Share

Bab 5

Author: Mr. Kis
last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-06 04:45:21

Suasana yang semula tegang dan penuh intimidasi itu mendadak luruh, hancur berkeping-keping dalam hitungan detik. Reno, yang sudah bersiap menerima amarah atau pengusiran, justru terpaku saat melihat bahu Winda mulai berguncang hebat. Sebutir air mata jatuh melintasi pipi mulus berhias riasan mahal itu, disusul isakan pelan yang menyayat keheningan ruang tengah yang megah.

​Reno panik luar biasa. Tangannya terangkat di udara, bingung harus melakukan apa. Dia belum pernah menghadapi wanita yang menangis sedu-sedan seperti ini, apalagi wanita itu adalah majikan yang baru saja menggodanya dengan agresif.

​"Nyonya... Nyonya Winda? Kenapa? Saya... saya mohon maaf jika kata-kata saya terlalu kasar. Tolong jangan menangis," ucap Reno terbata-bata, suaranya dipenuhi rasa bersalah yang tulus.

​Winda tidak berhenti. Ia justru menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, membiarkan air matanya ramai ramai berjatuhan.Isakannya kini berubah menjadi tangisan yang lebih dalam, seolah ada bendungan emosi yang selama ini ia tahan dan kini jebol tak terkendali.

​Reno makin panik. Lalu dengan segala kepolosannya, dia memberanikan diri untuk mendekat. Ia mengambil sehelai tisu dari meja marmer di dekatnya dan menyodorkannya dengan ragu.

"Nyonya, tenanglah dulu. Saya tidak bermaksud menyakiti perasaan Anda,” ucapnya dengan hati hati.

​Setelah beberapa menit yang terasa sangat lama, Winda mulai meredakan tangisnya. Ia mengambil tisu dari tangan Reno, menghapus sisa air mata yang merusak maskaranya, lalu mendongak menatap langit-langit ruangan yang tinggi. Suaranya terdengar serak dan hampa saat ia akhirnya bicara.

​"Kenapa kamu bukan suamiku, Reno?"

​Pertanyaan itu makin menghantam dada Reno bagaikan gada besi. Ia ternganga, matanya membulat sempurna.

"Nyonya... apa maksud Anda? Kenapa Anda bicara seperti itu? Suami Anda adalah seorang Jenderal, pria yang sangat berkuasa. Kenapa dibandingkan dengan saya orang rendahan? Tenang Nyonya, Nyonya hanya sedang terbawa emosi,” sahut Reno. Kini ketakutannya bertambah, jika sampai ada asisten rumah tangga, atau CCTV yang merekam percakapan mereka hingga terdengar ke suami Winda.

​Bukannya menjawab, Winda justru menghambur ke arah Reno. Sebelum pemuda itu sempat menghindar, tangan Winda sudah melingkar erat di pinggang Reno, menyandarkan wajahnya di dada bidang pemuda itu. Reno tersentak, tubuhnya kaku seperti batu. Lalu, dia bisa merasakan kehangatan air mata Winda yang kembali merembes membasahi kaus polonya.

​"Aku mau punya suami seperti kamu, Reno...Seseorang yang bisa menghargai wanita sebagai manusia. Bukan hanya menganggap istri sebagai pajangan di acara resmi atau pemuas nafsu di tempat tidur saat dia pulang sesekali,” bisik Winda di sela isakannya.

​Reno terdiam, membiarkan tangan Winda mendekapnya erat. Dia tidak membalas pelukan itu, tapi dia juga tidak menjauh. Dia mulai merasakan ada luka yang sangat dalam di balik kemewahan yang selama ini ia saksikan.

​"Aku juga ingin dihargai, Reno. Aku ingin dimengerti, aku ingin ditemani bicara tanpa harus selalu berakhir dengan urusan ranjang yang dingin," ungkap Winda, menumpahkan segala isi hatinya yang selama ini terkunci rapat di balik gerbang rumah mewah itu.

Reno, seketika terdiam menjadi pendengar setia dari setiap curahan hati Winda.

"Suamiku... dia memberikan semua uang ini, semua kemewahan ini, tapi dia tidak pernah memberiku waktu. Baginya, aku hanyalah aset. Aku kesepian, Reno. Sangat kesepian di tengah rumah sebesar ini,” lanjutnya.

​Reno menarik napas panjang, perlahan-lahan mulai memahami realita pahit di depannya. Di balik sikap agresif Winda, di balik tawaran gaji yang tidak masuk akal itu, dan di balik semua kemewahan hidup Winda, ternyata tersimpan sebuah jeritan minta tolong. Winda bukan sedang mencari pemuas nafsu. Tapi dia sedang membeli sebuah perhatian. Ia mencari teman bicara yang bisa menatap matanya dengan rasa hormat, bukan sekadar memandang tubuhnya sebagai objek.

​Reno menunduk, menatap puncak kepala Winda. Rasa kesal yang sempat muncul karena godaan tadi perlahan memudar, berganti dengan rasa iba yang mendalam. Ternyata, penjara emas itu nyata, dan Winda adalah salah satu tawanannya yang paling malang.

​"Jadi... semua ini karena Nyonya kesepian?" tanya Reno dengan suara yang sangat lembut.

​Winda mengangguk pelan dalam dekapan Reno, tangannya mencengkeram kain baju Reno seolah takut pemuda itu akan pergi dan meninggalkannya kembali dalam kesunyian yang mencekam. Di saat itulah Reno menyadari, tugasnya sebagai pelatih mungkin akan jauh lebih rumit daripada sekadar menghitung repetisi angkat beban. Karena dia harus menjadi pendengar bagi jiwa yang lelah itu. Lalu, seketika bayangan Reno lari ke dua wanita yang merupakan sahabat Winda.

“Jangan jangan, Nyonya Erma dan Nyonya Helen juga mengalami hal yang sama seperti Nyonya Winda? Astaga, kalau gini caranya, aku bukan hanya seorang trainer privat, tapi psikolog privat!” gerutu Reno di dalam hati.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Awas Nyonya, Nanti Ketagihan!   Bab 105

    Dalam kondisi fisik yang lemah dan mental yang terpuruk, Helen tidak memiliki kekuatan lagi untuk mengelak kemauan orang tuanya. Gelombang peristiwa yang menghantamnya bertubi-tubi, mulai dari perceraian yang menguras emosi, ancaman mantan suami, hingga puncaknya kehilangan janin yang sempat menjadi harapan barunya, membuat pertahanan dirinya runtuh. Bagai kapal yang kehilangan kemudi di tengah badai, Helen akhirnya hanya bisa pasrah dan menurut pada garis takdir yang telah digariskan oleh kedua orang tuanya.​Rencana kepergian itu berjalan dengan sangat senyap dan cepat. Pihak keluarga benar-benar menutup rapat semua akses informasi. Seminggu setelah akta cerai fisiknya keluar dari pengadilan agama, Helen resmi meninggalkan tanah air, terbang menuju sebuah kota di belahan bumi lain untuk memulihkan luka batinnya dan memulai lembaran hidup yang baru, jauh dari hiruk-pikuk masa lalu yang kelam di Indonesia.​Namun, rupanya takdir kepindahan ini bukan hanya milik Helen. Di tempat lain,

  • Awas Nyonya, Nanti Ketagihan!   Bab 104

    ​Berita tentang musibah yang menimpa Helen akhirnya sampai juga ke telinga Reno melalui pesan singkat yang dikirimkan oleh Winda. Tanpa membuang waktu, dengan pakaian yang masih seadanya, kaus oblong hitam dan jaket jins yang biasa ia gunakan di gym, Reno langsung memacu sepeda motornya membelah jalanan kota menuju rumah sakit. Hatinya tidak tenang. Bukan karena ia kehilangan calon anak dari wanita yang dicintainya, melainkan karena rasa kemanusiaan dan tanggung jawab moralnya sebagai pria yang telah menanamkan benih di rahim Helen. Ia tahu betapa hancurnya mental Helen saat ini.​Namun, langkah kaki Reno yang tergesa-gesa mendadak terhenti tepat di area lobi utama rumah sakit, beberapa meter sebelum ia mencapai lift menuju ruang VIP.​Dua orang berwibawa dengan pakaian formal yang sangat elegan sudah berdiri di sana, seolah-olah memang sengaja menunggu kedatangannya. Mereka adalah Ayah dan Ibu Helen. Kehadiran Reno yang kontras dengan lingkungan rumah sakit mewah itu langsung menarik

  • Awas Nyonya, Nanti Ketagihan!   Bab 103

    Prosedur kuretase itu akhirnya selesai setelah melewati satu jam yang terasa bagai selamanya. Helen perlahan-lahan sadar dari pengaruh obat bius total. Ia dipindahkan ke ruang perawatan VIP yang sepi, dingin, dan didominasi warna putih yang menyakitkan mata.​Saat matanya terbuka sempurna, hal pertama yang dilakukan Helen adalah menggerakkan tangan kanannya yang gemetar, meraba perutnya sendiri. Perut yang beberapa jam lalu masih terasa penuh dan hangat, kini terasa kosong, kempis, dan menyisakan rasa nyeri yang tumpul di bagian dalamnya.​"Len... kamu sudah sadar?" tanya Winda yang dari tadi duduk di sisi ranjang langsung menggenggam jemari Helen yang dingin. Di sebelah Winda, Ratna berdiri dengan mata yang masih sembab.​Helen menatap kedua sahabatnya dengan pandangan kosong, sebelum air matanya meluncur deras membasahi bantal hospital tersebut. "Bayiku, Win... Rat... Anakku sudah tidak ada, ya?" tanyanya dengan suara yang teramat lirih, parau, dan hancur.​"Len, tolong dengerin ka

  • Awas Nyonya, Nanti Ketagihan!   Bab 102

    Ciiiiiittttt!​Suara lengkingan ban mobil yang bergesekan hebat dengan aspal basah seketika memecah ketegangan di dalam kabin Alphard tersebut. Tubuh Helen, Winda, dan Ratna terdorong keras ke depan akibat sang sopir yang menginjak pedal rem secara mendadak. Sebuah bayangan hitam baru saja melintas, menyeberang jalanan yang temaram secara sembarangan tanpa memperhatikan laju kendaraan.​"Ya ampun! Siapa sih itu? Kalau jalan pakai mata dong!" seru Ratna dari kursi belakang, jantungnya berdegup kencang karena terkejut.​Sang sopir segera menoleh ke belakang dengan wajah pucat pasi. "Maaf, Ibu-ibu... Maaf sekali. Tadi ada orang menyeberang tiba-tiba, hampir saja ketabrak."​"Iya, Pak, tidak apa-apa. Yang penting tidak ada yang luka," sahut Winda sambil mengelus dadanya, mencoba menenangkan diri.​Namun, di tengah kepanikan kecil itu, Winda menyadari sesuatu yang aneh. Di sampingnya, Helen sama sekali tidak mengeluarkan suara. Winda menoleh dan seketika merasakan dingin menjalar ke seluru

  • Awas Nyonya, Nanti Ketagihan!   Bab 101

    Mobil Alphard itu terus melaju pelan membelah jalanan yang basah, sementara keheningan kembali merayap, jauh lebih pekat dari sebelumnya. Kalimat Ratna tentang pernikahan formalitas masih menggantung di udara, memaksa isi kepala Helen berputar dengan sangat kencang.​Winda, yang awalnya menentang keras ide tersebut, perlahan-lahan memperbaiki posisi duduknya. Ia melepaskan pandangannya dari jendela luar dan menatap Helen dengan helaan napas panjang.​"Len..." panggil Winda, suaranya mengalun sangat lambat dan terdengar sedikit berat. "Setelah kupikir-pikir pakai kepala dingin... saran Ratna itu sebenarnya masuk akal."​Helen menoleh, menatap Winda dengan tatapan tidak percaya. "Win? Kamu mendukung ide gila ini?"​Winda tersenyum kecut, ada sedikit riak emosi yang coba ia sembunyikan di balik sepasang matanya. Jujur saja, sejak pertama kali menginjakkan kaki di gym milik Reno, Winda-lah yang paling terang-terangan menunjukkan ketertarikannya pada pria muda itu. Karakter Reno yang tegas

  • Awas Nyonya, Nanti Ketagihan!   Bab 100

    Di dalam mobil Alphard milik Helen yang bergerak membelah kemacetan jalanan kota, suasana perayaan yang tadinya direncanakan penuh tawa mendadak menguap, digantikan oleh keheningan yang cukup pekat. Musik jazz yang mengalun pelan dari pengeras suara mobil seolah tak mampu mengusir kegelisahan yang menggelayuti pikiran Helen.​Meski akta cerai sudah di depan mata dan statusnya sebagai istri Surya akan segera berakhir, ada satu kenyataan besar yang kini menghantam kesadaran Helen: perutnya kian hari kian membesar.​Anak itu adalah anak Reno. Tapi di antara dirinya dan Reno tidak ada ikatan cinta sama sekali. Bahkan, Helen tahu betul bahwa Reno tidak memiliki perasaan asmara padanya. Semua yang dilakukan Reno selama ini, mulai dari menjadi pelatih privat, menemani mereka, hingga momen malam itu yang membuat Helen hamil. Itu murni terjadi karena Reno profesional mencari uang, menghargai Helen sebagai kliennya, dan yang paling penting: semua itu terjadi atas dasar perintah dan permintaan H

  • Awas Nyonya, Nanti Ketagihan!   Bab 7

    Reno membimbing Winda menuju area peralatan angkat beban yang terletak di sudut ruangan, di bawah pencahayaan lampu downlight yang temaram. Dia meminta Winda untuk berdiri membelakangi cermin besar yang menutupi seluruh dinding, sementara Reno mengambil posisi tepat di hadapannya.​"Sekarang kita a

  • Awas Nyonya, Nanti Ketagihan!   Bab 6

    Malam semakin larut. Namun suasana di ruang tengah yang megah itu justru terasa semakin intim, bukan dalam artian seksual, melainkan sebuah keintiman emosional yang tak terduga. Winda perlahan melepaskan pelukannya. Meski dia masih berdiri sangat dekat dengan Reno. Dia menyeka sisa air matanya deng

  • Awas Nyonya, Nanti Ketagihan!   Bab 2

    Pagi itu, matahari merangkak naik dengan malas, seolah sengaja memperlambat waktu yang dirasakan Reno. Sejak bangun tidur, pemuda itu tidak pernah melepaskan ponsel retaknya dari genggaman. Setiap ada getaran kecil atau lampu notifikasi yang berkedip, jantungnya mencelos, mengira itu adalah perinta

  • Awas Nyonya, Nanti Ketagihan!   Bab 1

    “Kalau mau jadi pelatih olahraga privatku, aku gaji kamu 10 juta untuk sekali pertemuan!" ​Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir merah menyala Nyonya Winda, istri seorang jenderal besar kepolisian yang pengaruhnya menjalar ke mana-mana. Ia mengucapkannya sambil menyandarkan punggung di sofa

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status