Share

Wajah yang Familiar

Penulis: Mommykai22
last update Tanggal publikasi: 2026-04-25 17:36:24

"Jelaskan ini, Eddy!"

Eddy buru-buru mencari Arman ke ruang rapat jam sepuluh pagi itu dan ia langsung disambut teguran dari Arman di depan para manager yang ikut rapat di sana.

"Apa maksudnya, Pak?" Arman tidak mengijinkan Eddy memanggilnya Ayah di perusahaan, semua harus profesional.

"Kau bisa melihat sendiri berkasnya kan? Proyek ini sudah begitu lama, tapi tidak kunjung ada kemajuan, Eddy!"

Sebuah berkas sudah dilempar ke atas meja dan Eddy menatap berkas itu dengan tegang. Itu adalah
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Masih Beruntung

    Air mata Elisa makin meleleh begitu mendengar kata seumur hidup yang itu berarti ia tidak akan pernah berkumpul lagi dengan ayahnya itu. "Ayah!" panggil Elisa akhirnya setelah hakim meninggalkan tempatnya. Arman sempat menoleh ke arah Elisa dan mengangguk. Bahkan Arman pikir ia akan dihukum mati, tapi semua ini lebih baik, sangat baik. "Semua sudah berakhir, Elisa! Pulanglah! Semua sudah selesai!" Elisa tersenyum lagi dan tetap mendekati Arman, menggenggam tangan Arman seperti tadi sebelum persidangan dimulai. "Tidak apa, Ayah! Tidak apa! Tetaplah bersemangat dan menjadi orang yang lebih baik di penjara. Mungkin, kita tidak bisa berkumpul lagi di rumah, tapi aku akan sering berkunjung, aku akan menunjukkan foto cucu Ayah saat dia lahir nanti. Tidak apa, Ayah! Tidak apa!" Arman yang mendengarnya pun kalah, air matanya menetes juga menatap perut besar Elisa. Ya, ia akan punya cucu. Terlepas dari siapa pun ayah anak itu, itu tetap cucu Arman. Elisa anak kandungnya, Arman tidak per

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Keadilan yang Ditegakkan

    Setiap pelaku kejahatan akan mendapatkan hukumannya, tanpa menunggu siap atau tidak siap. Begitu juga dengan Arman yang harus menerima konsekuensi dari semua perbuatannya. Awalnya semua orang berpikir, Arman akan lama pulih. Mungkin Arman akan seperti Darmawan yang menggunakan sakitnya sebagai alasan untuk mangkir. Namun, secara mengejutkan, Arman tidak seperti itu. Arman akui sempat terlintas dalam pikirannya untuk mangkir lagi, tapi sebuah kesadaran menghantamnya. Sampai kapan? Sampai kapan ia akan seperti ini terus? Sejak sadar ia hanya tinggal seorang diri, perasaan dan pikirannya berubah. Apalagi sejak Elisa memeluknya, hati yang keras mendadak mencair tanpa bisa dicegahnya, walaupun ia masih gengsi mengakuinya. Arman tidak pernah bersikap melunak setiap Elisa mengunjunginya, tapi Arman sudah tidak pernah menolak kedatangan anaknya itu. Dan makin dekat dengan anaknya, perasaan Arman ikut melembut. "Aku akan ada di sini untuk mendukung Ayah," kata Elisa hari itu, di mana a

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Menerima Kenyataan

    Elisa melangkah cepat di koridor rumah sakit bersama Leo dan Gary di tengah malam itu. Begitu mengetahui bahwa Arman sadar, rasa gelisah di hati Elisa hilang dan berubah menjadi antusias ingin bertemu. "Suster, bagaimana kondisi Ayahku?" tanya Elisa begitu tiba di sana. "Kondisinya sudah stabil, Bu, hanya emosinya yang belum stabil. Awalnya Pak Arman masih sangat lemas dan mengeluh pusing, dia belum terlalu kuat bicara, tapi mendadak Pak Arman teringat ayahnya dan terus bertanya. Kami tidak berani menjawab apa pun." Elisa menelan saliva mendengarnya. Bahkan begitu Arman sadar dari koma, yang dicari pertama kali adalah Darmawan. "Boleh aku melihatnya?" "Silakan, Bu." Tangan Elisa sedikit bergetar dan Leo melihatnya. "Kau mau aku temani, Sayang?" Elisa menoleh menatap Leo dan menggeleng. "Tidak, dia akan makin mengamuk melihatmu." Leo mengangguk. "Ya, itu benar. Tapi hati-hati, jangan terlalu dekat, aku takut ...." "Aku tahu, Leo," sela Elisa. Ia sangat tahu walaupun Arman adal

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Akhirnya Bangun

    "Ayah, aku datang lagi." Elisa menjenguk Arman lagi malam itu setelah melakukan serangkaian acara penghormatan untuk Darmawan. Elisa masih tidak mau memberitahu apa pun pada ayahnya itu dan menunggu ayahnya sadar. "Apa Ayah baik-baik saja di sini?" Elisa menahan tangisnya. "Bangunlah, Ayah. Bangunlah segera ...." Elisa menatap wajah, jari-jari, dan tubuh Arman, berharap ada detail kecil yang akan menunjukkan bahwa pria itu akan segera sadar, tapi nyatanya, walaupun sudah menatap cukup lama, Arman tidak menunjukkan tanda apa pun. Elisa mengembuskan napas panjangnya dengan kecewa. "Tidak apa. Kalau Ayah belum bangun sekarang tidak apa. Tapi aku mau Ayah tahu kalau aku sudah memaafkan Ayah. Aku dan semuanya memaafkan Ayah dan menunggu Ayah bangun. Ayah dengar kan? Karena itu, bangunlah, Ayah." Elisa memandangi Arman sedikit lebih lama, sebelum akhirnya Elisa pun bangkit dari kursi dan perlahan melangkah pergi dari sana. Tanpa Elisa sadari, jari-jari Arman mulai bergerak, menunjuk

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Penghormatan Terakhir

    Pagi itu menjadi pagi yang sangat sendu bagi Elisa. Setelah sedikit merasakan kebahagiaan berkumpul bersama keluarga barunya, Elisa harus merasakan sedih lagi saat mengadakan upacara penghormatan terakhir untuk kakeknya, Darmawan Wijaya. Setelah kebakaran itu, semua jasad yang meninggal di dalam gudang dibawa untuk dilakukan proses identifikasi sesuai prosedur. Jenazah Darmawan pun akhirnya diserahkan kepada keluarga beberapa hari setelahnya. Tubuh Darmawan mengalami luka bakar yang sangat parah. Kondisinya sangat buruk sehingga diputuskan jasad itu langsung dikremasi secara tertutup.Awalnya, sebagai anggota keluarga yang tersisa, Elisa diminta untuk melihat korban secara langsung, tapi Elisa menolak. Dokter dan Leo sendiri juga tidak mengijinkan karena Elisa masih dalam perawatan dan Elisa punya trauma berat pada api dan kebakaran. Hingga akhirnya proses itu diwakilkan oleh Gary dan Albert. Gary merekam semua prosesnya dan sudah menyerahkan pada Elisa, tapi sampai hari ini, Elis

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Gejolak Jiwa Muda

    "Kami pulang dulu, Pak Leo, Elisa!" Pagi itu, Handi dan Daisy akhirnya berpamitan pindah dari apartemen. "Sekali lagi terima kasih atas bantuannya selama ini. Jangan khawatir karena aku akan tetap membantu mengawal kasus ini sampai selesai.""Terima kasih untuk semuanya juga, Pak Handi. Kalau ada hal apa pun yang kau butuhkan, jangan ragu menghubungi kami." "Tentu saja, Pak Leo.""Terima kasih banyak, Pak Handi," seru Elisa juga. "Aku masih tidak enak karena pernah sinis pada Anda. Maafkan aku sempat tidak percaya dan tidak menyukai Anda. Aku sangat bodoh waktu itu." "Tidak ada yang bodoh, Elisa. Semua orang di posisimu akan melakukan yang sama. Itu wajar. Justru aku yang sempat tidak enak hati karena harus membuat hatimu sakit karena kenyataan ini." "Anda sudah melakukan hal yang benar, Pak Handi. Dan aku senang mengenal Anda. Kuharap setelah ini, kita masih bisa tetap berteman. Aku juga suka sekali pada Daisy." "Tentu kita akan tetap sering bertemu, Sayang. Aku sudah menyiapka

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Pria Lain di Kamarnya

    "Ini pria yang akan membuatmu hamil, Elisa." Elisa membelalak lebar saat melihat Eddy, suaminya membawa seorang pria ke kamar mereka. Pria itu Leo, asisten suaminya yang baru bekerja beberapa bulan ini. Pria berkacamata yang pendiam dan penurut, dengan rambut klimis yang membuat Elisa selalu meng

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Milikku Besar

    Leo bahkan tidak memberi Elisa waktu untuk bersiap ketika bibir pria itu tiba-tiba menyentuh bibirnya.Bukan hanya menempel, tapi pria itu memagut bibir Elisa sampai Elisa tersentak kaget dan marah. "Beraninya kau menciumku!" Elisa refleks bangkit berdiri dan mendorong dada Leo.Plak!Satu tampar

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Aku Akan Memulainya

    Eddy sontak berdiri dari kursinya begitu mendengar ucapan Elisa. "Sayang, apa yang kau katakan? Duduklah dulu, Sayang!" Eddy menghampiri Elisa dan memintanya duduk, tapi Elisa menolak. "Aku sudah memikirkannya dan aku ...." Elisa terdiam sejenak sambil melirik Leo lagi. "Aku mau ... melakukannya

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Anak Tukang Selingkuh

    "Aku tidak bisa! Nyalakan lampunya!" Elisa memekik keras sambil bangkit duduk di ranjangnya. Ia merinding. Ia tidak bisa melakukan ini. "Kubilang nyalakan lampunya, Leo!" bentak Elisa lagi. Sedetik kemudian, lampu pun dinyalakan dan Elisa kembali menoleh. Leo belum memakai kemejanya dan tubuh pr

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status