Share

Chapter 8

Author: Author Mars
last update publish date: 2026-09-11 17:49:54

Dalam perjalanan 

Jack terus melajukan mobilnya ketika ponselnya tiba-tiba berdering.

"Hallo?"

"Lokasi Tuan Elvin Lu sudah ditemukan. Saya kirimkan lokasinya sekarang juga!" ujar seorang pria dari seberang.

"Baik!"

Jack segera menerima lokasi tersebut dan mengikuti petunjuk arah.

"Tuan, kita sudah mendapatkan posisi Tuan Elvin," kata Jack.

"Segera ke sana!" perintah Vincent yang duduk di kursi belakang.

"Baik, Tuan!"

Beberapa saat kemudian.

Mobil Vincent tiba di lokasi.

Di depan mereka terlihat kecelakaan cukup parah. Sebuah mobil pribadi bertabrakan dengan mobil lain hingga bagian depannya ringsek. Kaca mobil pecah berserakan di jalan.

Kemacetan terjadi di sepanjang jalan. Warga berkerumun di sekitar lokasi, sementara beberapa ambulans mulai berdatangan.

Tim penyelamat sedang berusaha mengevakuasi para korban dari kendaraan yang rusak.

Vincent segera turun dari mobil.

Tatapannya langsung tertuju pada sebuah mobil yang bagian depannya hancur.

"Elvin!"

Vincent berlari mendekat.

Dari balik kaca yang pecah, ia melihat Elvin masih berada di dalam mobil bersama istrinya.

"Elvin!"

Vincent mencoba mendekat, tetapi seorang petugas segera menghadangnya.

"Tuan, mundur dulu! Kami sedang mengevakuasi korban!"

"Elvin, kau harus selamat!" ucap Vincent 

Tatapannya kemudian menyapu bagian dalam mobil.

Namun, wajahnya seketika berubah.

"Di mana bayinya?"

Tim penyelamat berhasil membuka pintu mobil yang ringsek. Saat mereka menarik tubuh Elvin dan istrinya keluar, terlihat bayi kecil berada di antara pelukan keduanya.

Keduanya tampak menggunakan tubuh mereka untuk melindungi bayi tersebut dari benturan.

"Bayinya masih hidup!" seru salah seorang petugas.

Bayi itu langsung menangis keras setelah berhasil dikeluarkan.

"Waaah... waaah..."

Vincent terpaku melihat bayi tersebut.

"Bagaimana kondisi Elvin dan istrinya?" tanyanya.

Petugas medis memeriksa keduanya.

"Mereka sudah tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan."

Vincent terdiam.

Sementara itu, seorang petugas membawa bayi tersebut menuju ambulans.

Vincent segera mengikutinya.

"Pastikan bayi itu selamat."

Petugas medis segera membawa bayi itu ke dalam ambulans.

Vincent ikut masuk dan berdiri di samping ranjang kecil tempat bayi tersebut dibaringkan.

"Periksa kondisinya!" perintah dokter.

Seorang perawat segera memeriksa tubuh bayi itu.

"Detak jantung normal. Hanya ada beberapa luka ringan."

Vincent menghela napas lega.

Di luar ambulans, Jack datang setelah berbicara dengan petugas kepolisian.

"Tuan, polisi sudah mengamankan lokasi. Identitas Tuan Elvin dan istrinya juga sudah dikonfirmasi."

Vincent mengangguk pelan.

"Urus semuanya. Aku akan membawa bayi ini ke rumah sakit."

"Baik, Tuan."

Ambulans mulai bergerak menuju rumah sakit.

Vincent kembali menatap bayi yang sedang menangis pelan.

Tangannya tanpa sadar menggenggam sisi ranjang.

"Jangan takut. Kau sudah selamat."

Bayi itu perlahan berhenti menangis.

Vincent terdiam melihatnya.

Beberapa jam kemudian.

Dengan raut wajah penuh kesedihan, Vincent memasuki kamar mayat tempat Elvin dan istrinya disemayamkan.

Langkahnya terhenti di samping ranjang Elvin.

Vincent menatap wajah sahabatnya yang kini sudah tidak bernyawa.

Senyuman bahagia Elvin ketika pertama kali mendapatkan bayi itu kembali terlintas dalam ingatannya.

"Baru kemarin kau begitu bahagia menjadi seorang ayah."

Suara Vincent bergetar.

"Elvin... hari ini kau harus pergi untuk selamanya."

Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan air matanya.

"Pergilah dengan tenang. Aku berjanji akan merawat anakmu dengan baik."

Air mata perlahan jatuh dari sudut matanya.

"Setiap tahun, pada hari kepergianmu, aku akan membawa anakmu mengunjungimu di makam. Aku akan memberitahunya bahwa dia pernah memiliki seorang ayah dan ibu yang sangat baik."

Vincent menundukkan kepalanya.

Air matanya kembali menetes.

Sahabat sekaligus kerabat dekatnya kini telah pergi dalam keadaan tragis.

Wajah Elvin dipenuhi luka akibat serpihan kaca. Tubuh dan kakinya mengalami cedera parah akibat benturan.

Vincent mengepalkan tangannya.

"Hari ini, tawamu hanya tinggal kenangan."

Ia menatap Elvin untuk terakhir kalinya.

"Selamat jalan, sahabatku."

Vincent kemudian berbalik dan meninggalkan ruangan dengan langkah berat.

Jack berdiri di luar kamar mayat ketika seorang petugas kepolisian datang menghampirinya.

"Tuan, kami sudah mendapatkan hasil sementara penyelidikan."

Jack menoleh.

"Bagaimana?"

"Pengemudi mobil yang menabrak Tuan Elvin terbukti dalam keadaan mabuk. Mobilnya kehilangan kendali dan masuk ke jalur berlawanan sebelum menghantam mobil Tuan Elvin."

Jack mengerutkan kening.

"Bagaimana kondisi pengemudi itu?"

"Dia meninggal di tempat akibat benturan."

Jack terdiam sejenak.

"Jadi tidak ada yang bisa dimintai pertanggungjawaban?"

"Benar. Pengemudi tersebut juga tidak memiliki keluarga dekat yang bisa melanjutkan perkara. Karena kedua pengemudi telah meninggal, kasus ini kemungkinan akan ditutup setelah seluruh proses penyelidikan selesai."

Jack mengangguk.

"Baik. Saya mengerti."

Vincent yang baru keluar dari kamar mayat telah mendengar percakapan polisi itu.

"Tuan," seru Jack sambil menatap atasannya.

Vincent mengangkat pandangan.

"Atur pemakaman untuk Elvin dan istrinya. Sejak kecil, Elvin sudah kehilangan kedua orang tuanya. Hanya ini yang bisa kulakukan untuknya."

"Baik, Tuan."

Jack terdiam sejenak sebelum kembali bertanya,"Lalu bagaimana dengan bayi itu?"

"Bayi itu akan menjadi anakku."

Jack sedikit terkejut.

Vincent melanjutkan dengan suara tenang.

"Aku akan memberinya kehidupan yang baik. Dia baru dilahirkan dan sudah harus berpisah dari ibunya."

Vincent mengepalkan tangannya.

"Di saat-saat terakhirnya, Elvin masih berusaha memintaku untuk merawat anaknya."

Tatapan Vincent kembali tertuju pada pintu kamar mayat.

"Aku harus memenuhi permintaan terakhir sahabatku."

"Baik, Tuan. Saya akan mengurus semuanya."

Vincent mengangguk.

"Mulai sekarang, bayi itu adalah tanggung jawabku."

***

Di sisi lain, Mike bersama Linda mendatangi klinik.

Begitu memasuki ruangan, mereka melihat dokter dan beberapa suster tampak cemas.

"Apa? Hilang?" Mike langsung naik pitam. "Dia adalah orang dewasa. Bagaimana bisa dia menghilang begitu saja? Bukankah tanggung jawab kalian untuk mengawasinya?"

"Kondisinya sangat lemah. Kami tidak menyangka dia masih mampu berjalan keluar. Dan... semalam suster yang berjaga juga lupa mengunci pintu depan," jawab dokter dengan gugup.

Linda mengerutkan kening.

"Apakah di sini ada rekaman CCTV?"

"Ini adalah klinik khusus untuk Nona Chloe Shen. Mana mungkin kami berani memasang CCTV? Kalau suatu saat tempat ini digeledah, kami bisa meninggalkan bukti," jelas dokter.

Mike semakin kesal.

"Tidak berguna! Hanya melakukan hal kecil seperti ini saja kalian tidak mampu."

Linda segera menenangkan suaminya.

"Mike, apa yang harus kita lakukan? Kita sudah berjanji akan menikahkan Chloe dengan Tuan Lang bulan depan. Kalau sampai saat itu dia belum ditemukan, kita akan kesulitan menjelaskannya kepada keluarga Lang."

Mike mengeluarkan ponselnya.

"Aku akan menyuruh orang mencarinya di seluruh kota."

Ia segera menekan sebuah nomor.

"Kerahkan semua orang. Cari Chloe Shen di setiap sudut kota. Aku ingin dia ditemukan secepat mungkin."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Anak Sang Konglomerat Yang Hilang   Chapter 8

    Dalam perjalanan Jack terus melajukan mobilnya ketika ponselnya tiba-tiba berdering."Hallo?""Lokasi Tuan Elvin Lu sudah ditemukan. Saya kirimkan lokasinya sekarang juga!" ujar seorang pria dari seberang."Baik!"Jack segera menerima lokasi tersebut dan mengikuti petunjuk arah."Tuan, kita sudah mendapatkan posisi Tuan Elvin," kata Jack."Segera ke sana!" perintah Vincent yang duduk di kursi belakang."Baik, Tuan!"Beberapa saat kemudian.Mobil Vincent tiba di lokasi.Di depan mereka terlihat kecelakaan cukup parah. Sebuah mobil pribadi bertabrakan dengan mobil lain hingga bagian depannya ringsek. Kaca mobil pecah berserakan di jalan.Kemacetan terjadi di sepanjang jalan. Warga berkerumun di sekitar lokasi, sementara beberapa ambulans mulai berdatangan.Tim penyelamat sedang berusaha mengevakuasi para korban dari kendaraan yang rusak.Vincent segera turun dari mobil.Tatapannya langsung tertuju pada sebuah mobil yang bagian depannya hancur."Elvin!"Vincent berlari mendekat.Dari ba

  • Anak Sang Konglomerat Yang Hilang   Chapter 7

    "Apa kau yakin bisa merawatnya? Bayi ini baru dilahirkan dan harus berpisah dari ibunya," tanya Vincent sambil menatap bayi itu dengan iba."Tenang saja. Kami sudah menyiapkan pengasuh yang bisa menyusuinya. Aku dan istriku sudah menunggu kesempatan ini cukup lama," jawab Elvin.Elvin tersenyum melihat bayi dalam pelukan Vincent."Tapi kenapa, bayi ini sepertinya sangat menyukaimu. Tadi dia terus menangis, tetapi begitu berada di pelukanmu, dia langsung tenang."Vincent tidak menjawab. Tatapannya masih tertuju pada wajah mungil bayi tersebut."Apakah kau sempat bertemu dengan ibunya?" tanyanya kemudian."Tidak. Yang menyerahkan bayi ini mengatakan ibunya hanya seorang diri dan tidak mampu membesarkan anaknya. Karena itu, dia terpaksa menyerahkan bayinya kepada kami."Vincent terdiam.Tangannya perlahan mengusap kepala bayi itu."Kenapa perasaanku sangat sakit dan sedih saat melihat anak ini? Dan terbayang wajah Chloe Shen?"batinnya.***Di sisi lain, sebuah mobil berhenti di sebuah de

  • Anak Sang Konglomerat Yang Hilang   Chapter 6

    Klinik itu mulai sepi ketika Elvin tiba.Di luar, Vincent masih menunggu di dalam mobil sambil merokok dengan tenang. Jack duduk di kursi pengemudi, sesekali melirik ke arah pintu klinik.Sementara itu, Elvin menemui Linda seorang diri."Tuan Lu, Anda sudah datang," ujar Linda sambil menggendong seorang bayi laki-laki yang masih kemerahan.Elvin langsung menatap bayi itu."Nyonya, bagaimana keadaan bayinya?""Sangat sehat dan tampan. Tenang saja, ibunya kami rawat dengan baik selama kehamilan, sehingga bayi ini lahir dengan sehat dan kuat," jawab Linda dengan senyum meyakinkan.Elvin tersenyum ketika melihat bayi yang berada dalam gendongan Linda. Bayi itu sedang menangis tangannya bergerak-gerak seolah mencari sesuatu."Bagaimana kondisi ibunya?" tanya Elvin.Linda memasang wajah prihatin."Kasihan sekali. Dia tidak sanggup merawat anak ini. Suaminya meninggalkannya setelah mengetahui kehamilannya. Demi masa depan anaknya, dia terpaksa menyerahkan bayi ini kepada keluarga yang mampu

  • Anak Sang Konglomerat Yang Hilang   Chapter 5

    Sebuah mobil hitam berhenti di depan apartemen sederhana tempat Chloe tinggal.Vincent turun bersama Jack.Keduanya kemudian masuk ke dalam gedung dan menuju lantai tempat apartemen Chloe berada.Sesampainya di depan pintu, Vincent menekan bel.Ting tong!Tidak ada jawaban.Vincent kembali menekan bel.Ting tong!Tetap tidak ada jawaban."Sepertinya Nona Chloe tidak ada di rumah," ujar Jack.Sebelum Vincent menjawab, seorang pria paruh baya yang merupakan pengelola apartemen berjalan mendekati mereka."Permisi, apakah Anda mencari Nona Chloe?"Vincent menoleh."Benar."Pengelola itu mengangguk."Nona Chloe sudah keluar sejak pagi.""Ke mana?" tanya Vincent."Berangkat bekerja. Tadi pagi saya melihatnya keluar dari apartemennya."Vincent mengerutkan kening."Apakah dia mengatakan sesuatu?""Katanya dia mendapat pekerjaan di luar kota dan harus pergi untuk beberapa waktu."Jack melirik Vincent."Apakah dia membawa banyak barang?"Pengelola itu menggeleng."Tidak. Hanya membawa satu tas.

  • Anak Sang Konglomerat Yang Hilang   Chapter 4

    Tiga minggu kemudian.Chloe yang sedang bersiap-siap untuk berangkat kerja tiba-tiba merasa mual.Ia segera menutup mulutnya dan berlari ke kamar mandi. "Uhuk..."Chloe berlutut di depan toilet dan muntah beberapa kali. Setelah itu, ia bersandar di dinding sambil mengatur napas."Kenapa akhir-akhir ini aku selalu merasa mual?" gumamnya.Ia mengambil air untuk membasuh wajahnya. Namun, baru beberapa langkah keluar dari kamar mandi, aroma kopi dari meja makan kembali membuat perutnya terasa tidak nyaman.Chloe langsung menutup hidung."Biasanya aku suka sekali aroma kopi..."Ia mengerutkan kening.Beberapa hari terakhir tubuhnya memang terasa aneh. Ia mudah lelah, sering pusing, dan selera makannya berubah.Wajahnya perlahan berubah."Sebentar..."Ia mulai menghitung hari dalam pikirannya."Haidku..."Jantungnya tiba-tiba berdegup lebih cepat.Sebuah kemungkinan yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya perlahan muncul di benaknya.Chloe refleks menyentuh perutnya."Tidak mungkin..."Nam

  • Anak Sang Konglomerat Yang Hilang   Chapter 3

    Suasana di depan mansion seketika membeku.Wajah Rinny langsung pucat. Linda yang sejak tadi memasang wajah prihatin ikut terdiam, sementara Mike menatap Vincent dengan gugup."Tu... Tuan Lu, maksud Anda..." Rinny tergagap."Pria yang bersama Chloe malam itu adalah aku," jawab Vincent dingin. "Jadi, menurutmu aku adalah pria asing yang tidak dikenal kakakmu?""Tidak, Tuan Lu. Saya tidak bermaksud seperti itu. Saya hanya..." Rinny mulai panik, tetapi tidak mampu melanjutkan ucapannya.Vincent menatapnya tajam. "Kalau begitu, jelaskan. Apa yang sebenarnya terjadi malam itu?"Rinny menelan ludah. "Saya... saya hanya mendengar dari orang lain.""Orang lain?" Vincent tersenyum tipis tanpa kehangatan. "Lucu. Kau begitu yakin Chloe mempermalukan keluarga, padahal sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi."Mike segera menyela, "Tuan Lu, mungkin ada kesalahpahaman. Chloe memang berada di tempat Anda malam itu, tetapi—""Dia masuk ke tempatku karena sedang melarikan diri," potong Vincent. "Dan se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status