MasukJam tiga dini hari, layar HP-ku padam. Foto Azka yang meringkuk di kasur tipis panti itu menolak pergi dari kepalaku. Tubuhku rebah, tapi pikiranku terjaga. Hanya dua jam aku memejam. Itu pun gelisah.Pagi baru mau menyapa, gawai di meja bergetar. Nama Rey terpampang. “Foto prewedding sudah jadi, Rin. Undangannya akan disebar hari ini.” Suaranya tenang, datar seperti biasa. Tapi aku tahu, di ujung sana dia tersenyum.Aku menjawab dengan suara serak yang belum bangun sempurna. “Hm… iya.” “Kenapa suaramu begitu? Begadang semalaman?” Aku menarik selimut hingga ke dagu. “Tadi malam ada yang mengirim foto, Rey.” Hening sejenak di seberang sana. Lalu dia berkata pelan, “Jangan dipedulikan. Jika dia berbuat lebih dari itu, kita siap melapor.” “Rey…” bisikku, “jaga kesehatanmu. Sebentar lagi kita akan menikah. Aku tidak ingin kamu jatuh sakit karena terlalu banyak memikirkan kami.” Hanya “iya” lirih yang
Dua hari berlalu. Ponselku bergetar pelan. Pesan masuk dari Tania. “Rin, ini alamat Butik Salsa yang kemarin kita bahas. Sekalian datang ya buat cobain gaun pengantin, sekalian kita makan bareng. Anak-anak sudah aku suruh Alif jemput ke rumah Ayahmu, jadi kita bertiga saja sama Rey. Aku butuh waktu mengobrol bareng kamu." Aku sangat membutuhkannya. Butuh jeda sejenak. Butuh menarik napas panjang dari segala kekacauan yang ditimbulkan oleh Maya. Aku pun membalas: “Oke Sampai di sana jaml sebelas ya, Tan.” Di butik itu, aku mengenakan gaun Sage green yang lembut. Kainnya jatuh anggun membentuk siluet tubuh, model sederhana namun terlihat begitu elegan. Dari balik tirai penutup, suara Tania terdengar riang memuji. “Cantik banget kamu Rin! Rey pasti kelepek-klepek!” Belum selesai aku menata gaun itu, pintu butik terbuka. Rey datang membawa kantong belanjaan. “Cantik sekali kamu Rin.” "Makasih, Rey," jawabku. "habis dari
Denis, akhirnya anak itu mulai berani menceritakan apa yang terjadi. Aku bersiap mendengarkan nya. “Denis… Denis mau bercerita, Mamah. Tante Maya bilang…” Suara Denis pecah sebelum kalimatnya selesai. Dia menunduk dalam, bahu kecilnya bergetar hebat menahan tangis yang tak kunjung meluap. Ruangan seketika hening. Hanya terdengar detak jarum jam dinding yang berputar pelan. Aku duduk di tengah, Rey di sebelah kananku, sementara Azka memeluk lengan kakaknya erat dari samping. Kami menunggu. Tak ada yang mendesak, tak ada yang memaksa. Hanya memberi ruang agar keberaniannya tumbuh sedikit demi sedikit. Denis menarik napas panjang, seakan mengumpulkan seluruh kekuatan yang dia miliki. Saat mendongak, matanya sudah basah berkaca-kaca. “Tante Maya bilang… Denis bukan anak kandung Mamah. Bahwa Mamah lebih menyayangi Azka karena Azka lahir dari rahim Mamah sendiri.” Rasanya seakan ada pisau tajam yang ditarik perlahan melintasi dadaku. Saki
Dua hari telah berlalu sejak Denis bertanya pelan, “Mamah… kalau anak sudah tumbuh besar, apakah bisa diusir dari rumah?” Dua hari itu terasa seakan dua tahun lamanya. Denis masih tampak murung, masih banyak diam, dan sering terlihat melamun di meja makan seakan terpisah dari dunia di sekelilingnya. Pertanyaan itu sesekali kembali terngiang di telingaku, menusuk pelan namun terus-menerus bagai jarum yang tak pernah patah. “Aku tak bisa lagi berdiam diri,” ucapku lirih kepada diri sendiri pagi itu. Aku tak ingin menunggu hingga Denis bersedia bercerita atas kemauannya sendiri. Aku tak ingin membiarkan racun yang ditanamkan Maya semakin menyebar, semakin berakar kuat di hati kecilnya, hingga kelak tak sanggup lagi kucabut. Hari ini aku harus mencari jawabannya sendiri. Pukul delapan pagi aku sudah duduk di warung tak jauh dari gerbang sekolah. Sebuah laptop terbuka di meja, secangkir teh hangat dan sepotong roti bakar tersaji di
Tania mulai tertawa mendengar ceritaku. Tawa yang nyaring didengar olehku. "Dan gaun pengantinnya..." aku ikut tersenyum pahit sambil tertawa pelan. "Kusut dan berkerut seolah-olah baru saja dikeluarkan dari bagasi mobil yang terguncang jauh. Saat mengucapkan janji suci, aku hanya bisa menunduk. Menahan rasa malu yang tak terlukiskan. Tersenyum pun terasa berat, takut riasan tebal itu retak berjatuhan." Tania tertawa lepas namun penuh keprihatinan. "Ya ampun, Rin... sungguh berat jalan hidupmu dulu. Tapi biarlah berlalu ya. Sekarang pilihlah yang terbaik. Rey kan yang menanggung segala biaya, tak ada salahnya memilih yang terbaik dan termewah sekalian. Jangan sampai rugi untuk kedua kalinya!" Aku ikut tertawa. Tawa yang terasa melegakan hati. Untuk beberapa saat, aku seakan melupakan bayang-bayang Maya. Melupakan bisikan menyeramkan di gerbang sekolah. Melupakan tatapan mata Denis yang penuh keraguan. Namun begitu panggilan berakhir, senyum d
Pagi itu aku melangkah lebih cepat dari biasanya saat mengantar Denis dan Azka ke sekolah. Mataku tak sekalipun beralih dari gerbang sekolah. Menatap petugas keamanan yang berdiri tegak di sana. Mengamati setiap orang yang lalu-lalang di sekitarnya. Tak ada sosok Maya. Hanya wajah-wajah yang kukenal, anak-anak yang tertawa riang, dan pagi yang seharusnya terasa biasa saja. Namun sejak kejadian balon itu, tak ada lagi hal yang benar-benar terasa biasa bagiku. Di depan ruang kelas 2A, aku menahan lengan Bu Sari sejenak. "Bu, mohon maaf mengganggu. Tolong perhatikan Denis sebentar. Jika ia terlihat pendiam, murung, atau tiba-tiba bertanya hal-hal yang aneh... mohon segera menghubungi saya lewat pesan singkat. Nomor saya sudah Ibu simpan, bukan?" Bu Sari mengangguk lembut, tatapannya penuh pengertian. "Saya mengerti, Bu Ririn. Denis adalah anak yang baik. Kami akan menjaganya bersama-sama." Aku mengecup kening Denis dan Azka secara berga







