LOGIN"Ma–maaf, maafkan saya, Tuan. Saya benar-benar tidak sengaja."
Kania buru-buru meminta maaf dengan suara gemetar. Perlahan, ia mengangkat wajahnya dan mendapati seorang pria yang baru saja melepas kacamata hitamnya. Namun, begitu tatapan mereka bertemu, Kania langsung menunduk lagi, tidak berani menatapnya terlalu lama. Degup jantungnya bertalu semakin cepat saat pria itu akhirnya berbicara. Suaranya terdengar berat dan serak, membuat Kania semakin gugup. "Apa kamu tidak punya mata sampai bisa menyiram saya seperti ini?" "Sekali lagi maafkan saya, Tuan. Tadi saya jalan terburu-buru sambil minum, lalu tidak sengaja menabrak orang sampai akhirnya air minum saya tumpah," jawab Kania dengan suara gemetar. Dengan panik, ia segera menutup tumblernya, lalu buru-buru mengambil tisu dari dalam tas. Refleks, tangannya bergerak hendak mengusap bagian bawah perut pria itu yang terkena air. Namun, pria tersebut langsung mengerutkan kening dan menepis tangan Kania dengan kasar. "Mau apa kamu?" "Saya cuma mau bantu lap, Tuan." "Jangan lancang! Kamu sengaja nyiram saya, lalu sekarang mau cari kesempatan buat nyentuh saya?" "Nggak, Tuan. Saya benar-benar nggak bermaksud begitu." "Saya paling tidak suka perempuan murahan seperti kamu." Ucapan itu terdengar dingin dan menusuk, seolah sama sekali tidak peduli pada permintaan maaf Kania. Sementara itu, pria yang tadi tidak sengaja menabrak Kania segera maju untuk melerai. "Maaf, Tuan. Tadi saya yang tidak sengaja menabrak gadis ini sampai minumannya tumpah." Namun, Bagas tampaknya tidak memedulikan penjelasan tersebut. Ia masih terlalu kesal. Terlebih lagi, bagian tubuhnya yang terkena tumpahan air hangat terasa ngilu dan tidak nyaman. "Kalau sampai terjadi apa-apa dengan tubuh saya, apa kamu pikir kamu mampu bertanggung jawab?" tekan Bagas dengan wajah tegas penuh emosi. Kania terdiam. Ia hanya bisa menundukkan kepala, menahan rasa bersalah sekaligus takut. Ia cemas jika benar-benar terjadi sesuatu pada tubuh pria itu. "Tuan, saya yang akan bertanggung jawab. Ini memang kesalahan saya." Bastian, yang merupakan asisten pribadi pria tersebut, segera berusaha mengambil tanggung jawab. Namun, Bagas sama sekali tidak memedulikan penjelasan Bastian. Ia juga tampak malas memperpanjang urusan dengan gadis di hadapannya. "Perempuan rendahan, benar-benar menyebalkan." Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Bagas langsung melanjutkan langkahnya. Sebelum pergi, ia sempat menepuk lengannya seolah ingin membersihkan debu yang menempel dari Kania. "Maaf sebelumnya. Gara-gara saya, kamu jadi kena marah Tuan Bagas." Bastian meminta maaf pada Kania sebelum mengikuti langkah bosnya. Kania menggeleng pelan. "Iya nggak apa-apa. Kejadiannya tadi terlalu cepat." Bastian tersenyum tipis, lalu mengeluarkan sebuah kartu nama dan menyerahkannya pada Kania. "Ini kartu nama saya. Kalau nanti ada apa-apa gara-gara insiden ini, tolong hubungi saya." Bastian langsung pergi. Kania menerima kartu itu. Dalam hati, ia merasa sangat berterima kasih karena pria tersebut sudah berusaha membelanya. Tanpa ingin terus memikirkannya, Kania segera melanjutkan langkah menuju tempat parkir untuk menemui Linda. Ia tidak ingin sahabatnya itu menunggu terlalu lama. "Kan!" seru Linda begitu melihatnya datang. "Maaf, Lin, lama," ucap Kania tanpa ingin menceritakan kejadian memalukan barusan. "Nggak apa-apa, santai aja. Yaudah, sekarang ayo kita pergi." *** Sore itu Kania tiba di depan gerbang sebuah rumah mewah yang sangat besar. Ia benar-benar tidak menyangka jika rumah calon majikannya itu akan sebesar ini. Saat Kania masih berdiri di depan gerbang dia melihat seorang wanita dengan pakaian pelayan segera menghampirinya. Begitu gerbang di buka wanita itu langsung menyapa. "Kamu babysitter baru yang akan kerja disini?" "Iya, mbak. Saya Kania." "Saya Ratih. Disini saya sudah di beri kepercayaan oleh tuan untuk memimpin pelayan yang ada disini. Ayo kita masuk, saya akan antar ke kamar kamu," ucap wanita itu. Kania mengangguk. "Baik, mbak." Dia segera menyeret kopernya membawa masuk ke dalam rumah itu. "Ini kamar untuk mu, di sebelah sini kamar untuk Naren bayi yang akan kamu rawat." Ratih menunjukkan letak kamar Kania setelah mereka masuk ke dalamnya. "Tuan sengaja kasih kamar suster disini. Karena letaknya bersebelahan dengan kamar tuan. Jadi kalau sewaktu-waktu ada apa-apa sama anaknya dia bisa langsung tengok." Kania mengelilingi kamar ini dengan tatapannya yang penuh rasa kagum. Mungkin luas kamar ini sama dengan ruang tamu rumahnya. Kemudian ratih menunjukan ke Kania kamar kecil yang ada disana, di dalamnya ada bayi berusia 2 bulan yang terlelap di dalam box bayi. Bayi ini sangat tampan. Pasti ayahnya juga tampan batin Kania tersenyum. "Ini namanya Narendra. Tugas kamu nanti rawat Naren, jagain Naren, sayangi Naren. Pokoknya tuan ga neko-neko minta kamu harus bisa ini-itu kok. Yang penting kamu sayang dengan tulus sama Narendra." Kania mengangguk mengerti. "Baik, mbak." "Ini disini ada lemari untuk narok pakaian kamu. Pokoknya buat kamu senyamannya disini." Kania mengangguk. Hai Naren, aku berharap kamu bisa bekerja sama ya. Soalnya aku butuh uang. Please ... kamu jangan rewel sama aku ya! Mohon Kania dalam hati. Seolah mengerti isi hati Kania. Narendra yang terlelap itu tersenyum. Dan perasaan hangat seketika membanjiri hati Kania. "Dia sepertinya senang dengan kedatangan kamu, Kan. Nggak banyak orang yang di beri senyum kaya gitu sama Naren. Bahkan ayahnya sendiri aja sering di jutekin." "Oiya? Kalau ibunya bagaimana?" tanya Kania yang di liputi sedikit rasa penasaran. Ratih terdiam sejenak. "Oiya satu pesan buat kamu pokoknya kalau ketemu Tuan Bagas nanti jangan bahas-bahas ibunya Narendra." "Kenapa mbak?" "Tuan Bagas dengan Ibunya Naren sudah bercerai." Kania langsung terdiam, ia langsung mengerti apa yang sudah terjadi. "Pokoknya, nanti kalau Tuan Bagas udah pulang. Kamu boleh diskusi sama dia. Tuan Bagas orangnya enak kok, asal kita sopan aja." "Baik, mbak." "Yaudah kalau gitu, saya tinggal." Kania mengangguk. Ia terus menatap bayi tampan itu. *** Hari semakin sore. Kania pun memandikan Narendra dengan hati-hati. Setelah itu, ia mengenakan pakaian yang hangat untuknya. Lalu membaringkan Narendra di atas pangkuannya mengajak bayi itu bermain setelah ia memberinya susu. Tepat pada saat itu Bagas berjalan menaiki tangga dengan wajah yang letih. "Bagaimana dengan babysitter untuk Narendra apa sudah datang?" tanya Bagas pada Ratih yang ia temui di tangga. "Sudah, Tuan. Dan dia langsung bekerja hari ini," balasnya. Ada rasa lega yang dirasakan Bagas saat ini. Sebab ia tak perlu khawatir meninggalkannya di rumah. Bagas melanjutkan langkahnya menaiki lantai atas, tempat yang langsung ia tuju adalah kamar putranya. Anaknya akan selalu menjadi obat dari rasa lelah. Setiap kali ia melihatnya semua rasa letih dan penat yang ia rasakan seketika hilang. Tangannya membuka pintu dan di lantai dia melihat putranya sedang dalam pangkuan seorang wanita yang tengah menunduk. Tanpa permisi atau berkata apapun Bagas langsung mendekat dan mencium Narendra dengan gemas. "Anak Daddy, tampan sekali," candanya. Kania hanya diam. Saat tak melihat suster Narendra merespon, Bagas mengangkat wajahnya. Seketika ia terhenyak melihat perempuan yang dia temui siang tadi di rumah sakit. "Kamu? Kamu yang siang tadi numpahin minuman panas ke celana saya kan?" Tanya Bagas.Kania tidak menyangka jika dirinya akan menjalin hubungan dengan pria yang masih berstatus suami orang ini. Bagaimana kelanjutan hidupnya? Ia benar-benar merasa cemas, dan takut jika dirinya akan di kasuskan dalam hubungan mereka. Sebenarnya jika Bagas akan rujuk dengan Frisca itu bukan masalah untuknya. Hanya saja ia khawatir kalau suatu saat perbuatannya itu akan di ketahui dan berujung membawa masalah besar untuknya. Tentu ia tidak mau perbuatannya itu di ketahui orang-orang. Apalagi kakaknya? Ia tidak mau Angga tahu. Ia tidak mau Angga syok dan jatuh sakit karenanya. Seusai sarapan selesai, Kania ikut berjibaku bersama para pelayan membereskan meja makan. Ia bisa melakukan ini tentu karena Naren bersama ibunya. "Nanti setelah ini kamu pindah semua barang-barangmu ke kamar pelayan. Kamar Naren akan di pakai Frisca dan Naren untuk bermain,” ucap nyonya Helena yang kini mendekati Kania. Kania mengangguk. "Baik, Nyonya." Setelah itu ia segera naik ke lantai atas ke kam
"Maaf, maafkan saya, Nyonya, Tuan." Kania kikuk, dia lalu berjongkok untuk membersihkan tumpahan susu itu yang mengotori lantai. Sambil menggigit bibirnya ia mengelap noda itu dengan tisu. Pandangan Bagas tertuju pada Kania sebentar. Bisa-bisanya ia sampai tidak memperhatikan Kania di ruangan ini. Akhirnya masalah pribadi yang seharusnya hanya di ketahui oleh mereka berdua bisa di ketahui oleh Kania. "Siapa yang menyuruh kamu ada disini? Keluar!" perintah Bagas pada Kania. Nadanya terdengar seperti dua orang yang tidak saling mengenal. Padahal sebelum ini Bagas baru saja menggodanya. Tapi mau tidak mau, Kania memang harus segera pergi. Ia sadar akan posisinya, ia tidak boleh berharap di perlakukan baik setiap saat oleh Bagas. "Maaf, tuan. Saya tadi sedang mau siapkan susu." "Biar Frisca yang siapkan susunya." Kania mengangguk patuh. "Baik, kalau begitu saya permisi, tuan." Gadis itu segera melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu. Sementara Bagas kembali menata
"Aku ... aku lagi masak nyonya." Kania segera mengambil piring berisi nasi gorengnya dan menaruh ke atas meja makan. "Maaf nyonya aku izin makan sebentar." Karena ia pikir Naren sedang bersama ibunya jadi ia punya waktu untuk sarapan. Nyonya besar seakan tak percaya dia memicingkan matanya dan memindai seisi dapur dengan tatapannya, seolah ingin tahu apa yang sedang di sembunyikan Kania. "Tadi saya dengar ada suara orang lain disini, suara pria. Kamu gak lagi bohongi saya kan?" "Nggak, Nyonya. Aku gak bohong. Tadi aku emang masak sambil telponan sama kakakku. Mungkin itu yang nyonya kira suara pria." Nyonya Helena terus melirik kesana kemari tak percaya dengan yang Kania jelaskan, ia masih percaya jika ada orang lain disini. Sekarang tatapannya ke arah bawah meja itu. Nyonya Helena mendenguskan napasnya karena tak mendapatkan apa-apa dari arah kabinet yang tertutup tirai itu. "Setelah selesai segera balik ke atas siapkan perlengkapan Naren sebelum Frisca bangun. Jangan sa
"Kenapa diem hem? Katanya mau kerja, ayo kita ke kamar," imbuh Bagas. Kania langsung memasukan nasi goreng yang baru matang ke dalam piring. Kemudian memutar tubuhnya menatap Bagas. Tangan pria itu masih memeluk pinggang Kania. "Mas. Apa kamu tahu kalau di kamar kamu saat ini ada mbak Frisca?" terang Kania. Pria itu seketika melepas pelukannya di pinggang Kania lantaran agak kaget. "Nggak mungkin lah." "Mas lihat aja sendiri ke atas kalau gak percaya." Bagas terdiam, tapi Kania tidak mungkin berbohong. "Kapan dia kesini?" tanya Bagas akhirnya. "Tadi malem, waktu mas pergi." Kania menjawab dengan tenang. "Yaudah, kalau begitu disini saja." Kania tidak segera merespon ia memilih menaruh nasi goreng yang baru selesai dia buat itu ke dalam piring. Wangi nasi goreng itu semerbak di dalam ruangan ini. "Kamu jam segini udah sarapan?" tanya Bagas. Bagas tentu saja tahu jika Kania tidak makan sejak kemarin sore, karena moodnya yang tidak bagus setelah mendapat perlakuan tak me
Nyonya besar muncul dari belakang tubuh Kania dengan tiba-tiba. Gerakan tubuhnya yang kuat membuat Kania sedikit terdorong ke samping. Akhirnya Kania pun terpaksa menjauh. "Ma!" Frisca langsung menyapa dan memeluk tubuh Nyonya besar ketika wanita itu muncul. "Frisca, sayang." Bak menerima hadiah di saat dirinya baru akan membujuk Frisca. Nyonya besar dengan senang hati langsung membalas pelukan itu dengan lebih erat. "Mama apa kabar?" Suara yang ramah dan lembut Frisca menyapa. Ini pertama kalinya Kania bisa melihat dan mendengar langsung suara Frisca. Dan ternyata perempuan ini hampir mendekati sempurna. Dia cantik, ia sebagai perempuan pun mengagumi kecantikannya. Suaranya, tutur katanya terlihat sopan dan ramah. Visual itu membuat Frisca terlihat seperti perempuan baik-baik yang tidak neko-neko. Jadi apa yang sebenarnya membuatnya berpisah dengan Bagas? "Kabar mama baik. Mama baru saja ingin menghubungi kamu. Karena mama juga kangen sama kamu.""Kamu sendiri gimana
Bagas terdiam, pertanyaannya tadi terjawab. Rupanya yang membuat Kania bersedih adalah ketika perempuan itu tahu statusnya dengan Frsica masih belum resmi bercerai."Ga penting aku tahu dari mana," ujar Kania ketus."Jawab pertanyaan saya Kania?" Bagas mencengkram rahang Kania dan menarik wajahnya agar menatap kearahnya.Kania meringis tapi dia tak memberi jawaban apa-apa. Hingga membuat Bagas tampak geram. Pria itu mencengkram pipi Kania semakin kuat."Saya ga main-main sama kamu. Kamu udah setujui tawaran saya, dan saya udah kasih kamu 600 juta sampai pengobatan kakakmu bisa di proses. Jadi saya harap kamu hanya becanda dengan perkataanmu hari ini ketika tidak ingin berhubungan dengan saya lagi," tekan Bagas membuat pipi perempuan itu merah.Kania meringis kesakitan dia memegangi tangan Bagas berharap pria itu akan melepaskan tangannya dari pipinya. "Sakit, Tuan.""Kamu tahu saya bisa sakitin kamu lebih lagi jika kamu berani bermain-main dengan saya," ancamnya."Saya sudah tahu ruma
Tak lama Kania muncul dengan wajah yang terlihat segar. Kaus milik Bagas yang ia kenakan terlihat kedodoran, menutup sampai ke lututnya."Tuan," sapa Kania.Bagas berbalik. Seolah tahu apa yang sedang Kania nantikan saat ini.Pria itu berjalan memasuki kamar masih dengan menggendong Naren. Kemudian
Tidak lama Kania masuk ke kamar Bagas tanpa mengetuknya. Begitu masuk Kania berteriak kecil karena Bagas baru saja melepas celana kerjanya. Bagas terkejut dia buru-buru menarik handuk dan melilitkan ke pinggangnya. Kania benar-benar terkejut begitu melihat tubuh telanjang pria itu, bahkan matan
Kania mengangguk. Napasnya ia tahan karena jarak wajah mereka terasa begitu dekat. Ia juga tak menyangka jika pria yang tidak sengaja ia siram tadi adalah Bagas Adipati Wiratmodjo–bosnya saat ini. "Iya, tuan. Sekali lagi maafkan saya." Bagas tidak membalas dia hanya menghela napasnya yang bisa K
"Kan, biaya tagihan rumah sakit mamasmu sudah membengkak beberapa hari ini. Ini bibi bayarkan dulu pakai uang pinjaman dari bank keliling. Soalnya, bibi sudah nggak punya simpanan lagi."Ucapan bibinya tempo hari masih terngiang jelas di kepala Kania. Sudah sebulan terakhir, kakaknya bolak-balik ru







