Beranda / Lainnya / BUT HER FLY / Bab 5: Di Ujung Ketegangan

Share

Bab 5: Di Ujung Ketegangan

Penulis: ISXCK
last update Terakhir Diperbarui: 2025-03-20 17:06:53

Malam itu, Clara kembali ke gedung dengan langkah yang lebih berat dari biasanya. Udara malam yang sejuk seolah tidak cukup untuk mengusir rasa gelisah yang mengendap di dadanya. Semakin lama ia berada di tempat ini, semakin jelas bahwa dunia ini bukanlah tempat yang sederhana untuk bertahan hidup. Setiap malam, setiap percakapan, setiap langkah yang diambilnya semakin membawa dia pada ketegangan yang tidak bisa lagi ia abaikan.

Hari itu terasa berbeda. Ada sesuatu yang mengambang di udara, sesuatu yang tak bisa ia tangkap sepenuhnya, tetapi terasa begitu nyata. Ketika ia melewati lorong sempit menuju ruang ganti, ia mendengar suara keras dari ruang utama. Suara percakapan yang tidak biasa, lebih tajam, lebih penuh dengan ketegangan.

Clara melangkah lebih cepat, rasa penasaran dan kecemasannya semakin menggelisahkan. Begitu ia tiba di ruang belakang, ia melihat Lara sedang berbicara dengan seorang pria yang tampaknya cukup berkuasa di tempat itu—Pria itu mengenakan jas hitam yang rapi, namun ekspresinya menunjukkan ketidaksabaran. Tubuh Lara terbalut ketegangan, wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat agak gelisah.

“Ada apa ini?” Clara bertanya, melangkah lebih dekat, tidak dapat menahan rasa ingin tahu.

Lara menoleh dengan wajah yang cepat berubah kembali datar, seolah mencoba menyembunyikan kegelisahan yang sempat muncul. "Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan," jawab Lara singkat, meskipun suaranya terdengar tegang. "Hanya urusan internal."

Clara menatap mereka berdua, masih merasa tidak yakin dengan penjelasan Lara. Ada sesuatu yang tak beres, sesuatu yang lebih dari sekadar percakapan biasa. Clara merasakan ketegangan yang mengalir di udara—sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar obrolan santai antar rekan kerja.

Pria itu menatap Clara sejenak, matanya tajam dan penuh perhitungan. "Kamu yang baru, ya?" katanya tanpa basa-basi, matanya seperti ingin menelusuri setiap inci dari dirinya.

Clara mengangguk pelan, merasa sedikit tidak nyaman. "Ya, saya... Butterfly," jawabnya, suara yang hampir tenggelam dalam keheningan yang mengisi ruang itu.

Lara memberi senyum tipis, mencoba meredakan ketegangan yang semakin mencuat. “Jangan khawatir. Kami sedang mengatur beberapa hal.”

Namun, Clara tidak bisa mengabaikan perasaan aneh yang menyerangnya. Semuanya terasa lebih intens malam ini—seperti ada yang sedang terjadi, dan dia hanya menjadi bagian kecil dari kekacauan yang lebih besar. Sebelum ia bisa mengatakan sesuatu, pria itu melangkah pergi tanpa sepatah kata pun, hanya meninggalkan ruangan dengan langkah cepat.

“Lara, ada apa sebenarnya?” Clara bertanya, suara sedikit meninggi karena rasa penasaran yang tidak bisa ditahan.

Lara terdiam sejenak, lalu menghela napas berat. "Ada masalah dengan beberapa pelanggan besar kita. Ada beberapa aturan yang harus kita patuhi, dan terkadang, kita harus membuat kesepakatan tertentu untuk menjaga semuanya tetap berjalan lancar."

Clara memandang Lara dengan mata yang sedikit bingung, mencoba menangkap maksud dari kata-kata itu. “Apa maksudmu dengan kesepakatan?” tanyanya, merasakan kekhawatiran yang mulai menggelayuti hatinya.

Lara menatapnya, wajahnya kini lebih serius. “Kamu harus memahami bahwa di dunia ini, semuanya berharga dengan harga tertentu. Ini bukan hanya soal pekerjaan, ini soal bertahan. Jika kamu ingin tetap berada di sini, kamu harus siap untuk memainkan peranmu dalam permainan yang lebih besar.”

Clara merasa perutnya mual mendengar kata-kata itu. Dunia yang dia masuki jauh lebih gelap dan berbahaya daripada yang dia bayangkan. Ia hanya datang untuk bertahan, namun sekarang, ia mulai merasakan adanya kesenjangan yang lebih dalam—sesuatu yang membuatnya merasa semakin terjebak.

Sore itu, Clara diberi tugas baru—memenuhi permintaan dari seorang pelanggan yang baru saja masuk. Lara memberitahunya dengan cara yang biasa, tanpa banyak penjelasan. Namun, malam ini, Clara merasa ada yang berbeda. Semuanya terasa semakin intens dan menekan.

Saat ia memasuki ruangan dengan pelanggan yang dimaksud, ketegangan itu semakin terasa jelas. Pria itu duduk di sudut, wajahnya tersembunyi dalam bayangan, hanya matanya yang tampak mengamati Clara. Ada sesuatu yang tidak bisa Clara pahami, namun rasanya seperti bahaya yang mengintai.

"Butterfly," suara pria itu terdengar rendah, hampir seperti bisikan, namun jelas menggema dalam keheningan ruang itu. “Aku ingin sesuatu yang berbeda malam ini. Aku ingin lebih dari sekadar layanan biasa. Kamu tahu apa yang kuinginkan.”

Clara menatapnya, merasakan udara di sekitarnya semakin sesak. Tidak ada ruang untuk keraguan, tidak ada ruang untuk menolak. Semua perasaan yang ia coba pendam kembali muncul. Hatinya berdebar kencang, tetapi ia tahu satu hal—ia harus tetap melangkah, atau semuanya akan runtuh.

“Bersikaplah seperti biasa,” jawab Clara, berusaha untuk tetap tenang meski tangannya sedikit gemetar.

Namun pria itu mendekat, suaranya lebih dalam dan lebih berbahaya. “Tapi kamu tidak akan bisa bermain dengan peran itu selamanya, Butterfly. Setiap orang di sini memiliki harga yang berbeda. Kalau kamu terlalu lama bertahan, kamu akan menemukan bahwa harga dirimu tak ada lagi.”

Clara menarik napas panjang, hatinya terhimpit rasa takut dan marah yang saling bertabrakan. Ia tahu apa yang pria itu maksudkan, dan itu membuatnya merasa semakin terperangkap. Ia ingin berkata sesuatu, tetapi tidak ada kata yang keluar dari mulutnya. Hanya rasa hampa dan cemas yang menyelimuti pikirannya.

Namun, sebelum Clara bisa menanggapi, Lara muncul di ambang pintu, matanya tajam dan penuh peringatan. “Sudah cukup, kamu harus pergi,” katanya pada pria itu dengan nada yang tidak bisa dibantah.

Pria itu menyeringai, seolah sudah terbiasa dengan sikap Lara. “Tentu saja,” jawabnya dengan suara yang datar. “Tapi ingatlah, Butterfly. Kamu tidak akan bisa bertahan selamanya di dunia ini dengan cara yang sama.”

Dengan itu, pria itu pergi begitu saja, meninggalkan Clara yang terdiam di tempatnya. Rasa dingin menyelimuti tubuhnya, dan ada sebuah perasaan yang semakin menguat dalam dirinya—perasaan bahwa dunia ini sedang mengujinya lebih keras daripada yang bisa ia hadapi.

Lara menutup pintu dengan cepat, menatap Clara dengan tatapan yang mengandung peringatan dan sesuatu yang lebih dalam. “Kamu harus berhati-hati dengan orang-orang seperti dia. Di tempat ini, tidak ada yang benar-benar bisa dipercaya.”

Clara hanya bisa mengangguk, tetapi hatinya terasa kosong. Ia tidak tahu berapa lama lagi ia bisa bertahan di dunia yang penuh dengan ketegangan dan ancaman seperti ini. Semua yang dia harapkan hanyalah sebuah jalan keluar, tetapi semakin ia berusaha mencari jalan itu, semakin ia merasa terperangkap dalam takdir yang semakin gelap.

Malam itu, saat Clara kembali ke kamar kecilnya di ujung lorong, ia menatap dirinya di cermin. Kupu-kupu yang pernah ia impikan kini hanya sebuah bayangan yang terperangkap dalam dunia yang lebih gelap dari yang pernah ia bayangkan.

Apakah ia akan mampu terbang lagi? Ataukah dunia ini sudah memutuskan takdirnya lebih dahulu?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • BUT HER FLY   Bab 6: Datangnya Situasi Tak Terduga

    Keesokan harinya, Clara terbangun dengan perasaan cemas yang lebih mendalam daripada sebelumnya. Pagi itu terasa sangat berat, seolah setiap langkah yang ia ambil membawa beban yang lebih besar. Rasa gelisah yang semalam masih menghantui pikirannya, dan meskipun ia berusaha keras untuk tidak memikirkannya, perasaan itu terus mengganggunya. Hari-hari yang semula terasa seperti rutinitas kini dipenuhi dengan ketidakpastian.Lara, yang tampaknya mulai menyadari perubahan dalam diri Clara, menghampirinya pagi itu. Wajahnya lebih serius dari biasanya, dan ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat Clara merasa bahwa ada yang akan berubah, sesuatu yang tak terduga."Kamu baik-baik saja?" Lara bertanya, matanya memeriksa Clara dengan seksama.Clara mengangguk, meski dalam hatinya ia merasakan perasaan sebaliknya. "Ya, hanya sedikit lelah," jawabnya pelan.Lara menyarankan agar Clara mengambil beberapa waktu untuk dirinya sendiri, berjalan-jalan atau sekadar duduk di luar, menikmati udara sega

  • BUT HER FLY   Bab 5: Di Ujung Ketegangan

    Malam itu, Clara kembali ke gedung dengan langkah yang lebih berat dari biasanya. Udara malam yang sejuk seolah tidak cukup untuk mengusir rasa gelisah yang mengendap di dadanya. Semakin lama ia berada di tempat ini, semakin jelas bahwa dunia ini bukanlah tempat yang sederhana untuk bertahan hidup. Setiap malam, setiap percakapan, setiap langkah yang diambilnya semakin membawa dia pada ketegangan yang tidak bisa lagi ia abaikan.Hari itu terasa berbeda. Ada sesuatu yang mengambang di udara, sesuatu yang tak bisa ia tangkap sepenuhnya, tetapi terasa begitu nyata. Ketika ia melewati lorong sempit menuju ruang ganti, ia mendengar suara keras dari ruang utama. Suara percakapan yang tidak biasa, lebih tajam, lebih penuh dengan ketegangan.Clara melangkah lebih cepat, rasa penasaran dan kecemasannya semakin menggelisahkan. Begitu ia tiba di ruang belakang, ia melihat Lara sedang berbicara dengan seorang pria yang tampaknya cukup berkuasa di tempat itu—Pria itu mengenakan jas hitam yang rapi

  • BUT HER FLY   Bab 4: Di Antara Pilihan dan Kenyataan

    Pagi itu, Clara terbangun dengan rasa lelah yang luar biasa, meskipun tidur sepanjang malam. Matanya terpejam sejenak, mencoba menghilangkan bayangan-bayangan yang menempel di pikirannya. Kegiatan semalam—dunia yang baru, langkah pertama yang harus ia ambil—masih terasa seperti mimpi buruk yang tak bisa ia lupakan. Namun, begitu ia membuka mata dan melihat kenyataan di sekitarnya, ia tahu bahwa ini bukan mimpi. Ini adalah hidupnya sekarang.Pagi itu, dia duduk di tepi ranjang, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Rasa bingung melanda, tetapi ada satu hal yang membuatnya tetap bangun. Ia tidak bisa berhenti berpikir tentang apa yang akan datang selanjutnya. Setiap pilihan yang ia buat sepertinya semakin membawanya jauh dari diri yang dulu dia kenal.Ada rasa malu yang mendalam yang selalu mengikuti langkahnya setiap kali ia berjalan melewati lorong-lorong gedung itu. Dunia baru ini memberikan banyak kejutan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ketika hari mulai terang, Clara merasa

  • BUT HER FLY   Bab 3: Memulai Langkah Baru

    Clara berdiri di depan cermin besar di ruang belakang, mengenakan gaun hitam ketat yang ditata dengan rapi di tubuhnya. Setiap inci dari penampilannya terasa asing—bukan karena gaunnya, tapi karena bagaimana ia melihat dirinya. Cermin itu memantulkan sosok wanita yang hampir tidak dikenalnya lagi. Sosok yang dulu penuh dengan harapan kini terlihat seperti seseorang yang terperangkap dalam dunia yang gelap dan penuh penilaian.Lara, yang berdiri di sampingnya, mengamati Clara dengan cermat. “Kamu terlihat hebat,” katanya dengan senyum yang tak begitu tulus, tapi cukup meyakinkan. “Jangan khawatir, mereka semua akan menyukaimu.”Clara hanya mengangguk, tidak tahu harus berkata apa. Ia merasa gelisah, tubuhnya kaku, seolah ada beban berat yang menghalangi setiap gerakannya. Di luar ruangan, suara musik yang keras terdengar memecah keheningan, menyatu dengan percakapan yang tak pernah berhenti dari para pengunjung yang datang dan pergi."Jangan berpikir terlalu keras," lanjut Lara, meliha

  • BUT HER FLY   Bab 2: Dunia yang Berbeda

    Clara berjalan menyusuri trotoar dengan langkah pelan dan hati yang bergejolak. Udara dingin kota malam itu membuatnya sedikit menggigil, namun itu bukanlah hal yang paling ia rasakan. Perasaan terperangkap, cemas, dan bingung jauh lebih menyiksa daripada dinginnya angin yang menerpa wajahnya. Setiap langkah yang ia ambil, semakin terasa berat. Jalanan yang ramai dengan lampu-lampu neon dan kendaraan yang lalu lalang kini terasa asing, seperti dunia yang bukan untuknya.Pikirannya kacau. Bagaimana bisa ia sampai di sini? Bagaimana ia bisa mengizinkan dirinya berada di persimpangan jalan seperti ini, tempat di mana setiap pilihan terasa mengerikan? Tetapi di saat yang sama, ia tahu bahwa ia tidak punya banyak pilihan. Dunia yang ia kenal sebelumnya telah menghilang, meninggalkan dirinya yang terombang-ambing tanpa arah. Setiap pekerjaan yang dia coba, setiap usaha yang dia lakukan untuk mencari sesuatu yang lebih baik, seolah selalu berakhir dengan kegagalan. Tidak ada yang tersisa sel

  • BUT HER FLY   Bab 1: Pilihan yang Tak Terelakkan

    Pagi itu, Clara duduk di meja makan dengan secangkir kopi yang hampir dingin. Pandangannya kosong, melayang ke luar jendela yang menampilkan pemandangan kota yang sibuk. Namun, matanya tak benar-benar melihat apa pun di sana. Semua yang dia lihat adalah bayangan masa lalu yang terus menghantui pikirannya—perceraian yang menghancurkan, pekerjaan yang hilang, dan tekanan yang semakin menyesakkan dadanya.Dia sudah mencoba segalanya. Mengirimkan ratusan resume ke berbagai perusahaan, menghadiri wawancara yang satu per satu berakhir dengan penolakan. Tapi saat ini, Clara merasa lelah. Lelah berjuang melawan dunia yang seolah tak memberinya kesempatan lagi. Di usia yang sudah menginjak 30-an, dengan riwayat pekerjaan yang tak terlalu gemilang dan beban kehidupan yang semakin berat, harapannya semakin memudar.Hidupnya tak pernah seperti ini sebelumnya. Dulu, Clara pernah percaya bahwa hidup itu tentang memilih dan berjuang untuk impian. Namun, setelah perceraiannya yang menyakitkan, impian

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status