LOGIN“Semua hasilnya sudah oke, sudah bisa dikatakan berhasil. Tapi Pak Calvin tetap harus check-up rutin.” Ucap Victor pada Calvin yang mewakili Vino yang sedang cuti.“Baik, dok. Terima kasih.” Ucap Calvin tersenyum bahagia.“Kalau begitu saya permisi dulu. Sus, nanti hasil pemeriksaannya dikirim ke dokter Vino juga ya biar beliau tau perkembangan Pak Calvin.” Ucap Victor menatap Anna.“Baik, dok.” Ucap Anna dan kemudian memandang punggung Victor yang berlalu meninggalkannya dengan tatapan sendu. Sekilas Calvin dapat menangkap pancaran mata tersebut.“Pfiuuuhh...” Calvin bernafas lega. “Akhirnya berhasil juga setelah penantian panjang.” Ucap pria itu ketika Victor telah pergi.Anna tersenyum, “Tidak ada penantian yang sia-sia kan?”Calvin terkekeh, “Sepertinya kamu bahagia sekali setelah mendapatkan pacar impian.” Goda Calvin. “Yang tadi itu kan pacar kamu?”Anna mengangguk dan tersenyum merona, “Iya.”“Enak dong kerja bareng.”Anna menghela nafas, “Ya.. hanya saja tetap harus profession
“Kak.. Aku..”Victor tersenyum, “Jika kamu belum bisa memberikan jawaban sekarang, aku akan menunggu sampai besok pagi.”“Besok pagi?”Victor mengangguk, “Kamu tau kan aku bukan orang yang suka menunggu lama.” Ucapnya sambil mengenggam tangan Anna.Harusnya hari ini adalah hari paling bahagia dalam hidup Anna. Pria yang telah dipujanya selama bertahun-tahun akhirnya menyatakan cinta padanya, bahkan dengan cara yang sangat romantis. Tapi entah mengapa seperti ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Namun Anna berpikir kesempatan belum tentu datang dua kali, dan mungkin ini adalah jawaban Tuhan atas doa-doanya yang tidak pernah berhenti mengalir.“Aku mau, Kak.” Ucap Anna cepat.“Yes! Terima kasih, Anna. Boleh aku menciummu?”“Tapi Kak, ini tempat umum.” Cicit Anna sambil menoleh ke sekelilingnya, malu ucapan Victor terdengar para waitress.Victor terkekeh, “Baiklah, Sayang.”Jantung Anna terasa mencelos, baru pertama kali Victor memanggilnya dengan sebutan sayang dan itu membuat wajah
“Bagaimana kabar si dokter?” tanya Calvin ketika sedang diperiksa oleh Anna.Anna menghela nafas kasar, “Dia sudah putus dengan dokter koas.” Ucapnya sambil memakaikan manset di lengan Calvin.“Bagus dong, berarti kamu ada kesempatan.”“Dia nggak tertarik sama saya.”“Dari mana kamu tau?” Calvin mengernyitkan dahinya.Anna menggidikkan bahunya, “Aku dengar sendiri kalau dia bilang saya kurang cantik dan seksi.”Sebelah alis Calvin terangkat lalu dia tersenyum sambil menggeleng seakan tidak percaya apa yang baru saja didengarnya.“Kenapa Pak Calvin tersenyum? Apa iya semua cowok melihat cewek dari fisiknya?”“Cantik itu relatif. Tapi memang tidak dapat dipungkiri bahwa cowok sebagai makhluk logis selalu menilai wanita pertama kali dari fisik. Fisik membuat mereka tertarik, tapi kemudian apakah si pria jatuh cinta karena fisik semata, itu belum tentu. Karena banyak hal lain yang bisa membuat seseorang jatuh cinta.”“Contohnya?”Calvin nampak berpikir, “Bisa karena karakter, karena kenya
“Liv?” Calvin tertegun ketika membuka pintu dan ada gadis cantik bertopi yang berdiri di sana.Olivia tersenyum, “Hari ini jadwal periksa dokter kan?”Calvin mengangguk, “Ya. Kamu nggak kuliah?”“Hari ini dosennya nggak masuk, jadi aku punya waktu free buat temani kamu ke rumah sakit.”Calvin tersenyum, “Kamu nggak perlu melakukan itu, Liv. Lagian jarak dari kampus kamu ke sini kan lumayan jauh. Kamu naik apa? Mobil kamu kan masuk bengkel.”“Aku naik ojok online.” Ucap Olivia menyengir menampilkan barisan gigi putihnya.“Astaga, Liv. Harusnya kamu telpon aku. Aku bisa jemput kamu di kampus.”“Ck.. kamu belum boleh nyetir! Hmm aku boleh masuk nggak? Boleh minta air minum? Gerah banget.”“Eh astaga, masuk.. masuk. Aku ambilin air dulu.” Ucap Calvin mempersilahkan Olivia masuk ke dalam rumah.“Nggak usah, Vin. Aku bisa ambil sendiri.” Olivia berjalan ke arah pantry dan membuka kulkas mengambil sebotol air dingin kemudian menuangkannya ke dalam gelas. “Aaahh segar banget.” Ucap gadis itu
Anna bersiap untuk keluar, setengah jam lalu baru saja Victor menghubunginya untuk mengajaknya makan malam bersama. Bagi Anna ini adalah perkembangan pesat, dia jadi semakin dekat dengan Victor dan pria itu memperlakukannya dengan sangat baik, tidak lagi jutek seperti sebelumnya. Dan tentu saja itu membuat hati Anna berbunga-bunga bagai kembang di taman yang indah.Vino yang sedang bermain catur bersama ayah Anna terlihat mengkerutkan keningnya ketika gadis itu melewati mereka dan berdandan cantik.“Mau ke mana, Na?” tanya ayah Anna melirik sekilas lalu kembali fokus pada papan catur di hadapannya.“Mau keluar Pa, diajak makan malam sama teman.”Vino mengernyitkan dahinya, “Victor?”Anna menjulurkan lidahnya, “Mau tau aja. Pa, Ma, Anna pergi dulu ya. Bye.”“Kamu kenapa, Vin? Muka kamu kayak cemberut begitu.” Ucap ayah Anna.“Ah engga Om, ini kayaknya Vino bakal kalah lagi deh,” ucap Vino setengah berbohong. Sebenarnya dia tidak terlalu suka jika Anna dekat dengan Victor karena dia tau
“Hei, jangan ngomong seperti itu Kak. Kak Victor itu tampan, pintar, baik, dokter hebat. Kak Victor itu cowok sempurna menurutku. Jangan hanya karena satu penolakan membuat Kak Victor memandang rendah diri sendiri. Setiap orang itu berharga, hanya kadang tidak semua orang bisa menghargainya. Itu artinya bukan di sana tempat kita.”"Aku sedih Na, aku cinta banget sama dia.""Kak, ada yang pernah bilang sama aku, not every loss is a loss, some are lessons. Sometimes, losing people is part of finding yourself. Aku yakin Kak Victor pasti mendapatkan yang lebih baik."Victor tersenyum menatap Anna kemudian menggenggam tangan gadis itu, “Kamu itu paling ngerti aku, Na. Selalu bisa memperbaiki moodku.”Anna tersenyum, wajahnya merona, dalam hati ingin rasanya berjoget ria.Victor kembali menghembuskan nafas kasar, “Andai saja Sherly bisa seperti kamu, Na. Aku pasti jadi cowok paling bahagia di dunia.”Anna tertawa sinis, dalam hati ingin rasanya menangis.“Jangan sedih terus. What is yours







