Share

CEO yang Menyamar

Author: Mommykai22
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-05 16:36:59

Ucapan Bik Imah membuat dunia Elisa kembali runtuh untuk kesekian kalinya hari itu.

"Apa ...?" lirihnya hampir tidak bersuara. "Nenek bukan neneknya Leo?"

Bik Imah menggeleng pelan. Air matanya terus mengalir tanpa bisa dihentikan dan ia menangkup tangan Elisa makin erat, membiarkan air mata keduanya jatuh membasahi tangan mereka.

Tidak ada yang bicara lagi setelahnya karena Elisa mendadak gemetar. Bayangan tentang kobaran api, rasa panas, teriakan semua orang, mendadak memenuhi otak dan telin
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Tresye Kesaulya
Trimksh kk. ditunggu episode berikutx
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Hadiah Mesum

    "Bayinya sehat dan aktif, tidak ada masalah dengan kandungannya, dan kalian boleh berangkat babymoon, bahkan hubungan ranjang juga diperbolehkan." Ucapan dokter pagi itu membuat senyum Leo dan Elisa mengembang begitu lebar. Sebelum mereka berangkat ke Bali, mereka harus memastikan kondisi kandungan Elisa dulu, dan syukurnya semuanya sangat baik. "Sekali lagi, kandungan Anda sangat kuat, Bu Elisa. Dan Anda harus bersyukur untuk itu. Tidak ada masalah yang berarti dan semuanya aman untuk menikmati trisemester kehamilan Anda." "Ah, syukurlah, Dokter," sahut Elisa sambil mengulum senyumnya malu. Leo sendiri ikut tertawa. "Terima kasih untuk ijinnya, Dokter." Sang dokter terkekeh. Ia langsung memberikan resep cadangan kalau diperlukan dan memberikan surat ijinnya untuk Elisa naik pesawat. Dan di sinilah mereka, duduk berdua di kursi kelas bisnis pesawat pagi itu. Elisa pun tidak bisa berhenti tersenyum sendiri sampai Leo yang melihatnya, mengernyit gemas. "Apa ada yang lucu sampai k

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Babymoon

    "Selamat datang kembali, Pak Rahmat." Leo dan Elisa menyambut Rahmat dan Nila hari itu. Setelah keluar dari rumah sakit, Rahmat dan Nila sempat pulang kampung diantar oleh sopir Leo. Mereka pulang ke rumah terakhir mereka untuk mengemasi sisa barang mereka karena mereka akan pindah ke kota. Mereka juga sempat pulang ke kampung halaman yang sudah lama mereka tinggalkan untuk menjenguk keluarga mereka, keluarga yang sudah lama tidak pernah dijenguk karena mereka menjadi buron begitu lama. Pertemuan itu mengharukan dan meninggalkan rasa lega serta kebahagiaan di hati Rahmat dan Nila. Keduanya kembali ke kota untuk mengikuti serangkaian sidang kasus keluarga Wijaya. Dan setelah semuanya selesai, Rahmat akan mulai bekerja bersama Leo. Mereka pun akan menempati unit apartemen di samping Leo, tempat yang dulunya ditinggali Handi dan Daisy. "Pak Leo, Bu Elisa!" Rahmat menjabat tangan keduanya, begitu juga Nila yang menjabat dan mencium tangan Elisa saking bersyukurnya. "Kami masih tid

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Masih Beruntung

    Air mata Elisa makin meleleh begitu mendengar kata seumur hidup yang itu berarti ia tidak akan pernah berkumpul lagi dengan ayahnya itu. "Ayah!" panggil Elisa akhirnya setelah hakim meninggalkan tempatnya. Arman sempat menoleh ke arah Elisa dan mengangguk. Bahkan Arman pikir ia akan dihukum mati, tapi semua ini lebih baik, sangat baik. "Semua sudah berakhir, Elisa! Pulanglah! Semua sudah selesai!" Elisa tersenyum lagi dan tetap mendekati Arman, menggenggam tangan Arman seperti tadi sebelum persidangan dimulai. "Tidak apa, Ayah! Tidak apa! Tetaplah bersemangat dan menjadi orang yang lebih baik di penjara. Mungkin, kita tidak bisa berkumpul lagi di rumah, tapi aku akan sering berkunjung, aku akan menunjukkan foto cucu Ayah saat dia lahir nanti. Tidak apa, Ayah! Tidak apa!" Arman yang mendengarnya pun kalah, air matanya menetes juga menatap perut besar Elisa. Ya, ia akan punya cucu. Terlepas dari siapa pun ayah anak itu, itu tetap cucu Arman. Elisa anak kandungnya, Arman tidak per

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Keadilan yang Ditegakkan

    Setiap pelaku kejahatan akan mendapatkan hukumannya, tanpa menunggu siap atau tidak siap. Begitu juga dengan Arman yang harus menerima konsekuensi dari semua perbuatannya. Awalnya semua orang berpikir, Arman akan lama pulih. Mungkin Arman akan seperti Darmawan yang menggunakan sakitnya sebagai alasan untuk mangkir. Namun, secara mengejutkan, Arman tidak seperti itu. Arman akui sempat terlintas dalam pikirannya untuk mangkir lagi, tapi sebuah kesadaran menghantamnya. Sampai kapan? Sampai kapan ia akan seperti ini terus? Sejak sadar ia hanya tinggal seorang diri, perasaan dan pikirannya berubah. Apalagi sejak Elisa memeluknya, hati yang keras mendadak mencair tanpa bisa dicegahnya, walaupun ia masih gengsi mengakuinya. Arman tidak pernah bersikap melunak setiap Elisa mengunjunginya, tapi Arman sudah tidak pernah menolak kedatangan anaknya itu. Dan makin dekat dengan anaknya, perasaan Arman ikut melembut. "Aku akan ada di sini untuk mendukung Ayah," kata Elisa hari itu, di mana a

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Menerima Kenyataan

    Elisa melangkah cepat di koridor rumah sakit bersama Leo dan Gary di tengah malam itu. Begitu mengetahui bahwa Arman sadar, rasa gelisah di hati Elisa hilang dan berubah menjadi antusias ingin bertemu. "Suster, bagaimana kondisi Ayahku?" tanya Elisa begitu tiba di sana. "Kondisinya sudah stabil, Bu, hanya emosinya yang belum stabil. Awalnya Pak Arman masih sangat lemas dan mengeluh pusing, dia belum terlalu kuat bicara, tapi mendadak Pak Arman teringat ayahnya dan terus bertanya. Kami tidak berani menjawab apa pun." Elisa menelan saliva mendengarnya. Bahkan begitu Arman sadar dari koma, yang dicari pertama kali adalah Darmawan. "Boleh aku melihatnya?" "Silakan, Bu." Tangan Elisa sedikit bergetar dan Leo melihatnya. "Kau mau aku temani, Sayang?" Elisa menoleh menatap Leo dan menggeleng. "Tidak, dia akan makin mengamuk melihatmu." Leo mengangguk. "Ya, itu benar. Tapi hati-hati, jangan terlalu dekat, aku takut ...." "Aku tahu, Leo," sela Elisa. Ia sangat tahu walaupun Arman adal

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Akhirnya Bangun

    "Ayah, aku datang lagi." Elisa menjenguk Arman lagi malam itu setelah melakukan serangkaian acara penghormatan untuk Darmawan. Elisa masih tidak mau memberitahu apa pun pada ayahnya itu dan menunggu ayahnya sadar. "Apa Ayah baik-baik saja di sini?" Elisa menahan tangisnya. "Bangunlah, Ayah. Bangunlah segera ...." Elisa menatap wajah, jari-jari, dan tubuh Arman, berharap ada detail kecil yang akan menunjukkan bahwa pria itu akan segera sadar, tapi nyatanya, walaupun sudah menatap cukup lama, Arman tidak menunjukkan tanda apa pun. Elisa mengembuskan napas panjangnya dengan kecewa. "Tidak apa. Kalau Ayah belum bangun sekarang tidak apa. Tapi aku mau Ayah tahu kalau aku sudah memaafkan Ayah. Aku dan semuanya memaafkan Ayah dan menunggu Ayah bangun. Ayah dengar kan? Karena itu, bangunlah, Ayah." Elisa memandangi Arman sedikit lebih lama, sebelum akhirnya Elisa pun bangkit dari kursi dan perlahan melangkah pergi dari sana. Tanpa Elisa sadari, jari-jari Arman mulai bergerak, menunjuk

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Memuaskan Diri Sendiri

    Elisa membeku saat merasakan pelukan yang menahannya. Buru-buru ia mendongak dan jantungnya makin bergemuruh melihat siapa pria itu. Itu Leo. Pria itu berdiri sangat dekat dengannya, satu tangan masih melingkar di pinggangnya agar ia tidak terjatuh.Kemarin mungkin Elisa tidak merasakan apa-apa s

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Anak Tukang Selingkuh

    "Aku tidak bisa! Nyalakan lampunya!" Elisa memekik keras sambil bangkit duduk di ranjangnya. Ia merinding. Ia tidak bisa melakukan ini. "Kubilang nyalakan lampunya, Leo!" bentak Elisa lagi. Sedetik kemudian, lampu pun dinyalakan dan Elisa kembali menoleh. Leo belum memakai kemejanya dan tubuh pr

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Pria Lain di Kamarnya

    "Ini pria yang akan membuatmu hamil, Elisa." Elisa membelalak lebar saat melihat Eddy, suaminya membawa seorang pria ke kamar mereka. Pria itu Leo, asisten suaminya yang baru bekerja beberapa bulan ini. Pria berkacamata yang pendiam dan penurut, dengan rambut klimis yang membuat Elisa selalu meng

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Milikku Besar

    Leo bahkan tidak memberi Elisa waktu untuk bersiap ketika bibir pria itu tiba-tiba menyentuh bibirnya.Bukan hanya menempel, tapi pria itu memagut bibir Elisa sampai Elisa tersentak kaget dan marah. "Beraninya kau menciumku!" Elisa refleks bangkit berdiri dan mendorong dada Leo.Plak!Satu tampar

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status