauhan. Linda dan Rinny masing-masing terlihat sedang menggendong seorang bayi.“Kembalikan anak-anakku!” teriak Chloe.Di dunia nyata, tubuh Chloe mulai gelisah. Tangannya meremas sprei, sementara keringat m
Setelah Chloe dan Vincent meninggalkan kantor polisi, Mike dan Linda masih berdiri dengan wajah cemas. Keduanya kemudian menoleh kepada polisi yang menangani kasus Rinny.“Detektif, sebenarnya hukuman apa yang akan diterima putri saya?” tanya Mike dengan suara khawatir.Polisi itu membuka berkas laporan yang berada di tangannya sebelum menjawab.“Rinny Shen telah ditetapkan sebagai tersangka karena melakukan penyerangan terhadap Nyonya Chloe Lu. Kami sudah memiliki bukti dan kesaksian yang cukup kuat,” jelas polisi tersebut.“Apakah dia akan langsung dipenjara?” tanya Linda panik.“Untuk saat ini, Rinny akan tetap ditahan selama proses hukum berlangsung. Setelah berkas perkara dinyatakan lengkap, kasusnya akan dilimpahkan kepada jaksa dan kemudian diproses di pengadilan,” jawab polisi itu.Linda semakin pucat.“Lalu berapa lama hukuman yang mungkin diterimanya?” tanyanya.“Lama hukuman tidak bisa kami tentukan. Itu merupakan kewenangan hakim setelah mempertimbangkan seluruh bukti, ket
“Tersangka sendiri yang melakukan penyerangan dan berhasil dihentikan oleh suami korban. Apakah ini masih dianggap jebakan?” ucap polisi itu dengan tegas.Mendengar penjelasan tersebut, Mike semakin cemas. Wajahnya terlihat pucat, bahkan tubuhnya mulai gemetar karena membayangkan kemungkinan buruk yang akan menimpa putrinya.“Apakah putri saya akan dipenjara?” tanyanya dengan suara bergetar.“Bukti dan saksi sudah lengkap, tentu saja. Hanya tinggal menunggu keputusan persidangan. Pihak korban juga melayangkan tuntutan seberat-beratnya untuk tersangka,” jawab polisi itu dengan tenang.Linda langsung menggeleng-gelengkan kepalanya. Wajahnya dipenuhi kepanikan saat membayangkan Rinny harus mendekam di balik jeruji besi.“Tidak! Putriku tidak boleh ditahan. Dia masih muda dan harus mengejar masa depan!” kata Linda dengan suara penuh kecemasan.“Kalau begitu, ikut kami ke kantor polisi. Kami masih membutuhkan keterangan dari kalian sebagai pihak keluarga tersangka,” ujar polisi tersebut.M
Rinny mencengkeram pisau di tangannya semakin erat. Melihat Vincent berdiri melindungi Chloe justru membuat emosinya semakin tidak terkendali.“Kenapa kau selalu melindunginya?!” teriak Rinny.Beberapa pengunjung mulai menjauh. Sebagian lainnya mengeluarkan ponsel untuk merekam kejadian tersebut.“Dia sudah menghancurkan keluargaku! Perusahaan kami bangkrut karena dia!” teriak Rinny dengan mata penuh kebencian.“Chloe adalah istriku. Tentu saja aku akan melindunginya,” jawab Vincent tegas.Chloe yang berdiri di samping Vincent kemudian menatap Rinny dengan tatapan dingin.“Rinny Shen, kau masih saja tidak berubah. Apa yang aku lakukan kepada kalian adalah balasan atas semua perbuatan kalian kepadaku,” kata Chloe.“Diam!” bentak Rinny. “Kau tidak berhak bicara di depanku!”Rinny menatap Chloe dengan mata penuh iri dan kebencian.“Kenapa aku harus sela
Saat Vincent dan Chloe keluar dari mansion, di seberang jalan terlihat sebuah mobil hitam terparkir. Di balik kemudinya, Rinny sedang menunggu kesempatan untuk membalas dendam.Tatapannya tajam mengarah kepada Vincent dan Chloe yang baru saja masuk ke dalam mobil.“Chloe, aku akan membunuhmu. Semua perbuatanmu akan aku tagih hari ini juga. Aku tidak sudi hidup miskin. Perusahaan bangkrut, semuanya karena ulahmu!” gumam Rinny penuh kebencian.Tangannya mencengkeram kemudi dengan erat.Begitu mobil Vincent mulai bergerak, Rinny segera menyalakan mesin dan mengikutinya dari belakang.Tidak lama kemudian, Vincent dan Chloe tiba di sebuah pusat perbelanjaan yang ramai dikunjungi orang.Setelah turun dari mobil, mereka berjalan berdampingan memasuki area pusat perbelanjaan.Chloe kemudian mengajak Vincent menuju bagian yang menjual ikan segar.“Bryan sangat suka makan ikan,” kata Vincent sambil melihat berbagai ikan yang dipajang.“Dia ingin makan ikan bakar. Nick juga sama. Aku ingin membe
“Chloe, maaf kalau aku berpikir seperti ini, tapi aku serius tentang hubungan kita. Bagiku, pernikahan bukan hanya tentang anak-anak, tetapi juga tentang kita. Aku berharap pendapatmu sama denganku,” ucap Vincent sambil menggenggam tangan istrinya dengan lembut.Chloe terdiam mendengar perkataan itu. Tatapannya tampak ragu, seolah tidak tahu harus menjawab apa.Beberapa detik kemudian, dia perlahan menepis tangan Vincent.Tanpa mengatakan apa pun, Chloe berbalik dan masuk ke kamarnya. Dia segera menutup pintu di belakangnya.Chloe berdiri bersandar di balik pintu sambil terdiam. Jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya.Perkataan Vincent terus terngiang-ngiang di kepalanya.“Baginya, pernikahan ini bukan hanya demi anak-anak... tapi juga demi kita.”Chloe memejamkan mata sejenak, berusaha menenangkan pikirannya.Sementara itu, Vincent masih berdiri di depan pintu kamar Chloe. Dia tidak mengetuk ataupun me







