MasukSuasana di dalam kamar utama yang luas itu mendadak terasa begitu menyesakkan bagi Reno. Wangi aromaterapi melati yang lembut kini justru terasa seperti kabut yang mencekik paru-parunya. Reno tetap berdiri mematung di dekat pintu yang baru saja dikunci oleh Winda, kedua tangannya mengepal erat di sisi paha, berusaha mencari kekuatan dari permukaan kulit celana kargo yang ia kenakan.
Di depannya, Winda bergerak dengan keanggunan yang berbahaya. Tanpa ada sedikit pun keraguan atau rasa canggung, wanita itu menanggalkan blus sutranya, membiarkannya jatuh begitu saja ke lantai marmer bagaikan kelopak bunga yang layu. Kini, ia hanya mengenakan singlet berbahan spandeks yang sangat tipis dan celana olahraga pendek yang menonjolkan setiap lekuk tubuhnya yang terawat hasil perawatan puluhan, mungkin ratusan jutaan rupiah. Winda kemudian melangkah menuju tempat tidur king-size dengan sprei sutra berwarna emas. Ia duduk di tepian kasur, menyilangkan kakinya yang jenjang, dan menumpukan kedua tangannya di belakang tubuh sehingga dadanya membusung menantang. "Reno, aku sudah siap. Ngapain kamu berdiri di situ saja seperti patung di pintu gerbang?" tanya Winda dengan suara serak yang sengaja dibuat mendayu. Matanya menatap Reno dari ujung kaki hingga ke wajah, seolah sedang menguliti pemuda itu dengan pandangannya. Seketika Reno tersentak. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga telinganya berdenging. Secara refleks, ia mengangkat tangan kanannya, menutupi matanya dengan jari-jari yang sedikit direnggangkan. Sebuah tindakan insting dari seorang pemuda yang tak terbiasa melihat pemandangan sevulgar itu. "Nyonya... tolong jangan begitu," suara Reno pecah, terdengar jauh lebih rendah dan bergetar dari biasanya. Dengan gerakan cepat namun tetap kikuk, Reno membungkuk tanpa melepaskan tutupan tangannya sepenuhnya. Ia meraba-raba lantai, hingga jemarinya menyentuh kain halus blus Winda yang tercecer. Ia memungut baju itu dan menyodorkannya ke arah Winda dengan tangan gemetar, wajahnya dipalingkan ke arah jendela yang tertutup gorden rapat. "Pakai lagi bajunya, Nyonya. Tolong. Kostum itu... itu terlalu terbuka. Kita di sini untuk berlatih olahraga fisik agar tubuh Anda bugar, bukan untuk pergi berenang atau... atau yang lain," ucap Reno, berusaha memberikan penekanan pada kata olahraga sebagai pengingat bagi dirinya sendiri dan juga bagi wanita di depannya. Winda justru tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat puas melihat kegugupan Reno. Bukannya mengambil baju itu, dia justru menarik tangan Reno, membuat blus itu kembali jatuh ke lantai dan membawa telapak tangan kasar pemuda itu mendekat ke arah wajahnya. "Kenapa, Reno? Kamu nggak tahan ya melihatku seperti ini? Kalau nggak tahan, jangan ditahan. Lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan. Di sini tidak ada suamiku, tidak ada pelayan, hanya ada kita berdua,” goda Winda. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan hingga Reno bisa merasakan hawa panas dari napas wanita itu di permukaan kulit tangannya. Bahkan, tanpa meminta persetujuan dari Reno, Winda melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu. Winda merapatkan tubuhnya ke dada bidang Reno hingga perut keduanya saling merapat, dan Reno bisa merasakan kedua gunung kembar Winda tengah menghimpit dadanya. Reno merasa benteng pertahanannya mulai retak. Sebagai laki-laki normal, pemandangan dan godaan seintens itu adalah ujian yang luar biasa berat. Apalagi, jarak keduanya yang sangat dekat sempat membuat pusakanya berdiri tegak. Saat Reno berusaha menjauhkan tubuh Winda, dengan cepat Winda justru mengeratkan tangannya sehingga Reno sulit untuk menghindar. Dan seketika itu juga, bayangan wajah Reni yang sedang belajar di bawah lampu redup rumah mereka tiba-tiba terlintas di benaknya. Dia teringat janji pada dirinya sendiri untuk melunasi hutang rentenir. Karena terlalu lama menahan suasana menegangkan itu, Reno merasa tenggorokannya kering. . Kamar itu terasa semakin sempit, seolah dinding-dinding berlapis wallpaper mahal itu perlahan bergerak menghimpitnya. Aroma parfum Winda yang bercampur dengan suasana intim yang dipaksakan membuat Reno hampir kehilangan kendali atas akal sehatnya. Meski Reno tampak berusaha untuk menghindar, tapi Winda tidak mau menyerah. Dia justru mendekatkan wajahnya ke wajah Reno. Kedua ujung hidung mereka hampir bersentuhan. Dengan begitu nafsu Winda mendekatkan bibirnya ke bibir Reno. Dan tepat saat kedua bibir itu saling teetaut, Reno bersuara. "Nyonya... mohon maaf, tiba-tiba tenggorokan saya terasa sangat kering. Saya... saya butuh air minum. Apa saya boleh ke dapur sebentar?" ucap Reno dengan suara yang terdengar serak, menandakan dirinya benar benar dahaga. Dia kemudian sedikit mundur menjauhi tepi ranjang. Winda mendengus kasar, sebuah tawa sinis lolos dari bibirnya yang dipulas lipstik merah. Dia tampak sangat kesal karena momentum yang ia bangun dengan susah payah buyar begitu saja oleh alasan yang sangat klise. "Haus? Di saat seperti ini kamu haus, Reno?" Gumamnya dalam hati. Tanpa menunggu jawaban, Winda menyambar blus sutranya dari lantai dengan gerakan menghentak, menyampirkannya ke bahu dengan kasar seolah kain mahal itu tidak ada harganya. Ia berjalan mendahului Reno menuju pintu kamar yang masih terkunci, membukanya dengan sentakan yang menimbulkan bunyi berisik di keheningan malam. Reno mengekor di belakang dengan langkah gontai, kepalanya tertunduk. Ia tahu, ia sedang berada di ujung tanduk. Jika Winda tersinggung dan membatalkan kontrak malam ini, maka pupus sudah harapannya untuk menyelamatkan Reni dari cengkeraman rentenir. Ia harus segera memperbaiki keadaan tanpa harus mengorbankan harga dirinya. Saat mereka tiba di ruang tengah yang luas dan sepi, Reno memberanikan diri untuk memanggilnya. "Nyonya Winda..." Wanita itu berhenti. Namun tetap membelakangi Reno. Bahunya yang terbalut blus sutra tampak naik turun, menandakan napas yang tidak teratur karena amarah yang tertahan. Reno mengatur napasnya, mencoba merangkai kata-kata yang paling sopan tapi tetap memiliki prinsip. "Nyonya Winda, saya benar-benar minta maaf jika sikap saya tadi menyinggung perasaan Anda. Sungguh, itu sama sekali bukan karena saya ingin membangkang atau tidak menuruti keinginan Anda. Semua itu justru karena saya sangat menghormati dan menghargai Nyonya," terang Reno sambil menatap lurus ke arah Winda dengan tatapan polos tapi penuh keteguhan. Mendengar hal itu, Winda perlahan berbalik, matanya yang tajam menatap Reno dengan tatapan dingin. Dia mendengarkan Reno yang kembali bicara. "Saya datang ke rumah ini dengan niat tulus sebagai pelatih olahraga privat. Bagi saya, profesionalisme adalah segalanya. Rasanya... rasanya sangat tidak pantas dan merendahkan martabat Nyonya jika kita melakukan hal-hal yang tidak seharusnya di dalam kamar, apalagi dengan kostum yang Nyonya kenakan tadi. Saya tidak ingin merusak kepercayaan yang sudah Nyonya berikan pada saya dengan tindakan yang gegabah,” imbuh Reno. Berusaha untuk mengutarakan alasan penolakannya. Suasana mendadak menjadi sangat sunyi. Detak jam dinding berlapis emas di ruang tamu itu terdengar seperti dentuman keras di telinga Reno. Ia menunggu reaksi Winda. Apakah wanita itu akan melempar vas bunga ke arahnya? Aau justru memanggil satpam untuk menyeretnya keluar. Namun, bukannya marah atau memaki, Winda justru terdiam. Ia melangkah mendekat, sangat pelan, hingga ujung sandal rumahnya menyentuh sepatu kets Reno yang mulai kusam. Ia menengadah, menatap dalam ke arah mata Reno. Tatapan itu sulit diartikan. Ada gurat kekecewaan, tapi di balik itu, ada kilat kekaguman yang samar. Seolah ia baru saja menemukan sesuatu yang sangat langka di dunia elitnya yang penuh dengan kepalsuan. Winda tidak berkata apa-apa selama hampir satu menit, hanya membiarkan matanya menjelajahi kejujuran yang terpancar dari wajah Reno. "Kamu...Ternyata kamu lebih dari sekadar memiliki otot yang besar ya, Reno? Tapi hatimu lebih besar,” suara Winda akhirnya keluar, sangat rendah hingga nyaris berupa bisikan. Reno masih bergeming, menanti kelanjutan kalimat yang akan menentukan nasibnya malam itu.Dalam kondisi fisik yang lemah dan mental yang terpuruk, Helen tidak memiliki kekuatan lagi untuk mengelak kemauan orang tuanya. Gelombang peristiwa yang menghantamnya bertubi-tubi, mulai dari perceraian yang menguras emosi, ancaman mantan suami, hingga puncaknya kehilangan janin yang sempat menjadi harapan barunya, membuat pertahanan dirinya runtuh. Bagai kapal yang kehilangan kemudi di tengah badai, Helen akhirnya hanya bisa pasrah dan menurut pada garis takdir yang telah digariskan oleh kedua orang tuanya.Rencana kepergian itu berjalan dengan sangat senyap dan cepat. Pihak keluarga benar-benar menutup rapat semua akses informasi. Seminggu setelah akta cerai fisiknya keluar dari pengadilan agama, Helen resmi meninggalkan tanah air, terbang menuju sebuah kota di belahan bumi lain untuk memulihkan luka batinnya dan memulai lembaran hidup yang baru, jauh dari hiruk-pikuk masa lalu yang kelam di Indonesia.Namun, rupanya takdir kepindahan ini bukan hanya milik Helen. Di tempat lain,
Berita tentang musibah yang menimpa Helen akhirnya sampai juga ke telinga Reno melalui pesan singkat yang dikirimkan oleh Winda. Tanpa membuang waktu, dengan pakaian yang masih seadanya, kaus oblong hitam dan jaket jins yang biasa ia gunakan di gym, Reno langsung memacu sepeda motornya membelah jalanan kota menuju rumah sakit. Hatinya tidak tenang. Bukan karena ia kehilangan calon anak dari wanita yang dicintainya, melainkan karena rasa kemanusiaan dan tanggung jawab moralnya sebagai pria yang telah menanamkan benih di rahim Helen. Ia tahu betapa hancurnya mental Helen saat ini.Namun, langkah kaki Reno yang tergesa-gesa mendadak terhenti tepat di area lobi utama rumah sakit, beberapa meter sebelum ia mencapai lift menuju ruang VIP.Dua orang berwibawa dengan pakaian formal yang sangat elegan sudah berdiri di sana, seolah-olah memang sengaja menunggu kedatangannya. Mereka adalah Ayah dan Ibu Helen. Kehadiran Reno yang kontras dengan lingkungan rumah sakit mewah itu langsung menarik
Prosedur kuretase itu akhirnya selesai setelah melewati satu jam yang terasa bagai selamanya. Helen perlahan-lahan sadar dari pengaruh obat bius total. Ia dipindahkan ke ruang perawatan VIP yang sepi, dingin, dan didominasi warna putih yang menyakitkan mata.Saat matanya terbuka sempurna, hal pertama yang dilakukan Helen adalah menggerakkan tangan kanannya yang gemetar, meraba perutnya sendiri. Perut yang beberapa jam lalu masih terasa penuh dan hangat, kini terasa kosong, kempis, dan menyisakan rasa nyeri yang tumpul di bagian dalamnya."Len... kamu sudah sadar?" tanya Winda yang dari tadi duduk di sisi ranjang langsung menggenggam jemari Helen yang dingin. Di sebelah Winda, Ratna berdiri dengan mata yang masih sembab.Helen menatap kedua sahabatnya dengan pandangan kosong, sebelum air matanya meluncur deras membasahi bantal hospital tersebut. "Bayiku, Win... Rat... Anakku sudah tidak ada, ya?" tanyanya dengan suara yang teramat lirih, parau, dan hancur."Len, tolong dengerin ka
Ciiiiiittttt!Suara lengkingan ban mobil yang bergesekan hebat dengan aspal basah seketika memecah ketegangan di dalam kabin Alphard tersebut. Tubuh Helen, Winda, dan Ratna terdorong keras ke depan akibat sang sopir yang menginjak pedal rem secara mendadak. Sebuah bayangan hitam baru saja melintas, menyeberang jalanan yang temaram secara sembarangan tanpa memperhatikan laju kendaraan."Ya ampun! Siapa sih itu? Kalau jalan pakai mata dong!" seru Ratna dari kursi belakang, jantungnya berdegup kencang karena terkejut.Sang sopir segera menoleh ke belakang dengan wajah pucat pasi. "Maaf, Ibu-ibu... Maaf sekali. Tadi ada orang menyeberang tiba-tiba, hampir saja ketabrak.""Iya, Pak, tidak apa-apa. Yang penting tidak ada yang luka," sahut Winda sambil mengelus dadanya, mencoba menenangkan diri.Namun, di tengah kepanikan kecil itu, Winda menyadari sesuatu yang aneh. Di sampingnya, Helen sama sekali tidak mengeluarkan suara. Winda menoleh dan seketika merasakan dingin menjalar ke seluru
Mobil Alphard itu terus melaju pelan membelah jalanan yang basah, sementara keheningan kembali merayap, jauh lebih pekat dari sebelumnya. Kalimat Ratna tentang pernikahan formalitas masih menggantung di udara, memaksa isi kepala Helen berputar dengan sangat kencang.Winda, yang awalnya menentang keras ide tersebut, perlahan-lahan memperbaiki posisi duduknya. Ia melepaskan pandangannya dari jendela luar dan menatap Helen dengan helaan napas panjang."Len..." panggil Winda, suaranya mengalun sangat lambat dan terdengar sedikit berat. "Setelah kupikir-pikir pakai kepala dingin... saran Ratna itu sebenarnya masuk akal."Helen menoleh, menatap Winda dengan tatapan tidak percaya. "Win? Kamu mendukung ide gila ini?"Winda tersenyum kecut, ada sedikit riak emosi yang coba ia sembunyikan di balik sepasang matanya. Jujur saja, sejak pertama kali menginjakkan kaki di gym milik Reno, Winda-lah yang paling terang-terangan menunjukkan ketertarikannya pada pria muda itu. Karakter Reno yang tegas
Di dalam mobil Alphard milik Helen yang bergerak membelah kemacetan jalanan kota, suasana perayaan yang tadinya direncanakan penuh tawa mendadak menguap, digantikan oleh keheningan yang cukup pekat. Musik jazz yang mengalun pelan dari pengeras suara mobil seolah tak mampu mengusir kegelisahan yang menggelayuti pikiran Helen.Meski akta cerai sudah di depan mata dan statusnya sebagai istri Surya akan segera berakhir, ada satu kenyataan besar yang kini menghantam kesadaran Helen: perutnya kian hari kian membesar.Anak itu adalah anak Reno. Tapi di antara dirinya dan Reno tidak ada ikatan cinta sama sekali. Bahkan, Helen tahu betul bahwa Reno tidak memiliki perasaan asmara padanya. Semua yang dilakukan Reno selama ini, mulai dari menjadi pelatih privat, menemani mereka, hingga momen malam itu yang membuat Helen hamil. Itu murni terjadi karena Reno profesional mencari uang, menghargai Helen sebagai kliennya, dan yang paling penting: semua itu terjadi atas dasar perintah dan permintaan H
Reno membimbing Winda menuju area peralatan angkat beban yang terletak di sudut ruangan, di bawah pencahayaan lampu downlight yang temaram. Dia meminta Winda untuk berdiri membelakangi cermin besar yang menutupi seluruh dinding, sementara Reno mengambil posisi tepat di hadapannya."Sekarang kita a
Malam semakin larut. Namun suasana di ruang tengah yang megah itu justru terasa semakin intim, bukan dalam artian seksual, melainkan sebuah keintiman emosional yang tak terduga. Winda perlahan melepaskan pelukannya. Meski dia masih berdiri sangat dekat dengan Reno. Dia menyeka sisa air matanya deng
Pagi itu, matahari merangkak naik dengan malas, seolah sengaja memperlambat waktu yang dirasakan Reno. Sejak bangun tidur, pemuda itu tidak pernah melepaskan ponsel retaknya dari genggaman. Setiap ada getaran kecil atau lampu notifikasi yang berkedip, jantungnya mencelos, mengira itu adalah perinta
“Kalau mau jadi pelatih olahraga privatku, aku gaji kamu 10 juta untuk sekali pertemuan!" Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir merah menyala Nyonya Winda, istri seorang jenderal besar kepolisian yang pengaruhnya menjalar ke mana-mana. Ia mengucapkannya sambil menyandarkan punggung di sofa







