LOGIN"Leo, kau mau ke mana?" Elisa yang sudah berbaring di atas ranjang langsung bangkit setengah duduk saat melihat Leo mengenakan jaketnya. Jam di dinding hampir menunjukkan jam dua belas malam, tapi pria itu justru berjalan ke arah pintu.Leo menghentikan langkahnya sejenak. Rahangnya mengeras. Ucapan Elisa tentang orang tuanya terus terngiang di kepalanya."Pengkhianat ...." Satu kata itu seperti mengoyak luka yang selama bertahun-tahun berusaha ia kubur. Namun, Leo tahu Elisa tidak bersalah.Wanita itu masih sangat kecil saat kebakaran itu terjadi dan Elisa pun menerima mentah-mentah semua yang dikatakan Arman dan Darmawan.Elisa hanya mempercayai orang yang selama ini ia anggap keluarga. Karena itulah, Leo tidak bisa marah pada Elisa.Yang membuatnya marah adalah kenyataan bahwa orang-orang itu bahkan berhasil mencuci otak Elisa selama bertahun-tahun.Leo tidak menyalahkan Elisa, tapi tetap saja moodnya buruk karenanya. Ia pun memilih menjauh agar sikapnya tidak menyakiti Elisa. "
Elisa akhirnya bangun dari tidurnya menjelang malam itu. Kepalanya masih sakit dan rasa berdebar itu masih ada, tapi ia sudah lebih tenang. Semua orang menyambutnya dengan senyuman hangat dan itulah yang Elisa suka dari keluarga Leo, tidak pernah menghakimi, tidak pernah bertanya berlebihan, hanya berusaha membuatnya tenang. "Kau sudah bangun, Elisa? Ayo kita makan malam bersama!" ajak Bik Imah. "Aku tidur lama sekali, Nek." "Tidak masalah, ibu hamil memang harus banyak istirahat. Maaf ya Nenek terlalu lama bergosip tadi." Semua orang yang mendengarnya tertawa dan mereka pun langsung makan malam bersama dengan hangat. Namun, kehangatan itu berubah menjadi menegangkan saat Elisa membaca berita tentang kebakaran gudang Wijaya Group. "Berita apa ini? Berita apa ini?" lirih Elisa syok sambil menatap ponselnya. Elisa masih mengaktifkan ponsel lamanya dan ia masih tergabung dalam beberapa grup chat sesama pebisnis. Saat skandal perselingkuhannya terungkap ke publik, chat di ponsel E
"Apa, Wira? Berita apa lagi ini? Bagaimana berita ini bisa naik lagi setelah 18 tahun berlalu?" Darmawan menggeram sampai urat lehernya tercetak jelas, sebelum ia teringat sesuatu. "Hilda! Pasti Hilda kan? Hilda mengancamku dengan rekaman suara tentang kecelakaan itu. Ya! Pasti Hilda! Panggil Hilda kemari! Panggil dia kemari!" titah Darmawan. Hilda sendiri masih ada di rumah siang itu. Sejak perselingkuhan Eddy dan Susan viral lagi, Susan lebih banyak di rumah dan Hilda pun sesekali menemaninya. Hilda yang dipanggil langsung menghadap dan ia langsung mendapatkan tamparan dari Darmawan. Plak! "Akhh!" pekik Hilda kaget. "Apa-apaan ini, Ayah? Mengapa Ayah menamparku?" "Kau yang melakukannya kan, Hilda? Kau yang membocorkan tentang kebakaran gudang itu untuk menekan aku, hah?" Sebulan mempertahankan Hilda di rumah, alih-alih membuat Darmawan makin tenang, malah membuatnya makin stres. Setelah kecurangannya terbongkar, tentu saja Hilda tidak berpura-pura lagi dan mulai menunjukkan
"Ah, syukurlah kau sudah pulang, Bos!" sambut Gary begitu Leo masuk ke dalam rumah. "Ada apa?" "Hmm, sepertinya aku melakukan kesalahan, Bos." Gary tertawa nyengir. Leo sampai mengernyit. "Kesalahan apa maksudmu? Mana Elisa?" "Nah, itulah masalahnya, Bos. Bu Elisa ... bertanya tentang kematian orang tuamu." Leo langsung terdiam. "Maafkan aku, Bos, aku menceritakannya, tapi aku bersumpah tidak menyebutkan nama apa pun. Kupikir dia harus tahu agar dia tidak terlalu terkejut saat semuanya terbongkar nanti." Leo hanya mengembuskan napas panjang, tangannya terkepal, tapi ia tidak menyalahkan Gary sama sekali. "Lalu?""Aku tidak tahu, tapi tiba-tiba dia seperti orang ketakutan." Leo makin mengernyit, tapi tidak lama kemudian, ia teringat tentang trauma Elisa. "Sial, Gary! Dia punya trauma terhadap api! Dia pasti takut saat kau menyebut tentang kebakaran!" geram Leo yang langsung berlari masuk ke kamar. Leo tahu Elisa punya luka bakar, luka bakar yang membuat wanita itu trauma samp
Suasana seketika hening karena Elisa sangat syok, ia bahkan tidak berani menyahuti apa pun untuk sekian detik. Elisa menelan salivanya. "Gary, kau ... kau tidak sedang bercanda kan?" "Aku tidak bercanda, Bu Elisa." "Tapi ... maksudmu ... oh, ya Tuhan, itu mengerikan sekali, Gary." "Ya, itu mengerikan. Waktu itu Leo masih berumur 12 tahun dan dia anak tunggal, dia tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini." Air mata Elisa langsung menggenang di pelupuk matanya."Dan parahnya lagi, Leo kecil melihat kebakaran gudang itu karena dia ada di mobil yang terparkir tepat di luar gudang malam itu."Elisa menutup mulut dengan tangannya dan lagi-lagi menahan napasnya. Ia tidak bisa bicara, selain hanya menatap Gary dengan air mata yang akhirnya menetes juga. Selain karena hormon kehamilan yang membuatnya lebih sensitif, cerita Gary memang sangat sedih sampai Elisa tidak berani membayangkan kejadiannya. Seketika tubuhnya ikut gemetar, bayangan api banyak di sekelilingnya membuat napasnya me
Elisa dilamar. Ya, ia dilamar. Elisa sampai tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Walaupun lamaran itu sangat random dan aneh, entah mengapa Elisa bahagia. Tentu saja sampai akhir, Elisa tetap tidak menjawab iya atau tidak, tapi Leo sepertinya juga tidak membutuhkan jawaban. Mereka berjalan bergandengan tangan sambil melempar senyum, sampai akhirnya berpelukan di ranjang saat ini. "Apa ada yang kau inginkan sebelum hari ulang tahun ini berakhir, Leo?" bisik Elisa lembut. "Jam masih menunjukkan jam setengah 12 malam. Masih ada setengah jam."Leo membelai lengan Elisa. "Yang kuinginkan sudah di sini, Sayang. Bisa memelukmu sepanjang malam, rasanya aku sudah memiliki semuanya." Elisa mengulum senyumnya. "Hmm, kau selalu berhasil membuatku tersenyum seperti orang kasmaran. Selamat ulang tahun sekali lagi, Leo." "Terima kasih karena terus mengingatkan aku akan hari ulang tahunku." Elisa tergelak. Elisa pun mendongak dan bertatapan mesra dengan Leo, sebelum Leo menunduk dan mengecup bi
Leo bahkan tidak memberi Elisa waktu untuk bersiap ketika bibir pria itu tiba-tiba menyentuh bibirnya.Bukan hanya menempel, tapi pria itu memagut bibir Elisa sampai Elisa tersentak kaget dan marah. "Beraninya kau menciumku!" Elisa refleks bangkit berdiri dan mendorong dada Leo.Plak!Satu tampar
Eddy sontak berdiri dari kursinya begitu mendengar ucapan Elisa. "Sayang, apa yang kau katakan? Duduklah dulu, Sayang!" Eddy menghampiri Elisa dan memintanya duduk, tapi Elisa menolak. "Aku sudah memikirkannya dan aku ...." Elisa terdiam sejenak sambil melirik Leo lagi. "Aku mau ... melakukannya
"Apa yang kau lakukan di sini, Leo?" Elisa menarik tangannya kembali dan ia langsung melotot marah. Jantungnya memacu kencang dan ia tidak menyangka ada orang yang memergokinya seperti ini. Leo sendiri terdiam sejenak tidak bisa berkata-kata. Ia bukan pria polos yang tidak tahu apa yang Elisa lak
Elisa membeku saat merasakan pelukan yang menahannya. Buru-buru ia mendongak dan jantungnya makin bergemuruh melihat siapa pria itu. Itu Leo. Pria itu berdiri sangat dekat dengannya, satu tangan masih melingkar di pinggangnya agar ia tidak terjatuh.Kemarin mungkin Elisa tidak merasakan apa-apa s







