INICIAR SESIÓNUcapan Bik Imah membuat dunia Elisa kembali runtuh untuk kesekian kalinya hari itu."Apa ...?" lirihnya hampir tidak bersuara. "Nenek bukan neneknya Leo?"Bik Imah menggeleng pelan. Air matanya terus mengalir tanpa bisa dihentikan dan ia menangkup tangan Elisa makin erat, membiarkan air mata keduanya jatuh membasahi tangan mereka. Tidak ada yang bicara lagi setelahnya karena Elisa mendadak gemetar. Bayangan tentang kobaran api, rasa panas, teriakan semua orang, mendadak memenuhi otak dan telinganya. Getaran itu makin lama makin nyata. Trauma itu kambuh lagi sampai membuat napas Elisa makin berat. "Aku ... aku ...." Bik Imah mendongak menatap Elisa yang terlihat seperti orang yang kehabisan oksigen. "Elisa! Elisa! Ada apa?" Handi dan Daisy ikut cemas."Ada apa? Apa yang terjadi?" "Dia punya trauma pada api, Pak." "Apa? Trauma ... api? Bagaimana bisa? Kau tidak apa, Elisa?" Handi langsung menatap Elisa lekat-lekat. Bagaimanapun, pengalamannya sebagai polisi membuatnya sudah be
Handi terdiam cukup lama. Ia tidak pernah menyangka Elisa akan muncul di hadapannya seperti ini. Tatapannya pun berpindah dari Elisa ke Bik Imah, seolah meminta pendapat wanita tua itu. Bik Imah hanya mengembuskan napas panjang lalu mengangguk pelan.Handi sendiri balas mengangguk dan kembali menatap Elisa. "Baiklah, masuklah dulu, Elisa!" Elisa menggeleng cepat. "Tidak! Jawab dulu pertanyaanku!" Suaranya bergetar hebat. "Apa benar keluargaku membunuh orang tua Leo?"Handi memejamkan mata sejenak. Ia iba pada Elisa, tapi sebagai polisi, ia sudah biasa mengesampingkan perasaan demi sebuah kebenaran. "Aku sudah pernah mengatakannya padamu, tapi kau menolak percaya. Lalu kali ini, kau datang karena kau percaya atau hanya untuk menolak percaya lagi?" Tatapan Elisa goyah lagi, tapi ia langsung menggeleng. "Tolong jangan berputar-putar, Pak Handi! Aku harus tahu semuanya. Aku tinggal bersama mereka seumur hidupku. Aku membela mereka mati-matian. Kalau ternyata semuanya benar, aku berhak
Suasana ruang rapat kembali hening. Darmawan merasa terancam, bukan hanya oleh keberadaan Leo sebagai pemegang saham terbesar Wijaya Group, tapi karena sebuah rahasia yang seperti disembunyikan oleh Leo. Nyawa? Apa hubungannya dengan nyawa? Apa sebenarnya yang Leo maksud? Darmawan dan Arman membelalak, menatap lekat kedua manik mata Leo yang membuat mereka seolah mengenali tatapan itu. "Kau! Kau! Siapa ... siapa kau sebenarnya?" Leo tersenyum miring sambil melangkah mendekati kursi roda Darmawan. Wira sempat menghalanginya, tapi Gary balas menyingkirkan lengan pria itu. Leo membungkuk dan menurunkan wajahnya hingga sejajar dengan wajah Darmawan. "Hartono! Anda pasti ingat nama itu kan? Dulu Anda menyingkirkan mereka secara kejam, siapa yang menyangka kini Anda malah harus bekerja untuk anak mereka." Darmawan dan Arman membelalak makin lebar, begitu juga Wira yang akhirnya sadar. Selama ini ia terus bertanya-tanya di mana ia pernah melihat tatapan yang familiar itu, tapi Wira tida
Semua orang kembali hening mendengar titah Darmawan yang begitu tegas. Para manager terdiam karena kemarahan Darmawan adalah hal yang menakutkan. Namun, Leo malah langsung tertawa tanpa rasa takut sama sekali. "Berlutut di kaki Anda? Anda terlalu haus hormat, Pak Darmawan." "Kau tidak sopan sekali, Leo!" "Pak Leo!" ralat Leo. "Karena mulai hari ini, masa depan Anda di perusahaan ini adalah tergantung padaku." Darmawan membelalak lagi mendengarnya. Ia menoleh ke arah Arman yang sama-sama belum mengerti apa pun. "Kurang ajar sekali! Apa pimpinan Hartono Group akan datang hari ini? Biarkan kami bertemu dengannya!" seru Arman. Lagi-lagi Leo tertawa. "Pimpinan Hartono Group sudah ada di depan Anda, Pak Arman, tidak usah dicari lagi." Lagi-lagi Arman dan Darmawan membelalak bersamaan. "Apa? Apa maksud semua ini? Siapa pimpinan Hartono Group?" geram Darmawan. "Pimpinan Hartono Group adalah bosku. Ah, aku harus meralat, aku adalah asisten pimpinan Hartono Group dan bosku adalah Leo,
Leo melangkah dengan penuh percaya diri memasuki gedung perusahaan Wijaya Group. Para wartawan langsung mengambil fotonya karena semua orang sudah mengetahui bahwa hari ini adalah hari besar di mana akan diadakan rapat umum pemegang saham untuk menentukan masa depan Wijaya Group. Dan Leo pasti adalah salah satu pemegang sahamnya. Semua tatapan langsung tertuju pada Leo yang auranya langsung memikat banyak orang. Gary dan anak buah Leo serta satpam langsung menghalau para wartawan, sehingga Leo bisa melangkah dengan mulus. Namun, tatapan semua orang tetap tidak pernah lepas darinya, apalagi beberapa orang langsung mengenalinya sebagai Leo, mantan asisten Eddy. Penampilan Leo sendiri sudah berbeda dari Leo yang berambut klimis dan berkacamata seperti dulu. Leo yang sekarang sudah melepaskan kacamatanya dan rambutnya pun ditata lebih stylish seperti gaya Leo yang sesungguhnya. Elisa sendiri yang sudah sering melihat gaya baru Leo pun tidak banyak bertanya, tapi Elisa tetap tidak tahu
Bik Imah tidak pernah berpikir Elisa akan mengingat wajah Arman dan Lily yang sudah lama meninggal, apalagi saat itu, Elisa masih kecil. Karena itu, Bik Imah dengan jujurnya memberitahu siapa yang ada di foto itu. Elisa yang mendengarnya seketika membeku. Dunia di sekelilingnya seolah berhenti berputar.Matanya terpaku pada foto usang di tangannya, sementara ucapan Bik Imah terus bergema di kepalanya."Kedua orang itu adalah mendiang orang tua Leo.""Itu ... orang tua Leo ... adalah Om Anton dan Tante Lily?" ulang Elisa terbata. "Mereka ... dulu bekerja sebagai asisten Arman Wijaya dari Wijaya Group?" lirih Elisa lagi. Bik Imah tidak berani menjawab lagi. "Elisa, ini ...." Elisa menyela. "Mereka meninggal dalam kebakaran gudang, kebakaran gudang Wijaya Group. Itu ...." Elisa tidak pernah bisa menyelesaikan ucapannya karena kepalanya mendadak berputar hebat. Dadanya terasa sesak seperti ada sesuatu yang menghimpit kuat.Selama ini, Leo sudah mengetahui fakta itu, tapi tidak pernah s
Leo bahkan tidak memberi Elisa waktu untuk bersiap ketika bibir pria itu tiba-tiba menyentuh bibirnya.Bukan hanya menempel, tapi pria itu memagut bibir Elisa sampai Elisa tersentak kaget dan marah. "Beraninya kau menciumku!" Elisa refleks bangkit berdiri dan mendorong dada Leo.Plak!Satu tampar
Eddy sontak berdiri dari kursinya begitu mendengar ucapan Elisa. "Sayang, apa yang kau katakan? Duduklah dulu, Sayang!" Eddy menghampiri Elisa dan memintanya duduk, tapi Elisa menolak. "Aku sudah memikirkannya dan aku ...." Elisa terdiam sejenak sambil melirik Leo lagi. "Aku mau ... melakukannya
"Aku tidak bisa! Nyalakan lampunya!" Elisa memekik keras sambil bangkit duduk di ranjangnya. Ia merinding. Ia tidak bisa melakukan ini. "Kubilang nyalakan lampunya, Leo!" bentak Elisa lagi. Sedetik kemudian, lampu pun dinyalakan dan Elisa kembali menoleh. Leo belum memakai kemejanya dan tubuh pr
"Ini pria yang akan membuatmu hamil, Elisa." Elisa membelalak lebar saat melihat Eddy, suaminya membawa seorang pria ke kamar mereka. Pria itu Leo, asisten suaminya yang baru bekerja beberapa bulan ini. Pria berkacamata yang pendiam dan penurut, dengan rambut klimis yang membuat Elisa selalu meng







