MasukSuasana di ruang tengah yang megah itu mendadak berubah menjadi medan pertempuran aroma parfum mahal. Ketegangan terpancar jelas dari garis wajah Winda yang mulai mengeras. Ia melepaskan rangkulannya dari lengan Reno, lalu berdiri tegak dengan berkacak pinggang, menatap kedua temannya dengan tatapan yang bisa membekukan air.
"Erma, Helen... kurasa gelas kalian sudah kosong. Dan sopir kalian pasti sudah bosan menunggu di depan. Aku punya jadwal latihan khusus malam ini dengan Reno. Jadi aku harus fokus. Tidak mau terganggu!” seru Winda dengan nada bicara yang ditekan, sebuah pengusiran halus yang dibungkus dengan ketegasan seorang istri jenderal. Erma, yang tampak paling bersemangat, justru menyandarkan punggungnya lebih dalam ke sofa beludru, kakinya yang jenjang menyilang dengan angkuh. "Ayolah, Win. Jangan pelit begitu. Kita sudah berteman bertahun-tahun. Apa salahnya berbagi pelatih? Lagipula, tubuh Reno yang besar ini pasti sanggup menangani kita bertiga sekaligus, kan?" Erma mengedipkan mata ke arah Reno, membuat pemuda itu memalingkan wajah dengan telinga yang memerah hebat. Bulu kuduknya berdiri. Bisa bisanya dia terjebak di sarang serigala betina yang haus dan lapar. Tidak mau kalah, Helen pun ikut menimpali sambil mengelus gelas kristalnya. "Iya Win, Benar kata Erma. Kami tidak akan mengganggu menu utama milikmu. Kami hanya ingin ikut pemanasan. Aku merasa otot pinggangku sangat kaku. Reno, kamu bisa membetulkan posisi pinggangku, kan?" cercos Helen. Tapi dengan cepat Winda menjawab. “No.. No.. No.. Pokoknya tidak bisa!” tegas Winda sambil menyilangkan kedua tangannya. Reno berdiri mematung di tengah-tengah mereka. Kepalanya berdenyut. Ia merasa bukan sedang berada di rumah mewah, melainkan di tengah pasar lelang di mana dirinyalah barang yang sedang ditawar. Perdebatan antar nyonya besar ini mulai terasa kekanak-kanakan. Namun ia tahu posisi mereka jauh di atasnya. Jika ia salah bicara, dia akan kehilangan pekerjaan itu dan Reni akan menjadi taruhan hutang. Melihat perdebatan yang kian memanas, di mana Winda mulai mengeluarkan kata-kata pedas tentang etika bertamu, Reno memberanikan diri untuk angkat bicara. Ia berdehem pelan, mencoba menarik perhatian ketiga wanita agresif itu. "Anu... Nyonya-nyonya sekalian. Kalau boleh saya memberi usulan... daripada Nyonya sekalian berdebat, bagaimana jika malam ini kita latihan bersama saja? Saya bisa mengatur menu latihan kelompok. Jadi, tidak ada yang merasa dirugikan,” ucap Reno dengan suaranya yang berat dan rendah. Dan seketika menghentikan adu mulut tersebut. Tiga pasang mata langsung tertuju padanya. Reno berpikir secara logis. Jika satu orang saja membayarnya sepuluh juta, maka tiga orang artinya tiga puluh juta dalam semalam. Dengan uang itu, dia bisa mencicil hutang rentenir besok pagi. Selain itu, berlatih bersama dalam satu ruangan terasa lebih aman bagi harga dirinya yang masih perjaka daripada harus berduaan saja dengan Winda di kamar yang tertutup. Erma dan Helen langsung bertepuk tangan kecil mendengar saran dari Reno yang terdengar memihak pada mereka. Wajah mereka seketika berbinar puas. "Nah! Itu baru namanya pelatih yang pintar!" seru Helen. Namun, senyum itu sirna seketika saat Winda berbalik menghadap Reno. Wajahnya tidak lagi ramah. Ia melangkah mendekati Reno hingga ujung sepatu tinggi mereka hampir bersentuhan. Aroma mawar dari tubuh Winda begitu kuat menyengat indra penciuman Reno. "Reno, malam ini... kamu adalah milikku. Secara eksklusif. Jadi tidak ada namanya latihan kelompok. Emang kamu pikir kita anak anak TK!” tolak Winda dengan sangat tegas hingga membuat Reno bergidik ngeri mendengarnya. Winda kemudian menoleh ke arah teman-temannya dengan tatapan tajam yang tak terbantahkan. "Kalian, sekarang juga harus pulang. Atau aku akan memastikan suami kalian tahu di mana kalian menghabiskan waktu malam ini!” ancam Winda. Selama ini, Winda tau kontak kedua suami temannya. Tapi mereka tidak ada yang tau kontak suami Winda, sehingga mereka tidak bisa mengancam balik. Ancaman itu bekerja seketika. Erma dan Helen bangkit dengan wajah bersungut-sungut. Mereka menyambar tas branded mereka sambil memberikan tatapan penuh tanda tanya kepada Reno. "Dih, Pelit sekali!" gerutu Erma saat melewati Winda. Tapi setelah itu dia sengaja menyenggol bahu kekar Reno dengan pinggulnya sambil menggodanya. "Sampai jumpa di luar, Reno ganteng. Bye…." Sontak kedua bola mata Reno dan juga Winda membulat sempurna. Winda segera memastikan dua temannya itu pulang, lalu dia segera menutup pintu tersebut. Setelah pintu utama tertutup rapat dan menyisakan kesunyian yang mencekam, Winda berbalik. Dia mengajak Reno pindah ruangan. Bukan di ruang tengah atau ruang olahraga, tapi Winda membawanya ke sebuah kamar, lalu menutup pintu dan menguncinya dengan bunyi klik yang membuat jantung Reno seakan berhenti berdetak. Ruangan luas itu kini hanya menyisakan mereka berdua. "Nah, Reno...Mari kita mulai latihan yang sebenarnya. Kamar di atas jauh lebih nyaman daripada ruang gym yang dingin,” ujar Winda sambil berjalan mendekat, jemarinya mulai membuka kancing teratas blus sutranya. Reno menelan ludah. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Ia teringat ucapannya pada diri sendiri. “Profesional, Reno. Ini semua demi Reni, dan hanya sebulan!” tegasnya pada diri sendiri. Tapi menghadapi Winda yang kini menatapnya dengan pandangan penuh rasa lapar, Reno cemas jika profesionalisme kerjanya tidak akan mampu untuk menyelamatkannya malam ini dari godaan sang serigala betina.Dalam kondisi fisik yang lemah dan mental yang terpuruk, Helen tidak memiliki kekuatan lagi untuk mengelak kemauan orang tuanya. Gelombang peristiwa yang menghantamnya bertubi-tubi, mulai dari perceraian yang menguras emosi, ancaman mantan suami, hingga puncaknya kehilangan janin yang sempat menjadi harapan barunya, membuat pertahanan dirinya runtuh. Bagai kapal yang kehilangan kemudi di tengah badai, Helen akhirnya hanya bisa pasrah dan menurut pada garis takdir yang telah digariskan oleh kedua orang tuanya.Rencana kepergian itu berjalan dengan sangat senyap dan cepat. Pihak keluarga benar-benar menutup rapat semua akses informasi. Seminggu setelah akta cerai fisiknya keluar dari pengadilan agama, Helen resmi meninggalkan tanah air, terbang menuju sebuah kota di belahan bumi lain untuk memulihkan luka batinnya dan memulai lembaran hidup yang baru, jauh dari hiruk-pikuk masa lalu yang kelam di Indonesia.Namun, rupanya takdir kepindahan ini bukan hanya milik Helen. Di tempat lain,
Berita tentang musibah yang menimpa Helen akhirnya sampai juga ke telinga Reno melalui pesan singkat yang dikirimkan oleh Winda. Tanpa membuang waktu, dengan pakaian yang masih seadanya, kaus oblong hitam dan jaket jins yang biasa ia gunakan di gym, Reno langsung memacu sepeda motornya membelah jalanan kota menuju rumah sakit. Hatinya tidak tenang. Bukan karena ia kehilangan calon anak dari wanita yang dicintainya, melainkan karena rasa kemanusiaan dan tanggung jawab moralnya sebagai pria yang telah menanamkan benih di rahim Helen. Ia tahu betapa hancurnya mental Helen saat ini.Namun, langkah kaki Reno yang tergesa-gesa mendadak terhenti tepat di area lobi utama rumah sakit, beberapa meter sebelum ia mencapai lift menuju ruang VIP.Dua orang berwibawa dengan pakaian formal yang sangat elegan sudah berdiri di sana, seolah-olah memang sengaja menunggu kedatangannya. Mereka adalah Ayah dan Ibu Helen. Kehadiran Reno yang kontras dengan lingkungan rumah sakit mewah itu langsung menarik
Prosedur kuretase itu akhirnya selesai setelah melewati satu jam yang terasa bagai selamanya. Helen perlahan-lahan sadar dari pengaruh obat bius total. Ia dipindahkan ke ruang perawatan VIP yang sepi, dingin, dan didominasi warna putih yang menyakitkan mata.Saat matanya terbuka sempurna, hal pertama yang dilakukan Helen adalah menggerakkan tangan kanannya yang gemetar, meraba perutnya sendiri. Perut yang beberapa jam lalu masih terasa penuh dan hangat, kini terasa kosong, kempis, dan menyisakan rasa nyeri yang tumpul di bagian dalamnya."Len... kamu sudah sadar?" tanya Winda yang dari tadi duduk di sisi ranjang langsung menggenggam jemari Helen yang dingin. Di sebelah Winda, Ratna berdiri dengan mata yang masih sembab.Helen menatap kedua sahabatnya dengan pandangan kosong, sebelum air matanya meluncur deras membasahi bantal hospital tersebut. "Bayiku, Win... Rat... Anakku sudah tidak ada, ya?" tanyanya dengan suara yang teramat lirih, parau, dan hancur."Len, tolong dengerin ka
Ciiiiiittttt!Suara lengkingan ban mobil yang bergesekan hebat dengan aspal basah seketika memecah ketegangan di dalam kabin Alphard tersebut. Tubuh Helen, Winda, dan Ratna terdorong keras ke depan akibat sang sopir yang menginjak pedal rem secara mendadak. Sebuah bayangan hitam baru saja melintas, menyeberang jalanan yang temaram secara sembarangan tanpa memperhatikan laju kendaraan."Ya ampun! Siapa sih itu? Kalau jalan pakai mata dong!" seru Ratna dari kursi belakang, jantungnya berdegup kencang karena terkejut.Sang sopir segera menoleh ke belakang dengan wajah pucat pasi. "Maaf, Ibu-ibu... Maaf sekali. Tadi ada orang menyeberang tiba-tiba, hampir saja ketabrak.""Iya, Pak, tidak apa-apa. Yang penting tidak ada yang luka," sahut Winda sambil mengelus dadanya, mencoba menenangkan diri.Namun, di tengah kepanikan kecil itu, Winda menyadari sesuatu yang aneh. Di sampingnya, Helen sama sekali tidak mengeluarkan suara. Winda menoleh dan seketika merasakan dingin menjalar ke seluru
Mobil Alphard itu terus melaju pelan membelah jalanan yang basah, sementara keheningan kembali merayap, jauh lebih pekat dari sebelumnya. Kalimat Ratna tentang pernikahan formalitas masih menggantung di udara, memaksa isi kepala Helen berputar dengan sangat kencang.Winda, yang awalnya menentang keras ide tersebut, perlahan-lahan memperbaiki posisi duduknya. Ia melepaskan pandangannya dari jendela luar dan menatap Helen dengan helaan napas panjang."Len..." panggil Winda, suaranya mengalun sangat lambat dan terdengar sedikit berat. "Setelah kupikir-pikir pakai kepala dingin... saran Ratna itu sebenarnya masuk akal."Helen menoleh, menatap Winda dengan tatapan tidak percaya. "Win? Kamu mendukung ide gila ini?"Winda tersenyum kecut, ada sedikit riak emosi yang coba ia sembunyikan di balik sepasang matanya. Jujur saja, sejak pertama kali menginjakkan kaki di gym milik Reno, Winda-lah yang paling terang-terangan menunjukkan ketertarikannya pada pria muda itu. Karakter Reno yang tegas
Di dalam mobil Alphard milik Helen yang bergerak membelah kemacetan jalanan kota, suasana perayaan yang tadinya direncanakan penuh tawa mendadak menguap, digantikan oleh keheningan yang cukup pekat. Musik jazz yang mengalun pelan dari pengeras suara mobil seolah tak mampu mengusir kegelisahan yang menggelayuti pikiran Helen.Meski akta cerai sudah di depan mata dan statusnya sebagai istri Surya akan segera berakhir, ada satu kenyataan besar yang kini menghantam kesadaran Helen: perutnya kian hari kian membesar.Anak itu adalah anak Reno. Tapi di antara dirinya dan Reno tidak ada ikatan cinta sama sekali. Bahkan, Helen tahu betul bahwa Reno tidak memiliki perasaan asmara padanya. Semua yang dilakukan Reno selama ini, mulai dari menjadi pelatih privat, menemani mereka, hingga momen malam itu yang membuat Helen hamil. Itu murni terjadi karena Reno profesional mencari uang, menghargai Helen sebagai kliennya, dan yang paling penting: semua itu terjadi atas dasar perintah dan permintaan H
Reno membimbing Winda menuju area peralatan angkat beban yang terletak di sudut ruangan, di bawah pencahayaan lampu downlight yang temaram. Dia meminta Winda untuk berdiri membelakangi cermin besar yang menutupi seluruh dinding, sementara Reno mengambil posisi tepat di hadapannya."Sekarang kita a
Malam semakin larut. Namun suasana di ruang tengah yang megah itu justru terasa semakin intim, bukan dalam artian seksual, melainkan sebuah keintiman emosional yang tak terduga. Winda perlahan melepaskan pelukannya. Meski dia masih berdiri sangat dekat dengan Reno. Dia menyeka sisa air matanya deng
Suasana yang semula tegang dan penuh intimidasi itu mendadak luruh, hancur berkeping-keping dalam hitungan detik. Reno, yang sudah bersiap menerima amarah atau pengusiran, justru terpaku saat melihat bahu Winda mulai berguncang hebat. Sebutir air mata jatuh melintasi pipi mulus berhias riasan mahal
Suasana di dalam kamar utama yang luas itu mendadak terasa begitu menyesakkan bagi Reno. Wangi aromaterapi melati yang lembut kini justru terasa seperti kabut yang mencekik paru-parunya. Reno tetap berdiri mematung di dekat pintu yang baru saja dikunci oleh Winda, kedua tangannya mengepal erat di s







