LOGIN
Sepasang tanganku menari lincah di atas keyboard dan mouse. Ritme ketukan yang tercipta membentuk semacam simfoni yang hidup. Cahaya layar memantul terang, dan di sana—lawan yang kuhadapi tumbang dalam semburan darah digital.
“Ha ha.” Aku tertawa pelan sambil mengangkat tanganku, meraih rokok yang terselip di sudut bibir. Asap putih keperakan telah membentuk garis panjang di udara, namun sebagai Raja Doli, aku tidak terpengaruh. Mouse tetap kugerakkan, keyboard tetap kupukul cepat dan presisi. Dengan satu gerakan singkat, rokok itu kulepaskan dan kupadamkan di asbak berbentuk unik di atas meja, sebelum jemariku kembali melesat ke atas tombol-tombol.
Tepat ketika aku hendak mengejek lawanku yang baru saja tumbang, seluruh ruangan PC administrasi—tempat aku biasa berjaga dan bekerja sebagai operator—bergetar hebat. Satu dentuman keras terdengar, mirip suara ledakan.
Suara itu menghantam telingaku, membuat kesadaranku perlahan mengabur. Rasa kantuk tiba-tiba menyerang keras, begitu kuat hingga dalam hitungan detik aku tersungkur tidur di atas meja kerjaku tanpa sempat memahami apa yang sebenarnya terjadi.
*
Gunung Sibalga – Desa Parombunan
Di punggungan Gunung Sibalga, udara pagi terasa begitu jernih, seolah baru saja disaring oleh embun yang menggantung di pucuk dedaunan. Desa Parombunan, yang terhampar di kaki gunung, tampak seperti permadani hijau, di mana sawah dan kebun warga berpadu dengan sungai kecil yang berkilau diterpa sinar mentari pertama. Burung-burung berkicau lincah, menciptakan simfoni alam yang hanya bisa ditemukan jauh dari hiruk-pikuk kota.
Pepohonan rimbun menyelimuti lereng gunung, menghadirkan aroma tanah basah dan semak liar yang tumbuh bebas di antara bebatuan. Sesekali terdengar ranting patah, menandakan langkah rusa atau hewan liar lain yang menjadi penjaga sunyi hutan. Semakin tinggi mendaki, semakin sejuk angin berhembus, membawa pesan dari puncak: ketenangan, kebebasan, dan keagungan alam.
Kabut tipis berkelindan di sela lembah, menambah kesan misterius pada lanskap yang memukau. Dari atas, Desa Parombunan tampak kecil namun penuh kehidupan—rumah-rumah yang saling berdekatan, ladang yang dijaga penuh cinta oleh para petani, serta jalan tanah yang menjadi jalur harian bagi siapa pun yang ingin menyatu dengan alam.
Gunung Sibalga bukan sekadar pemandangan indah; tempat ini adalah ruang di mana hati seolah kembali menemukan akarnya: sederhana, damai, dan menyatu dengan ciptaan Tuhan. Alam berbicara dalam diam di sini, mengajarkan bahwa keindahan sejati sering tersembunyi di tempat yang belum tersentuh keramaian.
Namun itu adalah keadaan dulu, ketika Desa Parombunan masih dipimpin pemimpin lama mereka.
Kini, yang tersisa hanyalah bangunan roboh, daun dan ranting beterbangan diterpa angin. Desa itu kini kosong, sunyi, seolah menjadi desa mati tak berpenghuni. Warga setempat dipaksa meninggalkan wilayah itu oleh para bandit gunung, yang memilih bertahan di desa. Mereka menuntut persembahan dan penghormatan, mengubah tempat yang dulu damai menjadi sarang penindasan dan ketakutan.
“Ketika pemimpin lama masih ada, kita begitu kuat,” ujar pria jangkung itu, bersiap meninggalkan Desa Pegunungan Sibalga. Kantong kain seadanya tergantung di bahunya. “Bandit-bandit di sekitar desa pun harus menghormati kita.” Ia menatap rekannya, yang juga bersiap ikut pergi.
“Namun, ketika pemimpin itu meninggal, semua saudara yang tersisa malah meninggalkan pemimpin baru dan melarikan diri. Kita satu-satunya yang tersisa sekarang,” sahut rekannya, seorang pemuda dengan wajah tegas bersiluet petak.
“Tentara kerajaan pasti akan datang untuk memberantas para bandit segera. Kita bahkan tidak bisa bertahan menghadapi mereka—jika tetap di sini, kita hanya akan mati. Kita harus segera meninggalkan pemimpin baru sebelum terlambat!” teriak pemuda jangkung itu, ketakutan membayangkan kedatangan tentara kerajaan yang tak bisa dielakkan.
“Sial! Pemimpin baru baru berusia delapan belas tahun, masih terlalu muda, dan belum tahu apa-apa. Dan kalian sudah berencana meninggalkannya?!” seru seorang pria lain, yang membawa dua kantong terikat di setiap ujung tongkatnya, bersiap meninggalkan desa.
“Mereka yang ingin meninggalkannya, pergilah sekarang juga!” lanjutnya dengan semangat berkobar, sebelum melompat dan berlari meninggalkan kedua pemuda tadi.
“Oke… Kami juga akan pergi,” jawab mereka dengan tekad bulat, memutuskan untuk meninggalkan desa kelahiran mereka demi keselamatan.
Ugh…
Seorang pemuda tampan dengan kulit putih, tubuh ramping, dan rambut panjang yang terikat sebahu, duduk di atas Kursi Tahta Kedudukan sang pemimpin lama.
“Kepalaku… sakit sekali,” batinku, merasakan nyeri yang begitu menusuk hingga hampir membuat pikiranku hancur.
Kenangan demi kenangan menerobos masuk, menumpuk di otakku tanpa bisa kubendung, hingga rasa sakitnya nyaris membuat kepalaku geger.
“Apakah semua kenangan ini yang terus mengalir ke pikiranku?” gumamku, mencoba memahami apa yang terjadi.
Dunia terasa berguncang, seperti gempa yang pernah kurasakan sebelumnya. Perlahan, aku membuka mata saat rasa sakit mulai mereda.
Aku menatap ke kanan dan ke kiri, mengamati ruangan di sekitarku. Semuanya begitu berbeda dari tempatku sebelumnya. “Apakah aku… dipindahkan ke dunia lain? Atau kembali ke masa lalu…?” pikirku, pertanyaan demi pertanyaan menumpuk di kepalaku, diproses oleh otak yang bisa dibilang sedikit jenius.
Seingatku, sebelumnya aku tengah bermain game strategi bernama RISE KINGDOM.
Bukankah tadi terjadi gempa dan ledakan? Lalu, bagaimana aku tiba-tiba bisa berada di sini? Bagaimana bisa aku terbangun di dunia asing yang sama sekali tidak kukenal…?
Yang lebih aneh, kenangan dan tubuh ini seolah menyatu—seakan aku menjadi pemiliknya.
Aku kini berada di sebuah desa terpencil bernama Desa Parombunan.
“Aku… ditinggalkan di sebuah rumah kumuh… dan tubuh yang kupakai saat ini adalah tubuh pemilik rumah ini…” batinku, mencoba mencerna kenyataan yang tak masuk akal itu.
Bakkara adalah sebuah negeri ras Batak yang didirikan 400 tahun lalu, dipimpin oleh seorang raja bernama Sisingamangaraja I. Di bawah kekuasaannya, terdapat 100 kota dan 10 provinsi. Kekaisaran Bakkara sendiri pernah menguasai lautan dan daratan yang luas, menjadi salah satu kerajaan terbesar pada masanya.
Istana Kekaisaran Bakkara berpusat di Provinsi Toba, sementara 10 provinsi lainnya adalah:
Provinsi Kerajaan Dairi
Provinsi Kerajaan Humbang Hasundutan
Provinsi Kerajaan Labuhan Batu
Provinsi Kerajaan Mandailing Natal
Provinsi Kerajaan Pakpak
Provinsi Kerajaan Samosir
Provinsi Kerajaan Simalungun
Provinsi Kerajaan Tapanuli Selatan
Provinsi Kerajaan Tapian Nauli
Provinsi Kerajaan Tapanuli Utara
Namun itu semua sudah lama berlalu.
Saat ini, kekuatan Kekaisaran Bakkara mulai melemah, dan rakyatnya menderita akibat perang tanpa akhir yang telah berlangsung bertahun-tahun. Mereka yang tidak mampu bertahan hidup, tak punya pilihan lain selain menjadi bandit gunung. Dunia ini kini dipenuhi oleh mereka—bandit-bandit yang menguasai pegunungan dan desa-desa terpencil. Desa Parombunan adalah salah satunya.
Ketika sang pemimpin lama masih memimpin, Desa Parombunan cukup kuat dan terkenal di Gunung Sibalga. Namun belum lama ini, pemimpin itu meninggal dunia, dan sebagian besar warga melarikan diri. Sekarang, hanya aku yang tersisa.
“Huh…” Aku menghela napas, menatap sepi desa yang dulunya ramai.
Tik… tik…
Kabut tipis menyelimuti pagi yang sejuk di Pegunungan Sibalga. Namun, kesejukan itu tak mampu membasuh kelelahan ekstrem dari pasukan Kota Sibalga yang akhirnya tiba di kaki bukit menuju Parombunan. Setelah dipaksa mendaki tanpa henti dari siang hingga tengah malam, wajah para prajurit itu tampak mengerikan; mata mereka menghitam karena kurang tidur, dan langkah kaki mereka yang terseret menciptakan suara gesekan logam yang parau di atas tanah."Bos... ini dia!" Bonaga berbisik dengan nada yang tercekat di tenggorokan.Kami berdua tiarap di balik rimbunnya semak-semak di puncak lereng yang menghadap ke jalan utama. Dari tempat kami mengintai, iring-iringan pasukan itu terlihat seperti ular hitam raksasa atau jutaan semut yang berjejer panjang tak terputus."Ini... ada ribuan orang...!" gumamku pelan. Aku harus mengakui, jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya. Sepanjang hidupku, baik di dunia lama maupun di sini, baru
Seribu pasukan di bawah panji Sibalga kini merayap seperti ular besi di lereng bukit yang terjal. Medan Pegunungan Parombunan yang curam mulai memakan korban secara perlahan."Pangeran Kota," Togar Torop memacu kudanya mendekati kereta perang sang Pangeran. Suaranya terdengar cemas saat melihat barisan di belakangnya yang mulai kacau. "Kita hampir sampai di perbatasan Desa Parombunan. Sebaiknya Anda mengizinkan para parangan untuk beristirahat. Mereka telah dipaksa berjalan tanpa henti dari siang hingga larut malam seperti ini."Togar berharap sang pemimpin memiliki sedikit empati agar pasukan lebih siap bertempur saat fajar tiba. Namun, Pangeran Hali justru meliriknya dengan tatapan meremehkan."Kepala Pelayan Torop, tahukah kau bahwa seorang parangan sejati harus cekatan?" sahutnya sinis. "Beristirahat? Bagaimana jika para penjahat itu datang menyabotase kamp kita saat semua orang sedang mendengkur? Kau ingin kita dibantai
Di bawah langit Kota Sibalga yang mulai terik, area barak pusat telah berubah menjadi lautan baja. Seribu pasukan dari berbagai kesatuan berdiri berbaris dengan disiplin yang kaku, menciptakan pemandangan yang mengintimidasi siapa pun yang melihatnya.Dua ratus kavaleri ringan sudah berada di atas pelana, kuda-kuda mereka meringkik tidak sabar sembari menghentakkan kaki ke tanah. Di sisi lain, seratus pasukan lapis baja berat berdiri kokoh seperti dinding berjalan, zirah mereka memantulkan cahaya matahari dengan menyilaukan. Di barisan tengah, para pemanah dan pasukan tombak memeriksa kembali kelayakan senjata mereka, sementara tiga ratus pasukan pedang lebar berdiri tegap dengan senjata tersarung di pinggang.Deru suara zirah yang bergesekan dan dentingan senjata memenuhi udara. Kereta-kereta logistik yang mengangkut gunungan biji-bijian—beban yang sebelumnya diperdebatkan oleh Sang Menteri—kini mulai bergerak menuju gerbang kota.Ini bukan sekadar patroli biasa. Ini adalah ekspedisi
"Penasihat Militer, ada tugas krusial yang harus kau emban sekarang. Masalah ini menyangkut hidup dan mati seluruh pondok kita," ucapku sembari melangkah menghampiri Bonaga. Saat itu, ia tengah asyik menikmati roti gandum hangat buatan putrinya, tampak begitu tenang sebelum aku datang membawa kabar buruk.Bonaga mendongak dengan pipi menggembung, mulutnya masih penuh dengan kunyahan roti. "Bos Besar!" serunya setelah menelan paksa. "Jika urusannya seserius itu, mengapa tidak menunjuk orang lain saja? Aku sedang ingin menikmati masa tenangku."Aku menatapnya tajam, tidak memberi celah untuk bernegosiasi. "Masalahnya, hanya kau yang memiliki lidah cukup lihai dan kelicikan yang pas untuk urusan ini. Pergilah ke Desa Martinju dan temui pemimpin mereka, Tahan Martinju."Mendengar nama itu disebut, ekspresi Bonaga seketika berubah gelap. Ia terdiam, lalu menggigit r
Setelah langkah kaki Hali Suksung menghilang di ujung lorong, suasana ruang pertemuan kembali tenang. Sang Raja Kota menyandarkan tubuhnya, lalu melirik pria di sampingnya."Komandan Militer, bagaimana pendapatmu tentang rencana putraku?" tanya Sang Raja dengan nada datar.Pria veteran bertubuh kekar itu menghela napas pendek. Wajahnya tetap tenang, namun sorot matanya yang tajam mencerminkan pengalaman ribuan jam di medan laga. Sebagai pemimpin yang selalu memprioritaskan keselamatan pasukannya, ia segera membedah rencana tersebut."Menjawab Yang Mulia," mulainya dengan nada serius. "Di medan pegunungan yang rimbun dan hutan yang lebat, peran kavaleri hampir tidak bisa dimainkan. Itu hanya akan membebani laju pasukan. Terlebih lagi, jika tujuannya adalah serangan jarak jauh yang cepat, menggunakan pasukan lapis baja berat adalah keputusan yang salah. Beban zirah mereka hanya akan menguras tenaga sebelum perang dimulai."Ia berhenti sejenak untuk menatap Sang Raja. "Bandit gunung buka
Sopo Balga Kota Sibalga Suasana pagi di Sopo Balga tampak begitu kontras dengan ketegangan yang mulai merayap di Desa Parombunan. Cahaya matahari menyinari atap-atap bangunan kota yang megah, sementara para prajurit dengan zirah lengkap berdiri kaku di setiap pos pengamanan, menunjukkan disiplin militer yang ketat dari sebuah pusat kekuasaan."Segera setelah hamba tiba di kaki Desa Parombunan, hamba dihadang oleh ratusan orang. Salah satu dari mereka melangkah maju dan mengaku sebagai Raja Doli..."Pria itu melapor dengan tubuh gemetar, bersujud di hadapan penguasa kota yang sedang duduk bersandar di kursi tahta. Di sisi kiri dan kanannya, dua pelayan wanita terus mengayunkan kipas dengan irama teratur, mencoba menjaga kesejukan sang Raja."Togar Tua sempat merasa gentar," lanjutnya dengan suara yang diusahakan tetap tegap, "namun demi harga diri, hamba menepis rasa takut itu. Hamba segera menghunus pedang dan langsung menyerang pemimpin mereka!"Di sudut ruangan, para menteri yang s







