LOGIN"Bagaimana beritanya bisa menyebar begitu cepat, Leo? Aku benar-benar tidak memberitahu siapa pun." Leo menjenguk lagi ke rumah sakit malam itu dan memberitahu Elisa tentang gosip yang beredar. Elisa sendiri sudah tahu duluan dari internet dan dari pesan-pesan yang masuk ke ponselnya dari kolega bisnisnya. "Sejak tadi ponselku tidak berhenti berbunyi sampai aku stres sendiri, aku belum tahu harus membalas apa," imbuh Elisa. "Aku juga tidak tahu bagaimana ini bisa begitu cepat tersebar, Bu. Aku mendapatkan semua buktinya dengan sangat privat dan aku bisa memastikan tidak ada data yang bocor dariku." "Aku percaya padamu, Leo! Aku tahu kau tidak mungkin melakukan hal yang menyakiti aku," sahut Elisa begitu tulus. Leo sampai terdiam sejenak mendengarnya. Di satu sisi, untung saja bukan ia yang menyebarkannya, tapi di sisi lain, Elisa tidak tahu kalau Leo bisa saja melakukan hal yang lebih menyakitkan. "Lalu apa yang akan Anda lakukan, Bu? Apa Anda akan melindungi Pak Eddy?" "Tidak!
Suasana langsung hening saat Leo merasakan ponselnya berbunyi. Elisa sendiri juga menatap Leo sejenak. "Itu ... ponselmu berbunyi, Leo?" "Ah, maafkan aku!" seru Leo yang langsung bangkit berdiri dan memegang kantongnya. Gary sendiri sudah melotot tegang. Bisa-bisanya Leo tidak mematikan nada deringnya. "Hmm, aku permisi mengangkat telepon dulu, Bu Elisa!" pamit Leo yang buru-buru keluar kamar. Elisa hanya mengangguk karena ia masih menunggu teleponnya diangkat. Namun, sialnya tidak kunjung diangkat. "Oh, dia tidak mengangkat teleponku, Gary!" "Ah, haha, pasti dia sedang sangat sibuk, Bu. Dia belum menghubungi aku sejak pagi," dusta Gary. "Benarkah itu? Kalau begitu, aku mengirim pesan padanya saja." Gary mengangguk. Elisa pun langsung menulis pesannya."Selamat pagi, Pak Alexander Hartono. Aku dengan Elisa Wijaya. Maaf aku mengganggu waktunya. Aku ingin berterima kasih atas lukisan yang Anda berikan padaku lewat Gary. Lukisan itu sangat berarti dan aku sangat senang meneriman
Hilda berlari cepat keluar dari kamar begitu mendengar teriakan Darmawan. Dan ia pun langsung memekik kaget saat melihat Susan dan Eddy ditampar. "Akhh! Jangan, Ayah! Jangan!" Hilda langsung menarik Susan bersamanya. "Bagaimana caramu membesarkan anakmu, hah, Hilda? Kau membesarkannya agar menjadi sama sepertimu? Perebut suami orang, hah?" Hilda membelalak dan terdiam. Semua cerita masa lalunya memang sudah diketahui oleh Darmawan. "Grandpa, maafkan aku! Maafkan aku! Tapi Elisa hanya salah sangka, ini tidak seperti yang dikatakannya, Grandpa!" Susan masih berusaha membela dirinya dan menyentuh tangan Darmawan. Namun, Darmawan langsung mengempaskan tangan itu sampai Susan terhuyung. "Semua sudah ketahuan, tapi kalian masih berani membela diri, hah? Kalian ... akhh ...." Darmawan memegangi dadanya yang berdenyut."Ayah!" "Grandpa!" "Cukup! Cukup untuk hari ini karena kalian sudah memberikan tekanan yang begitu berat untuk Grandpa! Lebih baik kalian kembali ke kamar dan jangan
"Apa yang kau katakan, Leo?" Setelah terdiam cukup lama mendapatkan pertanyaan mengejutkan dari Leo, akhirnya Elisa menjawabnya. Ia salah tingkah dan wajahnya makin panas. Elisa pun memalingkan wajahnya. "Aku serius, Bu. Kalau aku menyukai Anda, apa Anda akan menerimaku? Atau aku terlalu rendah untuk bersama Anda?" Leo menatap Elisa lekat-lekat. Elisa sendiri langsung menoleh lagi menatap Leo dan menggeleng. "Tidak, Leo! Jangan pernah merasa dirimu rendah, kau sama sekali tidak rendah." "Kalau begitu, aku bisa bersama Anda?" "Tidak!" jawab Elisa cepat. "Maksudku, kau tahu sendiri aku sudah menikah kan? Pertanyaanmu itu sangat tidak masuk akal," jawab Elisa lagi dengan suara bergetar. Di satu sisi hatinya, tentu saja ia tidak berpikir berakhir dengan Leo. Namun, di sisi lain hatinya, mengapa ia menginginkannya. Leo sendiri terus memicingkan matanya menatap Elisa. Ada semburat di pipinya yang menandakan Elisa salah tingkah. "Bukankah Anda yang bilang akan bercerai dari Pak Eddy?
Elisa tahu Leo di sana, menemaninya sejak tadi. Leo sudah biasa melakukannya. Tapi Elisa tidak pernah berpikir untuk meminta Leo menginap dan menemaninya. Elisa sampai menatap Leo tidak percaya. "Apa? Kau mau menginap, Leo? Tapi bagaimana dengan nenek dan adikmu? Jangan meninggalkan mereka sendirian!" seru Elisa tanpa bisa dicegah. Leo tampak tenang. "Mereka aman, Bu. Justru menjaga Anda adalah tugasku." Darmawan mengangguk mendengarnya. Ternyata Leo lebih baik daripada yang ia pikir. "Baguslah kalau ada yang menemani Elisa, ayo kita pulang saja, Ayah! Ayah tidak boleh terlalu lelah!" seru Arman lagi yang sama sekali tidak peduli Elisa ditemani siapa. Terkadang, seorang ayah bisa khawatir kalau anak perempuannya sendirian. Mereka juga bisa khawatir kalau anak perempuannya ditemani oleh pria asing. Namun, itu tidak berlaku untuk Arman. Entah sebenci apa Arman sebenarnya pada Elisa sampai pria itu bisa tidak peduli sama sekali. "Ayah benar lagi, Grandpa! Leo akan menemaniku, jadi
"Bagaimana ini, Ibu? Bagaimana? Elisa sialan! Elisa brengsek!" geram Susan yang terus berjalan mondar-mandir di kamarnya. Tadinya Hilda dan Susan ingin ikut ke rumah sakit, tapi Darmawan melarangnya. "Kalian hanya akan membuat semuanya makin ribut, diam saja kalian di rumah! Dan jangan lupa kalau semua terjadi karena kau, Susan! Jadi Hilda, awasi anakmu di rumah!" geram Darmawan tadi. Namun, setelah semua orang pergi, Susan dan Hilda makin gelisah karena yang paling mereka takutkan adalah Darmawan yang marah. "Kau masih berani bertanya, hah? Mengapa saat melakukannya kau tidak pernah mau mendengar Ibu, tapi setelah semua seperti ini kau baru bertanya pada Ibu bagaimana? Ibu tidak tahu, Susan! Ibu tidak tahu!" bentak Hilda. "Ini semua gara-gara Elisa, Ibu!" "Ini semua karena kau sendiri yang salah memilih pria, Susan! Ibu sudah bilang Eddy itu pria tidak berguna. Sekarang semua sudah jadi seperti ini, kau juga mengapa harus memukul Elisa, hah? Berharap saja Grandpa tidak mengusir







