MasukVelia benar-benar mengira rencananya akan berjalan sempurna. Saat Leo tidur, Velia akan merangsangnya, membuatnya bangun, dan setelah itu, Velia akan dengan mudah menyatukan dirinya dengan Leo. Namun, di luar dugaan, Leo malah bangun dan membuat Velia merasa seperti maling yang ketahuan saat ini. Bahkan Velia masih dalam pose memanjat tubuh pria itu, belum sepenuhnya duduk di atasnya. Pose yang sangat aneh dan membuatnya malu. Apalagi saat Leo mendadak bangkit berdiri dan membuat Velia terjungkal kembali ke ranjang. Velia terjungkal dengan gaya yang tidak indah. Ia sudah telanjang bulat dan kakinya terbuka. Sudah pasti miliknya di bawah sana terlihat jelas, itu pun kalau Leo melihatnya. Namun, sialnya, Leo tidak melihat apa pun karena ia sudah terlalu sibuk meraih handuknya dan melilitnya lagi ke pinggangnya. Leo pun langsung menatap Velia dengan tatapan penuh amarah. "Aku tanya sekali lagi apa yang kau lakukan di ranjangku, Velia?" bentak Leo sambil melotot marah. Leo juga tida
Leo masih melangkah gontai ke arah ranjangnya. Pandangannya masih blur, bahkan lampu terasa menyilaukan baginya sampai matanya sakit. Sambil tetap melangkah gontai, Leo mencari saklar lampu dan berhasil mematikan sebagian besar lampu di kamar itu, hanya tersisa cahaya remang-remang dari lampu meja dan lampu kamar mandi. Leo terus menggelengkan kepalanya, tubuhnya sudah setengah lemas tapi masih menggigil kedinginan. Ia pun melangkah lebih cepat, lalu membaringkan dirinya sendiri dengan kasar di sisi ranjang. "Sial! Sial!" Hanya itu yang bisa Leo ucapkan di saat rasa di tubuhnya masih tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Matanya mulai terpejam dan tubuhnya mulai melemah, tapi satu orang yang masih ia ingat. "Elisa ...," lirih Leo, sebelum ia menutup matanya, terhanyut dalam tidur lelap mendadak. Leo pun sama sekali tidak sadar kalau saat ini pintu kamarnya sudah dibuka. Velia yang membuka kamar begitu kaget melihat kondisi kamar yang gelap, hanya ada cahaya remang-remang. Mat
Leo terus menggeram begitu ia masuk ke kamarnya. Ia langsung membuka baju dan celananya, tidak peduli pada apa pun dan memilih masuk kamar mandi untuk meredakan rasa panas di tubuhnya. Leo menyalakan shower dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin "Sial! Siapa yang berani melakukan ini padaku? Ah, Elisa ... andaikan kau ada di sini, Sayang ...." Bahkan dalam pengaruh obat dalam dirinya, Leo masih memikirkan istrinya, satu-satunya obat penawarnya.Leo terus membiarkan shower mengguyur dirinya, berusaha tetap sadar agar ia tidak keluar dan mencari pelampiasan di luar. Sungguh, Leo adalah pria normal yang saat berada di bawah pengaruh obat saat ini, Leo cukup menggila. Otaknya sudah dipenuhi hasrat yang harus dilampiaskan saat ini. Namun, pantang baginya untuk menyentuh wanita lain. "Sadar, Leo! Kau harus tetap sadar! Ah, sial!!!" Leo sampai duduk di ruangan shower dan terus menyalakan airnya. Sensasi di tubuhnya mulai menjadi-jadi sampai membuat bagian sensitifnya nyeri. Namun, ta
Bahkan dari kejauhan, Velia bisa melihat bagaimana jakun itu bergerak saat Leo menelan minumannya. Senyuman Velia terbit. "Dia meminumnya! Dia sudah meminumnya!" Velia pun buru-buru mencari pelayan pria yang tadi membantunya. Mendadak ia butuh bantuan untuk membawa Leo ke kamar. Untungnya, Velia menemukan pria itu dengan cepat. "Hei, kau!" "Ah, iya, ada yang aku bantu lagi, Bu?" "Kemari!" Lagi-lagi Velia membawa pria muda itu sedikit menjauh dan memberinya uang lagi. "Kali ini tugasmu adalah membawa Pak Leo pergi dari sana, kau tahu Pak Leo sudah mabuk kan? Bantu dia dan arahkan dia untuk istirahat di kamar saja!" "Di kamarnya sendiri maksudnya?" "Tentu saja di kamarnya sendiri. Kamar 808, itu kamarnya. Pastikan dia masuk, tapi jangan tutup rapat pintunya, tunggu aku datang. Kau mengerti?""Ah, baik, Bu!" Sang pelayan bernama Heri itu pun pergi dan stand by di dekat Leo kalau Leo butuh bantuan. Awalnya Leo masih merasa baik-baik saja dan masih mengobrol dengan makin banyak or
Velia melangkah dengan penuh percaya diri masuk ke dalam ballroom hotel. Rosie dan Terry mengikutinya dengan sama percaya dirinya sampai banyak pasang mata yang mulai menatap. Velia sendiri memang sangat seksi dan menawan. Dadanya pun membusung dengan seksi dan tentu saja siapa pun yang melihatnya akan berhenti sejenak untuk kembali menoleh, kecuali Leo. Saking bersinarnya Leo di antara begitu banyak orang, Velia langsung bisa melihat Leo saat ia masuk ke ballroom itu. Pria itu sedang berdiri di sudut sana bersama pemilik acara. Leo memakai jas hitam formal dan sedang tersenyum begitu tampan, hingga membuat debar jantung Velia memacu kencang. "Apa dia sudah datang? Kau sudah menemukannya?" bisik Rosie yang berdiri di samping Velia. Velia langsung tersenyum dan mengangguk. "Tentu saja! Paling glowing di antara yang lain." "Oh, aku makin penasaran, Velia! Di sini begitu banyak pria tampan, kira-kira pria mana yang kau maksud itu?" seru Terry gemas. "Eh, tapi kalian lihat di sana?"
Malam itu, Alden terus menangis, padahal tubuhnya tidak demam. Elisa yang tadinya masih di kantor sampai buru-buru pulang sejak sore karena Alden rewel. "Ada apa, Anak Mama Sayang? Kau kenapa, Sayang?" "Bibik sudah membalurkan bawang merah, biasa di kampung bawang merah ampuh untuk mengusir yang tidak benar." "Tidak ada yang seperti itu, Bik! Ini sudah jaman modern!" seru Gary yang ikut cemas mendengar Alden menangis. "Atau mungkin dia rindu Papanya? Apa perlu kutelepon Bos?" "Jangan, Gary! Malam ini dia ke pesta dan ada banyak orang penting di sana, dia pasti sedang sangat sibuk. Apalagi dia sudah membuat janji dengan seorang pengusaha untuk bertemu di sana." "Tapi bagaimana dengan Alden?" "Biarkan saja, tidak apa. Ada aku dan yang lain di sini." Gary akhirnya mengangguk. Ia sendiri sebenarnya sedang sangat sibuk di kantor karena Leo pergi, tapi begitu mengetahui dari Bik Imah kalau Alden rewel, Gary pun segera pulang untuk melihat keponakan tersayangnya itu. Elisa sendiri te
"Apa yang kau lakukan di sini, Leo?" Elisa menarik tangannya kembali dan ia langsung melotot marah. Jantungnya memacu kencang dan ia tidak menyangka ada orang yang memergokinya seperti ini. Leo sendiri terdiam sejenak tidak bisa berkata-kata. Ia bukan pria polos yang tidak tahu apa yang Elisa lak
Elisa membeku saat merasakan pelukan yang menahannya. Buru-buru ia mendongak dan jantungnya makin bergemuruh melihat siapa pria itu. Itu Leo. Pria itu berdiri sangat dekat dengannya, satu tangan masih melingkar di pinggangnya agar ia tidak terjatuh.Kemarin mungkin Elisa tidak merasakan apa-apa s
Leo bahkan tidak memberi Elisa waktu untuk bersiap ketika bibir pria itu tiba-tiba menyentuh bibirnya.Bukan hanya menempel, tapi pria itu memagut bibir Elisa sampai Elisa tersentak kaget dan marah. "Beraninya kau menciumku!" Elisa refleks bangkit berdiri dan mendorong dada Leo.Plak!Satu tampar
Eddy sontak berdiri dari kursinya begitu mendengar ucapan Elisa. "Sayang, apa yang kau katakan? Duduklah dulu, Sayang!" Eddy menghampiri Elisa dan memintanya duduk, tapi Elisa menolak. "Aku sudah memikirkannya dan aku ...." Elisa terdiam sejenak sambil melirik Leo lagi. "Aku mau ... melakukannya







