Partager

Bab 2

Auteur: Alana Karin
last update Date de publication: 2026-05-25 15:11:57

"Ma–maaf, maafkan saya, Tuan. Saya benar-benar tidak sengaja."

Kania buru-buru meminta maaf dengan suara gemetar.

Perlahan, ia mengangkat wajahnya dan mendapati seorang pria yang baru saja melepas kacamata hitamnya. Namun, begitu tatapan mereka bertemu, Kania langsung menunduk lagi, tidak berani menatapnya terlalu lama.

Degup jantungnya bertalu semakin cepat saat pria itu akhirnya berbicara. Suaranya terdengar berat dan serak, membuat Kania semakin gugup. "Apa kamu tidak punya mata sampai bisa menyiram saya seperti ini?"

"Sekali lagi maafkan saya, Tuan. Tadi saya jalan terburu-buru sambil minum, lalu tidak sengaja menabrak orang sampai akhirnya air minum saya tumpah," jawab Kania dengan suara gemetar.

Dengan panik, ia segera menutup tumblernya, lalu buru-buru mengambil tisu dari dalam tas. Refleks, tangannya bergerak hendak mengusap bagian bawah perut pria itu yang terkena air.

Namun, pria tersebut langsung mengerutkan kening dan menepis tangan Kania dengan kasar.

"Mau apa kamu?"

"Saya cuma mau bantu lap, Tuan."

"Jangan lancang! Kamu sengaja nyiram saya, lalu sekarang mau cari kesempatan buat nyentuh saya?"

"Nggak, Tuan. Saya benar-benar nggak bermaksud begitu."

"Saya paling tidak suka perempuan murahan seperti kamu."

Ucapan itu terdengar dingin dan menusuk, seolah sama sekali tidak peduli pada permintaan maaf Kania.

Sementara itu, pria yang tadi tidak sengaja menabrak Kania segera maju untuk melerai. "Maaf, Tuan. Tadi saya yang tidak sengaja menabrak gadis ini sampai minumannya tumpah."

Namun, Bagas tampaknya tidak memedulikan penjelasan tersebut. Ia masih terlalu kesal. Terlebih lagi, bagian tubuhnya yang terkena tumpahan air hangat terasa ngilu dan tidak nyaman.

"Kalau sampai terjadi apa-apa dengan tubuh saya, apa kamu pikir kamu mampu bertanggung jawab?" tekan Bagas dengan wajah tegas penuh emosi.

Kania terdiam. Ia hanya bisa menundukkan kepala, menahan rasa bersalah sekaligus takut. Ia cemas jika benar-benar terjadi sesuatu pada tubuh pria itu.

"Tuan, saya yang akan bertanggung jawab. Ini memang kesalahan saya." Bastian, yang merupakan asisten pribadi pria tersebut, segera berusaha mengambil tanggung jawab.

Namun, Bagas sama sekali tidak memedulikan penjelasan Bastian. Ia juga tampak malas memperpanjang urusan dengan gadis di hadapannya.

"Perempuan rendahan, benar-benar menyebalkan."

Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Bagas langsung melanjutkan langkahnya. Sebelum pergi, ia sempat menepuk lengannya seolah ingin membersihkan debu yang menempel dari Kania.

"Maaf sebelumnya. Gara-gara saya, kamu jadi kena marah Tuan Bagas." Bastian meminta maaf pada Kania sebelum mengikuti langkah bosnya.

Kania menggeleng pelan. "Iya nggak apa-apa. Kejadiannya tadi terlalu cepat."

Bastian tersenyum tipis, lalu mengeluarkan sebuah kartu nama dan menyerahkannya pada Kania.

"Ini kartu nama saya. Kalau nanti ada apa-apa gara-gara insiden ini, tolong hubungi saya." Bastian langsung pergi.

Kania menerima kartu itu. Dalam hati, ia merasa sangat berterima kasih karena pria tersebut sudah berusaha membelanya.

Tanpa ingin terus memikirkannya, Kania segera melanjutkan langkah menuju tempat parkir untuk menemui Linda. Ia tidak ingin sahabatnya itu menunggu terlalu lama.

"Kan!" seru Linda begitu melihatnya datang.

"Maaf, Lin, lama," ucap Kania tanpa ingin menceritakan kejadian memalukan barusan.

"Nggak apa-apa, santai aja. Yaudah, sekarang ayo kita pergi."

***

Sore itu Kania tiba di depan gerbang sebuah rumah mewah yang sangat besar. Ia benar-benar tidak menyangka jika rumah calon majikannya itu akan sebesar ini.

Saat Kania masih berdiri di depan gerbang dia melihat seorang wanita dengan pakaian pelayan segera menghampirinya.

Begitu gerbang di buka wanita itu langsung menyapa. "Kamu babysitter baru yang akan kerja disini?"

"Iya, mbak. Saya Kania."

"Saya Ratih. Disini saya sudah di beri kepercayaan oleh tuan untuk memimpin pelayan yang ada disini. Ayo kita masuk, saya akan antar ke kamar kamu," ucap wanita itu.

Kania mengangguk. "Baik, mbak."

Dia segera menyeret kopernya membawa masuk ke dalam rumah itu.

"Ini kamar untuk mu, di sebelah sini kamar untuk Naren bayi yang akan kamu rawat." Ratih menunjukkan letak kamar Kania setelah mereka masuk ke dalamnya.

"Tuan sengaja kasih kamar suster disini. Karena letaknya bersebelahan dengan kamar tuan. Jadi kalau sewaktu-waktu ada apa-apa sama anaknya dia bisa langsung tengok."

Kania mengelilingi kamar ini dengan tatapannya yang penuh rasa kagum. Mungkin luas kamar ini sama dengan ruang tamu rumahnya.

Kemudian ratih menunjukan ke Kania kamar kecil yang ada disana, di dalamnya ada bayi berusia 2 bulan yang terlelap di dalam box bayi.

Bayi ini sangat tampan. Pasti ayahnya juga tampan batin Kania tersenyum.

"Ini namanya Narendra. Tugas kamu nanti rawat Naren, jagain Naren, sayangi Naren. Pokoknya tuan ga neko-neko minta kamu harus bisa ini-itu kok. Yang penting kamu sayang dengan tulus sama Narendra."

Kania mengangguk mengerti. "Baik, mbak."

"Ini disini ada lemari untuk narok pakaian kamu. Pokoknya buat kamu senyamannya disini."

Kania mengangguk.

Hai Naren, aku berharap kamu bisa bekerja sama ya. Soalnya aku butuh uang. Please ... kamu jangan rewel sama aku ya!

Mohon Kania dalam hati.

Seolah mengerti isi hati Kania. Narendra yang terlelap itu tersenyum. Dan perasaan hangat seketika membanjiri hati Kania.

"Dia sepertinya senang dengan kedatangan kamu, Kan. Nggak banyak orang yang di beri senyum kaya gitu sama Naren. Bahkan ayahnya sendiri aja sering di jutekin."

"Oiya? Kalau ibunya bagaimana?" tanya Kania yang di liputi sedikit rasa penasaran.

Ratih terdiam sejenak. "Oiya satu pesan buat kamu pokoknya kalau ketemu Tuan Bagas nanti jangan bahas-bahas ibunya Narendra."

"Kenapa mbak?"

"Tuan Bagas dengan Ibunya Naren sudah bercerai."

Kania langsung terdiam, ia langsung mengerti apa yang sudah terjadi.

"Pokoknya, nanti kalau Tuan Bagas udah pulang. Kamu boleh diskusi sama dia. Tuan Bagas orangnya enak kok, asal kita sopan aja."

"Baik, mbak."

"Yaudah kalau gitu, saya tinggal."

Kania mengangguk. Ia terus menatap bayi tampan itu.

***

Hari semakin sore. Kania pun memandikan Narendra dengan hati-hati. Setelah itu, ia mengenakan pakaian yang hangat untuknya.

Lalu membaringkan Narendra di atas pangkuannya mengajak bayi itu bermain setelah ia memberinya susu.

Tepat pada saat itu Bagas berjalan menaiki tangga dengan wajah yang letih.

"Bagaimana dengan babysitter untuk Narendra apa sudah datang?" tanya Bagas pada Ratih yang ia temui di tangga.

"Sudah, Tuan. Dan dia langsung bekerja hari ini," balasnya.

Ada rasa lega yang dirasakan Bagas saat ini. Sebab ia tak perlu khawatir meninggalkannya di rumah.

Bagas melanjutkan langkahnya menaiki lantai atas, tempat yang langsung ia tuju adalah kamar putranya. Anaknya akan selalu menjadi obat dari rasa lelah. Setiap kali ia melihatnya semua rasa letih dan penat yang ia rasakan seketika hilang.

Tangannya membuka pintu dan di lantai dia melihat putranya sedang dalam pangkuan seorang wanita yang tengah menunduk. Tanpa permisi atau berkata apapun Bagas langsung mendekat dan mencium Narendra dengan gemas. "Anak Daddy, tampan sekali," candanya.

Kania hanya diam.

Saat tak melihat suster Narendra merespon, Bagas mengangkat wajahnya. Seketika ia terhenyak melihat perempuan yang dia temui siang tadi di rumah sakit.

"Kamu? Kamu yang siang tadi numpahin minuman panas ke celana saya kan?" Tanya Bagas.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 8

    Kania tak mau membuat Bagas ragu hingga ia tak jadi mendapatkan 600 juta malam ini. "Tuan, bisa keluarin di luar." Bagas tersenyum sinis jelas semakin tidak bisa menahan diri. Akhirnya ia tetap melanjutkannya. Dia kembali menekan dirinya. "Saya juga ga bakal tanggung jawab kalau kamu kesakitan dan besok ga bisa jalan." Kania mengerjap. Dan tidak lama rasa sakit itu benar-benar menghampirinya. Bagian Bagas baru ujungnya yang masuk namun ini sudah begitu nyeri. Sampai akhirnya hentakan yang kuat itu terjadi dan membuat benda Bagas membenam penuh di dalam Kania. Gadis itu meremas seprai menahan nyeri dengan wajah yang mengetat dan mata yang memejam. Bagas tidak tahu seperti apa rasanya, karena ini adalah pengalaman yang pertama setelah dulu di bohongi oleh mantan istrinya. Tapi tanda merah nampak mengalir cukup banyak dari sela-sela itu. Bagas tersenyum, kemudian mencium Kania. Dan mulai menggerakan pinggulnya keluar masuk dari sana. Pria itu menatap wajah Kania yang me

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 7

    Kania menelan ludah. Tubuhnya terasa panas. Namun ia merasa tak bisa melewatkan kesempatan ini. Akhirnya ia tidak punya pilihan lain selain menyetujui. "Baik, aku setuju. Aku janji ga bakal bilang sama siapa-siapa." Bagas menatap Kania dalam. Sorotnya tak melembut sama sekali. "Saya ga akan tanggung jawab kalau nanti kamu baper sama saya. Kamu setuju dengan keputusan ini karena kamu sadar bukan karena paksaan saya." Kania mengangguk mantab walau terselip sedikit keraguan. "Aku yakin ga akan baper dan aku bisa pastiin itu." Bagas mendekati bibir Kania dan langsung membungkamnya dengan ciuman, tak hanya itu Bagas juga melumatnya. Kania terkesiap karena ini terlalu cepat. Tubuhnya langsung berdesir. Ciuman ini adalah hal yang pertama kali ia lakukan, ia belum pernah berciuman bahkan dengan kekasihnya sekalipun. Namun apa yang pria itu lakukan seolah mengajaknya terhanyut ke dalam sensasi yang lebih jauh, yang lebih nikmat. Bibir pria itu basah, dan juga terasa lembut. Kan

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 6

    Tidak lama Kania masuk ke kamar Bagas tanpa mengetuknya. Begitu masuk Kania berteriak kecil karena Bagas baru saja melepas celana kerjanya. Bagas terkejut dia buru-buru menarik handuk dan melilitkan ke pinggangnya. Kania benar-benar terkejut begitu melihat tubuh telanjang pria itu, bahkan matanya sempat melirik ke arah sana. Ke arah pribadi pria itu. "Lancang!" umpat Bagas kesal. Entah gadis ini benar-benar menguji emosinya hari ini. Kania membuka matanya dan melihat raut kesal pria itu, entah kenapa dia semakin tak takut padanya. Kania menyunggingkan senyuman manis miliknya padanya. "Kita satu sama sekarang tuan." Bagas ingat beberapa malam yang lalu dia sudah melihat bagian pribadi perempuan itu. Ia menggertakkan giginya, kemudian duduk di sofa mengambil rokok dan menyalakan kemudian mengisapnya tak peduli di hadapannya ada perempuan. Jujur Kania tak suka dengan asap rokok. Tapi ia tahan rasa kesalnya demi mendapatkan uang 600 juta itu. Kania meletakkan jam tangan mewa

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 5

    Kania menahan napasnya, dadanya seketika sesak begitu mendengar nominal yang di sebutkan sang bibi. Nominal itu sangat fantastis tidak pernah terbayangkan olehnya sebelum ini."Gimana kan, bibi ga punya uang sebanyak itu."Otaknya seketika blank di penuhi pikiran buruk. Sehingga akalnya langsung hilang."Aku, aku akan coba pinjam ke bos ku ya, bi. Aku coba dulu," ucap Kania walau tak sepenuhnya yakin.Namun bagi Bi Asih, wanita itu sangat menaruh harapan pada Kania."Yang penting sekarang bibi terus jagain Mas Angga. Pokoknya aku bakal usahain, gimanapun caranya aku bakal usahain," tekadnya dalam hati."Iya, bibi janji akan jagain masmu. Bibi ikut bantu doain kamu semoga bisa dapetin pinjamannya. Bibi juga akan berusaha untuk pinjem uang sedapatnya ke teman-teman bibi yang lain."Kania merasa terharu, dalam situasi ini Bi Asih masih ingin membantunya."Terimakasih, bi. Tapi aku pastikan. Aku akan dapetin uang itu secepatnya."Dalam keadaan mendesak ini, Kania merasa hal-hal yang sudah

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 4

    "Aku ngga tahu tuan. Tiba-tiba Naren terbangun gitu aja." Kania berusaha melepas bagian tubuhnya itu dari mulut Naren, namun bayi itu enggan melepaskannya.Bagas terus memperhatikan Naren termasuk memperhatikan bagian tubuh perempuan itu juga, dan napasnya terasa tercekat. Buah dada Kania terlihat begitu menggoda, tampak padat dan bervolume. Kulitnya yang putih tampak bersih dengan warna merah muda yang kontras di puncaknya. Hingga membuat tubuh pria itu menegang dengan cepat.Tentu saja ia jadi tidak terkontrol begini, karena statusnya yang menduda membuat ia tidak lagi bisa merasakan kehangatan."Apa ASInya keluar?" Tanya Bagas.Kania menggeleng. "Ngga, ini Naren sepertinya kangen sama ibunya makanya dia langsung anteng walaupun ga ada ASInya. Soalnya saya udah cek, dia nggak lagi buang air, atau demam. Saya kasih botol susunya juga nggak mau. Tapi pas begini dia baru anteng.""Maafkan saya tuan kalau sudah lancang," imbuh Kania. Pertama ia lancang sudah menyusui Naren. Kedua ia lan

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 3

    Kania mengangguk. Napasnya ia tahan karena jarak wajah mereka terasa begitu dekat. Ia juga tak menyangka jika pria yang tidak sengaja ia siram tadi adalah Bagas Adipati Wiratmodjo–bosnya saat ini."Iya, tuan. Sekali lagi maafkan saya."Bagas tidak membalas dia hanya menghela napasnya yang bisa Kania rasakan menerpa wajahnya.Pria itu kemudian berdiri. Dia melepas jasnya, berusaha menghilangkan rasa kesal yang masih tersimpan dalam dirinya. "Kamu sudah tahu kan apa saja tugasmu disini?""Ya, mbak Ratih sudah memberitahu saya, tuan," jawabnya sopan."Coba katakan?""Saya harus, rawat Naren dan sayangi Naren."Bagas manggut-manggut."Selain itu saya juga mau kalau saya butuh bantuan kamu, kamu harus ada untuk saya."Kania menelan ludah, apa maksud dari pernyataan pria itu?"Saya mau kamu bisa sayangi anak saya, bukan cuma karena kamu mau uang, saya ga mau kamu kerja semena-mena."Kania menelan ludahnya lagi. Kata-kata Bagas terasa seperti menamparnya."Baik, Tuan.""Saya ga mau kamu egoi

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status