เข้าสู่ระบบ"Ayah tidak mau, Elisa! Jangan paksa Ayah!" Arman masih terus menolak saat Elisa memintanya bicara dengan Susan. Bahkan sampai panggilan video call itu sudah tersambung, Arman tetap menolaknya. "Tapi panggilannya sudah tersambung, Ayah. Waktu kunjungan tidak banyak." "Karena itu, untuk apa ditelepon? Ayah sudah bilang tidak mau," sahut Arman kukuh. Elisa terdiam sejenak, sebelum akhirnya ia mengembuskan napas panjangnya. "Apa Ayah bohong padaku?" "Apa maksudmu?" "Waktu Ayah minta maaf, Ayah bilang akan melakukan apa saja untuk membuatku bahagia, untuk menebus kesalahan Ayah. Apa waktu itu Ayah berbohong padaku?" Arman melotot tidak terima. "Ayah tidak pernah berbohong, Elisa! Ayah benar-benar akan melakukannya." "Kalau begitu, bicaralah dengan Susan, terima dia kembali, berdamailah dengannya." "Tapi itu ...." Arman ikut terdiam menatap anaknya itu, sebelum akhirnya Arman juga mengembuskan napas panjangnya dan menyerah. Ia memegangi ponsel itu dan menunjukkan dirinya pada Sus
"Ibu sudah melakukan hal yang benar. Terima kasih, Ibu." Susan tersenyum menatap ibunya setelah ia kembali ke sel. Tapi Hilda hanya mengernyit. "Apanya yang sudah melakukan hal yang benar? Baru disogok makanan saja sudah luluh! Oh, tapi anak itu ada gunanya juga." Hilda tampak tidak mau membahas tentang Elisa lagi, tapi Hilda terus mengagumi semua yang Elisa berikan. Lagi-lagi Susan tersenyum dan ia ingin menangis melihat ibunya yang pelan-pelan akhirnya luluh itu. Di sisi lain, Elisa sama senangnya, bahkan ia tidak berhenti tersenyum di dalam mobil. "Akhirnya semua berakhir damai, Leo. Aku senang dan terharu. Kau lihat bagaimana Tante Hilda memakan semua makanan yang kita bawa kan?" Leo mengangguk dan melirik istrinya. "Ya, Sayang, aku melihatnya. Sepertinya dia masih gengsi, tapi aku bisa melihat perasaannya padamu juga sudah berubah, bukan lagi kebencian seperti dulu." "Kau benar! Aku senang sekali, Leo! Aku ingin memberitahu semuanya pada Ayah, dia pasti juga akan senang."
Susan membeku sejenak mendengar ucapan Elisa, tapi saat ia sadar, ia segera menarik tangannya."Elisa, apa yang kau katakan? Aku bukan melakukan ini untuk meminta timbal balik seperti itu! Aku tidak butuh bantuanmu setelah aku keluar dari sini, aku bisa menjalani hidupku sendiri bagaimanapun itu." Tatapan Susan terarah ke Leo. "Kau juga jangan salah sangka, Leo! Itu sama sekali bukan maksudku. Aku bukan lagi orang yang seperti itu!" Nada Susan begitu tegas sampai Leo mengangguk. Ekspresi Susan, ucapan Susan, cukup membuktikan bagaimana dirinya yang sekarang. "Tidak, Susan!" sahut Elisa. "Kau yang jangan salah paham. Bukan maksud kami membalas jasamu seperti itu. Tidak." "Kau tahu seberapa sering aku memikirkanmu selama kau dipenjara? Berapa kali aku berpikir ingin mengunjungimu ke penjara, tapi aku takut dan ragu, takut kau masih belum bisa menerimaku, takut kau masih membenciku. Hingga akhirnya aku tidak pernah datang kemari, padahal aku rutin mengunjungi Ayah." "Hingga saat tel
"Jadi apa saja yang kau bawa, Sayang? Itu banyak sekali!" Leo menatap barang bawaan yang sudah Elisa siapkan siang itu untuk ke penjara. Ia membawa makan siang dan banyak barang lain, obat-obatan, beberapa pakaian ganti yang sesuai dengan aturan penjara, handuk baru, perlengkapan mandi, sandal, pelembap kulit, lip balm, serta beberapa kebutuhan pribadi yang nantinya akan diperiksa petugas dulu sebelum dibawa masuk. Ia juga membawa sebuah buku bacaan ringan dan buku catatan kecil lengkap dengan beberapa pulpen.Elisa tahu kehidupan di dalam penjara tidak mudah. Ia berharap barang-barang sederhana itu bisa membuat hari-hari Susan terasa sedikit lebih nyaman.Sementara untuk Hilda, Elisa menyiapkan handuk baru, perlengkapan mandi, kacamata baca dengan model yang pernah dilihatnya dipakai Hilda dahulu, serta selendang lembut yang cukup hangat.Ada pula beberapa camilan kemasan yang sesuai dengan aturan tempat tersebut dan beberapa barang lain untuk teman-teman Susan dan Hilda di penjara
Dalam setiap hal baik yang kita lakukan, mungkin tidak akan langsung dibalas dengan kebaikan saat itu juga, tapi percayalah, saat itu, hal buruk akan menjauhi kita dan hal baik akan mendekat.Dan pastinya, kebaikan yang kita tanam pada orang lain, suatu hari nanti pasti akan berbuah yang baik juga. Seperti pagi itu saat seorang wartawan bernama Rendra menelepon Gary. Rendra adalah wartawan yang pernah terkena kasus dengan Wijaya Group dan dipukuli oleh Wira. Waktu itu, Leo menyelamatkannya. Dan sekarang akhirnya Rendra punya kesempatan untuk membalas kebaikan Leo. "Selamat pagi, Pak Gary, aku Rendra. Anda ingat aku kan? Aku wartawan yang dulu mengangkat kasus perselingkuhan Pak Eddy dan berakhir dipukuli oleh anak buah Pak Darmawan." "Ah, selamat pagi, Pak Rendra, tentu saja aku ingat, bagaimana kabar Anda?" "Semuanya baik, berkat Anda dan Pak Leo yang sudah banyak membantuku. Tapi aku sudah mendengar berita tentang Pak Leo.m yang dituduh menghamili wanita lain. Walau aku belum m
"Akhirnya semua masalahnya selesai, Leo." "Ya, Sayang, akhirnya selesai juga." Leo dan Elisa akhirnya pulang ke rumah saat malam menjelang. Mereka tidak mau ikut campur lagi dalam masalah keluarga Velia, tapi Liandro menahan Leo di sana, menjamunya makan malam sekaligus terus mengucapkan maaf tanpa henti. Mereka tidak bisa pulang, tapi mereka lega karena semua berakhir dalam damai. "Bibik senang mendengarnya." "Apalagi aku, Bik. Aku sudah sangat lelah bolak-balik kesana kemari hanya untuk mengurus masalah ini." Bik Imah tersenyum. "Tenang saja, Leo pasti akan memberimu bonus besar, Gary." Tatapan Gary langsung berbinar-binar mendengarnya. "Bonus! Aku suka itu! Bos, jangan lupa bonusku ya."Leo mengangguk. "Tenang saja! Bonusmu on the way." Tatapan Gary makin berbinar-binar. "Oh, ini yang membuatku sangat suka bekerja bersamamu, Bos. Kau tidak pelit dan suka memberiku bonus, haha." Gary terdiam sejenak. "Hmm, tapi ... bolehkah aku meminta satu hal, Bos?" Leo mengernyit mendeng
"Apa yang kau lakukan di sini, Leo?" Elisa menarik tangannya kembali dan ia langsung melotot marah. Jantungnya memacu kencang dan ia tidak menyangka ada orang yang memergokinya seperti ini. Leo sendiri terdiam sejenak tidak bisa berkata-kata. Ia bukan pria polos yang tidak tahu apa yang Elisa lak
Elisa membeku saat merasakan pelukan yang menahannya. Buru-buru ia mendongak dan jantungnya makin bergemuruh melihat siapa pria itu. Itu Leo. Pria itu berdiri sangat dekat dengannya, satu tangan masih melingkar di pinggangnya agar ia tidak terjatuh.Kemarin mungkin Elisa tidak merasakan apa-apa s
"Aku tidak bisa! Nyalakan lampunya!" Elisa memekik keras sambil bangkit duduk di ranjangnya. Ia merinding. Ia tidak bisa melakukan ini. "Kubilang nyalakan lampunya, Leo!" bentak Elisa lagi. Sedetik kemudian, lampu pun dinyalakan dan Elisa kembali menoleh. Leo belum memakai kemejanya dan tubuh pr
"Ini pria yang akan membuatmu hamil, Elisa." Elisa membelalak lebar saat melihat Eddy, suaminya membawa seorang pria ke kamar mereka. Pria itu Leo, asisten suaminya yang baru bekerja beberapa bulan ini. Pria berkacamata yang pendiam dan penurut, dengan rambut klimis yang membuat Elisa selalu meng







