LOGINSaat hendak menghadiri kencan buta yang dipaksakan oleh Ibunya, tiba-tiba seorang anak kecil datang ke rumah Mikel dan memanggilnya Papa. Anak siapa ini? Sementara Mikel tidak tertarik dengan menikah maupun asmara, ia bersedia berkencan dengan Xia karena terpaksa. Suatu hal apakah yang membuat Mikel di masa depan bisa merubah mindsetnya sehingga Lennon ada di hidupnya?. Apakah benar Xia bisa membuatnya jatuh cinta?. Sedangkan mereka akan menghadapi berbagai kekacauan yang akan membuat bumi rusak.
View MoreLUNA POV:
The study smells of cigars and old leather. I stand in the center of the room, hands clasped in front of me, eyes fixed on the Persian rug beneath my feet. My father sits behind his massive mahogany desk, fingers steepled, watching me the way someone might appraise livestock. I don’t look up. I learned years ago that looking up is dangerous. The silence stretches. He’s good at that, using quiet as a weapon, letting it press down until the air feels too thick to breathe. Finally, he speaks. “Vincenzo Moretti has accepted my proposal.” My breath catches. My fingers tighten against each other until my knuckles go white. “You’ll be married within the month,” Father continues, his tone conversational. Like he’s discussing the weather. “The contracts are being finalized. The alliance will secure our family’s position for the next generation.” No. No, please. He stands and walks around the desk slowly, hands clasped behind his back. “You should be grateful, Luna. Moretti is one of the most powerful men in the region. Wealthy. Connected. He could have chosen any woman.” He stops in front of me. “But he chose you.” Vincenzo Moretti is sixty-two years old. I met him once. Saw the way his eyes crawled over me. The way his smile stretched too wide, too hungry. My hands start trembling. “Look at me.” I force my eyes up. Father’s expression is warm, affectionate. The mask he wears so perfectly. “I know you’re nervous,” he says gently, reaching out to cup my cheek. “But this is what’s best for you. For all of us.” His thumb strokes my skin. To anyone watching, it would look tender. Then his grip tightens. His fingers dig into my jaw, forcing my head up higher. “You will smile when you see him,” he says softly. “You will be grateful. You will be the perfect bride. Do you understand?” Tears burn behind my eyes. I try to nod, but his grip holds me still. “I can’t hear you, Luna.” The words are a knife twisting in my chest. He knows I can’t speak. He’s the reason I can’t speak. A tear slips free. His expression hardens. “Don’t you dare cry.” He releases my jaw with a sharp motion. I stumble back, catching myself before I fall. “You have everything,” he says, voice rising now. “Wealth. Beauty. Protection. And you stand here crying like some pathetic child.” He turns away, pacing to the window. “Your mother was weak too. Look where that got her.” The mention of my mother sends ice through my veins. He spins back, eyes blazing. “If you embarrass me in front of Moretti, if you show even a hint of resistance…” He crosses the space between us in two strides and grabs my arm. His fingers bruise. “I will lock you in the cellar until the wedding day. Do we understand each other?” I nod frantically, tears streaming down my face now. “Good.” He releases me and steps back, smoothing his jacket. Just like that, his expression shifts. Back to warmth, back to the loving father the world believes he is. “Now go clean yourself up. You look like a mess.” He smiles. “And remember, cara mia. I’m doing this because I love you.” I turn and run. I barely make it to the grand foyer before my legs give out. I press my back against the wall near the staircase, one hand clutching my chest as I try to force air into my lungs. My whole body shakes. My jaw aches where his fingers dug in. Married. Within the month. To Moretti. The thought makes bile rise in my throat. I close my eyes, fighting the panic clawing its way up. I need to breathe. Need to be still. But my hands won’t stop trembling. The sharp click of footsteps echoes across the marble floor. My eyes snap open. Dante Ferrara emerges from the hallway. Thirty-seven, lean, with dark eyes that never stop watching. He sees me immediately. His head tilts. A slow smile spreads across his face. Terror floods my veins. Cold and absolute. Not the calculated fear my father inspires. This is different. This is visceral. Dante terrifies me in a way nothing else does. He walks toward me. Slow. Deliberate. I press harder against the wall, trying to disappear into the stone. He stops close. Too close. I can smell his cologne. Metallic, expensive, suffocating. “Luna,” he murmurs, voice smooth and empty. “Trembling already? The Don just told you the good news, didn’t he?” I can’t move. Can’t breathe. He leans in slightly, his gaze crawling over my face, lingering on the tear tracks still wet on my cheeks. “You should be happy,” he says softly. “Moretti is… generous with his wives. Most of them, anyway.” His hand rises slowly. I flinch violently, shoulders hunching, preparing for impact. But he doesn’t touch me. His fingers curl near my temple, hovering beside the wall. “Still so obedient,” he whispers. “Like a frightened little doll.” His knuckle scrapes the plaster beside my ear. A deliberate sound that sends ice down my spine. “Don’t worry,” he continues, smile widening. “Even after the wedding, the family will keep watch over you. I’ll make sure of it. Personally.” The threat is unmistakable. My breath comes in shallow, silent gasps. Black spots dance at the edges of my vision. Dante finally lowers his hand, his gaze holding mine for one agonizing moment. “Run along now,” he says. “You wouldn’t want to keep your future husband waiting.” He steps back, giving me just enough space to move. I don’t walk. I run. I bolt up the staircase, legs shaking, heart hammering so hard I think it might burst through my ribs. I don’t stop until I reach my room, slamming the door behind me and locking it with trembling fingers. I press my back against the door and slide down to the floor, wrapping my arms around my knees. Silent sobs shake my body. Married. Moretti. Dante watching. There’s no escape. I sit there in the dark, trying to calm my breathing, trying to stop shaking. Then I feel it. That prickling sensation on the back of my neck. The weight of unseen eyes. I look up at the window. The curtains are drawn, but something happens. A shadow moves. Just a flicker. Quick enough that I almost miss it. My heart stops. I stare at the window, barely breathing. Nothing. Just darkness. But the feeling doesn’t go away. Someone is watching me. And somehow, I know this is only the beginning.Mikel tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya, Mikel segera menyusul Lennon setelah mendengar kabar dari Ecco.Mikel menyusuri lorong rumah sakit, banyak orang yang megepung jalannya. Matanya memerah karena takut Lennon akan dijadikan objek penelitian.“Minggir!”Mikel mendorong gerombolan pria berbaju medis, salah satu dari mereka menghubungi petugas keamaanan untuk meminta bantuan.“Biarkan aku melihat anak itu!”“Tidak bisa, kami harus mematuhi aturan. Anak itu bukan dari masa ini, bisa saja dia adalah mata-mata atau ancaman bagi kita, Mikel.”“Ancaman? Kau bilang anak kecil itu ancaman?”Mikel tidak bisa menahan diri untuk tidak menarik kerah pria paruh baya itu, menatap matanya dengan amarah yang sudah terkumpul sejak tadi. Akhir-akhir ini Mikel sudah berdamai dengan dirinya sendiri dan berusaha untuk menerima Lennon, meski Mikel juga tidak yakin Lennon akan bisa tinggal lam
Tahun 2275, selama sebulan penuh seluruh penduduk hidup dalam ketakutan, merka mulai kehabisan sumber makanan, kelaparan, tidak mendapatkan sinyar matahari membuat mereka semakin melemah. Pelindung mereka sudah mulai menipis. Alex terus menebar ancaman dengan mengitari seluruh penjuru tempat dan terkadang menubrukkan dirinya ke gedung-gedung.Seorang pria misterius menepuk pundak Mikel dan menjatuhkan surat yang sudah terlipat menjadi kecil. Mikel dibisiki untuk membukanya sendirian, jangan sampai ada orang yang tau.Mikel mencari salah satu ruangan kosong, ia sudah berusaha sekuat tenaga untuk membuat perisai perlindungan demi seluruh masyarakat tidak ketakutan dengan sumber daya yang ada. Sayangnya sebulan adalah waktu yang lama untuk terus menerus melakukan ini, tidak akan banyak membantu.Mikel mengeluarkan kertas putih dari sakunya, ia membukanya dengan penasaran.“Apa-apa’an ini?”Dalam surat tertulis bahwa dalam kurun waktu
Siang itu Xia memandangi makanannya dengan tatapan kosong, di kafetaria perusaha’an. Ia sedang memikirkan bagaimana dia harus bertemu dengan Mikel besok. Ayah dan ibunya merencanakan pernikahan keduanya, tetapi Xia tidak terlalu suka untuk menikah dalam waktu dekat. “Ayah mengancam.. mengancam tidak mau menjalani pengobatan. Aku harus apa Ted?” Ted memberikan sekotak jus apel untuk Xia minum, ia sudah mendengarkan keluhan yang sama sejak seminggu yang lalu. “Kalau tidak suka ya tidak usah datang, semudah itu Xia..” “Andai aku bisa kabur..” “Hei.., Mikel tampan dan jenius. Aku suka kalau dia jadi Presdir Grub Shin.. Xia! Kau harus menikah dengannya apapun caranya. Meski kau tidak menyukainya tetapi menikah dengan Mikel akan memberikan banyak keuntungan.” Xia merengut mendengarkan saran Ted, mereka sudah lama mengenal. Sejak 9 tahun yang lalu, Ted adalah salah satu orang kepercaya’an ayahnya dan sangat memprioritaskan perk
Tahun 2250, Mikel berusia 10 tahun. Ia baru saja merayakan ulangtahunnya yang kesepuluh beberapa saat lalu. Sebagai hadiah atas peristiwa bersejarah tersebut Presdir Chun ingin mengabulkan perminta’an Mikel apa saja. Mikel meminta piknik bersama Leon, itulah kenapa mereka sekarang dalam perjalanan menuju tempat perkemahan dengan akomodasi penginapan yang nyaman meski di pinggiran hutan, pemandangan danau yang indah dengan matahari terbit yang akan terlihat lebih jelas saat pagi, dekat dengan hutan untuk berburu rusa oleh para orang dewasa. Mereka bisa juga memancing karena ikan-ikan dilepaskan di danau untuk memuaskan hobi memancing para pengunjung. Sesampainya di penginapan, para orangtua sibuk membereskan barang bawa’an mereka di kamar. Mikel dan Leon berjalan-jalan di sekitar penginapan, kedua anak kecil tersebut berlari-lari dan bermain lempar tangkap bola. “Mikel! Tangkap ini!” Leon adalah tipe orang yang sangat ceria, punya kepribadian yang sangat berbeda dari
Mikel menyelesaikan urusannya di Lab 9, ia akan menemui Ted di Pusat Perusahaan Shin di lobi. Mikel melemparkan semua dokumen dan tas yang ia bawa ke kursi penumpang, ia terburu-buru tanpa melihat apa saja isinya. Mikel juga tadi menyuruh pegawainya meletakkan catatan tentang penelitian Sam di ma
Inna melompat-lompat di atas lantai marmer tanpa alas kaki, saking senangnya membuat cepolan rambutnya berantakan, semua gusinya terlihat ketika tersenyum, ia sontak takjub dengan cerita yang dipaparkan Xia tentang Mikel, padahal Inna kemari karena mengkhawatirkan kejadian di Kota Enic. Xia menja
Ecco berusaha menyelidiki kejadian di kota sebelah yang bwrnama kota Enic, selama seharian ini berita yang memenuhi media massa adalah tentang kecelaka'an beruntun di kota sebelah, membuat Ecco cemas. Semua alat penunjuk waktu berhenti, mesin-mesin dan AI di kota tersebut mati. Kota Enic adalah s
Mikel mendongak menatap langit yang gelap gulita, ia mengernyitkan hidung karena bau amis anyir darah. Terjadi kecelaka'an beruntun, banyak orang terluka. Tim medis sudah mengevakuasi semuanya, jalanan sedang dibersihkan dengan mobil-mobil bermesin lama. Mikel mengernyitkan dahinya dengan bingung






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews