LOGINSuasana di depan mansion seketika membeku.
Wajah Rinny langsung pucat. Linda yang sejak tadi memasang wajah prihatin ikut terdiam, sementara Mike menatap Vincent dengan gugup.
"Tu... Tuan Lu, maksud Anda..." Rinny tergagap.
"Pria yang bersama Chloe malam itu adalah aku," jawab Vincent dingin. "Jadi, menurutmu aku adalah pria asing yang tidak dikenal kakakmu?"
"Tidak, Tuan Lu. Saya tidak bermaksud seperti itu. Saya hanya..." Rinny mulai panik, tetapi tidak mampu melanjutkan ucapannya.
Vincent menatapnya tajam. "Kalau begitu, jelaskan. Apa yang sebenarnya terjadi malam itu?"
Rinny menelan ludah. "Saya... saya hanya mendengar dari orang lain."
"Orang lain?" Vincent tersenyum tipis tanpa kehangatan. "Lucu. Kau begitu yakin Chloe mempermalukan keluarga, padahal sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi."
Mike segera menyela, "Tuan Lu, mungkin ada kesalahpahaman. Chloe memang berada di tempat Anda malam itu, tetapi—"
"Dia masuk ke tempatku karena sedang melarikan diri," potong Vincent. "Dan sekarang kalian mengusirnya dari rumah?"
Mike langsung terdiam.
Vincent menatap Mike dengan sorot mata dingin. "Kalian menjual putri kalian sendiri kepada seorang pria demi mendapatkan investasi. Ketika dia melarikan diri, kalian justru menyebutnya mempermalukan keluarga."
"Tuan Lu, itu adalah urusan keluarga kami," jawab Mike dengan suara tertahan.
"Kalau begitu jangan gunakan nama keluarga untuk menutupi perbuatan kalian," balas Vincent tajam.
Linda yang sejak tadi diam segera mencoba membela diri. "Tuan Lu, kami tidak pernah bermaksud menyakiti Chloe. Kami hanya ingin dia mematuhi keputusan keluarga."
Vincent mengalihkan pandangan kepadanya. "Jangan berpura-pura menjadi ibu yang baik di depanku. Aku sudah mengetahui bagaimana kau memperlakukan Chloe selama ini."
Wajah Linda seketika berubah.
Vincent kemudian menatap Rinny. "Dan kau."
Rinny refleks menegakkan tubuh.
"Jangan pernah lagi menyebut Chloe sebagai wanita yang suka bermain dengan pria asing," ucap Vincent dengan suara dingin. "Karena pria asing yang kau maksud adalah aku."
"Tuan Lu, saya benar-benar tidak tahu..." Rinny mencoba menjelaskan.
"Tidak tahu bukan alasan untuk memfitnah seseorang," potong Vincent.
Rinny menggigit bibirnya, tidak berani lagi membantah.
Mike akhirnya memberanikan diri bertanya, "Tuan Lu, kalau Anda datang mencari Chloe, sebenarnya apa hubungan Anda dengannya?"
"Mike Shen, kau tidak layak bertanya seperti itu kepada bos kami. Cepat beritahu di mana Nona Shen!" tegur Jack dengan nada tegas.
"Kami tidak tahu, Tuan," jawab Mike gugup.
Vincent menatapnya tajam sebelum berkata kepada Jack, "Temukan dia dalam lima menit."
"Baik, Tuan," jawab Jack segera sambil mengeluarkan ponselnya dan melakukan panggilan kepada bawahannya.
Vincent kembali menatap Mike, Linda, dan Rinny dengan sorot mata dingin. "Kalau sampai terjadi sesuatu pada Chloe, kalian siap menunggu pembalasan dariku!"
Beberapa saat kemudian.
Jack duduk di kursi pengemudi sementara Vincent berada di kursi belakang. Suasana di dalam mobil terasa hening hingga tiba-tiba ponsel Jack berdering.
"Hallo!" jawab Jack sambil mengangkat telepon.
"Jack, salah satu anak buah kita melihat gadis itu berjalan menuju sebuah gedung apartemen," terdengar suara seorang pria dari seberang telepon.
"Baiklah, terima kasih atas informasinya!" jawab Jack sebelum memutuskan panggilan.
Jack segera menatap kaca spion. "Tuan Lu, Nona Shen sudah ditemukan!"
"Langsung ke sana!" perintah Vincent tanpa ragu.
"Baik, Tuan!"
Jack segera menginjak pedal gas dan mempercepat laju mobil menuju lokasi yang telah diberikan anak buahnya.
Di sisi lain, Chloe berjalan perlahan menghampiri gedung apartemen tersebut. Langkahnya berat, seolah seluruh tenaganya telah terkuras setelah apa yang terjadi di mansion keluarga Shen.
Sesampainya di depan gedung, Chloe berhenti dan berdiri diam. Tatapannya kosong, sementara pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan.
"Tak kusangka akhirnya aku benar-benar diusir dari rumah..." gumam Chloe lirih. "Siapa sebenarnya pria yang menodai aku semalam? Dan bagaimana kehidupanku selanjutnya?"
Tak lama kemudian, sebuah mobil hitam mewah berhenti di depan gedung apartemen. Jack segera turun dari kursi pengemudi dan berjalan menghampiri Chloe yang masih berdiri dengan tatapan kosong.
"Nona Shen?" panggil Jack.
Chloe menoleh dan menatap pria itu dengan bingung. "Anda siapa?"
"Saya Jack. Saya datang untuk menjemput Anda."
"Menjemputku?" Chloe mengerutkan kening.
Jack mengangguk. "Benar. Atasan saya ingin berbicara dengan Anda. Silakan masuk ke mobil."
Chloe melirik mobil hitam tersebut dengan ragu. "Siapa atasanmu?"
"Namanya Vincent Lu."
Nama itu sama sekali tidak dikenali Chloe. Ia hanya terdiam beberapa saat sebelum bertanya, "Untuk apa dia mencariku?"
"Lebih baik Anda tanyakan langsung kepadanya," jawab Jack.
Chloe masih terlihat ragu, tetapi setelah melihat dirinya yang bahkan tidak memiliki tempat untuk dituju, akhirnya ia menghela napas panjang.
"Baik."Jack membukakan pintu belakang mobil. Chloe masuk perlahan dan duduk di kursi belakang.
Barulah ia menyadari seorang pria asing sudah duduk di sisi lain.
Pria itu mengenakan jas hitam dengan wajah dingin dan tatapan tajam. Chloe langsung merasa sedikit gugup karena sama sekali tidak mengenalnya.
Vincent sendiri hanya diam memperhatikan wajah Chloe yang terlihat lelah dan pipinya yang masih memerah.
Beberapa detik kemudian, ia akhirnya berkata, "Kau adalah Chloe Shen?"
Chloe mengangguk pelan. "Iya. Tapi siapa sebenarnya Anda, dan kenapa mencariku?"
Vincent mengeluarkan sebuah kalung dari saku jasnya lalu menunjukkannya kepada Chloe.
Kalung itu seketika membuat mata Chloe terbelalak. Ia langsung mengenalinya karena benda tersebut adalah miliknya yang tertinggal di kamar Vincent malam itu.
"Kau adalah pria semalam?" tanya Chloe dengan wajah terkejut.
Vincent mengangguk. "Iya. Semalam kau telah menyelamatkan aku. Kali ini aku mencarimu dengan niat ingin bertanggung jawab."
"Bertanggung jawab?" Chloe menatapnya kesal. "Dengan cara apa? Kau telah menghancurkan hidupku!"
"Jangan lupa, kau yang datang ke kamarku," ujar Vincent tenang.
"Tapi bukan berarti kau bisa bertindak sesuka hati!" bentak Chloe. "Aku datang ke sana untuk menyelamatkan diri, bukan untuk menjual diriku!"
Emosi Chloe memuncak. Ia mengangkat tangannya hendak menampar wajah Vincent, tetapi dengan cepat Vincent menangkap pergelangan tangannya sebelum tamparan itu mengenai wajahnya.
"Apa kau tidak bisa bersikap tenang," ucap Vincent dingin.
"Lepaskan tanganku!" Chloe berusaha menarik tangannya, tetapi Vincent masih menahannya.
"Aku tidak bermaksud menyakitimu," kata Vincent.
"Kalau begitu lepaskan aku!"
Vincent perlahan melepaskan tangannya.
Chloe segera menarik tangannya kembali dan memegangi pergelangan tangannya dengan kesal. "Aku tidak butuh tanggung jawabmu."
"Terserah kau membutuhkannya atau tidak, aku sudah membuat keputusan. Aku akan menikahimu," kata Vincent dengan tenang.
"Menikah denganku?" Chloe menatapnya tidak percaya. "Aku tidak sudi! Lebih baik kau pergi sekarang. Aku tidak ingin melihatmu lagi!"
Chloe segera hendak membuka pintu mobil, tetapi Vincent dengan cepat meraih lengannya dan menahannya.
"Lepaskan tanganku! Kau menyakitiku!" bentak Chloe sambil berusaha melepaskan diri. "Vincent Lu, aku tidak ingin melihatmu lagi! Kembalikan kalungku!"
Chloe berusaha merebut kalung yang masih berada di tangan Vincent, tetapi pria itu segera menghindarinya.
"Kalau kau ingin kalung ini kembali, kau harus menikah denganku," ujar Vincent datar.
Mata Chloe membelalak. "Kau..."
"Jangan membuat keputusan sekarang. Kau masih memiliki waktu untuk memikirkannya," lanjut Vincent. " Setelah membuat keputusan hubungi aku, dan asistenku akan datang menjemputmu."
"Kau sedang mengancamku?" tanya Chloe dengan kesal.
"Bukan mengancam," jawab Vincent tenang. "Aku hanya ingin bertanggung jawab atas semua yang telah terjadi."
Chloe menatapnya dengan penuh kemarahan. "Menurutmu menikah denganku adalah bentuk tanggung jawab?"
"Iya."
"Kalau aku menolak?"
Vincent terdiam sejenak sebelum menjawab, "Itu keputusanmu. Tapi kalung ini tetap akan berada padaku sampai kau membuat keputusan."
"Kau benar-benar pria yang tidak tahu malu!"
Vincent tidak membalas.
Ia hanya menyimpan kembali kalung itu ke dalam saku jasnya, sementara Chloe menatapnya dengan kesal.Dalam perjalanan Jack terus melajukan mobilnya ketika ponselnya tiba-tiba berdering."Hallo?""Lokasi Tuan Elvin Lu sudah ditemukan. Saya kirimkan lokasinya sekarang juga!" ujar seorang pria dari seberang."Baik!"Jack segera menerima lokasi tersebut dan mengikuti petunjuk arah."Tuan, kita sudah mendapatkan posisi Tuan Elvin," kata Jack."Segera ke sana!" perintah Vincent yang duduk di kursi belakang."Baik, Tuan!"Beberapa saat kemudian.Mobil Vincent tiba di lokasi.Di depan mereka terlihat kecelakaan cukup parah. Sebuah mobil pribadi bertabrakan dengan mobil lain hingga bagian depannya ringsek. Kaca mobil pecah berserakan di jalan.Kemacetan terjadi di sepanjang jalan. Warga berkerumun di sekitar lokasi, sementara beberapa ambulans mulai berdatangan.Tim penyelamat sedang berusaha mengevakuasi para korban dari kendaraan yang rusak.Vincent segera turun dari mobil.Tatapannya langsung tertuju pada sebuah mobil yang bagian depannya hancur."Elvin!"Vincent berlari mendekat.Dari ba
"Apa kau yakin bisa merawatnya? Bayi ini baru dilahirkan dan harus berpisah dari ibunya," tanya Vincent sambil menatap bayi itu dengan iba."Tenang saja. Kami sudah menyiapkan pengasuh yang bisa menyusuinya. Aku dan istriku sudah menunggu kesempatan ini cukup lama," jawab Elvin.Elvin tersenyum melihat bayi dalam pelukan Vincent."Tapi kenapa, bayi ini sepertinya sangat menyukaimu. Tadi dia terus menangis, tetapi begitu berada di pelukanmu, dia langsung tenang."Vincent tidak menjawab. Tatapannya masih tertuju pada wajah mungil bayi tersebut."Apakah kau sempat bertemu dengan ibunya?" tanyanya kemudian."Tidak. Yang menyerahkan bayi ini mengatakan ibunya hanya seorang diri dan tidak mampu membesarkan anaknya. Karena itu, dia terpaksa menyerahkan bayinya kepada kami."Vincent terdiam.Tangannya perlahan mengusap kepala bayi itu."Kenapa perasaanku sangat sakit dan sedih saat melihat anak ini? Dan terbayang wajah Chloe Shen?"batinnya.***Di sisi lain, sebuah mobil berhenti di sebuah de
Klinik itu mulai sepi ketika Elvin tiba.Di luar, Vincent masih menunggu di dalam mobil sambil merokok dengan tenang. Jack duduk di kursi pengemudi, sesekali melirik ke arah pintu klinik.Sementara itu, Elvin menemui Linda seorang diri."Tuan Lu, Anda sudah datang," ujar Linda sambil menggendong seorang bayi laki-laki yang masih kemerahan.Elvin langsung menatap bayi itu."Nyonya, bagaimana keadaan bayinya?""Sangat sehat dan tampan. Tenang saja, ibunya kami rawat dengan baik selama kehamilan, sehingga bayi ini lahir dengan sehat dan kuat," jawab Linda dengan senyum meyakinkan.Elvin tersenyum ketika melihat bayi yang berada dalam gendongan Linda. Bayi itu sedang menangis tangannya bergerak-gerak seolah mencari sesuatu."Bagaimana kondisi ibunya?" tanya Elvin.Linda memasang wajah prihatin."Kasihan sekali. Dia tidak sanggup merawat anak ini. Suaminya meninggalkannya setelah mengetahui kehamilannya. Demi masa depan anaknya, dia terpaksa menyerahkan bayi ini kepada keluarga yang mampu
Sebuah mobil hitam berhenti di depan apartemen sederhana tempat Chloe tinggal.Vincent turun bersama Jack.Keduanya kemudian masuk ke dalam gedung dan menuju lantai tempat apartemen Chloe berada.Sesampainya di depan pintu, Vincent menekan bel.Ting tong!Tidak ada jawaban.Vincent kembali menekan bel.Ting tong!Tetap tidak ada jawaban."Sepertinya Nona Chloe tidak ada di rumah," ujar Jack.Sebelum Vincent menjawab, seorang pria paruh baya yang merupakan pengelola apartemen berjalan mendekati mereka."Permisi, apakah Anda mencari Nona Chloe?"Vincent menoleh."Benar."Pengelola itu mengangguk."Nona Chloe sudah keluar sejak pagi.""Ke mana?" tanya Vincent."Berangkat bekerja. Tadi pagi saya melihatnya keluar dari apartemennya."Vincent mengerutkan kening."Apakah dia mengatakan sesuatu?""Katanya dia mendapat pekerjaan di luar kota dan harus pergi untuk beberapa waktu."Jack melirik Vincent."Apakah dia membawa banyak barang?"Pengelola itu menggeleng."Tidak. Hanya membawa satu tas.
Tiga minggu kemudian.Chloe yang sedang bersiap-siap untuk berangkat kerja tiba-tiba merasa mual.Ia segera menutup mulutnya dan berlari ke kamar mandi. "Uhuk..."Chloe berlutut di depan toilet dan muntah beberapa kali. Setelah itu, ia bersandar di dinding sambil mengatur napas."Kenapa akhir-akhir ini aku selalu merasa mual?" gumamnya.Ia mengambil air untuk membasuh wajahnya. Namun, baru beberapa langkah keluar dari kamar mandi, aroma kopi dari meja makan kembali membuat perutnya terasa tidak nyaman.Chloe langsung menutup hidung."Biasanya aku suka sekali aroma kopi..."Ia mengerutkan kening.Beberapa hari terakhir tubuhnya memang terasa aneh. Ia mudah lelah, sering pusing, dan selera makannya berubah.Wajahnya perlahan berubah."Sebentar..."Ia mulai menghitung hari dalam pikirannya."Haidku..."Jantungnya tiba-tiba berdegup lebih cepat.Sebuah kemungkinan yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya perlahan muncul di benaknya.Chloe refleks menyentuh perutnya."Tidak mungkin..."Nam
Suasana di depan mansion seketika membeku.Wajah Rinny langsung pucat. Linda yang sejak tadi memasang wajah prihatin ikut terdiam, sementara Mike menatap Vincent dengan gugup."Tu... Tuan Lu, maksud Anda..." Rinny tergagap."Pria yang bersama Chloe malam itu adalah aku," jawab Vincent dingin. "Jadi, menurutmu aku adalah pria asing yang tidak dikenal kakakmu?""Tidak, Tuan Lu. Saya tidak bermaksud seperti itu. Saya hanya..." Rinny mulai panik, tetapi tidak mampu melanjutkan ucapannya.Vincent menatapnya tajam. "Kalau begitu, jelaskan. Apa yang sebenarnya terjadi malam itu?"Rinny menelan ludah. "Saya... saya hanya mendengar dari orang lain.""Orang lain?" Vincent tersenyum tipis tanpa kehangatan. "Lucu. Kau begitu yakin Chloe mempermalukan keluarga, padahal sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi."Mike segera menyela, "Tuan Lu, mungkin ada kesalahpahaman. Chloe memang berada di tempat Anda malam itu, tetapi—""Dia masuk ke tempatku karena sedang melarikan diri," potong Vincent. "Dan se