MasukTiga minggu kemudian.
Chloe yang sedang bersiap-siap untuk berangkat kerja tiba-tiba merasa mual.
Ia segera menutup mulutnya dan berlari ke kamar mandi. "Uhuk..."
Chloe berlutut di depan toilet dan muntah beberapa kali. Setelah itu, ia bersandar di dinding sambil mengatur napas.
"Kenapa akhir-akhir ini aku selalu merasa mual?" gumamnya.
Ia mengambil air untuk membasuh wajahnya. Namun, baru beberapa langkah keluar dari kamar mandi, aroma kopi dari meja makan kembali membuat perutnya terasa tidak nyaman.
Chloe langsung menutup hidung.
"Biasanya aku suka sekali aroma kopi..."Ia mengerutkan kening.
Beberapa hari terakhir tubuhnya memang terasa aneh. Ia mudah lelah, sering pusing, dan selera makannya berubah.Wajahnya perlahan berubah.
"Sebentar..." Ia mulai menghitung hari dalam pikirannya."Haidku..."
Jantungnya tiba-tiba berdegup lebih cepat.
Sebuah kemungkinan yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya perlahan muncul di benaknya.
Chloe refleks menyentuh perutnya.
"Tidak mungkin..."Namun semakin ia mengingat kejadian tiga minggu lalu di hotel, semakin pucat wajahnya.
"Jangan-jangan..."Ia segera mengambil tas dan berlari keluar dari apartemen.
Hari ini, Chloe tidak pergi bekerja.
Ia harus memastikan satu hal terlebih dahulu.Chloe berjalan cepat menuju apotek yang tidak jauh dari apartemennya. Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi kemungkinan yang membuat dadanya sesak.
Ia berusaha menenangkan diri.
"Mungkin hanya karena tertekan. Belakangan ini terlalu banyak hal terjadi."Setibanya di apotek, Chloe berdiri beberapa saat di depan rak alat tes kehamilan.
Tangannya ragu mengambil satu kotak."Semoga aku hanya salah menghitung..."
Setelah membayar, Chloe segera kembali ke apartemennya.
Beberapa menit kemudian, ia berdiri di dalam kamar mandi sambil menatap alat tes di tangannya.
Satu garis.
Chloe mengembuskan napas lega. Namun beberapa detik kemudian, garis kedua perlahan muncul.Wajahnya seketika membeku.
"Tidak..."Ia mengambil alat tes lainnya dan melakukan pemeriksaan sekali lagi.
Hasilnya sama.
Dua garis.Chloe mundur beberapa langkah hingga punggungnya bersandar pada dinding.
Tangannya gemetar.
"Bagaimana mungkin aku hamil? Aku tidak boleh hamil. Aku tidak bisa melahirkan anak ini."***
Sore harinya, Linda dan Rinny sedang berada di ruang keluarga ketika pria yang mereka tugaskan untuk mengawasi Chloe datang.
"Nyonya, saya menemukan sesuatu tentang Nona Chloe."
"Apa?" tanya Linda.
"Tadi pagi Nona Chloe pergi ke sebuah apotek. Dia membeli alat tes kehamilan."
Rinny perlahan berdiri.
"Tes kehamilan?"Pria itu mengangguk.
"Ya. Setelah membelinya, dia langsung kembali ke apartemennya."Linda menatap putrinya.
"Berapa lama dia berada di apotek?""Tidak lama. Tetapi dia terlihat sangat gelisah."
Rinny mengepalkan tangannya.
"Tiga minggu..."Linda langsung memahami maksudnya.
"Waktunya tepat dengan kejadian malam itu."Keduanya saling berpandangan.
"Kalau begitu, kemungkinan besar Chloe hamil," ucap Linda dengan suara rendah.
Rinny menatap ibunya dengan cemas.
"Dan anak itu adalah anak Vincent Lu."Wajah Linda berubah serius.
"Kalau Vincent mengetahuinya, dia pasti akan mencari Chloe."Rinny menggigit bibirnya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan? Dia tidak boleh tahu. Aku tidak rela kalau Chloe menikah dengan seorang pengusaha kaya raya."Linda terdiam sejenak sebelum menjawab dengan dingin, "Jangan beri dia kesempatan untuk bertemu Vincent."
"Lalu apa rencana kita?" tanya Rinny.
"Temui dia sebelum Vincent Lu datang," jawab Linda.
***
Apartemen sederhana Chloe.
Tok! Tok! Tok!
Chloe yang sedang duduk di ruang tengah mengerutkan kening ketika mendengar ketukan pintu.
"Siapa?"
"Chloe, ini aku."
Mendengar suara Linda, wajah Chloe langsung berubah.
Ia tidak menyangka ibu tirinya akan datang mencarinya.
"Ada apa?""Kita hanya ingin bicara. Buka pintunya."
Chloe ragu sejenak. Namun akhirnya ia berdiri dan membuka pintu.
Begitu pintu terbuka, Linda dan Rinny langsung masuk.
"Apa yang kalian inginkan?" tanya Chloe dengan waspada.
"Kami hanya ingin berbicara denganmu," jawab Linda.
Namun Rinny tidak menjawab. Tatapannya justru menyapu seluruh ruangan.
Kemudian ia melihat pintu kamar mandi yang sedikit terbuka. Rinny langsung berjalan ke sana.Chloe seketika panik.
"Rinny, apa yang kau cari?"Mendengar itu, Rinny berhenti dan menoleh.
"Kenapa kau harua cemas kalau tidak ada sesuatu yang kau sembunyikan."Rinny masuk ke kamar mandi dan langsung membuka tempat sampah kecil di sudut ruangan.
Chloe berusaha menghentikannya, tetapi Linda menahan lengannya.
"Untuk apa kalian datang ke sini?" tanya Chloe.
"Mengungkap sesuatu yang kau sembunyikan," jawab Linda.
Rinny mengaduk isi tempat sampah.
Beberapa tisu dan bungkus kecil ia singkirkan. Hingga akhirnya tangannya menemukan sesuatu. Sebuah alat tes kehamilan.Rinny perlahan mengangkatnya.
Dua garis merah terlihat jelas.Wajahnya langsung berubah.
"Ma..."Linda langsung menghampiri putrinya
Ketika melihat alat tes itu, ekspresi Linda seketika membeku."Jadi benar..."
Tatapannya beralih kepada Chloe. "Kau hamil."Chloe terdiam.
Tangannya refleks menutupi perutnya.Rinny menatapnya dengan mata melebar.
"Anak Vincent Lu?"Chloe tidak menjawab.
Namun sikapnya sudah memberikan jawaban.Linda menggenggam alat tes itu erat-erat.
"Tentang kehamilan mu tidak boleh ada yang tahu.""Karena itu, kita tidak boleh membiarkan Vincent bertemu dengannya."
Rinny baru saja selesai berbicara ketika pria yang sejak tadi berdiri di belakang Linda tiba-tiba melangkah mendekati Chloe.
Chloe mundur dengan waspada.
"Kalian mau melakukan apa?"Pria itu tidak menjawab.
Dalam sekejap, ia meraih Chloe dan membuatnya tidak sadarkan diri.Tubuh Chloe langsung kehilangan tenaga.
Pria itu segera menopang tubuh Chloe agar tidak terjatuh dan menimbulkan suara keras.
"Jangan sampai ada yang melihat," perintah Linda.
"Baik, Nyonya."
Rinny mengambil tas Chloe, sementara Linda memastikan lorong apartemen tetap sepi.
Mereka kemudian membawa Chloe keluar tanpa menimbulkan keributan.Beberapa menit kemudian, mobil mereka meninggalkan kompleks apartemen.
Di dalam mobil, Chloe masih tidak sadarkan diri.
Rinny menatap wajah kakaknya dengan tatapan dingin."Ma, bagaimana kalau kita paksa dia mengugurkan anaknya? Kalau sampai anak mereka lahir. Maka Chloe pasti akan menjadi istri Vincent Lu."
"Biarkan saja dia melahirkan anak itu. Dan hanya kita yang tahu. Chloe selama ini suka menantangku. Memisahkan dia dengan anaknya pasti sangat menyenangkan. Aku ingin membuatnya menderita kehilangan anak yang dia kandung," jawab Linda dengan senyum sinis.
Mansion Vincent.
Siang itu, Vincent masih sibuk di depan komputernya. Tatapannya fokus pada dokumen di layar, tetapi pikirannya sesekali kembali kepada seorang gadis yang sudah beberapa minggu tidak ditemuinya.
Jack yang berdiri di dekat meja akhirnya membuka suara.
"Sudah berminggu-minggu, kenapa Nona Shen tidak menghubungi kita? Apakah dia menolak menikah dengan Anda?"Vincent tetap menatap layar.
"Biarkan saja. Aku sudah memberinya kesempatan. Kalau dia tidak ingin menikah denganku, aku tidak akan memaksanya."Nada suaranya terdengar dingin.
Jack terdiam sejenak, lalu berkata,
"Tuan, ada satu hal yang kupikirkan.""Apa?" Vincent akhirnya mengangkat wajah.
"Kalau sampai Nona Chloe hamil karena kejadian itu, bukankah itu sangat tidak adil baginya?"
Jari Vincent yang semula mengetik langsung berhenti.
Jack melanjutkan, "Karena kejadian malam itu, dia kehilangan keluarganya dan sekarang harus hidup sendirian. Kalau benar-benar ada anak dalam kandungannya, dia harus menanggung semuanya seorang diri."
"Kalau memang hamil, seharusnya dia menghubungiku," ujar Vincent.
"Kalau dia tidak ingin menikah karena membenci Anda, mungkin itu sebabnya dia tidak ingin Anda mengetahui kondisinya," kata Jack.
Vincent terdiam.
Tatapannya berubah dingin. "Kalau dia benar-benar hamil..." Ia bangkit dari kursinya dan meraih jas yang tergantung di samping meja. "...dia harus menikah denganku."Jack segera mengikuti langkahnya.
"Tuan, Anda mau ke mana?"Vincent tidak menjawab. Ia hanya berjalan keluar dari ruang kerja dengan langkah cepat.
"Aku akan menemukan Chloe Shen."
Namun Vincent tidak tahu... Saat dirinya mulai mencari keberadaan Chloe, gadis itu sudah berada di tangan Linda dan Rinny.Bandara.Chloe Shen berjalan perlahan di tengah keramaian dengan mengenakan masker dan topi yang menutupi sebagian besar wajah serta rambutnya.Tubuhnya masih lemah setelah melahirkan, tetapi ia terus memaksakan diri untuk berjalan.Matanya bergerak waspada, memperhatikan setiap orang yang melewatinya.Sesekali Chloe menoleh ke belakang untuk memastikan tidak ada orang yang mengikutinya."Aku tidak boleh ditemukan."Tangannya menggenggam erat tali tas kecil yang dibawanya.Ia terus berjalan menuju ruang keberangkatan sambil menundukkan kepala agar wajahnya tidak mudah dikenali.Namun, rasa takut masih memenuhi hatinya.Jika Mike atau Linda menemukannya, ia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya.Chloe menarik napas dalam-dalam."Aku harus pergi dari sini sebelum mereka menemukanku."Ia kemudian mempercepat langkah menuju gerbang keberangkatan.Hari itu, tidak ada seorang pun yang tahu bahwa Chloe telah meninggalkan kota kelahirannya.Ia pergi demi menghindari Mike dan ibu tirinya.D
Dalam perjalanan Jack terus melajukan mobilnya ketika ponselnya tiba-tiba berdering."Hallo?""Lokasi Tuan Elvin Lu sudah ditemukan. Saya kirimkan lokasinya sekarang juga!" ujar seorang pria dari seberang."Baik!"Jack segera menerima lokasi tersebut dan mengikuti petunjuk arah."Tuan, kita sudah mendapatkan posisi Tuan Elvin," kata Jack."Segera ke sana!" perintah Vincent yang duduk di kursi belakang."Baik, Tuan!"Beberapa saat kemudian.Mobil Vincent tiba di lokasi.Di depan mereka terlihat kecelakaan cukup parah. Sebuah mobil pribadi bertabrakan dengan mobil lain hingga bagian depannya ringsek. Kaca mobil pecah berserakan di jalan.Kemacetan terjadi di sepanjang jalan. Warga berkerumun di sekitar lokasi, sementara beberapa ambulans mulai berdatangan.Tim penyelamat sedang berusaha mengevakuasi para korban dari kendaraan yang rusak.Vincent segera turun dari mobil.Tatapannya langsung tertuju pada sebuah mobil yang bagian depannya hancur."Elvin!"Vincent berlari mendekat.Dari ba
"Apa kau yakin bisa merawatnya? Bayi ini baru dilahirkan dan harus berpisah dari ibunya," tanya Vincent sambil menatap bayi itu dengan iba."Tenang saja. Kami sudah menyiapkan pengasuh yang bisa menyusuinya. Aku dan istriku sudah menunggu kesempatan ini cukup lama," jawab Elvin.Elvin tersenyum melihat bayi dalam pelukan Vincent."Tapi kenapa, bayi ini sepertinya sangat menyukaimu. Tadi dia terus menangis, tetapi begitu berada di pelukanmu, dia langsung tenang."Vincent tidak menjawab. Tatapannya masih tertuju pada wajah mungil bayi tersebut."Apakah kau sempat bertemu dengan ibunya?" tanyanya kemudian."Tidak. Yang menyerahkan bayi ini mengatakan ibunya hanya seorang diri dan tidak mampu membesarkan anaknya. Karena itu, dia terpaksa menyerahkan bayinya kepada kami."Vincent terdiam.Tangannya perlahan mengusap kepala bayi itu."Kenapa perasaanku sangat sakit dan sedih saat melihat anak ini? Dan terbayang wajah Chloe Shen?"batinnya.***Di sisi lain, sebuah mobil berhenti di sebuah de
Klinik itu mulai sepi ketika Elvin tiba.Di luar, Vincent masih menunggu di dalam mobil sambil merokok dengan tenang. Jack duduk di kursi pengemudi, sesekali melirik ke arah pintu klinik.Sementara itu, Elvin menemui Linda seorang diri."Tuan Lu, Anda sudah datang," ujar Linda sambil menggendong seorang bayi laki-laki yang masih kemerahan.Elvin langsung menatap bayi itu."Nyonya, bagaimana keadaan bayinya?""Sangat sehat dan tampan. Tenang saja, ibunya kami rawat dengan baik selama kehamilan, sehingga bayi ini lahir dengan sehat dan kuat," jawab Linda dengan senyum meyakinkan.Elvin tersenyum ketika melihat bayi yang berada dalam gendongan Linda. Bayi itu sedang menangis tangannya bergerak-gerak seolah mencari sesuatu."Bagaimana kondisi ibunya?" tanya Elvin.Linda memasang wajah prihatin."Kasihan sekali. Dia tidak sanggup merawat anak ini. Suaminya meninggalkannya setelah mengetahui kehamilannya. Demi masa depan anaknya, dia terpaksa menyerahkan bayi ini kepada keluarga yang mampu
Sebuah mobil hitam berhenti di depan apartemen sederhana tempat Chloe tinggal.Vincent turun bersama Jack.Keduanya kemudian masuk ke dalam gedung dan menuju lantai tempat apartemen Chloe berada.Sesampainya di depan pintu, Vincent menekan bel.Ting tong!Tidak ada jawaban.Vincent kembali menekan bel.Ting tong!Tetap tidak ada jawaban."Sepertinya Nona Chloe tidak ada di rumah," ujar Jack.Sebelum Vincent menjawab, seorang pria paruh baya yang merupakan pengelola apartemen berjalan mendekati mereka."Permisi, apakah Anda mencari Nona Chloe?"Vincent menoleh."Benar."Pengelola itu mengangguk."Nona Chloe sudah keluar sejak pagi.""Ke mana?" tanya Vincent."Berangkat bekerja. Tadi pagi saya melihatnya keluar dari apartemennya."Vincent mengerutkan kening."Apakah dia mengatakan sesuatu?""Katanya dia mendapat pekerjaan di luar kota dan harus pergi untuk beberapa waktu."Jack melirik Vincent."Apakah dia membawa banyak barang?"Pengelola itu menggeleng."Tidak. Hanya membawa satu tas.
Tiga minggu kemudian.Chloe yang sedang bersiap-siap untuk berangkat kerja tiba-tiba merasa mual.Ia segera menutup mulutnya dan berlari ke kamar mandi. "Uhuk..."Chloe berlutut di depan toilet dan muntah beberapa kali. Setelah itu, ia bersandar di dinding sambil mengatur napas."Kenapa akhir-akhir ini aku selalu merasa mual?" gumamnya.Ia mengambil air untuk membasuh wajahnya. Namun, baru beberapa langkah keluar dari kamar mandi, aroma kopi dari meja makan kembali membuat perutnya terasa tidak nyaman.Chloe langsung menutup hidung."Biasanya aku suka sekali aroma kopi..."Ia mengerutkan kening.Beberapa hari terakhir tubuhnya memang terasa aneh. Ia mudah lelah, sering pusing, dan selera makannya berubah.Wajahnya perlahan berubah."Sebentar..."Ia mulai menghitung hari dalam pikirannya."Haidku..."Jantungnya tiba-tiba berdegup lebih cepat.Sebuah kemungkinan yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya perlahan muncul di benaknya.Chloe refleks menyentuh perutnya."Tidak mungkin..."Nam







