Masuk"Sepertinya kemampuanmu sangat buruk. Saya kasih tambahan waktu, 3 jam harus selesai." ucap Nathan memalingkan muka,dan meraih berkas yang tadi gadis itu kerjakan.
3 jam kemudian.
"Ehrg. Jariku sakit banget!" gerutu Thea,
Berulang kali menjambak rambutnya untuk melupakan rasa sakit yang ia rasa.
"Hhh, sampe mual lihat tulisan ini..Bosen woy, capek juga!" teriak gadis itu dalam hati,
Tap.
Ditaruhnya bolpoin tadi lalu Thea beranjak dari atas lantai,membawa buku itu dan disodorkan ke hadapan Nathan.
"Ini Pak, sudah selesai.."
Laki laki itu melirik sekilas ke arah tulisan yang ada di atas kertas.
"Nanti malam latihan menulis, perbaiki gaya tulisannya. Ini terlalu jelek dan membuat sakit mata saya." ketus Nathan
"Sial! mataku juga sakit.." celetuk Thea dalam hati,
Mengepalkan kedua tangannya dengan erat,berusaha menahan emosi karena perkataan laki laki itu.
"Ambil dan pelajari buku pedoman tulisan yang ada di rak saya,"
"Kamu harus bisa nentuin mana kata kata baku dan tidak baku,serta tahu cara penulisan yang benar." tegas Nathan,tanpa melihat ke arah lawan bicara.
Laki laki itu tengah fokus membaca tulisan tangan Thea.
"Mengerti?" sontak Nathan meninggikan suara,
"M-mengerti Pak!"
Ting. Ting. Ting.Ditekannya tombol bel secara berulang kali,
"Iya, sebentar!" teriak suara gadis dari dalam apartemen,terdengar sedikit kesal karena suara bising.
Pintu terbuka,lalu gadis itu segera melangkah masuk dan membaringkan tubuhnya ke atas sofa.
"Hhh, akhirnya pulang juga." gumam Thea menghela nafas lega.
Manda berjalan mendekat dan mengisi sofa lain. Menatap raut lesu yang tersemat di wajah gadis itu,
"Kok baru pulang? perasaan orang kantor pulang jam 5."
"Satu jamnya aku habiskan untuk nunggu bus," seru Thea dengan tatapan kosong.
"Hahaha kasian. Ya udah aku pesenin makanan, kamu mandi aja dulu."
"Engga. Aku masih mau rebahan bentar, punggungku rasanya pegel banget gara gara duduk terus." gerutunya,
Thea meraih bantal kecil yang ada di atas sofa. Mendekapnya lalu memejamkan mata,
"Emangnya, udah disuruh ngapain aja?" ucap Manda,sedikit penasaran.
dia terlihat sedang mengotak atik layar ponsel untuk menghubungi layanan pesan antar makanan.
"Nulis sama baca. Berasa kayak kembali ke masa masa sekolah,"
"Hah? yang bener? kok bisa."
"Emangnya lagi ga ada rapat atau ketemu klien?" celetuk Manda sedikit mengeraskan suara karena terkejut,
"Ya ada. Tapi aku disuruh diem aja di ruang kantornya."
"Jadi aku berjam jam duduk dengan tugas nulis sama baca yang dia suruh," seru Thea menggertakkan gigi,
"Wah, hebat banget kamu bisa tahan."
"Ya bisalah! namanya demi kerjaan. Daripada dipecat. Ini juga gara gara kamu tau!" sontak Thea membuka kedua matanya,
Gadis itu beranjak duduk,lalu menghadap ke arah temannya. Dengan raut kesal menatap gadis yang tengah duduk disana,
"Lah, kok aku? emangnya aku ngapain!?"
"Ya kamu ga bilang kalo dia masih muda! Kamu cuma cerita kalo itu pamanmu." dengus Thea memasang muka masam.
"Dia emang pamanku. Adik bungsu mama, umurnya emang cukup muda sih."
"32 tahun."
"Emangnya kenapa?"
"Aku ga sengaja ngebentak, terus bicara non formal sama dia." seru Thea merendahkan suara,
"K-kok bisa!"
"Iya, tadi aku kira dia karyawan lain yang tiba tiba nimbrung ke ruangan kerja. Dan aku pikir, pamanmu itu pria yang usianya ga jauh berbeda dengan pamanku."
"Ya kirain kamu bakalan tahu! Soalnya terakhir kali aku kesana, ada foto pamanku yang terpampang nyata." ujar Manda
"Yang bener? perasaan aku galiat foto apapun."
"Yaudah, udah terlanjur jadi lupain aja! Anggap pengalaman." celetuk Manda tersenyum lebar.
"Hari ini nenek tetep ga nelfon?"
"Ngga.." sahut Thea menggelengkan kepala.
tring...tring...tring…
Terdengar suara yang berasal dari luar,membuat salah satu gadis itu beranjak pergi.
"Bentar…"
Manda beranjak dari tempat duduk,membuka pintu dan kembali dengan 1 buah kantong plastik berukuran besar.
"His. Tanganku rasanya sakit banget," gumam Thea menggerakkan jari jemarinya yang terasa nyeri.
"Ayo makan!"
****Keesokan hari
Pukul 06.00
Ruang kamar yang masih sunyi,kedua gadis itu tengah tertidur lelap di atas ranjang. Salah satu dari mereka menghabiskan malam untuk belajar,
Thea menuruti perintah atasannya dan belajar memperbaiki tulisan yang menurutnya terbilang sudah sangat bagus namun masih belum sempurna untuk pimpinan perusahaan Galaksi.
Gadis itu juga membaca kata baku dan cara penulisan dari beberapa laman internet. Dia ingin memberikan yang terbaik agar tidak ada lagi perintah untuk menulis,
tring...tring...tring...
Dering alarm begitu nyaring membuat seluruh kamar dipenuhi bunyi bising. Manda yang merasa terusik mulai mengerutkan alis dan menarik bantal miliknya untuk menutupi telinga,
"Urgh. Thea! matikan alarmnya!" seru gadis itu menepuk pundak temannya yang masih tertidur,
"........" Thea yang terlalu lelah tidak bergerak ataupun merespon suara yang masuk ke telinga nya.
"Thea.." sontak Manda,
Gadis itu merasa kesal lalu menendang bagian punggung Thea.
"Ng.." gerutunya,merasa sesuatu yang keras baru saja menghantam bagian belakang.
Thea perlahan membuka mata,meraih ponsel yang ada di atas meja lampu tidur.
Menggeser layar untuk menghentikan suara bising tadi. Lalu menatap ke arah angka penunjuk waktu,
"Hh." menghela nafas dan kembali ke posisi semula, berulang kali mengedipkan mata yang masih terasa berat.
Gadis itu menatap langit langit kamar, sambil mengumpulkan kesadarannya.
"Aduh, capek banget! Kapan ya libur kerja,"
"Habis ini mandi. Terus naik bus,"
"Kalo pagi mah, masih enak. Tapi waktu pulang panas banget! Mana harus desak desakan,"
"Ahrg. Bayanginnya aja udah ga sanggup," gerutu Thea dalam hati.
Sorot matanya beralih ke arah Manda yang masih tidur meringkuk. Gadis itu mulai menepuk pundak temannya secara perlahan.
"Man?"
"Ng??" sahut Manda masih terpejam.
"Kamu hari ini ada pemotretan ga?"
"Ada. Tapi masih 2 jam lagi," gumamnya lirih,
"Yah. Jadwalnya ga bisa diganti? dimajuin kek,"
"Kenapa emangnya?" tanya Manda merendahkan suara,
"Badanku sakit semua, niatnya mau nebeng ke tempat kerja."
"Oh, yaudah aku anterin."
"Hah? beneran jadwal mu bisa dimajuin?"
"Ya gak bisa sih, tapi aku masih mau beli beberapa tiara buat konsep photoshoot. Jadi sekalian beli waktu nganterin kamu,"
"Beneran gapapa?" tanya Thea memastikan
"Iya gapapa. Udah sana mandi dulu! Aku mau tidur sebentar."
"Nanti kalo udah selesai siap siap,bangunin aja." seru Manda.
Gadis itu berbalik mencari posisi yang tepat untuk melanjutkan tidurnya.
Thea menatap sekilas punggung temannya yang terbalut piyama biru,lalu beranjak duduk.
"Euhrg…" sontak Thea merentangkan kedua tangan,dan melangkah turun.
Thea meraih sebuah kain penyeka yang tersemat di towel hanger. Lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi,
20 menit kemudian,gadis itu telah selesai bebersih diri. Segera keluar dalam keadaan rambut basah dan setengah badan yang tertutupi oleh handuk putih.
Thea menoleh ke arah lemari kaca yang menyimpan beberapa alat kecantikan. Diambilnya sebuah hairdryer kuning milik Manda,
Setelah itu sorot matanya beralih ke arah gadis yang masih diam di atas tempat tidur. Thea melangkah mendekat,perlahan mengguncangkan pundak temannya.
"Man…"
"Ng?" sahut Manda,beralih posisi. Sedikit mendongak perlahan membuka mata.
"Aku udah selesai mandi, tinggal pake baju sama make up sebentar. Sana kamu cepetan mandi,"
"Kamu siap siap aja deh, sampe selesai! baru bangunin." gumam Manda menatap gadis yang berdiri di depan dengan sebuah pengering rambut di tangannya.
"Lah, terus kamu kapan mandinya?"
"Aku ga mandi…" ucap Manda merendahkan suara,
"Ha? beneran? yakin keluar rumah ga mandi?"
"Iya, asal kamu tahu. Kecantikan model yang sesungguhnya itu, saat kita baru bangun tidur."
"Jadi mau aku mandi atau nggak, aku tetep aja cantik." sanggah Manda,
"Hhh, narsis amat!"
Thea menghela nafas mendengar ucapan temannya lalu berbalik dan segera mengeringkan rambut.
15 menit kemudian.
Gadis itu tengah berdiri di depan cermin,berlenggak lenggok untuk meneliti penampilannya. Dengan sebuah kemeja blouse abu abu,serta rok hitam yang menutupi paha dan setengah lututnya.
Thea membiarkan rambutnya terkuncir tinggi supaya terkesan rapi,juga memakai sedikit riasan yang lebih menunjukkan wajah asli Thea tanpa make up.
"Oke siap!" serunya mengangkat kepalan tangannya,
"His, masih sakit banget!"
***Bersambung."Apa ada informasi?" Menggenggam erat telfon di tangannya."Ya, setelah lama mencari akhirnya ada petunjuk tentang kecelakaan itu. Tapi sebelumnya, ada yang ingin ayah tanyakan.." sahut Zen terdengar serius berhasil membuat Nathan penasaran."Dimana kamu saat kecelakaan terjadi?""Romi bilang pada ayah kalau kamu ada urusan bisnis. Tapi setelah ayah telusuri, perusahaanmu sedang sibuk mengurus peluncuran produk baru dan tidak mungkin pimpinan perusahaan pergi meninggalkannya begitu saja." "Mm, aku sedang ada urusan lain." ucap Nathan terdengar ragu,"Apakah kamu bertemu dengan Rena?" Kedua manik Nathan membulat sempurna setelah ditodong dengan pertanyaan tadi. Tidak menyangka kalau ayahnya bisa menebak dengan tepat,"Dia terdiam?" batin Zen menggertak geram"Jadi benar, dugaanku---kamu masih berhubungan dengan gadis itu.""Aku hanya menerima undangan dari teman lama, dan datang ke pameran seninya." lugas Nathan membela diri,"Apa kamu lupa apa yang terjadi dulu? Bisa-bisanya kalian
"Berhubungan---sepertinya tidak salah kalau dicoba, aku akan membicarakannya dengan Thea." Pria itu bergumam sambil melangkah ke depan pintu kamar yang tertutup rapat."Apa yang Bapak lakukan disini?" Celetuk Thea terkejut mendengar suara di ujung kamar. "Aku hanya ingin mengunjungi kamarmu," sahutnya menatap gadis yang tengah berdiri di depan cermin."Buat apa?" menjawab dengan ketus,"Memastikan agar kamu nyaman disini," mengamati sekeliling. "Tapi ruangan ini lebih luas dari milikku. Pasti tidak nyaman,""Tidak, saya menikmatinya. Jadi tidak perlu berpikir berlebihan," imbuh Thea dengan raut datar.Walau bukan kamar utama, tapi ruangan itu memiliki luas paling besar karena baru saja direnovasi dan sejak lama sengaja dibuat sebagai kamar keluarga Adelard beserta anak anaknya."Apa kamu masih marah karena masalah kemarin?""Masalah apa? Saya tidak ingat apapun." ungkap Thea penuh lantang."Aku tidak bermaksud untuk merendahkanmu. Hanya saja, kamu gadis pertama yang menyatakan cinta
Srash....Rintikan hujan terus berjatuhan membasahi taman, membuat ribuan lahan hijau berhias bunga itu bergoyang lirih. Terlihat Thea tengah berdiri berpangku tangan di depan pintu memandangi suasana disekitar, bola matanya mematung tak menghiraukan percikan air yang sesekali menyentuh kulitnya."Apa yang kau lakukan disini?" tanya Nathan yang baru saja sampai menghampiri istrinya.Sedari tadi dia sibuk menyelesaikan beberapa pekerjaan kantor yang sempat tertinggal hingga baru menyadari jika gadis itu tidak berada di kamarnya,"......" Thea terdiam membelakangi pria yang masih berdiri tegak menatap punggungnya.Nathan melirik ke arah pelayan yang berada tidak jauh dari mereka, seakan meminta penjelasan atas kebungkaman Thea."Maaf, Tuan. Saya sudah berusaha mengajak Nyonta masuk.." sahut pelayan muda dengan kepala tertunduk,Pria itu menghela nafas lalu berkata, "Ya sudah, kau boleh pergi. Siapkan baju ganti, biarkan saya yang mengurusnya."Pelayan itu mengangguk sebelum pergi menin
"Sepertinya, Nyonya masih lelah karena terlalu lama berenang. Apa perlu saya panggilkan dokter untuk memeriksa keadaan anda?""Tidak perlu, aku baik-baik saja. Hanya perlu istirahat," tolak Thea bersikap tak acuh,"Tidak enak badan? Apa itu parah--kalau kau sakit, kenapa tadi keluar?" sontak Nathan merasa cemas,Bahkan nafsu makannya seketika menghilang setelah mengetahui keadaan gadis tadi, ingin rasanya memanggil seluruh staf rumah sakit guna memeriksa keadaan Thea."Saya pikir itu akan membantu, ternyata saya salah." sahutnya menghela nafas, masih menghindari kontak mata."Tentu saja salah. Sejak kapan lari pagi bisa menyembuhkan orang sakit?" timpal Nathan merasa geram, tak lagi mendapat sahutan.Seketika membuat pria itu sedikit mengoreksi kesalahan yang dilakukan, menganggap kalau orang sakit tidak bisa menerima perkataan kasar. Berusaha menahan juga bersikap lebih lembut, "Hh, sudahlah. Apa ada hal lain yang kau minta? Aku akan menurutinya,""Tidak ada," tegas Thea singkat,"M
"Itu tidak perlu," tolaknya dengan pasti, Jika dia setuju maka hal ini hanya akan menambah beban dalam hati, Thea memutuskan untuk tidak lagi berharap atau memupuk perasaan yang seharusnya tidak muncul dalam hubungan palsu. "Apa kau tidak tahu betapa bahayanya diluar?" "Kenapa Bapak berlebihan, lupakan masalah tadi. Yang penting saya sudah kembali dan dalam keadaan baik-baik saja," seru Thea seakan menepis simpati yang didapat, "Kau selalu membangkang. Ini semua kulakukan untuk melindungimu," lugas Nathan begitu malas menjelaskan setiap tindakan yang diambil, "Hh, apa sebenarnya yang dia maksud? Melindungi dari siapa," benak Thea menghela nafas, Melirik sekilas paras tampan yang bisa membuat hatinya goyah, namun dengan cepat Thea berbalik berusaha meyakinkan diri untuk tidak lagi berdekatan. Berusaha untuk mengubur perasaan sekaligus menutup harapan, Bergegas melangkah pergi meninggalkan pria yang masih terdiam menatap punggungnya, "Tunggu! Kenapa kau pergi begitu saja. A
"Srup---ah!" celetuk suara puas dari bibir ranum yang baru saja menikmati beberapa teguk minuman.Cap..Cap..Cap..Berulang kali mengecap demi mengingat rasa manis yang tersisa di langit-langit mulut, lengkung sempurna perlahan muncul saat melihat sosok dengan setelan hitam putih tengah berjalan menghampiri.Sepoi angin siap menerpa rambut legam terkuncir tinggi bak ekor kuda, terasa begitu sejuk saat kutikula tubuh serta leher jenjangnya tertiup udara."Kenapa kau berikan padaku?" ucap Thea menegur wanita yang sedang berdiri sambil menyodorkan sebuah kelapa. Begitu bingung padahal dirinya sendiri juga telah memangku s
Mendengar logat halus yang begitu menyejukkan telinga juga sentuhan intim yang terasa nyata, padahal kedua hal itu adalah impian yang tak mungkin didapat.Tapi siapa sangka setelah menjadi kenyataan semua ini justru menyakitkan hati Thea, kata bak pinangan tadi berubah setajam pedang
WARNING 21+ ________________________________ HARAP BIJAK DALAM MEMBACA ________________________________ Blush.. Begitu jelas terukir rona merah di kedua pipi Thea, wajah putihnya berubah bak kepiting rebus berkat perkataan penuh makna. "
Sigap gadis itu berdiri memandang Nathan yang siap menarik kaos hitam hingga memperlihatkan tubuh bagian atas. Mulai dari lekuk otot perut hingga kedua titik pada dada bidang, entah kenapa Thea belum menyadari jika kedua maniknya perlahan tersihir karena pemandangan tersebut.
"Huh! Apa dia bilang? Perutku penuh dengan lemak! Memangnya dia pernah melihat perutku--seenaknya saja menghina tanpa bukti." gerutu Thea mendengus kesal,Dengan hati yang terbakar amarah dia berdiri di depa







