ログインKejadian pemukulan malam itu benar-benar membuka mata Sigit. Untuk pertama kalinya, ia melihat sendiri sisi gelap Cipto-bukan sekadar kakak yang keras kepala, melainkan pria yang kehilangan kendali. Derai tangis Amira malam itu masih terngiang di telinganya, membuatnya bertekad untuk melindungi istri dan anaknya, apa pun risikonya.Terlebih ketika Amira menceritakan tentang seorang pria yang pernah datang, mengaku bisa membantu mereka mencari solusi atas masalah yang membelit keluarga itu.Dan hari ini, Amira terperanjat. Ia baru menyadari kalau pria yang dulu berbincang panjang dengannya itu-ternyata adalah pengacara Mayang.Hatinya menguat. Kebenaran harus diungkap. Tentang pernikahan Cipto dan Risma yang selama ini disusun diam-diam, begitu rapi seakan tak menyisakan celah.Dengan jemari meremas ujung jaket longgarnya, Amira melangkah ke depan. Bukan untuk menjadi saksi Cipto. Melainkan untuk Mayang."Pernikahan itu dilakukan tanggal empat belas Januari," ucapnya, suaranya sedikit
Semakin mendekati pintu ruang persidangan, langkah Mayang terasa kian berat.Udara di sekelilingnya seperti menekan dada. Rasa takut menyergap, membuat jemarinya dingin dan tubuhnya bergetar halus. Kalau saja Rossy tidak menggenggam tangannya erat-erat, mungkin ia sudah berbalik arah-kabur saja dari tempat itu.Belum lagi rasa mual yang sejak pagi tak kunjung reda. Perutnya bergolak, kepalanya sedikit pening, dan tubuhnya sedikit lemas."Tenang, Mayang. Sidangnya nggak akan lama," ujar Rossy lembut. Tangan satunya mengusap pundak Mayang, memberi kehangatan yang sangat dibutuhkan."Aku takut, Rossy..." bisik Mayang lirih, langkahnya terhenti tepat beberapa meter dari pintu.Rossy memutar tubuhnya hingga mereka saling berhadapan. "Mayang, lihat aku."Mayang mengangkat wajahnya perlahan."Kita punya Charles. Dia pengacara andalanku. Sembilan puluh persen kasus pasien-pasienku yang dia tangani, berhasil dimenangkan. Kita pasti bisa."Mayang mengangguk pelan.Ya, Charles sudah berjanji aka
"Sudah – sudah, kamu berangkat saja sama Chandra. Pecahan gelasnya biar ibu saja yang bereskan," ucap Dahlia. Tangannya mengibas-ngibas menyuruh Gilang cepat pergi bersama Chandra.Tanpa menunggu perintah Dahlia untuk kedua kalinya, Gilang segera mengikuti Chandra. Masuk ke mobil mewah yang dikendarai sendiri oleh pria itu. Duduk bersebelahan dengan pria yang katanya akan membuat hidupnya berubah dalam sekejap. Tapi entah mengapa hatinya terasa tidak tenang. Seolah akan ada sesuatu yang buruk akan terjadi kepadanya."Kamu nggak apa-apa, Lang?" tanya Chandra setelah beberapa menit hening yang canggung.Gilang mengalihkan pandangannya ke luar jendela, melihat rumah-rumah yang perlahan berganti menjadi gedung-gedung tinggi."Aku nggak apa-apa, Om," jawabnya singkat. "Cuma… gugup."Chandra tersenyum tipis. "Om ngerti. Kamu nggak usah tegang. Om dan tante-tante kamu pada dasarnya orang baik-baik." Ia melirik Gilang sekilas dari sudut mata. "Mereka juga sudah penasaran pengen lihat keponaka
Dahlia membuka lebar-lebar pintu lemari yang berisi deretan kemeja dan jas Irawan. Setelan pakaian yang dulu menjadi busana sehari-hari Irawan saat berangkat bekerja. Lengkap dengan dasi aneka warna dan juga ikat pinggang berbahan kulit. Kemeja putih itu juga masih ada di sana, kemeja yang dipakai Irawan saat menyematkan cincin di jarinya.Wanita itu tersenyum sembari membayangkan kembali saat-saat dia menyiapkan setelan kerja untuk dipakai oleh suaminya itu. Rutinitas yang membuatnya merasa bahagia telah menjadi istri seorang Irawan Mahendra. Kemudian tangannya mengambil kemeja biru langit dengan dasi biru dongker. Padanan warna yang menurutnya paling membuat Irawan terlihat begitu menawan."Lang ... kamu coba pakai kemeja ayah, nih. Ibu rasa ukuran badan kamu sudah sama dengan badan ayah dulu. Coba deh ..." ujar Dahlia, membawa kemeja pilihannya ke kamar Gilang.Gilang yang masih mengeringkan rambutnya sehabis mandi terkejut dengan kehadiran Dahlia di kamarnya. Ia sedikit mengeryitk
Belajar dari apa yang dialami Mayang, Amira tak ingin menghabiskan belasan tahun hidupnya dalam kesengsaraan yang sama-tinggal serumah dengan ibu mertua yang tak pernah benar-benar menghargai pengorbanan menantu. Setiap usaha dianggap kurang. Setiap kesalahan dibesar-besarkan. Kata-kata kasar seperti menjadi santapan harian.Dia juga sudah jenuh mendengar urusan rumah tangga kakak iparnya yang selalu saja bertengkar karena uang."Kamu kenapa bertanya begitu, Mira?" Sigit menatapnya heran. "Bukannya dulu kamu sendiri yang ingin tetap tinggal di sini karena mau menjaga Ibu? Sekarang kondisi kita lagi harus berhemat. Bukan malah nambah pengeluaran lagi.""Aku punya sedikit tabungan, Mas," suara Amira mulai bergetar, tapi ia memaksa tetap tenang. "Kita keluar dari rumah ini. Tinggal di kontrakan sederhana saja. Aku bisa jualan makanan lagi buat bantu tambah penghasilan. Aku yakin kita pasti bisa, Mas."Ia mengguncang lengan suaminya pelan, berharap mendapat dukungan. Namun reaksi Sigit ju
"Kamu ngobrol sama, Mayang?" tanya Dahlia setelah Gilang keluar dari kamar dan menyusulnya ke dapur."Iya, Bu. Oh ya bu, Gilang mau bilang sesuatu sama ibu. Maaf kalau waktu itu Gilang mengelak dan menutupi status Mayang."Dahlia menghentikan gerakan tangannya yang sedang mencuci buah anggur pemberian Chandra. Ditatapnya wajah putra tunggalnya dengan tatapan 'ibu tahu kamu mau bilang apa'. Kemudian naikkan kedua alisnya, menyuruh Gilang melanjutkan perkataannya."Mayang istri orang. Lusa dia akan sidang perceraian terakhir dengan suaminya." Gilang diam sejenak, menunggu reaksi Dahlia."Terus? Dia cerai kenapa? Karena kamu?" tembak Dahlia."Bukan, Bu. Suaminya diam-diam udah menikah lagi dan sudah punya anak dari istri barunya. Suaminya juga KDRT. Gilang lihat sendiri kekerasan yang dilakukan suaminya." Gilang menundukkan kepalanya."Kamu cinta dia, Lang?"Gilang mengangguk. "Iya, Bu.""Lamar dia, Lang. Halalkan dia. Bawa dia seperti ayah kamu sudah bawa ibu untuk hidup bersama dengann
Gilang pulang ke kostan elite-nya, tempat yang lebih seperti tempat singgah ketimbang rumah. Meski rekeningnya menggendut sejak ia menjadi pria pemuas—atau istilah yang sedikit keren, gigolo—dia tetap memilih tinggal di kostan.Alasannya simpel saja, karena dia lebih sering tidur di ranjang hotel a
"Kamu kenapa nanya yang begitu? Kamu nggak boleh kepo sama kehidupan pribadi saya," sahut Mayang sewot."Duuhh ... abis enak-enak, udah jutek lagi. Saya penasaran saja. Soalnya punya kamu masih kenceng banget, kayak perawan. Oh, Ibu pasti rutin ikut senam kebugaran, ya?" Gilang menyerudukkan wajahn
Keesokan harinya, Gilang berangkat ke kampus seperti biasa. Kelas pertamanya dimulai pukul tujuh pagi, lalu dilanjutkan dengan Komunikasi Teknik jam sepuluh siang-yang seharusnya diajar oleh Mayang. Namun, sudah lebih dari lima belas menit menunggu, dosen yang kemarin baru saja digempur habis-habis
Jemari Gilang menyentuh puncak dada Sabrina yang mengencang terangsang. Dia mengusap dan memilin titik sensitif itu dengan sedikit kasar. "Ciuman sama kamu juga enak banget, Sab." Gilang mengecup ringan bibir Sabrina, dan menatap sayu gadis itu. "Gimana kalau kamu praktekin juga ke bawah. Pasti bak







