Share

Bab 3

Author: Stroberi
Martin sedikit memalingkan tubuhnya. Setelah melihat isi pesan di ponselnya, kilatan kegembiraan langsung melintas di wajahnya.

Bella menatap pesan di layar ponselnya dengan ekspresi tenang.

Pesan itu berasal dari Raisa.

[Kak, Kak Martin sudah menemanimu cukup lama. Sekarang giliranku mengambilnya kembali.]

Bahkan tanpa melihat langsung, Bella sudah bisa membayangkan wajah penuh kemenangan Raisa di balik layar.

Dia tidak membalas dan langsung mematikan layar ponselnya.

Saat kembali mengangkat kepala, pandangannya bertemu dengan Martin. Pria itu menunjukkan ekspresi penuh rasa bersalah.

"Bella, kebetulan sekali ada rapat mendadak di perusahaan. Aku harus pergi sekarang. Setelah rapat selesai, aku langsung pulang, oke?"

Meski terdengar seperti pertanyaan, nadanya jelas tidak memberi ruang untuk penolakan.

Bella tersenyum mengejek diri sendiri. Dia pun menatap mata Martin dengan serius. "Harus pergi?"

Martin terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk kuat. "Ya, aku harus pergi."

"Oke."

Melihat Bella menyetujuinya begitu mudah, Martin justru tampak tidak terbiasa.

Dia seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi pada akhirnya hanya mengambil jasnya lalu pergi meninggalkan rumah.

Rumah yang luas itu kembali menyisakan Bella seorang diri. Dia teringat kalung berlian merah muda yang tadi disebut Martin.

Bella memang sudah lama menyukai kalung itu. Lebih baik dia membelinya sendiri sekarang.

Setelah bersiap, Bella keluar rumah. Namun, baru saja memasuki pusat perbelanjaan, dia melihat dua sosok yang sangat dikenalnya.

Raisa dan Martin.

Di tangan Raisa, tergenggam kalung berlian merah muda yang telah lama diincar Bella.

Bella segera melangkah mendekat lalu berkata kepada pegawai toko, "Kalau aku nggak salah ingat, kalung ini stok terakhir dari seri ini. Aku sudah memesannya sejak setengah tahun lalu."

Tatapan petugas itu bergerak perlahan dan penuh kehati-hatian di antara ketiga orang tersebut. Jelas sekali dia kebingungan memahami hubungan di antara mereka.

Baru setengah tahun berlalu, tetapi wanita di sisi Tuan Martin sudah berganti orang.

Martin tidak menyangka Bella ternyata tidak menunggunya di rumah.

Dia terbata-bata menjelaskan, "Aku datang untuk memilih hadiah buat klien. Kebetulan ketemu Raisa, jadi ...."

Bella mengabaikan penjelasannya dan langsung berkata pada pegawai toko, "Tolong bungkus kalung itu untukku."

Pegawai toko tampak serba salah. "Nona Bella, saat itu kalung ini dipesan atas nama Tuan Martin, jadi ...."

Sebelum Bella sempat berbicara, Raisa sudah meletakkan kalung itu kembali ke atas baki dengan mata memerah.

"Ini memang barang milik Kakak. Aku seharusnya nggak ikut menginginkannya. Aku memang nggak tahu diri. Selama dua puluh tahun pergi dari rumah, aku belum pernah melihat barang sebagus ini. Makanya begitu melihat kalung ini, aku langsung menyukainya sampai membuat Kak Martin kesulitan."

Benar saja, ucapan itu langsung membuat Martin luluh.

Tatapannya kepada Bella pun dipenuhi sedikit ketidakpuasan.

"Bella, kau kakaknya. Mengalah pada adik sendiri memangnya salah? Selama ini kau selalu mendapatkan apa pun yang kau mau. Untuk apa berebut satu kalung dengan dia?"

"Dia sudah cukup menderita. Cobalah lebih mengerti."

Setelah mengatakan itu, Martin langsung berkata kepada pegawai toko, "Bungkus saja."

Usai membayar, Raisa terus menatap kalung itu tanpa bisa mengalihkan pandangan.

Dengan suara manis, dia berkata pada Martin, "Terima kasih, Kak Martin. Bisa tolong pakaikan untukku?"

"Tentu."

Martin dengan lembut menyingkirkan rambut di sisi telinga Raisa, lalu memasangkan kalung bernilai miliaran itu ke lehernya.

Raisa mengangkat alis sambil memperlihatkan senyum meremehkan ke arah Bella.

Bella berbalik hendak pergi, tetapi suara Raisa yang terdengar penuh kepura-puraan kembali menghentikannya.

"Kak, mau ke mana? Apa Kakak marah sama aku?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 27

    Saat Martin kembali sadar, dia tidak melihat Bella di sisinya.Dia tertawa getir. "Sepertinya, dia memang sangat membenciku."Namun, di detik berikutnya, Bella masuk ke ruang rawat sambil membawa kotak bekal makanan. Saat melihat Martin sudah bangun, dia tampak sedikit terkejut."Cepat sekali sadarnya? Makanlah dulu.""Aku kira, kau sudah lama pergi ...."Bella tersenyum tipis. "Bagaimanapun juga, kau terluka karena menyelamatkanku. Sebelum kau sadar, aku memang nggak bakal pergi."Setelah mengatakan itu, nada bicara Bella berubah. "Tapi jangan salah paham. Aku nggak bakal merasa berutang budi karenanya. Semua musibah ini juga bermula darimu."Martin menundukkan kepala. Dia tahu semua ini memang terjadi karena dirinya.Beberapa saat kemudian, dia baru bertanya dengan suara pelan, "Bella, apa benar kita sudah nggak mungkin kembali seperti dulu? Apa pun yang kulakukan, sekeras apa pun aku meminta maaf dan mencoba memperbaiki semuanya, aku tetap nggak bisa mendapatkanmu kembali?"Bella me

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 26

    Bella berbalik ingin pergi, tetapi Martin kembali menghalangi jalannya."Bella, sekarang aku mengerti. Kau marah karena aku terlalu baik pada Raisa, 'kan? Aku akui, memang aku gagal menjaga batasan. Tolong maafkan aku sekali ini, ya? Aku bersumpah kejadian seperti itu nggak bakal terulang lagi."Melihat Bella tetap diam, Martin kembali memohon dengan suara rendah, "Bella, maafkan aku, ya?""Nggak."Martin bahkan belum sempat merasa kecewa ketika suara Raisa tiba-tiba terdengar."Martin, jadi benar kau datang menemui Bella! Semua yang kau katakan kemarin itu cuma bohong?"Martin langsung menoleh tajam. Suaranya sedingin es. "Raisa, kau mengikutiku?"Raisa tidak menjawab pertanyaannya dan terus berbicara sendiri, "Kemarin kau jelas-jelas bilang sudah melupakan Bella! Kau bilang bakal hidup baik-baik denganku, bahkan mengajakku pergi ke luar negeri buat menenangkan diri. Jadi sekarang kenapa kau malah datang mencari Bella?""Kenapa kau selalu begini? Saat bersama Bella, kau memikirkanku.

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 25

    "Ini apa?""Aku memintamu datang ke sini buat menunjukkan ini. Aku mau mengajakmu pergi ke luar negeri buat menenangkan diri, jadi perlu menandatangani dokumen asuransi."Raisa langsung berseri-seri. "Benarkah? Oke! Aku tanda tangan sekarang juga!"Setelah menandatangani halaman pertama, Martin membalik beberapa lembar berikutnya. "Yang di sini juga perlu ditandatangani."Tatapan Raisa dipenuhi keraguan. "Kenapa asuransi harus tanda tangan sebanyak ini?"Saat dia hendak membacanya dengan teliti, Martin langsung menghentikannya."Raisa, apa kau nggak percaya padaku?"Sejak Bella menikah ke Keluarga Daryata, Martin memang jarang memanggilnya dengan lembut. Kalau bukan karena sedang melamun dan tidak fokus, dia biasanya memanggilnya dengan dingin.Martin yang memanggil dengan lembut kembali membuatnya menurunkan kewaspadaan.Raisa menghentikan tangannya yang hendak membuka dokumen itu. "Mana mungkin? Orang yang paling kupercaya adalah kau."Martin tersenyum puas. Setelah Raisa selesai men

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 24

    Saat Martin sempoyongan kembali ke hotel, hari sudah hampir memasuki dini hari.Hawa dingin di dalam kamar terus mengingatkannya bahwa Bella sudah tidak ada lagi di sana.Dia terduduk lesu bersandar di sisi ranjang, menggenggam setengah botol alkohol yang belum habis. "Katanya alkohol itu yang barang bagus, bisa membuat orang melupakan semua kesedihan. Jangan sampai mengecewakanku."Setelah mengatakannya, Martin langsung menenggak sisa minuman itu hingga tandas.Seketika kepalanya terasa nyeri hebat, sedangkan sensasi terbakar di lambung membuat keringat dingin mulai mengalir.Dia mengeluarkan ponselnya dan berulang kali mengusap foto Bella di layar. "Bella, aku sangat merindukanmu ...."Tiba-tiba bel pintu berbunyi. Efek mabuk Martin langsung hilang setengahnya.Dengan suara lirih dia bergumam, "Bella, pasti Bella yang datang mencariku.""Dia masih seperti dulu, pintar dan cerdas. Bahkan tanpa kuberi tahu alamatnya, dia tetap bisa menemukan aku ...."Namun, begitu kata-kata itu keluar

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 23

    Suasana di sekitar seketika kembali tenang seperti semula. Kini hanya Raisa dan Martin yang saling berpandangan.Martin berdiri sempoyongan lalu melangkah pergi ke kejauhan. Raisa buru-buru meraih tangannya. "Kak Martin, kau mau ke mana?"Martin menepis tangannya, tetapi Raisa dengan keras kepala kembali mendekat. "Kak Martin, ke mana pun kau pergi, aku bakal ikut.""Pergi!"Tenaga Martin terlalu kuat. Raisa terdorong jatuh ke pasir. Kerikil tajam dan butiran pasir menggores tangannya hingga berdarah tanpa henti, tetapi Martin seolah tidak melihat apa pun dan terus pergi tanpa menoleh.Raisa pun ditinggalkan sendirian sambil menangis tersedu-sedu.Tanpa sadar, Martin berjalan hingga tiba di sebuah bar.Dia memesan beberapa gelas minuman keras, lalu meneguknya sekaligus. Sang bartender tampak khawatir dan dengan niat baik mengingatkannya, "Tuan, minuman yang Anda pesan kadar alkoholnya sangat tinggi. Kalau diminum seperti itu, nggak baik buat kesehatan.""Atau saya ganti dengan yang kad

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 22

    "Theo, memanfaatkan keadaan seperti ini sama sekali nggak terhormat. Aku sama Bella kekasih sejak kecil. Dengan hak apa kau muncul di tengah-tengah kami saat seperti ini?"Belum sempat Theo berbicara, Bella sudah berdiri di depannya. Nada suaranya pun sama sekali tidak menyisakan belas kasihan."Aku sudah menikah dengan Theo. Hubungan kita sejak lama juga sudah berakhir. Jadi, tolong berhenti menggangguku lagi!"Ini pertama kalinya Martin melihat Bella bersikap sekasar itu. Dan semua itu demi pria lain.Air mata tiba-tiba jatuh dari mata Martin tanpa peringatan. "Bella, kau benar-benar nggak menginginkanku lagi?""Kita sudah menjadi kekasih masa kecil lebih dari dua puluh tahun. Bagaimana kau tega meninggalkanku seperti ini?""Aku nggak percaya, aku nggak percaya kau sudah nggak mencintaiku. Kau pasti masih marah, 'kan? Aku bakal menunggumu. Aku bakal menunggu sampai emosimu reda, lalu kita bicara baik-baik.""Atau, apa yang harus kulakukan supaya kau mau memaafkanku?"Martin terus ber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status