LOGIN"Apa kau yakin bisa merawatnya? Bayi ini baru dilahirkan dan harus berpisah dari ibunya," tanya Vincent sambil menatap bayi itu dengan iba.
"Tenang saja. Kami sudah menyiapkan pengasuh yang bisa menyusuinya. Aku dan istriku sudah menunggu kesempatan ini cukup lama," jawab Elvin.
Elvin tersenyum melihat bayi dalam pelukan Vincent.
"Tapi kenapa, bayi ini sepertinya sangat menyukaimu. Tadi dia terus menangis, tetapi begitu berada di pelukanmu, dia langsung tenang."Vincent tidak menjawab. Tatapannya masih tertuju pada wajah mungil bayi tersebut.
"Apakah kau sempat bertemu dengan ibunya?" tanyanya kemudian."Tidak. Yang menyerahkan bayi ini mengatakan ibunya hanya seorang diri dan tidak mampu membesarkan anaknya. Karena itu, dia terpaksa menyerahkan bayinya kepada kami."
Vincent terdiam.
Tangannya perlahan mengusap kepala bayi itu.
"Kenapa perasaanku sangat sakit dan sedih saat melihat anak ini? Dan terbayang wajah Chloe Shen?"batinnya.***
Di sisi lain, sebuah mobil berhenti di sebuah desa terpencil yang jauh dari keramaian.
Seorang pria berpakaian sederhana turun sambil membawa seorang bayi laki-laki yang masih sangat kecil. Ia berjalan menuju pinggir jalan yang sepi, lalu meletakkan bayi itu di atas kain tipis yang sudah lusuh.
Bayi tersebut langsung menangis keras.
"Waaah... waaah..."Tangisannya terdengar jelas di tengah suasana desa yang sunyi. Tubuh kecilnya menggeliat karena merasa lapar dan kedinginan.
Pria itu hanya menatapnya sebentar.
"Kalau kau mati, jangan salahkan aku. Orang yang menjualmu adalah Linda." Setelah mengatakan itu, ia berbalik dan kembali menuju mobil.Tanpa menoleh lagi, pria tersebut pergi meninggalkan bayi itu sendirian.
Mobil perlahan menghilang di kejauhan.Sementara itu, tangisan bayi semakin kuat.
"Waaah... waaah..."Angin malam yang dingin menerpa tubuh mungilnya. Kulit bayi itu mulai memerah, sementara kedua tangannya terus bergerak seolah mencari seseorang untuk memeluknya.
Namun tidak ada seorang pun yang datang.
Bayi itu hanya terus menangis di pinggir jalan yang sepi.***
Klinik
Chloe perlahan membuka matanya.
Tubuhnya masih terasa sangat lemah. Ia mencoba menurunkan kedua kakinya dari ranjang. Begitu berdiri, kepalanya langsung terasa berputar. Wajahnya pucat, rambutnya berantakan, sementara keringat dingin membasahi dahinya.Chloe berpegangan pada sisi ranjang agar tidak terjatuh.
"Aku harus keluar dari sini sebelum mereka kembali."Tatapannya dipenuhi tekad meski tubuhnya hampir tidak memiliki tenaga.
"Aku harus pergi jauh..." Air mata kembali menggenang di matanya. "Mike Shen... kau memang ayahku, tetapi kau selalu memilih istri dan anakmu daripada aku." Tangannya mengepal. "Kau benar-benar iblis."Chloe kemudian berjalan perlahan menuju pintu.
Setiap langkah terasa berat. Tubuhnya masih sakit setelah melahirkan, tetapi rasa takut kehilangan kebebasan membuatnya terus memaksakan diri.Ia membuka pintu kamar.
Krek...Koridor klinik terlihat gelap dan sunyi.
Tidak ada dokter.
Tidak ada perawat. Tidak ada seorang pun yang berjaga.Chloe menelan ludah dan mulai melangkah keluar.
Tangannya terus berpegangan pada dinding agar tidak jatuh.
"Aku harus pergi sebelum Linda dan Rinny kembali."Ia berjalan semakin jauh menyusuri koridor gelap itu.
Chloe terus berjalan menyusuri koridor dengan langkah tertatih. Namun, hatinya terasa tidak nyaman.
Tangannya refleks menekan dada.
"Kenapa hatiku sangat sedih?" Matanya mulai berkaca-kaca. "Sepertinya aku merasakan keberadaan anakku. Apakah aku hanya berhalusinasi?"Chloe menoleh ke kanan dan kiri. Ia kemudian mulai mencari ruangan bayi.
Beberapa saat kemudian, ia menemukan sebuah ruangan dengan kaca besar di bagian depannya.Chloe mendekat dan melihat ke dalam.
Kosong. Tidak ada seorang bayi pun. "Di sini hanya ada satu ruangan bayi..." Chloe mengusap kaca tersebut perlahan. "Tidak ada bayi sama sekali."Ia menarik napas panjang.
"Ini hanya klinik kecil. Mana mungkin ada yang melahirkan di sini." Chloe menundukkan kepala. "Linda dan Rinny sengaja membawaku ke sini agar tidak ada yang mengetahui keberadaanku. Terutama Vincent Lu."Chloe berbalik dan kembali berjalan menuju pintu keluar yang tidak dikunci sama sekali.
***
Di sisi lain, malam itu Vincent tertidur di kamarnya.
Namun tidurnya tidak tenang. Keringat membasahi wajahnya dan kedua alisnya berkerut.Dalam tidurnya, ia seperti mendengar suara tangisan bayi.
"Waaah... waaah..."Vincent perlahan membuka mata.
Ia terbangun dengan napas berat dan langsung duduk di atas ranjang."Suara bayi?"
Vincent menyentuh dadanya yang berdebar.
"Kenapa aku bisa bermimpi mendengar suara bayi?"
Ia mengusap wajahnya, lalu mencoba kembali tidur. Namun perasaan aneh itu masih tertinggal di pikirannya.
Keesokan harinya.
Vincent berdiri di ruang tamu mansion sambil memegang gelas minuman. Tatapannya kosong ketika memandang isi gelas tersebut.
Tak lama kemudian, Jack melangkah masuk.
"Tuan."Vincent menoleh.
"Bagaimana?"Jack berdiri di hadapannya dan melaporkan hasil penyelidikan.
"Seluruh rumah sakit dan klinik sudah diperiksa. Bandara, terminal, bahkan jalan keluar-masuk kota juga sudah kami periksa." Jack berhenti sejenak. "Tidak ada tanda-tanda keberadaan Nona Shen."Vincent mengerutkan kening.
"Bagaimana dengan keluarga Shen?""Rumah keluarga Shen juga sudah kami periksa. Semuanya terlihat normal. Tidak ada sesuatu yang mencurigakan."
"Hampir setahun dia menghilang, tetapi kalian masih gagal menemukan jejaknya."
Vincent meletakkan gelasnya di atas meja dengan wajah dingin.
"Bukankah sudah begitu banyak orang yang kukirim? Perluas pencarian ke tempat-tempat terpencil yang jauh dari kota. Periksa desa-desa kecil dan daerah yang jarang didatangi orang. Cari tempat yang tidak mungkin terpikirkan oleh siapa pun."
Jack terdiam sejenak sebelum bertanya,
"Anda curiga Nona Shen diculik?"Vincent menatapnya tajam.
"Kalau dia pergi atas kemauannya sendiri, seharusnya ada jejak." Ia mengambil berkas dari meja. "Tidak ada namanya di bandara, terminal, maupun pelabuhan. Jadi aku tidak yakin dia benar-benar meninggalkan kota."Jack mengangguk.
"Saya mengerti, Tuan. Saya akan memperluas pencarian.""Temukan dia."
"Baik, Tuan."
Tiba-tiba ponsel Vincent bergetar.
Brrr... brrr...Sebuah panggilan masuk muncul di layar.
Elvin Lu.
Vincent segera mengangkatnya.
"Hallo?"Suara Elvin terdengar lemah dan terputus-putus dari seberang.
"Vin... tolong selamatkan anakku..."Wajah Vincent langsung berubah.
"Elvin, apa yang terjadi?"Namun tidak ada jawaban.
"Elvin?"Panggilan itu tiba-tiba terputus.
Vincent menatap layar ponselnya dengan wajah tegang.
"Tuan, apa yang terjadi?" tanya Jack.
"Lacak nomor ini sekarang juga. Cepat!"
Vincent menyerahkan ponselnya kepada Jack, lalu berjalan cepat menuju pintu.
Jack segera mengikuti.
"Baik, Tuan!"Vincent mempercepat langkah.
Pikirannya dipenuhi suara Elvin yang terdengar putus-putus. "Tolong selamatkan anakku..."Satu hal yang membuatnya semakin cemas adalah Elvin tidak pernah meminta bantuan dengan cara seperti itu.
Dalam perjalanan Jack terus melajukan mobilnya ketika ponselnya tiba-tiba berdering."Hallo?""Lokasi Tuan Elvin Lu sudah ditemukan. Saya kirimkan lokasinya sekarang juga!" ujar seorang pria dari seberang."Baik!"Jack segera menerima lokasi tersebut dan mengikuti petunjuk arah."Tuan, kita sudah mendapatkan posisi Tuan Elvin," kata Jack."Segera ke sana!" perintah Vincent yang duduk di kursi belakang."Baik, Tuan!"Beberapa saat kemudian.Mobil Vincent tiba di lokasi.Di depan mereka terlihat kecelakaan cukup parah. Sebuah mobil pribadi bertabrakan dengan mobil lain hingga bagian depannya ringsek. Kaca mobil pecah berserakan di jalan.Kemacetan terjadi di sepanjang jalan. Warga berkerumun di sekitar lokasi, sementara beberapa ambulans mulai berdatangan.Tim penyelamat sedang berusaha mengevakuasi para korban dari kendaraan yang rusak.Vincent segera turun dari mobil.Tatapannya langsung tertuju pada sebuah mobil yang bagian depannya hancur."Elvin!"Vincent berlari mendekat.Dari ba
"Apa kau yakin bisa merawatnya? Bayi ini baru dilahirkan dan harus berpisah dari ibunya," tanya Vincent sambil menatap bayi itu dengan iba."Tenang saja. Kami sudah menyiapkan pengasuh yang bisa menyusuinya. Aku dan istriku sudah menunggu kesempatan ini cukup lama," jawab Elvin.Elvin tersenyum melihat bayi dalam pelukan Vincent."Tapi kenapa, bayi ini sepertinya sangat menyukaimu. Tadi dia terus menangis, tetapi begitu berada di pelukanmu, dia langsung tenang."Vincent tidak menjawab. Tatapannya masih tertuju pada wajah mungil bayi tersebut."Apakah kau sempat bertemu dengan ibunya?" tanyanya kemudian."Tidak. Yang menyerahkan bayi ini mengatakan ibunya hanya seorang diri dan tidak mampu membesarkan anaknya. Karena itu, dia terpaksa menyerahkan bayinya kepada kami."Vincent terdiam.Tangannya perlahan mengusap kepala bayi itu."Kenapa perasaanku sangat sakit dan sedih saat melihat anak ini? Dan terbayang wajah Chloe Shen?"batinnya.***Di sisi lain, sebuah mobil berhenti di sebuah de
Klinik itu mulai sepi ketika Elvin tiba.Di luar, Vincent masih menunggu di dalam mobil sambil merokok dengan tenang. Jack duduk di kursi pengemudi, sesekali melirik ke arah pintu klinik.Sementara itu, Elvin menemui Linda seorang diri."Tuan Lu, Anda sudah datang," ujar Linda sambil menggendong seorang bayi laki-laki yang masih kemerahan.Elvin langsung menatap bayi itu."Nyonya, bagaimana keadaan bayinya?""Sangat sehat dan tampan. Tenang saja, ibunya kami rawat dengan baik selama kehamilan, sehingga bayi ini lahir dengan sehat dan kuat," jawab Linda dengan senyum meyakinkan.Elvin tersenyum ketika melihat bayi yang berada dalam gendongan Linda. Bayi itu sedang menangis tangannya bergerak-gerak seolah mencari sesuatu."Bagaimana kondisi ibunya?" tanya Elvin.Linda memasang wajah prihatin."Kasihan sekali. Dia tidak sanggup merawat anak ini. Suaminya meninggalkannya setelah mengetahui kehamilannya. Demi masa depan anaknya, dia terpaksa menyerahkan bayi ini kepada keluarga yang mampu
Sebuah mobil hitam berhenti di depan apartemen sederhana tempat Chloe tinggal.Vincent turun bersama Jack.Keduanya kemudian masuk ke dalam gedung dan menuju lantai tempat apartemen Chloe berada.Sesampainya di depan pintu, Vincent menekan bel.Ting tong!Tidak ada jawaban.Vincent kembali menekan bel.Ting tong!Tetap tidak ada jawaban."Sepertinya Nona Chloe tidak ada di rumah," ujar Jack.Sebelum Vincent menjawab, seorang pria paruh baya yang merupakan pengelola apartemen berjalan mendekati mereka."Permisi, apakah Anda mencari Nona Chloe?"Vincent menoleh."Benar."Pengelola itu mengangguk."Nona Chloe sudah keluar sejak pagi.""Ke mana?" tanya Vincent."Berangkat bekerja. Tadi pagi saya melihatnya keluar dari apartemennya."Vincent mengerutkan kening."Apakah dia mengatakan sesuatu?""Katanya dia mendapat pekerjaan di luar kota dan harus pergi untuk beberapa waktu."Jack melirik Vincent."Apakah dia membawa banyak barang?"Pengelola itu menggeleng."Tidak. Hanya membawa satu tas.
Tiga minggu kemudian.Chloe yang sedang bersiap-siap untuk berangkat kerja tiba-tiba merasa mual.Ia segera menutup mulutnya dan berlari ke kamar mandi. "Uhuk..."Chloe berlutut di depan toilet dan muntah beberapa kali. Setelah itu, ia bersandar di dinding sambil mengatur napas."Kenapa akhir-akhir ini aku selalu merasa mual?" gumamnya.Ia mengambil air untuk membasuh wajahnya. Namun, baru beberapa langkah keluar dari kamar mandi, aroma kopi dari meja makan kembali membuat perutnya terasa tidak nyaman.Chloe langsung menutup hidung."Biasanya aku suka sekali aroma kopi..."Ia mengerutkan kening.Beberapa hari terakhir tubuhnya memang terasa aneh. Ia mudah lelah, sering pusing, dan selera makannya berubah.Wajahnya perlahan berubah."Sebentar..."Ia mulai menghitung hari dalam pikirannya."Haidku..."Jantungnya tiba-tiba berdegup lebih cepat.Sebuah kemungkinan yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya perlahan muncul di benaknya.Chloe refleks menyentuh perutnya."Tidak mungkin..."Nam
Suasana di depan mansion seketika membeku.Wajah Rinny langsung pucat. Linda yang sejak tadi memasang wajah prihatin ikut terdiam, sementara Mike menatap Vincent dengan gugup."Tu... Tuan Lu, maksud Anda..." Rinny tergagap."Pria yang bersama Chloe malam itu adalah aku," jawab Vincent dingin. "Jadi, menurutmu aku adalah pria asing yang tidak dikenal kakakmu?""Tidak, Tuan Lu. Saya tidak bermaksud seperti itu. Saya hanya..." Rinny mulai panik, tetapi tidak mampu melanjutkan ucapannya.Vincent menatapnya tajam. "Kalau begitu, jelaskan. Apa yang sebenarnya terjadi malam itu?"Rinny menelan ludah. "Saya... saya hanya mendengar dari orang lain.""Orang lain?" Vincent tersenyum tipis tanpa kehangatan. "Lucu. Kau begitu yakin Chloe mempermalukan keluarga, padahal sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi."Mike segera menyela, "Tuan Lu, mungkin ada kesalahpahaman. Chloe memang berada di tempat Anda malam itu, tetapi—""Dia masuk ke tempatku karena sedang melarikan diri," potong Vincent. "Dan se







