Share

BAB 5 Malaikat Palsu

Author: Mira Restia
last update publish date: 2026-06-29 20:42:14

Aku duduk di sofa ruang tamu. Di genggamanku, ponsel terasa panas. Isinya deretan foto: Dafa, Denis, dan wanita itu. Bukti yang diam, tapi berteriak.

Aku menahan lidah. Tidak ada kata yang keluar dari bibirku. Topeng istri sabar masih melekat di wajahku.

Malam itu mereka pulang. Langkah Dafa berat menggendong Denis yang sudah tertidur pulas. Aku menyambut mereka dengan senyum yang sudah kulatih seharian.

Dafa membopong Denis sampai ke kamar, menurunkannya perlahan ke atas kasur, seperti seorang ayah teladan. Aku menghampirinya.

"Gimana, liburannya seru?" tanyaku, suaraku seringan mungkin.

Dafa mengusap tengkuknya, lalu tersenyum. "Seru banget, Rin. Denis senang. Katanya, nenek beliin banyak makanan sama sepatu baru."

Senyumku tipis. Retak.

Nenek? Aku tahu siapa yang sebenarnya membelikan sepatu itu. Wanita asing yang namanya belum berani aku sebut. Nenek tidak ikut. Hanya mereka bertiga. Keluarga kecil yang sempurna di mata orang.

Ironisnya, uang transferanku ke rekening mertua yang membiayai semua itu. Berlibur bersama selingkuhan dengan dana istri. Itu bukan hanya selingkuh. Itu penghinaan.

Aku hanya menonton. Mengetes seberapa dalam jurang kebohongan ini.

"Oh iya, Lisa gimana? Katanya suka makanan di sana?"

Dafa mengangguk cepat. "Suka banget. Dia sampai nambah tiga kali."

Aku mengangkat alis. Memberi kejutan kecil.

"Liburan di Jakarta, tapi status WA-nya di Bandung. Lisa memang kreatif, ya."

Darah di wajah Dafa langsung hilang. Keringat dingin muncul di pelipisnya.

"Eh... Lisa itu emang sering telat posting. Itu foto minggu lalu, baru di-upload sekarang," katanya tergesa, matanya membulat seolah baru ingat sesuatu. "Em, Rin, sejak kapan kamu simpan kontak Lisa?"

Aku menatapnya datar. "Wajar, kan, menyimpan kontak adik ipar sendiri? Emang ada yang aneh?"

Kalimat Dafa terpotong, nyaris menjadi pengakuan. "Gak aneh juga, sih, tapi kan Lisa udah blokir nomor kam..." Ia langsung menggigit bibirnya sendiri.

"Blokir nomor siapa, Mas?"

"Enggak!"

Belum selesai obrolan kami, Denis mengigau. Keningnya panas seperti bara. Aku berlari, memberinya minum dan obat penurun panas. Saat aku berbalik ke kotak obat, mataku menangkap Dafa. Jemarinya sibuk mengetik di ponsel. Mungkin melapor pada neneknya. Mungkin pada wanita itu.

"Kita bawa Denis ke RS aja, Mas!" usulku.

"Iya, akan aku bawa ke RS!" jawabnya cepat. Dafa memeluk Denis. "Sabar ya, Nak. Ayah akan bawa kamu ke rumah sakit."

Aku meraih tas. "Kalau gitu, aku ikut! Jangan lupa cek kartu berobat Denis ya, Mas."

Dafa menahanku. "Kamu nggak usah ikut, Rin! Tunggu di rumah aja."

"Nggak ikut? Kenapa? Aku kan ibunya?"

"Em... kamu istirahat aja di rumah. Biar aku yang jagain Denis di rumah sakit. Besok kita bisa gantian jaga. Kamu besok bisa full jaga Denis. Sekarang sama aku dulu aja, gimana?"

Aku mengangguk. Pura-pura patuh. Begitu suara mobilnya menjauh, aku menelepon Alif.

"Alif, jemput Kakak! Misi kedua dimulai."

"Waduh. Kak, gue baru nyampe kafe nih. Baru pesen kopi," ucapnya.

"Ya udah, Kakak pesan taksi _online_ aja kalau gitu!"

"Eh, jangan, Kak! Tunggu bentar, gue ke situ! Kalau Kakak pergi sendirian, nggak ada yang jagain Kakak, dong!"

"Ya udah, Kakak tunggu! Kakak tahu kamu sayang banget sama Kakak," kataku pelan.

Sepuluh menit kemudian, Alif sudah di depan rumah.

Di mobil, aku bersandar. "Denis sakit, Kakak mau jagain Denis di rumah sakit, tapi Dafa malah melarang. Katanya biar Kakak istirahat aja di rumah."

Alif mengerenyit. "Prett. Alasan macam apa itu? Kalau masalah istirahat, kan bisa di rumah sakit juga. Lagian, di dunia ini ibu mana yang tenang anaknya dirawat, terus bisa tidur nyenyak di rumah? Iya, nggak, Kak?"

"Kalau feeling Kakak, sekarang selingkuhan Dafa lagi nemenin Denis juga di ruang inap."

"Masa, sih?"

"Kita lihat aja nanti!"

Aku menelan ludah. Di lobi RS, aku bertanya ke petugas, mencari nomor kamar Denis. Dadaku berdebar seperti mau lepas. Alif menunggu di kantin lantai dasar.

Pintu kamar terbuka sedikit. Dari celah itu, aku melihatnya. Seorang wanita. Tangan kecilnya menggenggam jari Denis. Wajahnya khawatir. Penuh kasih sayang. Tatapan seorang ibu.

Aku mendorong pintu. Dafa langsung panik. Matanya liar mencari alasan.

Aku menjabat tangan wanita itu. Senyumku ramah. Tanganku gatal ingin mencekik. Dari atas sampai bawah aku perhatikan wajahnya. Cantik. Polos. Dan rahangnya... dagunya... terlebih matanya mirip Denis.

"Perkenalkan, saya ibunya Denis. Mbak siapa, ya? Kenapa akrab sekali dengan Denis?" Suaraku manis, tapi setiap kata seperti pisau.

Wanita itu tersenyum kikuk. Dafa buru-buru menyela.

"Ini Maya, Rin. Akan jadi guru les privat Denis nanti."

Aku mengangguk pelan. "Baru mau jadi guru les, sudah sedekat ini dengan calon murid? Luar biasa. Sosok keibuan Mbak Maya tingkat dewa."

"Rin, tolong jangan bikin ribut. Kasihan Denis lagi sakit," bisik Dafa, suaranya menekan.

"Bikin ribut? Aku cuma memuji Mbak Maya, kok, Daf," jawabku polos.

Maya ikut menunduk, suaranya lembut. "Maaf ya, Mbak Ririn, kalau saya bikin Mbak nggak nyaman."

Di meja ada mangkuk bubur dari RS. Setengah dimakan. Aku duduk, sengaja menyenggol bahu Maya agar ia bergeser. Aku menyuapi Denis. Ia menggeleng lemah.

"Bu Maya aja yang suapin, Bu," bisik Denis. Sopan. Tapi setiap suku kata menampar wajahku.

Dadaku sesak. Jadi ini "ibu yang lain" di gambarnya. Malaikat yang mengalahkan ibu kandungnya.

Dafa menarik lenganku. "Ririn! Kamu cepat berdiri dari situ! Denis mau disuapin Bu Maya! Kamu tadi dengar kan, Denis minta apa? Itu permintaan Denis sendiri, loh! Denis lagi sakit, tolong kamu ikuti aja maunya."

Aku menghela napas. Harga diriku diinjak, tapi aku mengangguk. Kupersilakan Maya. Kulihat Denis membuka mulut, menerima suapan itu.

"Ini, ya, sosok ibu di gambar kamu waktu itu, Den? Cantik seperti malaikat," sindirku lirih.

Dafa berbisik tajam. "Jangan menindas anak kecil. Pulang aja, Rin. Kamu ganggu istirahat Denis."

Aku menatapnya lurus. "Denis anakku, Daf. Dia butuh ibunya."

Lalu, aku berjongkok di depan Denis. "Denis, kamu mau ditemani sama Mamah, apa sama Bu Maya?"

Denis diam.

Aku menatap Maya. "Bu Maya pulang aja, ya! Malam-malam begini kasihan harus jagain keluarga orang lain."

Denis ragu. Matanya takut menatapku. Tapi akhirnya ia berbisik, suaranya hampir tidak terdengar.

"Mamah pulang aja, nggak apa-apa. Denis mau ditemani Bu Maya dulu."

Dunia berhenti. Dafa melihat raut wajahku, lalu tangannya mendorong bahuku pelan.

"Dengar kan, Rin, apa permintaan Denis. Kamu pulang aja. Lebih baik kamu introspeksi diri dulu. Sebagai ibu, kamu malah menakutkan buat Denis."

Aku tertawa dalam hati. Tawa yang pahit. Korban disuruh introspeksi.

Aku keluar dari ruangan itu. Koridor RS dingin. Langkahku gemetar. Di dalam hati aku menggerutu. Bisa-bisanya dia bilang begitu. Aku yang merawat Denis tanpa protes. Aku yang menahan amarah setiap kali dia bikin kesal, tapi aku selalu menyayangi Denis.

Selama ini aku selalu bersabar. Aku yang menahan mual tiap pagi demi Denis saat Denis bayi. Aku yang begadang saat demamnya tinggi. Aku yang memaafkan setiap gambar merak yang ia coret-coret di dinding. Tapi hari ini, pelukanku ditolak. Digantikan tangan orang lain.

Di ujung koridor, Alif sudah berdiri. Ia menyembunyikan gelas kopinya saat melihatku. Matanya langsung berubah. Dari iseng jadi cemas.

"Gimana, Kak?" tanyanya hati-hati, seperti takut memecahkan sesuatu.

"Denis dirawat. Dijaga Dafa... dan selingkuhannya," kataku, suaraku kosong.

Alif mengumpat pelan. "Gila si Dafa. Denis juga aneh, mau aja dirawat orang asing yang bukan ibunya. Gimana caranya, ya, Dafa bisa pengaruhi Denis, sampai-sampai Denis pilih orang lain daripada ibu kandungnya sendiri?"

Aku menatap uap kopi di gelas Alif. "Alif... wajah Maya 80 persen mirip Denis. Jangan-jangan dia ibu kandungnya."

Alif malah tertawa kecil, tidak percaya. "Kak, jelas-jelas Kakak yang melahirkan. Mana mungkin tiba-tiba jadi ganti ibu kayak gitu?"

Aku tidak menjawab. Tapi di kepalaku, keraguan itu tumbuh seperti akar. Menggali tanah, mencari kebenaran yang selama ini dikubur.

Kami berjalan ke mobil tanpa bicara. Pintu mobil menutup. Dunia luar teredam. Hanya ada aku, Alif, dan AC yang berembus dingin, berusaha mendinginkan dada yang terbakar.

Alif menyalakan mesin. Lampu RS di luar jendela berpendar, lalu perlahan menjauh. Semakin jauh. Seperti harapanku yang ikut ditinggal di ruang rawat itu.

Aku bersandar. Mata terpejam. Tapi bukan tidur yang datang. Yang datang adalah kenangan.

Enam tahun lalu. Ruangan bersalin yang putih, dingin, dan berbau antiseptik.

Pintu ingatan itu terbuka.

Sakitnya seperti tubuhku dibelah dari dalam. Aku berteriak, menggenggam sprei sampai benangnya putus. Pendarahan. Itu kata dokter saat itu. Darah mengalir deras, merenggut kesadaranku berulang kali.

Saat Denis lahir, aku bahkan tidak sempat mendengar tangisnya. Kelopak mataku terlalu berat. Yang terakhir kurasakan hanya tangan kasar perawat memindahkan sesuatu dari perutku. Lalu gelap.

Aku terbangun dua jam kemudian. Tubuhku lemah seperti kapas basah.

"Bayi saya mana, Bu?" tanyaku dengan suara serak pada Bu Sinta, mertuaku.

Ibu mertua duduk di sampingku. Wajahnya tenang, tapi matanya menghindar.

"Ada di ruang observasi, Rin. Bayinya ada masalah sedikit di pernapasan. Biar dirawat dulu, ya. Kamu jangan banyak gerak dulu. Takut baby blues."

Aku mengangguk. Percaya. Mertua mana yang mau menyakiti menantunya? Aku kira itu bentuk kasih sayang.

Dua minggu berlalu. Dua minggu aku hanya boleh melihat Denis lewat kaca NICU. Dua minggu aku memompa ASI, botol-botol kecil itu kutitipkan pada perawat. Tanganku rindu, tapi pelukanku ditahan.

Saat akhirnya mereka mengizinkanku menggendong, ada yang aneh. Bayi itu montok. Pipinya tembam. Tangannya berisi. Aku menatap kartu identitas di pergelangan tangannya: 3,0 kg. Tapi yang kurasakan jauh lebih berat. Lebih dari 3 kg. Lebih seperti bayi berusia sebulan.

"Gembul ya, Rin. Gen keluarga kita memang begitu," kata mertua, sambil mengambil Denis dari pelukanku terlalu cepat. Terlalu takut.

Aku tertawa kecil saat itu. "Iya, Bu. Anak kita kuat."

Aku tidak tahu, kalau tawa itu adalah tawa orang bodoh.

Mata terbuka. Mobil Alif sudah berhenti di depan rumah. Tapi aku belum beranjak. Jari-jariku mengepal di atas paha.

"Alif..." suaraku pelan, tapi tegas.

"Apa, Kak?"

"Menurutmu, apa mungkin bayi Kakak ditukar?"

"Masa iya, sih? Menukar bayi itu cuma ada di drama, kan? Emang bisa semudah itu, ya? Nukar-nukar anak orang?"

"Emang nggak semudah itu. Kalaupun itu terjadi, pasti rencananya udah matang."

Aku menatap lurus ke depan. Gerbang rumah Dafa menghitam seperti mulut raksasa.

"Kak akan tes DNA, Alif. Entah Denis ini anakku... atau anak dari kebohongan yang selama ini mereka rawat."

Alif terdiam. Untuk pertama kalinya, adikku yang tengil itu tidak punya jawaban.

Hanya aku, malam, dan keputusan yang akan mengguncang semua topeng di rumah ini.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Mira Restia
Iya ya emang gobllllllokmlka wkwkwkk wkwkwk wkwkw kwkw kwkw kwkw kwkwk wkwk wkwk
goodnovel comment avatar
Rania Humaira
tokoh ceritanya koq terlalu lemot dan g sabaran ya. klu g mampu memecah teka teki itu maka sewa detektif. percuma kaya klu goblok dan gampang dibodohi.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Anak Selingkuhan Suamiku   125. Rumah

    AzkaHari kelulusan tiba lebih cepat dari yang terasa. Lapangan sekolah dipenuhi toga hitam dan wajah-wajah yang campur haru dan lega, orang tua berjejer di tribun sambil mengangkat ponsel, mengabadikan momen yang mereka tunggu bertahun-tahun.Azka berdiri di barisan depan, mencari-cari wajah keluarganya di antara kerumunan penonton. Ia menemukan mereka dengan mudah—Ririn yang melambai antusias, Rey di sampingnya menggendong Aira yang ikut melambai meski tidak sepenuhnya paham apa yang sedang dirayakan, dan Denis yang berdiri beberapa langkah dari mereka, sudah lebih dulu lulus dan sengaja datang untuk menyaksikan momen adiknya.Ketika namanya dipanggil untuk maju ke panggung, Azka melangkah dengan mantap, mengambil ijazahnya, lalu menoleh ke arah keluarganya yang bersorak paling keras di antara penonton lain.Sepulang dari acara, mereka merayakan dengan makan malam sederhana di rumah, memesan lebih banyak lauk dari biasanya sebagai bentuk perayaan kecil, persis seperti kebiasaan mer

  • Anak Selingkuhan Suamiku   124. Menutup

    Beberapa minggu setelah pameran lukisannya berlangsung sukses, hidup Denis perlahan menemukan ritme barunya. Gosip di sekolah sudah jauh mereda, digantikan obrolan tentang tugas akhir, ujian, dan rencana kelulusan yang semakin dekat.Namun ada satu hal yang masih mengganjal di hatinya—kabar terakhir soal Maya, yang sejak malam ia pulang dari rumah itu, tidak pernah lagi ia dengar.Suatu sore, sepulang sekolah, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang sudah lama tidak pernah menghubunginya.*"Denis, ini Bu RT dari daerah rumah ibumu dulu. Ibu titip nomor kamu ke saya, jaga-jaga kalau ada apa-apa. Ibu kamu, Maya, kemarin dibawa ke rumah sakit. Katanya sudah lama sakit tapi nggak pernah periksa. Kalau kamu mau, mungkin bisa sekadar dijenguk."*Denis menatap pesan itu lama, dadanya terasa berat oleh perasaan yang campur aduk—bukan lagi kemarahan yang dulu selalu muncul setiap kali nama itu disebut, melainkan sesuatu yang lebih rumit, semacam iba yang enggan ia akui sepenuhny

  • Anak Selingkuhan Suamiku   123. Rencana ke Depan

    Minggu sore itu, rumah terasa lebih santai dari biasanya. Tidak ada gosip yang perlu dipikirkan, tidak ada urusan sekolah yang mendesak—hanya keluarga yang berkumpul di ruang tengah, menikmati waktu yang jarang bisa mereka nikmati bersama tanpa terburu-buru.Aira duduk di karpet, sibuk menyusun puzzle bergambar kebun binatang, sesekali berteriak kegirangan setiap berhasil menemukan potongan yang pas. Denis duduk di sofa, sketsa barunya tergeletak di pangkuan, meski ia lebih banyak memperhatikan Aira daripada menggambar.Sifa datang sore itu, membawa sekotak kue yang katanya baru dicoba resepnya oleh ibunya. Ia disambut hangat, sudah dianggap seperti bagian dari keluarga sejak lama."Sifa, sini duduk," kata Ririn, menggeser posisi duduknya di sofa. "Kebetulan lagi santai semua."Sifa duduk di samping Azka, menyerahkan kotak kue kepada Ririn. "Ini oleh-oleh dari Mama, Tante. Katanya buat dicicipin.""Wah, makasih banyak," jawab Ririn, tersenyum, membuka kotak itu dan langsung mencium ar

  • Anak Selingkuhan Suamiku   122. Sisi Lain Cerita

    Beberapa hari setelah masa skorsing berakhir, Denis akhirnya membalas pesan Rendy, memutuskan untuk bertemu di kantin sekolah yang sudah sepi sepulang jam pelajaran.Rendy datang dengan wajah lebih tenang dari terakhir kali mereka bertemu di jalan waktu itu—tidak ada lagi nada mengejek dalam suaranya, hanya kecanggungan yang wajar di antara dua orang yang baru saja berdamai."Makasih mau ketemu," kata Rendy, duduk di seberang Denis, tangannya memutar-mutar botol minum tanpa benar-benar meminumnya. "Aku... beneran minta maaf soal waktu itu. Aku lampiasin emosi ke orang yang salah."Denis mengangguk pelan. "Ceritain aja. Aku pengen ngerti kenapa waktu itu kamu sampe segitunya."Rendy menghela napas panjang, seperti sudah menyiapkan cerita ini sejak lama tapi baru sekarang berani mengucapkannya. "Bokap gue kerja bareng Maya beberapa bulan lalu, buka usaha kecil-kecilan jualan sembako online. Maya yang ngajak duluan, bilang dia punya modal dari 'anak yang udah sukses'—maksudnya kamu, tern

  • Anak Selingkuhan Suamiku   121. Konsekuensi

    DenisMalam itu, setelah beberapa hari menimbang, Denis akhirnya duduk bersama Ririn, Rey, dan Azka di ruang keluarga, menceritakan detail kejadian di jalan pulang—Leo yang mendorongnya, Rendy yang menendang, dan ucapan-ucapan yang mereka lontarkan soal Maya dan asal-usulnya.Ririn mendengarkan dengan rahang mengeras, matanya berkaca-kaca menahan campuran marah dan sedih. "Kenapa nggak langsung cerita waktu itu?""Aku capek, Ma," jawab Denis, jujur. "Aku pikir kalau aku diem, semuanya bakal reda sendiri.""Kekerasan nggak boleh dibiarin reda sendiri, Denis," kata Rey, tegas. "Besok kita ke sekolah. Ketemu wali kelas, kalau perlu kepala sekolah."Azka menggenggam tangan kakaknya. "Aku temenin, Kak. Kita hadapin bareng."Denis mengangguk pelan, meski masih ada rasa cemas yang mengganjal di dadanya.---Keesokan harinya, Rey dan Ririn datang ke sekolah, ditemani Denis yang duduk di antara mereka di ruang kepala sekolah. Wali kelas Leo, Damar, dan Rendy juga hadir, wajah mereka tegang se

  • Anak Selingkuhan Suamiku   120. Kata-kata yang Tersembunyi

    Pagi setelah malam yang panjang itu, Denis bangun lebih siang dari biasanya. Tubuhnya terasa lebih ringan, meski matanya masih sedikit bengkak sisa tangisan semalam.Ia turun ke ruang makan, mendapati Ririn sudah menyiapkan sarapan seperti biasa—nasi goreng dengan telur ceplok, menu yang sama sejak bertahun-tahun lalu, meski sekarang dengan tambahan sosis dan kerupuk sebagai pelengkap."Tidur nyenyak?" tanya Ririn, tersenyum lembut, meski matanya masih menyisakan sedikit kelelahan dari malam sebelumnya."Lumayan, Ma," jawab Denis, duduk di kursinya.Azka muncul tidak lama kemudian, disusul Rey yang sengaja mengambil cuti sehari untuk memastikan suasana rumah benar-benar tenang sebelum semua orang kembali ke rutinitas masing-masing.Sarapan berlangsung lebih tenang dari biasanya, meski ada kecanggungan kecil yang masih tersisa di udara."Kak," kata Azka akhirnya, memutuskan untuk langsung bertanya. "Kemarin, pas di rumah Ibu kandung Kakak... Kakak sempet nyebut soal Oma Siti. Katanya d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status