LOGINAlbert membawa dua anak buahnya menuju ke rumah keluarga Wijaya sambil membawa surat penggeledahan sore itu. "Permisi, ini dengan rumah keluarga Wijaya?" Anak buah tampak kaget melihat ada polisi yang datang ke rumah itu lagi. Kali ini, polisinya berbeda dengan yang tadi dan ia langsung melapor pada Arman. "Apa? Polisi lagi?" geram Arman. "Mereka ingin bertemu pemilik rumah, Pak." "Sial, apa lagi ini?" Arman marah, tapi ia berusaha kooperatif. Ia yakin para polisi itu datang karena telepon dari Hilda tadi siang. "Aku Arman Wijaya, pemilik rumah ini. Ada yang bisa kubantu?" "Ah, selamat sore, Pak Arman. Maaf kami menggangu, tapi kami mendapat telepon tadi tentang adanya orang yang disekap di rumah ini," ucap Albert sambil melirik sekelilingnya. Arman mengepalkan tangan geram karena Hilda sudah berani membuat kekacauan. "Anda tidak bercanda kan, Pak? Ada orang disekap? Di rumahku? Jangan gila, Pak!" "Maaf, kami membawa surat penggeledahan, jadi ijinkan kami melakukan tugas k
"Iya, Ibu! Cepat telepon polisi sebelum pelayan itu masuk lagi. Cepat, Ibu!" Hilda mengangguk dan langsung menelepon polisi, tapi ia mengumpat karena teleponnya tidak kunjung diangkat. "Sial! Tidak diangkat, Susan! Siapa lagi yang harus kita telepon?" "Telepon Velia, Ibu. Telepon Velia!" "Dia tidak bisa diandalkan! Sial! Ayo angkat! Ayo angkat!" geram Hilda lagi. Beruntung tidak lama kemudian, teleponnya diangkat dan terdengar suara pria di ujung sana. "Halo? Selamat siang!" "Halo dengan kantor polisi. Aku dari rumah keluarga Wijaya. Aku sedang disekap di gudang, tolong aku! Tolong aku karena tidak lama lagi mereka pasti akan membunuhku! Tolong ...." Brak!Belum sempat Hilda menyelesaikan ucapannya, tapi mendadak pintu gudang sudah dibuka lagi dengan kasar. Terlihat Luki masuk ke sana bersama Arman. Luki menyeret Nina dan mendorongnya hingga terjatuh sampai Hilda langsung ketakutan. "Halo! Halo!" seru suara polisi di ujung sana. "Bicara yang jelas! Berikan alamat yang jelas!
Elisa mencoba tenang sepanjang sisa hari itu, tapi ia tidak bisa. Setelah mendapatkan mimpi buruknya tadi siang, setiap kali memejamkan mata, scene kebakaran itu akan muncul hingga membuatnya lemas dan pusing. Elisa sempat makan malam bersama dengan yang lain, tapi malam itu, Leo dan Elisa berakhir dengan kembali pisah kamar karena Elisa terlihat tidak antusias dengan apa pun. "Jangan memaksanya dulu, Leo! Dia masih terlihat seperti mayat hidup. Dibanding amarahnya padamu, dia lebih dihantui rasa bersalahnya, jadi bersabarlah dan beri dia waktu sedikit lebih lama, Leo." Leo mengembuskan napas dan mengangguk. Ia akan melakukan segalanya demi Elisa. "Baik, Bik. Aku tahu," sahut Leo yang akhirnya tidak mengganggu Elisa lagi dan mulai fokus lagi bekerja, menghancurkan keluarga Wijaya secara tepat dan cepat. *"Selamat pagi! Kami dari kepolisian membawa surat pemanggilan untuk Pak Darmawan dan Pak Arman Wijaya sebagai saksi dalam kasus kebakaran gudang Wijaya Group 18 tahun yang lalu
Elisa tidak tahu keputusannya benar atau salah saat akhirnya ia ikut naik ke mobil Leo untuk pulang bersama pria itu. Perasaan Elisa tidak jelas. Dan semakin lama, bukannya makin jelas, malah makin tidak jelas. Ditambah ia belum makan sejak kemarin hingga ia mual dan kepalanya pusing. "Huwek!" Elisa mendadak mau muntah sampai Leo cemas melihatnya. "Kau tidak apa, Sayang?" Leo menyentuh ringan bahu Elisa, tapi Elisa langsung mengangkat bahunya, mendadak kembali canggung seperti dulu. Elisa menyadari rasa canggung itu, tapi Leo tidak karena fokus Leo hanya pada kekasihnya yang sedang mual. "Kau belum makan, Sayang! Kita ke restoran dulu, Gary!" titah Leo. Gary langsung mengangguk. "Baik, Bos!" Gary melajukan mobilnya ke restoran, sedangkan Elisa langsung terdiam sejenak. Sebelumnya ia selalu merasa lucu setiap mendengar Gary memanggil Leo bos. Bahkan dengan bodohnya, ia percaya saat Gary bilang Leo punya cita-cita menjadi bos. Elisa tersenyum kecut. Ia bodoh, sangat bodoh. Karen
"Brengsek! Pria brengsek itu mengancamku terang-terangan dan dia membawa Elisa pergi dari sini! Dia benar-benar bajingan! Dia pikir sudah lebih hebat dariku! Dasar brengsek!!!"Darmawan akhirnya membiarkan Leo membawa Elisa pergi dari sana, tapi napasnya tersengal karena amarah dan ia tidak berhenti mengumpat. "Aku masih belum percaya dia adalah Leo yang dulu, Ayah! Sial! Bagaimana dia bisa memainkan peran dengan begitu bagus?" "Ini semua karena Wira yang bodoh!" Darmawan menatap tajam pada Wira. "Berkali-kali mencari berita tentangnya, tapi tidak mendapatkan info apa pun! Sial, Wira! Seandainya kau bekerja lebih pintar dan mendapatkan info tentangnya, kita tidak akan direndahkan seperti ini!" geram Darmawan. "Tapi tidak! Bukan sekarang! Seandainya dulu kau pintar dan membunuhnya tanpa meleset, tidak akan ada Leo hari ini, kau mengerti, Wira, hah? Dasar brengsek kau, Wira!" Darmawan mengentakkan tongkatnya berkali-kali. Wira menahan amarahnya, tapi ia tidak menjawab. Walaupun ia s
"Sial! Bagaimana dia bisa pergi tanpa ada satu orang pun yang tahu, hah?" bentak Leo begitu Gary melapor padanya. "Itu ... bukankah kau yang tidur di sofa, Bos? Semua orang tidur di kamar dan tidak mendengar Bu Elisa pergi!" sahut Gary yang membuat Leo makin emosi. Leo pun segera menuju ke tempat kunci mobil, ia ingin mengambil kuncinya, tapi tidak ada. "Di mana kunci mobil, Gary?" "Eh, kemarin aku meletakkannya di sini ...." Belum sempat Gary menyelesaikan ucapannya, suara Bik Imah sudah terdengar. "Tas Elisa hilang, Bibik khawatir dia membawa bajunya dan pergi dari rumah, Leo." Leo makin tegang. "Sial! Elisa pasti membawa mobil! Siapkan mobil lain dan cari dia, Gary!" "B-baik! Baik, Bos!" Leo dan Gary buru-buru pergi dari sana untuk mencari Elisa, walaupun mereka masih tidak tahu harus mulai dari mana. Namun, feeling Leo tidak pernah salah. "Ke rumah keluarga Wijaya, Gary! Aku yakin Elisa di sana!" Gary langsung mengangguk. "Baik, Bos!" sahut Gary yang langsung melajukan
Eddy sontak berdiri dari kursinya begitu mendengar ucapan Elisa. "Sayang, apa yang kau katakan? Duduklah dulu, Sayang!" Eddy menghampiri Elisa dan memintanya duduk, tapi Elisa menolak. "Aku sudah memikirkannya dan aku ...." Elisa terdiam sejenak sambil melirik Leo lagi. "Aku mau ... melakukannya
"Apa yang kau lakukan di sini, Leo?" Elisa menarik tangannya kembali dan ia langsung melotot marah. Jantungnya memacu kencang dan ia tidak menyangka ada orang yang memergokinya seperti ini. Leo sendiri terdiam sejenak tidak bisa berkata-kata. Ia bukan pria polos yang tidak tahu apa yang Elisa lak
Elisa membeku saat merasakan pelukan yang menahannya. Buru-buru ia mendongak dan jantungnya makin bergemuruh melihat siapa pria itu. Itu Leo. Pria itu berdiri sangat dekat dengannya, satu tangan masih melingkar di pinggangnya agar ia tidak terjatuh.Kemarin mungkin Elisa tidak merasakan apa-apa s
"Aku tidak bisa! Nyalakan lampunya!" Elisa memekik keras sambil bangkit duduk di ranjangnya. Ia merinding. Ia tidak bisa melakukan ini. "Kubilang nyalakan lampunya, Leo!" bentak Elisa lagi. Sedetik kemudian, lampu pun dinyalakan dan Elisa kembali menoleh. Leo belum memakai kemejanya dan tubuh pr







