MasukSebuah mobil hitam berhenti di depan apartemen sederhana tempat Chloe tinggal.
Vincent turun bersama Jack.
Keduanya kemudian masuk ke dalam gedung dan menuju lantai tempat apartemen Chloe berada.Sesampainya di depan pintu, Vincent menekan bel.
Ting tong!
Tidak ada jawaban.
Vincent kembali menekan bel.
Ting tong!
Tetap tidak ada jawaban.
"Sepertinya Nona Chloe tidak ada di rumah," ujar Jack.
Sebelum Vincent menjawab, seorang pria paruh baya yang merupakan pengelola apartemen berjalan mendekati mereka.
"Permisi, apakah Anda mencari Nona Chloe?"
Vincent menoleh.
"Benar."Pengelola itu mengangguk.
"Nona Chloe sudah keluar sejak pagi.""Ke mana?" tanya Vincent.
"Berangkat bekerja. Tadi pagi saya melihatnya keluar dari apartemennya."
Vincent mengerutkan kening.
"Apakah dia mengatakan sesuatu?""Katanya dia mendapat pekerjaan di luar kota dan harus pergi untuk beberapa waktu."
Jack melirik Vincent.
"Apakah dia membawa banyak barang?"
Pengelola itu menggeleng.
"Tidak. Hanya membawa satu tas."Vincent terdiam sejenak.
Tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan."Baik," ujar Vincent akhirnya.
Ia menatap pintu apartemen Chloe sekali lagi.
"Kalau dia kembali, beri tahu aku.""Baik, Tuan."
Vincent kemudian berbalik dan pergi bersama Jack.
Tidak ada satu pun dari mereka yang mengetahui bahwa Chloe sebenarnya tidak pernah pergi bekerja.
***
Di sisi lain Chloe yang dibawa pergi ke suatu tempat yang jauh dari kota.
Chloe perlahan membuka matanya.
Kepalanya terasa berat. Pandangannya sempat kabur sebelum akhirnya ia bisa melihat ruangan asing di sekelilingnya.Dindingnya kusam. Catnya sudah mengelupas di beberapa bagian. Sebuah ranjang tua berada di sudut ruangan, sementara jendela kecil di sampingnya tertutup rapat.
Chloe mencoba bangkit.
"Di mana aku?"Ia turun dari ranjang dan berjalan menuju pintu.
Tangannya langsung memutar gagang pintu.Tidak terbuka.
Chloe membeku. Ia mencoba lagi. Tetap terkunci."Apa yang kalian inginkan dariku?"
Tidak ada jawaban.
Chloe memukul pintu dengan telapak tangannya.
"Buka pintunya!"Beberapa saat kemudian terdengar suara langkah kaki.
Klik.
Pintu terbuka.
Linda muncul bersama Rinny.
Wajah Chloe langsung berubah penuh kemarahan. "Kalian menculikku!"
Linda masuk dengan tenang.
"Jangan membuang tenagamu. Tidak ada yang akan mendengarmu di tempat ini."Chloe menatap sekeliling dengan panik.
"Ini di mana?""Rumah lama yang sudah tidak digunakan," jawab Linda. "Jauh dari Kota S."
Chloe terdiam.
Rinny tersenyum tipis.
"Tenang saja. Tidak akan ada yang menemukanmu di sini."Chloe langsung menyadari maksud mereka.
"Kalian sengaja membawaku ke tempat ini agar Vincent tidak bisa menemukanku?""Benar sekali. Kau hanyalah anak yang dibuang oleh papaku. Anak yang bahkan tidak diakui. Mana mungkin wanita sepertimu layak menjadi istri seorang pengusaha besar?" ejek Rinny.
"Aku tidak akan menikah dengannya. Untuk apa kalian menahanku di sini? Lepaskan aku!" bentak Chloe.
"Lepaskan?" Linda tertawa sinis. "Jangan bermimpi. Kami sudah memutuskan. Selama masa kehamilan, kau akan tinggal di sini sampai melahirkan. Jangankan moge berulah. Kalau tidak, aku tidak menjamin anakmu akan lahir dengan selamat."
Wajah Chloe langsung menegang.
"Linda, kau bukan hanya selingkuhan Papa yang tidak tahu malu. Sekarang kau bahkan berani menculikku. Kau sadar bahwa apa yang kau lakukan adalah kesalahan besar?""Kesalahan?" Linda tersenyum dingin. "Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan."
Rinny melangkah mendekati Chloe.
"Chloe Shen, kau memang ditakdirkan hidup lebih rendah dariku. Kau hamil tanpa pernikahan, dan anakmu kelak bahkan tidak memiliki seorang ayah di sisinya." Tatapannya turun ke perut Chloe. "Anak seperti itu masih ingin kau pertahankan? Aku ingin melihat bagaimana kau akan membesarkannya tanpa uang dan status."Rinny tersenyum penuh kemenangan.
"Sementara Vincent Lu akan menjadi milikku. Aku akan mendekatinya sampai dia melupakanmu.""Jangan bermimpi!" bentak Chloe.
Ia hendak melangkah keluar, tetapi Linda langsung mendorong tubuhnya hingga jatuh ke atas ranjang.
"Jangan coba-coba melarikan diri."
Linda menatap Chloe dengan dingin. "Tinggal di sini dan nikmati hidupmu. Jangan sampai aku terpaksa melakukan sesuatu terhadap anakmu."Setelah mengatakan itu, Linda berbalik dan pergi bersama Rinny.
Brak!
Pintu kembali ditutup dan dikunci dari luar.
Chloe perlahan bangkit dari ranjang.
Ia menatap sekeliling ruangan. Tidak ada jendela. Tidak ada pintu lain. Hanya dinding kusam yang mengelilinginya."Aku tidak bisa terus berada di sini..."
Chloe mengepalkan tangannya. "Tapi bagaimana aku bisa keluar?"Lima bulan kemudian.
Mansion Vincent.
Brak!
Sebuah asbak menghantam lantai dan pecah menjadi beberapa bagian.
"Lima bulan!"
Suara Vincent menggema di seluruh ruangan. "Lima bulan dia menghilang dan kalian masih belum bisa menemukannya?"Jack berdiri di hadapannya dengan wajah serius.
"Tuan, kami sudah memeriksa semua kemungkinan. Sepertinya Nona Chloe bukan pergi bekerja."Tatapan Vincent langsung tertuju kepadanya.
"Maksudmu?""Rekaman CCTV di apartemennya tidak menunjukkan adanya penculikan. Tidak ada keributan, tidak ada orang yang memaksanya keluar. Kemungkinan besar Nona Chloe memang sengaja pergi."
Jack ragu sejenak sebelum melanjutkan. "Mungkin dia ingin menghindari Anda.""Demi menghindariku, dia bahkan pergi dari kota kelahirannya."
Vincent mengepalkan tangannya. "Chloe Shen, sepertinya aku terlalu baik padamu. Tidak peduli dia hamil atau tidak. Cari dia sampai dapat!""Baik, Tuan!" jawab Jack tegas.
Beberapa bulan kemudian.
Sebuah mobil melaju menuju klinik persalinan terdekat.
Di dalamnya, Chloe menahan rasa sakit yang luar biasa."Ahh!"
Tangannya mencengkeram kursi dengan kuat.Perutnya terasa seperti diremas berkali-kali.
Begitu tiba di klinik, beberapa perawat segera membawanya masuk."Pasien akan segera melahirkan!"
"Siapkan ruang persalinan!"
Chloe hanya mampu menangis menahan sakit.
Sementara itu, Linda, Rinny, dan Mike menunggu di luar.
Linda duduk dengan tenang.
"Sebelumnya aku sudah berkonsultasi dengan dokter. Bayi yang dikandung Chloe adalah bayi kembar."Rinny langsung tersenyum.
"Kembar?"Linda mengangguk.
Mike yang mendengar itu justru memasang wajah tidak senang.
"Aku tidak akan mengakui mereka sebagai cucuku. Setelah anak-anak itu lahir, serahkan saja kepada panti asuhan.""Jangan," sela Linda.
Mike menoleh.
Linda tersenyum tipis.
"Selama ini Chloe memang telah menghabiskan uang kita untuk hidupnya. Bagaimana kalau anak-anak itu kita berikan kepada pasangan yang tidak memiliki anak? Setidaknya kita bisa mendapatkan uang dari mereka."Rinny langsung menyetujui.
"Benar, Pa. Aku tahu pasangan yang sudah menikah selama lima tahun tetapi belum memiliki anak. Mereka adalah teman dari orang yang aku kenal dan pasti bersedia membayar mahal untuk mendapatkan bayi."Mike terdiam sejenak.
Kemudian ia mengangguk. "Serahkan urusan itu kepada kalian." Ia menatap Linda dan Rinny bergantian. "Yang penting Chloe tidak boleh tahu bahwa anak-anaknya masih hidup. Setelah dia melahirkan dia harus menikah lagi dengan pria kaya untuk membantu perusahaan kita."Senyum Linda semakin lebar.
"Tenang saja."***
Mansion Vincent.
Vincent duduk di sofa sambil memainkan gelas minuman di tangannya.
Tatapannya kosong.Di hadapannya duduk seorang pria bernama Elvin Lu.
"Vincent, aku membawa kabar baik."
Vincent mengangkat wajah.
"Kabar baik apa?"Elvin tersenyum lebar.
"Aku akan segera menjadi seorang ayah."Vincent terdiam.
"Ada seorang wanita yang sedang melahirkan saat ini. Keluarganya sudah berjanji akan menyerahkan bayinya kepadaku..Bayinya laki-laki. Jadi aku dan istriku tidak perlu memikirkan soal memiliki anak lagi."
Vincent mengangkat gelasnya.
"Selamat untukmu.""Vincent, aku mendengar kabar bahwa kau sedang mencari seorang wanita yang ingin kau nikahi. Apa sampai sekarang kau belum menemukannya?" tanya Elvin.
Vincent mengangkat gelasnya, lalu menatap Elvin dengan tatapan tenang.
"Dia sengaja menghindariku.""Kalau begitu, kenapa kau masih mencarinya?"
Vincent terdiam sejenak.
"Karena aku belum selesai bertanggung jawab atas apa yang terjadi malam itu. Dia boleh menghindariku sejauh apa pun, tapi aku tetap akan menemukannya.Elvin baru saja hendak meninggalkan ruang tamu ketika ponselnya berdering.
Ia melihat nomor yang tidak dikenal. "Halo?"Suara Linda terdengar dari seberang.
"Tuan Elvin, bayinya sudah lahir."Mata Elvin langsung berbinar.
"Benarkah?""Benar. Bayi laki-laki dan kondisinya sehat. Kalau Anda masih menginginkannya, datanglah ke klinik sekarang."
"Tentu saja. Aku akan segera datang."
Panggilan berakhir.
Elvin tersenyum lebar.
Ia langsung berbalik dan mendapati Vincent masih duduk di sofa."Vincent, ikut denganku."
Vincent mengangkat alis.
"Ke mana?""Ke klinik."
Elvin tersenyum penuh kegembiraan."Bayi yang akan menjadi anakku sudah lahir."Vincent akhirnya berdiri.
"Baiklah.""Apa kau yakin bisa merawatnya? Bayi ini baru dilahirkan dan harus berpisah dari ibunya," tanya Vincent sambil menatap bayi itu dengan iba."Tenang saja. Kami sudah menyiapkan pengasuh yang bisa menyusuinya. Aku dan istriku sudah menunggu kesempatan ini cukup lama," jawab Elvin.Elvin tersenyum melihat bayi dalam pelukan Vincent."Tapi kenapa, bayi ini sepertinya sangat menyukaimu. Tadi dia terus menangis, tetapi begitu berada di pelukanmu, dia langsung tenang."Vincent tidak menjawab. Tatapannya masih tertuju pada wajah mungil bayi tersebut."Apakah kau sempat bertemu dengan ibunya?" tanyanya kemudian."Tidak. Yang menyerahkan bayi ini mengatakan ibunya hanya seorang diri dan tidak mampu membesarkan anaknya. Karena itu, dia terpaksa menyerahkan bayinya kepada kami."Vincent terdiam.Tangannya perlahan mengusap kepala bayi itu."Kenapa perasaanku sangat sakit dan sedih saat melihat anak ini? Dan terbayang wajah Chloe Shen?"batinnya.***Di sisi lain, sebuah mobil berhenti di sebuah de
Klinik itu mulai sepi ketika Elvin tiba.Di luar, Vincent masih menunggu di dalam mobil sambil merokok dengan tenang. Jack duduk di kursi pengemudi, sesekali melirik ke arah pintu klinik.Sementara itu, Elvin menemui Linda seorang diri."Tuan Lu, Anda sudah datang," ujar Linda sambil menggendong seorang bayi laki-laki yang masih kemerahan.Elvin langsung menatap bayi itu."Nyonya, bagaimana keadaan bayinya?""Sangat sehat dan tampan. Tenang saja, ibunya kami rawat dengan baik selama kehamilan, sehingga bayi ini lahir dengan sehat dan kuat," jawab Linda dengan senyum meyakinkan.Elvin tersenyum ketika melihat bayi yang berada dalam gendongan Linda. Bayi itu sedang menangis tangannya bergerak-gerak seolah mencari sesuatu."Bagaimana kondisi ibunya?" tanya Elvin.Linda memasang wajah prihatin."Kasihan sekali. Dia tidak sanggup merawat anak ini. Suaminya meninggalkannya setelah mengetahui kehamilannya. Demi masa depan anaknya, dia terpaksa menyerahkan bayi ini kepada keluarga yang mampu
Sebuah mobil hitam berhenti di depan apartemen sederhana tempat Chloe tinggal.Vincent turun bersama Jack.Keduanya kemudian masuk ke dalam gedung dan menuju lantai tempat apartemen Chloe berada.Sesampainya di depan pintu, Vincent menekan bel.Ting tong!Tidak ada jawaban.Vincent kembali menekan bel.Ting tong!Tetap tidak ada jawaban."Sepertinya Nona Chloe tidak ada di rumah," ujar Jack.Sebelum Vincent menjawab, seorang pria paruh baya yang merupakan pengelola apartemen berjalan mendekati mereka."Permisi, apakah Anda mencari Nona Chloe?"Vincent menoleh."Benar."Pengelola itu mengangguk."Nona Chloe sudah keluar sejak pagi.""Ke mana?" tanya Vincent."Berangkat bekerja. Tadi pagi saya melihatnya keluar dari apartemennya."Vincent mengerutkan kening."Apakah dia mengatakan sesuatu?""Katanya dia mendapat pekerjaan di luar kota dan harus pergi untuk beberapa waktu."Jack melirik Vincent."Apakah dia membawa banyak barang?"Pengelola itu menggeleng."Tidak. Hanya membawa satu tas.
Tiga minggu kemudian.Chloe yang sedang bersiap-siap untuk berangkat kerja tiba-tiba merasa mual.Ia segera menutup mulutnya dan berlari ke kamar mandi. "Uhuk..."Chloe berlutut di depan toilet dan muntah beberapa kali. Setelah itu, ia bersandar di dinding sambil mengatur napas."Kenapa akhir-akhir ini aku selalu merasa mual?" gumamnya.Ia mengambil air untuk membasuh wajahnya. Namun, baru beberapa langkah keluar dari kamar mandi, aroma kopi dari meja makan kembali membuat perutnya terasa tidak nyaman.Chloe langsung menutup hidung."Biasanya aku suka sekali aroma kopi..."Ia mengerutkan kening.Beberapa hari terakhir tubuhnya memang terasa aneh. Ia mudah lelah, sering pusing, dan selera makannya berubah.Wajahnya perlahan berubah."Sebentar..."Ia mulai menghitung hari dalam pikirannya."Haidku..."Jantungnya tiba-tiba berdegup lebih cepat.Sebuah kemungkinan yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya perlahan muncul di benaknya.Chloe refleks menyentuh perutnya."Tidak mungkin..."Nam
Suasana di depan mansion seketika membeku.Wajah Rinny langsung pucat. Linda yang sejak tadi memasang wajah prihatin ikut terdiam, sementara Mike menatap Vincent dengan gugup."Tu... Tuan Lu, maksud Anda..." Rinny tergagap."Pria yang bersama Chloe malam itu adalah aku," jawab Vincent dingin. "Jadi, menurutmu aku adalah pria asing yang tidak dikenal kakakmu?""Tidak, Tuan Lu. Saya tidak bermaksud seperti itu. Saya hanya..." Rinny mulai panik, tetapi tidak mampu melanjutkan ucapannya.Vincent menatapnya tajam. "Kalau begitu, jelaskan. Apa yang sebenarnya terjadi malam itu?"Rinny menelan ludah. "Saya... saya hanya mendengar dari orang lain.""Orang lain?" Vincent tersenyum tipis tanpa kehangatan. "Lucu. Kau begitu yakin Chloe mempermalukan keluarga, padahal sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi."Mike segera menyela, "Tuan Lu, mungkin ada kesalahpahaman. Chloe memang berada di tempat Anda malam itu, tetapi—""Dia masuk ke tempatku karena sedang melarikan diri," potong Vincent. "Dan se
Mike tidak lagi mampu menahan amarahnya. Ia mencengkeram pergelangan tangan Chloe dengan kasar."Pa... lepaskan aku!" teriak Chloe sambil berusaha melepaskan diri."Aku tidak punya putri yang mempermalukan keluarga Shen!" bentak Mike.Tanpa memedulikan perlawanan Chloe, Mike menyeretnya menuju pintu utama mansion."Pa! Sakit... lepaskan aku!"Namun Mike tetap menyeretnya hingga ke halaman depan.Brak!Pintu mansion terbuka lebar.Mike mendorong tubuh Chloe hingga ia terjatuh di anak tangga."Mulai hari ini, kau bukan lagi bagian dari keluarga Shen!" bentaknya. "Pergi dari rumah ini! Jangan pernah kembali!"Chloe menahan perih di telapak tangannya yang membentur lantai. Air matanya jatuh tanpa bisa dibendung."Pa...""Jangan panggil aku Papa!" potong Mike. "Mulai detik ini, aku mengusirmu dari keluarga Shen. Kau tidak berhak mengambil apa pun dari rumah ini!"Di belakang Mike, Linda dan Rinny saling bertukar pandang. Meski berusaha memasang wajah sedih, keduanya diam-diam tersenyum pua







