LOGIN"Buat beritanya lebih heboh lagi! Sekarang kau bisa menyebut namaku sedikit-sedikit sebagai korban agar semua rekan bisnis Leo mulai menyerangnya juga." Malam itu, Velia sudah berbaring di ranjangnya sendiri. Setelah opname selama tiga malam, akhirnya Velia sudah boleh pulang dengan kondisi yang lebih baik. Leo sama sekali tidak menjenguknya selama ia di rumah sakit dan itu membuat Velia kesal. Seharusnya Leo merasa bersalah dan minta maaf, menunjukkan itikad baik dengan menjenguknya, tapi pria itu sama sekali tidak melakukannya. Selain itu, di setiap wawancara, Leo terlihat sangat tenang. Bahkan gosip yang awalnya membuat Leo stres itu baru beberapa hari saja langsung teredam. Velia pun tidak suka rencananya berantakan. "Pokoknya pakai cara apa pun agar Leo hancur dan berakhir dengan bertanggung jawab padaku!" geramnya lagi tanpa ampun. Tanpa ia ketahui, Leo sedang bersiap untuk berangkat ke Singapore. Leo pun berangkat sendiri keesokan harinya karena Elisa harus menemani Alden
"Cari pria bernama Nico Ardhana itu, Gary! Cari sampai dapat dan bawa kepadaku!" "Baik, Bos!" Leo tidak membuang waktu dan langsung memberi perintah pada Gary keesokan harinya. Gary pun segera mencari tahu semua dan ia menemukan bahwa Nico adalah seorang model yang cukup dikenal di bidangnya. Namanya beberapa kali muncul dalam berbagai acara fashion, pemotretan majalah, hingga kampanye beberapa merek ternama. Namun setelah kabar tentang Velia mulai mencuat, Nico seolah menghilang.Leo masih duduk di ruang kerjanya sambil menatap layar laptop sore itu saat Gary masuk dengan beberapa lembar laporan di tangannya. "Bos, aku sudah telusuri semua informasi tentang Nico."Leo mendongak menatap asistennya itu. "Bagaimana hasilnya?" "Dia memang tinggal di Bali, di sebuah apartemen di kawasan Seminyak. Tapi masalahnya, dia hampir tidak pernah berada di sana selama satu bulan terakhir."Leo mengernyit. "Ke mana dia pergi?" "Awalnya aku juga kesulitan menemukannya. Tapi aku coba telusuri ja
Elisa tidak pernah menyangka kedatangannya kemari akan sangat berguna untuknya. Sungguh, ia tidak bisa memikirkan apa yang ingin Susan katakan padanya. Bahkan saat sudah berhadapan dengan Susan tadi, sebagian dari diri Elisa masih takut Susan akan melakukan hal buruk. Tangan Elisa basah karena berdebar dan ponselnya terus merekam setiap percakapan mereka. Hingga akhirnya Susan menyebutkan nama itu. Nico Ardhana yang katanya adalah Papa dari anak yang dikandung Velia. "Nico ... kau ... Susan, kau tidak bercanda kan?" lirih Elisa dengan suara bergetar. Susan menatap Elisa dengan ketenangan yang tidak berubah. "Aku sudah bilang aku tidak mengatakan omong kosong kan? Nico itu adalah teman Velia dan temanku juga. Sesekali Velia memanggilnya saat mereka bertemu di klub dan mereka akan menghabiskan malam bersama." "Tapi jangan salah, aku tidak pernah melakukannya dengan Nico juga karena dulu aku ...." Tatapan Susan goyah sejenak. "Aku bersama pria lain cukup lama," lanjut Susan akhirny
Jantung Elisa menderu saat ia melangkah ke ruang tunggu untuk mengunjungi para napi. Bukan karena Elisa takut, tapi ia merinding. Ia akan bertemu Susan lagi setelah sekian lama. Semua orang mengatakan Susan sudah berubah dan hidup lebih baik, tapi tetap saja, Elisa belum pernah melihatnya sendiri. Karena itu, Elisa masih sangat berdebar. Pak Rahmat sendiri sudah menawarkan diri untuk menemani Elisa ke dalam, tapi Elisa menolak. Ia dan Susan butuh waktu pribadi. Selain itu, ada petugas yang berjaga dan Elisa sudah siap merekam semua pembicaraan Susan. Elisa pun mengembuskan napas panjangnya dan menunggu, hingga tidak lama kemudian, Susan keluar. Elisa mematung saat tatapan mereka bertemu. "Elisa?" lirih Susan."Susan?" lirih Elisa juga. Untuk sesaat, tidak ada yang bergerak atau berbicara lagi. Keduanya hanya saling menatap lama, sebelum akhirnya Susan yang bicara duluan. "Kau ... datang, Elisa ...." Elisa tersentak dan tersenyum kaku. "Kau yang memintaku datang kan?" "Ya, kupi
"Siapa yang menelepon, Elisa?" Elisa akhirnya kembali ke ruang tamu untuk bermain dengan Alden, tapi ekspresinya begitu aneh sampai Bik Imah mengernyit melihatnya. "Apa Velia? Apa wartawan? Rekan bisnis? Siapa yang menelepon? Mengapa wajahmu seperti itu?" tanya Bik Imah cemas. Elisa pun menatap Bik Imah cukup lama, sebelum akhirnya ia bicara. "Itu ... Susan yang menelepon." Bik Imah menahan napasnya sejenak. "Siapa? Susan? Susan adikmu itu? Bukannya dia dipenjara? Atau jangan-jangan dia kabur dari penjara dan meneleponmu untuk mengancam? Elisa, kita harus memberitahu Leo." Bik Imah mendadak panik sendiri, tapi Elisa segera menenangkannya. "Tahan dulu, Bik! Ini tidak seperti yang kita pikirkan dan Susan masih di dalam penjara, dia meneleponku dengan ponsel petugas tadi." "Eh, lalu apa yang dia inginkan? Mengapa mendadak dia meneleponmu seperti ini?""Itu ... dia ingin aku mengunjunginya." "Apa? Apa yang dia mau, Elisa? Bibik tahu di dalam penjara seharusnya lebih aman, tapi kau
Susan terus berpikir keras hari itu. Sejak tahu Velia hamil, Susan sudah mulai berpikir tapi sampai detik ini, ia belum yakin apa yang harus ia lakukan. Hingga saat mendengar berita heboh tentang Leo, akhirnya Susan pun yakin harus melakukan apa. Setelah pergi meninggalkan Hilda, Susan langsung mengejar petugas dan memanggilnya. "Hei!" Petugas itu menoleh. "Ada apa lagi?" "Apa aku ... boleh meminjam ponselmu lagi?" "Untuk menelepon lagi? Pikirkan dulu apa kau benar-benar ingin menelepon! Jangan seperti waktu itu, sudah diangkat, tapi kau malah tidak bicara!" Susan menunduk. "Maafkan aku, kemarin aku hanya belum yakin." "Lalu apa sekarang kau sudah yakin?" Susan menelan salivanya dan mengangguk. "Aku sudah yakin." Sang petugas mengangguk mendengarnya. "Tapi ... apa ini ada hubungannya dengan cerita yang kau ceritakan itu? Ini ulah temanmu itu? Kalau memang ini ulahnya, aku akan dengan senang hati menerimanya di penjara ini. Dasar wanita gila!" Susan mengembuskan napas panjan
Leo bahkan tidak memberi Elisa waktu untuk bersiap ketika bibir pria itu tiba-tiba menyentuh bibirnya.Bukan hanya menempel, tapi pria itu memagut bibir Elisa sampai Elisa tersentak kaget dan marah. "Beraninya kau menciumku!" Elisa refleks bangkit berdiri dan mendorong dada Leo.Plak!Satu tampar
Eddy sontak berdiri dari kursinya begitu mendengar ucapan Elisa. "Sayang, apa yang kau katakan? Duduklah dulu, Sayang!" Eddy menghampiri Elisa dan memintanya duduk, tapi Elisa menolak. "Aku sudah memikirkannya dan aku ...." Elisa terdiam sejenak sambil melirik Leo lagi. "Aku mau ... melakukannya
"Apa yang kau lakukan di sini, Leo?" Elisa menarik tangannya kembali dan ia langsung melotot marah. Jantungnya memacu kencang dan ia tidak menyangka ada orang yang memergokinya seperti ini. Leo sendiri terdiam sejenak tidak bisa berkata-kata. Ia bukan pria polos yang tidak tahu apa yang Elisa lak
Elisa membeku saat merasakan pelukan yang menahannya. Buru-buru ia mendongak dan jantungnya makin bergemuruh melihat siapa pria itu. Itu Leo. Pria itu berdiri sangat dekat dengannya, satu tangan masih melingkar di pinggangnya agar ia tidak terjatuh.Kemarin mungkin Elisa tidak merasakan apa-apa s







