LOGIN"Cium aku, Leo! Background cahaya mataharinya indah sekali!" seru Elisa. Leo terus menggelengkan kepala karena kekasihnya minta berfoto dengan begitu banyak pose. Leo sendiri tidak pernah fokus menatap kamera, Leo hanya terus menatap kekasihnya. Namun, hasil foto Leo yang natural itu terlihat tetap indah sampai Elisa begitu senang. "Sudah ya, Sayang. Foto kita sudah banyak sekali." "Satu kali lagi, Leo!" rajuk Elisa. Fotografer yang tadi hanya terus tertawa melihat banyak foto bagus yang ia dapatkan dari pasangan yang fotogenik itu. Elisa pun masih mengobrol dengan fotografernya saat ponsel Leo berbunyi dan ia pun menerimanya. Telepon itu dari Gary yang ternyata sudah tiba di Bali dan di hotel yang sama untuk melakukan sesuatu yang disuruh Leo. "Aku sudah tiba, Bos. Kau di mana?" "Aku di pantai, sedang foto bersama Elisa." "Wow, foto prewedding?" "Bisa dibilang begitu. Tapi apa kau membawa yang aku suruh?" "Tentu saja beres, Bos!" Leo tersenyum puas. "Baguslah!" Tidak lam
Beberapa hari babymoon adalah hari-hari terbaik dalam hidup Elisa. Bersama Leo, semua terasa sangat indah. Leo selalu menuruti semua yang Elisa mau, menyiapkan apa pun yang Elisa butuhkan bahkan sebelum ia meminta. Leo memijati kaki Elisa setiap malam, walaupun mereka tidak berhubungan ranjang lagi. Tentu saja itu tidak bagus dilakukan terlalu sering saat hamil. Mereka sama-sama tidak mau menyakiti bayi mereka. Mereka sangat bahagia bersama sampai Elisa tidak rela pulang begitu cepat. "Hari ini hari terakhir kita di sini," gerutu Elisa pagi itu. "Kalau kau mau, kita bisa extend, Sayang." "Tidak, aku tahu kau sedang menyiapkan rapat penting. Kau sudah satu minggu untuk babymoon ini." Leo mengangguk. "Itu tidak masalah bagiku karena kau dan anak kita adalah yang terpenting." Elisa melambung dan menangkup gemas pipi pria itu. "Tapi hidup harus tetap berjalan kan? Dan kau juga harus bekerja agar aku dan anak kita bisa tetap makan." Leo tergelak. "Tentu, Sayang. Aku harus bekerja k
Pagi itu indah, sangat indah. Elisa terbangun di pelukan Leo. Keduanya saling menatap saat bangun tidur dan berpelukan lagi begitu lama. Perasaan yang begitu indah. Mereka sarapan bersama lalu bermain pasir bersama. Leo membawa Elisa ke beberapa tempat hanya untuk menunjukkan di mana saja pria itu berinvestasi. Elisa sampai menganga tidak percaya. "Leo, kau serius? Sebanyak itu?" "Aku pandai melihat peluang, Sayang. Tapi itu berarti sumber uangku sangat banyak dan aku sangat kaya. Aku sangat mampu menghidupimu dan keluarga kita sampai tujuh turunan kelak," sahut Leo dengan penuh maksud. Elisa hanya mengangguk. "Aku tahu, aku tidak meragukan itu."Leo tertawa kecil sambil melajukan mobilnya. Leo menyetir sendiri mobilnya agar ia dan Elisa bisa mempunyai waktu privat lebih lama. "Jadi apa ada tempat lain yang ingin kau kunjungi, Sayang?" tanya Leo sambil melirik kekasihnya itu. Elisa menggeleng. "Aku tidak tahu, tapi mungkin kita bisa ke tempat membeli souvenir. Aku mau membelika
Hasrat Leo makin mengentak mendengar ucapan Elisa. Ia tidak sempat menolak atau mengatakan apa pun karena Leo juga tidak berniat menolaknya. Elisa sendiri entah sejak kapan mulai bergerak, turun dari ranjang dan berjongkok di depan Leo yang sedang duduk di ranjang. Elisa meliriknya genit, sebelum ia membelai kebanggaan Leo yang sudah menegang sempurna. "Aku akan melakukannya duluan, Leo ...," bisik Elisa, sebelum ia membuka sabuk celana Leo lalu menariknya turun. Terlihat bagian yang sangat menonjol. Elisa pun membelainya makin intens sampai Leo menelan salivanya dengan susah payah. "Sayang, jangan menggodaku!" "Aku tidak menggodamu, Leo." Elisa tersenyum nakal, sebelum ia membuka boxer Leo. Kebanggaan Leo langsung mengacung tegak di sana, membuat Elisa menatapnya kagum dan penuh hasrat. Tanpa banyak kata, Elisa menggenggamnya sampai membuat Leo menahan napasnya sejenak. Sentuhan Elisa selalu membuatnya melayang sampai ia menelan salivanya. Elisa sendiri melirik ekspresi Leo
"Elisa ... kau ...." Leo menelan salivanya lagi, terlalu kaget untuk berkata-kata, tapi tatapannya benar-benar melahap Elisa dari ujung rambut hingga ujung kaki. Cantik dan selalu sempurna. Elisa sendiri menatap Leo dengan salah tingkah. "Kau ... kau yang memintaku memakai lingerie ini kan?" Leo tidak menjawab saking kagumnya. Jantungnya memacu kencang dan hasratnya dengan cepat bangkit. Namun, melihat ekspresi Leo membuat Elisa mendadak ragu sampai ia menunduk, menatap dirinya sendiri. "Hmm, apa ada yang salah? Atau ... aku pasti tampak aneh memakai ini? Sudah kubilang aku pasti kelihatan seperti bola." Elisa membalikkan tubuhnya, mendadak malu karena Leo tidak mengatakan apa pun. Ia pun berniat kembali ke kamar mandi untuk mengganti baju. Namun, sebelum Elisa sempat melangkah, Leo buru-buru menghampirinya. "Tunggu, Sayang! Siapa yang bilang kau seperti bola, Sayang? Aku hanya terkejut," sahut Leo yang langsung memeluk Elisa dari belakang dan mencium bahu wanita itu. Elisa me
Malam menjelang dengan cepat setelah Leo dan Elisa menghabiskan harinya di pantai. Mereka minum kelapa bersama, makan cemilan, dan bergandengan tangan sambil melangkah di pasir. Cuaca sedang bersahabat sepanjang hari itu, panasnya tidak terlalu terik dan anginnya pun tidak terlalu besar. Mereka sangat menikmati hari mereka. Beberapa kali ponsel Leo berbunyi dan terlihat seperti telepon penting, tapi Leo tidak ragu menolaknya dengan mengatakan ada hal yang lebih penting yang sedang dikerjakan. Cara Leo meratukannya benar-benar membuat Elisa melambung. Bahkan setelah mengetahui identitas asli pria itu, Elisa malah semakin kagum padanya. Dan sekarang Elisa tahu apa tugasnya. Tanpa perlu Leo memintanya lagi, Elisa sudah melirik lingerie yang tadi diletakkan asal di meja. "Sayang, kau benar-benar tidak mau mandi duluan?" tanya Leo. Leo sudah memaksa Elisa mandi duluan karena Elisa hamil dan hari sudah malam, tapi Elisa menolaknya karena ia ingin memberi kejutan untuk Leo nanti. "Kau
"Ini pria yang akan membuatmu hamil, Elisa." Elisa membelalak lebar saat melihat Eddy, suaminya membawa seorang pria ke kamar mereka. Pria itu Leo, asisten suaminya yang baru bekerja beberapa bulan ini. Pria berkacamata yang pendiam dan penurut, dengan rambut klimis yang membuat Elisa selalu meng
Leo bahkan tidak memberi Elisa waktu untuk bersiap ketika bibir pria itu tiba-tiba menyentuh bibirnya.Bukan hanya menempel, tapi pria itu memagut bibir Elisa sampai Elisa tersentak kaget dan marah. "Beraninya kau menciumku!" Elisa refleks bangkit berdiri dan mendorong dada Leo.Plak!Satu tampar
Eddy sontak berdiri dari kursinya begitu mendengar ucapan Elisa. "Sayang, apa yang kau katakan? Duduklah dulu, Sayang!" Eddy menghampiri Elisa dan memintanya duduk, tapi Elisa menolak. "Aku sudah memikirkannya dan aku ...." Elisa terdiam sejenak sambil melirik Leo lagi. "Aku mau ... melakukannya
"Apa yang kau lakukan di sini, Leo?" Elisa menarik tangannya kembali dan ia langsung melotot marah. Jantungnya memacu kencang dan ia tidak menyangka ada orang yang memergokinya seperti ini. Leo sendiri terdiam sejenak tidak bisa berkata-kata. Ia bukan pria polos yang tidak tahu apa yang Elisa lak







