مشاركة

Anak Selingkuhan Suamiku
Anak Selingkuhan Suamiku
مؤلف: Mira Restia

BAB 1 Dua Ibu

مؤلف: Mira Restia
last update تاريخ النشر: 2026-06-29 15:58:37

"Aku sebenarnya punya dua Ibu, tau!"

Langkahku terhenti. Kata-kata itu meremukkan hati secara tiba-tiba. Suara Denis—anak yang sudah tujuh tahun kupeluk, kutimang, kusuapi—terdengar ringan, seolah ia sedang membicarakan cuaca. Padahal kalimatnya merobek dadaku perlahan.

Halaman sekolah masih basah oleh gerimis yang baru reda. Aku berdiri mematung di balik tiang, seperti patung yang lupa cara bernapas.

Teman Denis menjawab polos, suaranya nyaring dan penuh keyakinan anak usia tujuh tahun, "Ada-ada aja kamu. Ibu itu hanya satu, mana mungkin bisa jadi dua?"

Denis tertawa kecil. Tawa yang dulu selalu membuat hatiku mengembang, kini terdengar asing. "Aku serius. Ibu yang di rumah itu tugasnya ngasuh aku dan marah-marah. Dan yang satunya khusus buat jalan-jalan ke luar kota sama Ayah. Tapi, ini rahasia kita berdua, ya!"

Darahku berdesir. Tangan yang sedari tadi menggenggam bekal Denis mengepal tanpa sadar. Kertas minyak pembungkus bekal itu berkerut, seperti hatiku yang mulai kusut.

"Denis, apa yang kamu bilang barusan?" Suaraku keluar setengah membentak, setengah tercekat. Aku tidak bermaksud meninggikan suara. Tapi kaget dan perih membuat nada itu melesat lebih dulu daripada akal.

Denis membalikkan badan ke arahku. Matanya membulat. Kedua tangannya spontan menutup mulut, seolah ingin menarik kembali kata-kata yang sudah terlanjur terbang. Wajahnya pucat, seperti anak yang baru sadar telah menjatuhkan vas bunga kesayangan ibunya. Sementara itu, temannya—bocah kurus dengan seragam kebesaran—langsung lari tunggang-langgang begitu melihat ekspresiku mulai mendekat. Langkah kakinya yang kecil menghantam aspal basah, meninggalkan percikan air dan tanda tanya yang lebih besar di kepalaku.

"Kamu tadi bilang apa? Coba ulangi!" pintaku, suaraku bergetar antara marah dan takut. Takut mendengar jawabannya, takut kalau dugaanku benar.

Denis hanya menggeleng. Kepalanya menggeleng pelan. Wajahnya dipalingkan. Ia menghindari mataku, sama seperti orang menghindari matahari saat silau.

"Denis! Kamu nggak pantas bilang kayak gitu sama Mamah. Coba jelaskan, kenapa kamu bisa bicara kayak gitu?" Aku berjongkok, berusaha setinggi matanya. Aku ingin suaraku lembut, tapi bibir ini kaku. Lidah ini kelu.

"Mamah galak. Denis nggak suka Mamah yang galak!" jawabnya akhirnya, lirih tapi menusuk. Setiap suku kata itu seperti jarum kecil yang ditusukkan ke dadaku satu per satu.

Denis berjalan mendahuluiku. Ngambek adalah senjatanya. Senjata yang selalu ia keluarkan setiap kali merasa terpojok, setiap kali ia tak ingin dimarahi. Sepertinya, aku terlalu memanjakannya selama ini. Hanya ditegur sedikit, ia sudah menyebutku galak. Dulu aku kira itu tanda ia dekat denganku. Sekarang aku bertanya-tanya, dekat atau hanya nyaman karena aku tak pernah benar-benar menuntut?

Aku dan Denis masuk ke dalam mobil kami. Mobil itu saksi bisu banyak percakapan kami. Dari "Mamah, besok aku mau bekal nugget" sampai "Mamah, bacain dongeng lagi". Kini, saksi bisu itu dipaksa mendengar keheningan yang berat. Sepanjang jalan, Denis hanya manyun. Bibirnya dimajukan, matanya menatap kosong ke jendela. Tetesan air hujan di kaca seolah menirukan suasana hatinya: jatuh, satu per satu, tanpa suara.

Meskipun penasaran menusuk-nusuk seperti duri, aku tidak mencercanya. Aku takut. Takut kalau pertanyaanku membuatnya semakin memberontak. Takut kalau tembok kecil yang baru saja ia bangun di antara kami menjadi semakin tinggi. Jadi aku diam, menelan ludah, dan membiarkan mesin mobil menggeram pelan mengisi ruang yang seharusnya berisi tawa kami.

Hingga akhirnya, aku pun memulai pembicaraan.

"Yang tadi kamu sebut 'ibu yang satunya lagi' itu siapa, Sayang?" tanyaku pelan. Aku berharap Denis akan menjawab kalau aku bertanya pelan, tanpa tekanan, tanpa amarah. Namun, ia terdiam. Wajahnya cemas. Alis kecilnya berkerut, bibirnya digigit dari dalam. Ada yang tidak beres. Anak sekecil ini sudah dibungkam oleh seseorang. Matanya yang dulu selalu jujur, kini menyimpan rahasia. Mungkinkah Mas Dafa yang membungkamnya? Pikiran itu menyelinap dalam hati. Matahari tinggi, tapi hatiku gelap. Masih harus menunggu malam hari untuk bertanya pada Mas Dafa. Menunggu, sementara prasangka tumbuh seperti gulma.

Waktu berjalan begitu lambat. Setiap detik terasa seperti satu jam. Dari siang sampai malam, hatiku tak tenang. Perasaanku kacau, berputar-putar seperti air di pusaran. Bahkan karena perasaanku yang kacau itu, Denis jadi tidak nyaman berada di sampingku. Dari tadi aku sinis padanya. Tatapanku tajam, suaraku dingin. Denis pun akhirnya memilih berdiam diri di kamar, memeluk mainan mobil-mobilannya seperti memeluk benteng terakhir.

Mas Dafa pulang jam 8 malam. Seperti biasa, ia tersenyum cerah, wajahnya ceria, tangan kanannya menjinjing kantong plastik berisi snack kesukaanku—cokelat dan keripik pedas. Ia menyimpannya di meja tepat di depanku, seolah dunia baik-baik saja. Seolah tidak ada retakan sekecil rambut di antara kami.

"Sayang! Tumben kamu nggak menyambutku. Di mana Denis?" tanyanya, suaranya hangat seperti selimut.

"Di kamar!" jawabku pendek. Satu kata itu keluar seperti batu.

Wajah Dafa mengerut. Kerutan halus di dahinya dalam sekejap. Mungkin ia sadar aku tidak seperti biasanya. Aku, Ririn yang setiap hari menyambutnya dengan pelukan dan cerita, kini duduk kaku seperti kayu. Energiku terkuras habis oleh prasangka yang menumpuk sejak siang hingga malam. Aku pun menghela napas panjang. Napas yang keluar bukan hanya udara, tapi juga lelah.

Dafa menghampiriku. Ia mengelus rambutku dengan jemari yang selalu bisa menenangkanku. Mengecup puncak kepalaku, lembut, seperti dulu saat aku demam. Aku sadar ia berusaha menenangkan hatiku yang bergemuruh. "Ada apa, Sayang? Cerita!"

"Apa ada yang kamu rahasiakan selama ini dariku?" Kalimat itu keluar sebelum aku sempat menahannya. Jujur, getir.

Dafa tampak berpikir sejenak. Dahinya berkerut, matanya menatap ke sudut ruangan, seperti mencari jawaban di antara bayangan lampu. Lalu ia berkata, tegas tapi tenang, "Nggak ada!"

Aku tersenyum sinis. Senyum yang bahkan aku sendiri benci. Senyum yang lahir dari luka.

"Aku mau rahasiakan apa dari kamu, Sayang? Kamu dan Denis adalah harta yang tidak ternilai harganya. Toh, selama ini kita baik-baik saja, kan?" katanya, masih dengan nada yang sama. Nada suami yang mencintaiku.

Iya, selama ini keluarga kami memang baik-baik saja. Rumah kami rapi, meja makan selalu penuh, tawa Denis menggema tiap sore. Andai saja aku tidak pernah memergoki Denis berkata tentang memiliki ibu yang lain, mungkin aku akan menjadi orang yang bodoh selamanya. Si bodoh yang tidak tahu bahwa di balik lukisan keluarga yang sempurna, ada goresan tinta yang belum kering.

"Kamu jangan overthinking. Yuk kita lihat Denis lagi apa? Nggak biasanya dia berdiam diri lama-lama di kamar." Dafa menggandeng tanganku, menarikku dari pusaran pikiranku sendiri.

"Seharian ini aku marah pada Denis. Denis jadi ngurung diri di kamar!" Aku mengikutinya, langkahku berat.

"Loh, kenapa?" tanyanya polos.

"Tadi di sekolah Denis bilang pada temannya, punya dua ibu. Apa maksudnya itu? Jangan-jangan kamu ada main di belakang?" Kalimat terakhir itu meluncur seperti anak panah. Aku tidak mengarahkannya, tapi ia tetap melesat.

Dafa terdiam tanpa ekspresi. Wajahnya datar, seperti danau saat tak ada angin. Tidak tahu karena bingung, atau dia memang pintar menyembunyikan rasa cemas. Aku sulit membaca ekspresinya saat itu. Selama tujuh tahun menikah, aku kira aku hafal setiap garis di wajahnya. Ternyata tidak. Ternyata ada ruang-ruang yang belum pernah kujamah.

"Cuma ucapan anak-anak. Mungkin dia lagi berimajinasi! Jangan terlalu dipikirkan sampai sejauh itu!" Dafa mengelus punggungku, tersenyum lembut. Senyum yang sama yang dulu membuatku jatuh cinta.

Aku mulai bimbang. Apakah aku yang terlalu berprasangka, hingga bayanganku sendiri menakutiku? Atau aku terjebak dalam permainannya yang tanpa celah? Dafa tampak sempurna. Tidak ada keringat dingin, tidak ada gelagat gugup, tidak ada rasa cemas dalam wajahnya. Andai saja aku punya alat pendeteksi kebohongan, mungkin aku tak segalau ini. Andai saja hati punya alarm, mungkin ia sudah meraung sejak siang.

Dafa menuntunku menuju kamar Denis. Kami berdua mengintip dari celah pintu. Denis sedang asyik menggambar dengan silky crayon yang baru saja kubelikan minggu lalu. Crayon warna-warni itu berserakan seperti pelangi yang jatuh ke lantai.

"Wah, Denis lagi menggambar apa? Bagus sekali," puji Dafa sambil mengelus punggung Denis. Sentuhannya penuh kebanggaan seorang ayah.

"Lihat Ayah! Bagus, nggak?" Denis menunjukkan gambarnya, antusias. Matanya berbinar. Untuk sesaat, ia melupakan pertengkaran tadi. Untuk sesaat, ia kembali menjadi anak tujuh tahun yang polos.

Aku ikut melihat tanpa berkata apa pun pada Denis. Tenggorokanku tercekat. Denis menggambar anak laki-laki—dirinya—yang sedang digenggam tangan ayah dan ibunya di sisi kanan dan kiri. Latarnya sebuah rumah dengan atap segitiga dan cerobong asap yang mengeluarkan gumpalan awan. Ada matahari tersenyum di pojok. Beberapa detail tidak jelas, goresan crayon masih berantakan, tapi nuansanya hangat dan ceria. Hangat seperti pelukan yang selama ini kupikir nyata.

"Lihat Ayah! Ini aku, Ibu, dan Ayah!" seru Denis bangga.

"Pintar sekali anak Ayah!" Dafa melirik ke arahku, lalu berkata padaku, "Lihatlah, Sayang! Anak kita sebaik ini. Masa kamu tega sampai marah seharian padanya." Kalimat itu seperti cermin. Menamparku dengan kebenaranku sendiri.

Aku mengambil kertas gambar itu dari tangan Dafa. Kertasnya masih hangat oleh genggaman Denis. Aku mengusap gambar itu pelan-pelan, seolah bisa menghapus sesuatu dengan sentuhan. Jadi, aku yang salah? Aku yang terlalu cepat menuduh? Aku amati gambar itu baik-baik. Penuh nuansa keceriaan. Warna kuning, biru, hijau berpadu seperti janji. Tapi kenapa... kenapa di sudut kanan atas, tepat di samping rumah, ada gambar nenek sihir? Topinya lancip, jubahnya hitam, tangannya memegang sapu. Goresannya lebih gelap, lebih menekan, seperti rahasia yang sengaja disembunyikan di balik keceriaan.

"Ini siapa? Yang pakai topi penyihir dan pegang sapu?" tanyaku pada Denis. Suaraku bergetar.

"Itu Mamah!" jawab Denis spontan. Polos. Tanpa filter.

Dia buru-buru menutup mulutnya saat sadar aku melot ke arahnya. Matanya melebar, seperti anak yang baru menyadari ia telah membuka pintu yang seharusnya terkunci. Sekilas, aku melihat Dafa juga panik. Kedipan matanya lebih cepat, napasnya tertahan sepersekian detik. Panik yang cepat ia sembunyikan di balik senyum.

"Kalau penyihir ini Mamah? Lalu yang di depan pegang tangan kamu siapa, dong?" tanyaku lagi, suaraku kini bergetar antara perih dan marah.

Denis terdiam. Ia memeluk Dafa erat, wajahnya disembunyikan di dada ayahnya. Seakan-akan meminta perlindungan dari ayahnya. Seakan-akan aku adalah badai yang harus ia hindari.

Aku tak sadar meremas gambar itu. Kertas crayon itu berkerut di tanganku, warna-warnanya meleber, wajah kami bertiga jadi buram. Lalu aku melemparkannya ke meja belajar Denis. Lemparan itu bukan amarah, tapi keputusasaan.

Denis pun menangis. Tangisnya pecah, keras, dan memilukan. Ia mempererat pelukan pada ayahnya, seolah hanya Dafa yang bisa melindunginya dari ibunya sendiri.

Dafa menatapku tajam. Tatapannya tidak marah, tapi kecewa. Kecewa yang lebih dalam dari amarah. "Pantas saja Denis tidak suka sama kamu. Begini kah cara kamu bertanya pada anak? Jangan salahkan imajinasi dia. Kamu harus introspeksi diri sebagai ibu. Kalau kamu baik, mana mungkin digambar seperti nenek sihir."

Kalimat itu menghantamku. Lebih keras daripada "dua ibu" yang diucapkan Denis tadi siang. Karena yang mengatakannya adalah orang yang kupercaya sepenuhnya.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
تعليقات (3)
goodnovel comment avatar
Syantik bingit
ceritanya bagus banget kok
goodnovel comment avatar
Baca Novel
thor ... semangat nulisnya ya
goodnovel comment avatar
Baca Novel
suka banget keren parah
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 48. Pelukan Rey

    Tujuh bulan telah berlalu sejak hari pertemuan arisan itu.Meski tak pernah ada pengakuan resmi yang diucapkan Keisha, aku tahu wanita itu sudah menerima kehadiranku sebagai bagian dari keluarganya. Bukti itu sederhana saja: kutipan di status WhatsApp-nya. "Belajar masak sama kakak ipar." Dua kalimat itu sudah cukup bagiku. Tak perlu pesta, tak perlu pengumuman di hadapan semua orang. Cukup begitu saja.Keluarga Rey pun telah resmi bertemu denganku empat bulan silam. Makan malam sederhana di rumah Bu Mira. Tak ada upacara lamaran adat yang meriah dan heboh. Hanya obrolan hangat antar orang dewasa di meja makan. Tanggal pernikahan pun telah ditetapkan — tiga bulan lagi dari sekarang, tepatnya hari Jumat yang dipilih langsung oleh Bu Mira. Katanya, hari itu membawa berkah.Dan kini, sembilan bulan telah berlalu sejak hari itu. Tiga bulan menuju hari pernikahan kami.Hari-hari berganti dengan tenang, seirama dengan rutinitas yang berulang namun menenangkan. Aku bangun pukul lima pagi, me

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 47. Sup Asin

    Ponselku bergetar tepat jam 9 pagi. Layarnya nyala. Nama "Ibu Mira" muncul."Assalamualaikum, Bu," sapaku, berusaha terdengar cerah padahal semalam kepalaku masih mumet mikirin kata "anak tetangga"."Waalaikumsalam, Nak Ririn. Lagi apa?" suara Bu Mira riang seperti biasa, seolah insiden kemarin nggak pernah ada."Baru beres nyuapin Denis Azka sarapan, Bu," jawabku sambil melirik dua bocah itu yang lagi rebutan mobil-mobilan di lantai."Nak, siang ini Ibu ada arisan ibu-ibu PKK di rumah. Datang ya, ajak Denis Azka. Biar rame. Rumah sepi kalau cuma Ibu sama Rey," ajak Bu Mira.Tanganku berhenti mengusap kepala Denis. Arisan PKK? Aku bukan warga sini. Statusku masih "calon" juga belum jelas."Bu, Ririn nggak enak... Ririn kan bukan warga sini. Nanti malah canggung," tolakku halus.Bu Mira tertawa kecil dari seberang. "Astagfirullah, Nak. Calon keluarga masa nggak boleh ikut arisan. Ibu yang ngundang, tanggung jawab Ibu. Lag

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 46. Iga Sapi

    Ponselku bergetar di tas aku mengambil ponsel dan nama "Mamahnya Rey" muncul di layar. Jantungku berdebar pelan. "Assalamualaikum, Bu," sapaku begitu kutekan tombol hijau."Waalaikumsalam, Nak Ririn. Lagi apa? Suaranya rame," suara Bu Mira hangat seperti biasa.Aku melirik keranjang belanja. Isinya sabun mandi dan pasta gigi anak-anak. "Lagi di supermarket, Bu. Denis sama Azka minta beli pasta gigi rasa stroberi."Bu Mira tertawa kecil dari seberang. "Anak-anak pinter. Eh Nak, main lagi ke rumah ya. Kali ini ajak Denis sama Azka, ya. Kita masak bareng-bareng lagi kayak minggu lalu."Aku tersenyum. "Iya, Bu. Ririn ajak Denis dan Azka. Mumpung mereka libur.""Alhamdulillah.""Oh iya Bu, mau sekalian Ririn belanjain bahan-bahannya? Biar Ibu nggak repot-repot keluar lagi," tawar Ririn."Apa, ya? Tunggu!" Suara Bu Mira melangkah, mungkin sedang mengecek kulkas.Lalu, terdengar Bu Mira berbicara pada seseora

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 45. Adik Ipar

    Bu Mira tersenyum padaku. "Ririn, main dulu ya sampai sore. Sore Keisha pulang, biar kalian kenalan."Aku mengangguk. "Iya, Bu. Denis sama Azka udah dijemput Om Alif ke rumah Kakek. Jadi saya santai."Aku duduk di meja makan depan, menikmati tiramisu buatan Bu Mira. Manisnya lumer, tapi obrolan dengan Bu Mira dan Rey lebih manis lagi. Kami ketawa soal Rey yang tadi pagi gagal motong wortel.Suasana hangat itu pecah saat suara ceria terdengar dari depan. "Assalamualaikum!"Keisha datang. Berlari kecil ke arah Rey, memeluk lengan abangnya. "Bang Rey! Kangen!" Tapi begitu matanya menangkap aku, langkahnya berhenti. Senyumnya luntur. Ia jadi dingin. Hanya mengangguk singkat. "Oh... ada tamu."Perubahan itu terlalu terasa. Dadaku langsung sesak. Insecure menyelinap tanpa izin. Bu Mira langsung berdiri. "Keisha, salim dulu sama calon kakak ipar kamu."Keisha menurut. Ia menjabat tanganku. Dingin. Kaku. Seperti forma

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 44 Rumah Rey

    Ibu Rey berdiri dari sofa. Langkahnya anggun meski usianya sudah tidak muda lagi. Beliau mengulurkan tangan, tersenyum hangat. "Salam kenal, Ririn. Aku Mira, ibunya Rey."Aku menyambut uluran tangannya. Jabatannya lembut, tapi terasa tulus. "Salam kenal juga, Bu Mira.""Rey sering cerita tentang kamu," kata Bu Mira, matanya berbinar. "Katanya kamu perempuan kuat, mandiri, masakannya enak."Aku tersipu. Wajahku panas. "Rey... suka melebih-lebihkan, Bu."Bu Mira tertawa kecil. Ia mempersilahkanku duduk, lalu membukakan toples kue di meja. Kue kering, brownies, dan tiramisu. Ia menyerahkan toples padaku. "Ini buatan Ibu sendiri. Coba, ya, Rin."Aku mengambil kue itu. "Terima kasih, Bu.""Di depan kamu ada tiramisu sama aneka pastry," lanjut Bu Mira. "Ini produk dari toko kecil Ibu yang berada dekat dari rumah ini. Kata Rey, kamu suka tiramisu. Jadi Ibu produksi lebih banyak. Biar kamu bisa makan kapan pun kamu mau."

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 43. Aku Milikmu

    Masih di restoran. Azka dan Denis makan dessert dengan serius. Sendok kecil mereka menyendok tiramisu lapis demi lapis, seakan sedang mengerjakan ujian. Aku hanya tersenyum melihatnya, lalu menyuap tiramisu di piringku pelan. Manisnya lumer di lidah, tapi pikiranku melayang pada kata-kata Rey barusan.Rey meletakkan sendoknya. Ia menatapku. "Ririn... aku mau perkenalkan kamu sama ibu aku."Tanganku berhenti di tengah jalan. Garpu yang menahan tiramisu bergetar kecil. Aku tertegun. Belum siap. Tapi aku tidak bicara. Hanya menunduk, menatap dessert yang mulai meleleh.Rey menyadari reaksiku. "Kenapa? Kamu seperti nggak suka?"Aku menggeleng pelan. "Belum siap, Rey. Terlalu cepat."Aku melamun. Bayangan lama datang tanpa izin. Bu Sinta. Ibu mertuaku dulu. Setiap kali aku masak, selalu ada komentarnya. "Sayurnya kurang asin." "Masakanmu hambar." "Ibu yang nggak becus." "Parenting anakmu aneh-aneh." Tidak ada yang benar di matanya. Bahkan hal kecil pun bisa jadi masalah besar.Rasanya ses

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status