MasukAkhirnya Violet bisa bernapas lega setelah melewati kerumunan karyawan Lucas di lobi yang tadi membuatnya begitu canggung. Hampir semua orang melirik ke arahnya, berbisik satu sama lain, entah membicarakan apa. Violet tidak dapat mendengar dengan jelas apa yang mereka ucapkan, namun ia cukup yakin bahwa dirinya menjadi bahan pembicaraan mereka, entah itu hal yang baik maupun sebaliknya. Yang terpenting, ia tidak perlu mendengar sepatah kata pun dari mereka. Kini dirinya sudah berada di dalam ruang kerja Lucas yang terlihat luas dan tertata rapi. Sementara Lucas sudah fokus dengan tumpukan berkas-berkas pekerjaannya di atas meja kerja, Violet duduk di sofa dengan Azura dalam dekapannya, menyusuinya dengan dot setelah tadi sempat menangis. Kini Azura sudah mulai tenang. "Bagaimana?" Mendengar itu, Violet menoleh ke arah Lucas yang kini mengenakan kacamata, satu berkas kerja tergenggam di tangan kirinya. "Apanya, Tuan?" Tanya Violet bingung, tangannya masih memegang dot yang diisap
Setibanya di kantor, Violet yang masih duduk di dalam mobil terasa sedikit tegang ketika Lucas menyuruhnya untuk turun bersama.Violet tidak tahu harus bagaimana. Rasa canggung dan malu menyelimuti dirinya, apalagi di luar sana banyak karyawan Lucas yang pasti akan memandangi dirinya begitu ia keluar.Lucas berdeham pelan. "Kenapa kau diam? Aku menyuruhmu keluar, bukan menjadi hiasan di dalam mobil ini." Kata Lucas yang kini memegang handle pintu mobil yang terbuka sedikit.Violet melirik Lucas dengan bibir yang ia lipat ke dalam. "Maaf, Tuan. Aku rasa aku tidak bisa ikut Tuan masuk ke dalam." Kata Violet pelan, matanya sekilas melirik Azura yang kini asyik menarik-narik helai rambutnya.Lucas yang mendengar itu menutup kembali pintu mobil dengan pelan. Kedua mata tajamnya melirik Jiver yang masih duduk di kursi pengemudi, memberi isyarat agar keluar. Tanpa berpikir panjang, Jiver langsung turun dari mobil.Lucas mencondongkan tubuhnya ke arah Violet, membuat Violet langsung tersentak
"Sofia?"Sofia yang sedang sibuk dengan peralatan dapur kini tersentak kaget, mendengar panggilan tiba-tiba dari Violet yang langsung muncul di hadapannya dengan senyum lebar.Sofia berdecak pelan, melepaskan pisau yang ada di tangannya. "Violet, kamu ini bikin kaget saja." Ujar Sofia sambil mengelus dadanya.Violet terkikik kecil. "Maaf, kamu sedang sibuk ya?" Gumam Violet."Seperti yang kamu lihat, Violet. Aku kalau pagi-pagi begini pasti sibuk karena itu memang tugasku." Balas Sofia dengan mengangkat satu alisnya. "Lalu kamu ke sini ada perlu apa, ada yang bisa aku bantu?""Iya, Sofia. Aku mau kamu buatkan air panas, nanti simpan di termos kecil ini ya." Violet menyerahkan termos kecil yang ada di genggamannya."Siap, Violet." Seru Sofia sambil mengelap kedua tangannya di celemek. Dengan gerakan tangan yang lincah, ia mengambil panci yang sudah terisi air."Sofia, aku juga mau bilang, kata Tuan Lucas pagi ini tidak usah membuat sarapan."Sofia yang baru saja menyalakan kompor kini
Violet mengedipkan kedua matanya tanpa disadarinya. Ia masih terpaku dengan ucapan yang baru saja keluar dari mulut Lucas, membuat dirinya terdiam seribu bahasa.Lucas hanya diam, tangannya bergerak membuka bungkus rokok yang terletak di atas meja kaca di hadapannya. Ia tahu betul bahwa Violet masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia ucapkan.Lucas berdeham pelan. Suara itu membuat Violet tersadar dari lamunannya, dan dalam gerakan kecil yang tak disengaja, kedua mata mereka bertemu.Bibir Violet bergerak kecil, namun tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya."Jika kau tidak mau, itu hakmu." Suara Lucas terdengar datar dan dingin.Violet membeku, sedikit tersentak. "Tidak, Tuan?!" Ucap Violet terputus, napasnya naik turun.Ia melangkah kecil ke arah Lucas yang kini mendongak ke arahnya, jari-jarinya mendorong batang rokok masuk ke dalam mulutnya."Apakah yang Tuan ucapkan itu benar?" Tanya Violet dengan nada penuh harap.Lucas menghembuskan asap rokok, lalu berdeham p
Violet terdiam. Kedua tangannya mengepal kuat di atas pahanya, jari-jarinya memutih menahan sesuatu yang jauh lebih berat dari sekadar amarah. "Jawab, Violet apa kau ingin membalas dendam kepada mantan suamimu itu?" tukas Lucas. Violet menoleh ke samping. Kedua matanya masih sedikit sembab, namun di balik tatapan sayu itu tersimpan sesuatu yang jauh lebih keras sesuatu yang sudah lama ia pendam dan belum pernah ia ungkapkan kepada siapa pun. Ia menatap Lucas dengan perasaan yang kacau, karena mengingat semua itu terasa seperti membuka luka lama yang belum pernah benar-benar sembuh. "Jika aku bilang iya, apa Tuan ingin membantuku?" suara Violet terdengar dingin, napasnya sedikit memburu. Lucas terdiam. Wajahnya datar, namun matanya menatap Violet dengan kedalaman yang tidak biasa. "Jadi kau memang ingin membalas dendam." Lucas menatap lekat wajah Violet yang kini juga menatap balik tanpa memalingkan diri. Violet tersenyum tipis, senyum yang terasa terlalu sayu untuk disebut sen
Violet menceritakan semuanya dengan suara yang pelan namun berat. Masa lalunya bersama Axel dari awal pertemuan mereka yang tidak disengaja, tawa-tawa kecil yang pernah mengisi hari-harinya, hingga hari di mana Axel sendiri yang menghancurkan semuanya dengan memilih wanita lain di atas dirinya tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Dan kau berakhir dengan suami brengsekmu itu." Lucas tersenyum tipis, melirik Violet yang terdiam dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca. "Yang ternyata tidak ada bedanya dengan Axel, mantan kekasihmu itu. Sama-sama hanya pandai mempermainkanmu." Violet hanya mendengus pelan mendengar itu. Wajahnya menunduk, matanya kosong menatap lantai seolah di sana tersimpan semua jawaban yang tidak pernah ia temukan. "Mungkin aku memang ditakdirkan hidup seperti ini, selalu disakiti oleh orang yang aku percaya." kata Violet, suaranya tercekat di tenggorokan. Napasnya mendadak terasa sesak, seolah ada sesuatu yang mencekiknya perlahan dari dalam dadanya sendiri. Luca
Sampai di dalam mobil, pria yang menutup mulut Violet kini melepaskan tangannya dengan kasar. Violet langsung tersedak, napasnya memburu seperti orang yang hampir tenggelam. Dadanya naik turun dengan cepat, jantungnya berdegup kencang di telinga. Saat matanya mulai fokus dan ia menyadari siapa or
"Tuan, apa perlu saya memanggil dokter?" tanya Jevir dengan nada khawatir setelah membantu Lucas terbaring di atas ranjang di kamar utama mansion milik Lucas yang berada di Valerian. Lucas meringis kecil saat tubuhnya menyentuh kasur empuk. Lukanya terasa perih dan panas seperti terbakar. Darah se
Marko duduk gelisah di ruang kerja mewah ayahnya, Varko. Kedua tangannya saling bertaut di atas meja, jari-jarinya meremas satu sama lain dengan gugup. Otaknya terus berputar mencari cara—cara bagaimana ia bisa membawa Violet keluar dari mansion Lucas seperti yang diperintahkan ayahnya. Namun,
Violet kaget. Matanya membelalak tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat dirinya masuk mengikuti Jevir ke dalam ruangan VIP, sambil mendorong baby stroller tempat putri Tuan Lucas tertidur dengan nyenyak. Pemandangan di hadapannya sangat mengejutkan. Ia melihat Lucas duduk bersandar di at







